Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.( Yohanes 15 : 16 )

Friday, November 12, 2010

Kisah 1000 hari SABTU


Semakin tua, aku semakin menikmati SABTU pagi. Mungkin karena suasana yang masih hening, sebab aku yang pertama kali bangun pagi atau mungkin juga karena hari SABTU adalah hari libur dan tidak usah masuk kerja. Apapun alasannya, beberapa jam pertama di Sabtu pagi amat menyenangkan, aku biasa masuk dapur dengan menikmati koran pagi ditemani secangkir kopi.

Sabtu pagi itu, menjadi hal yang tidak pernah terlupakan, dimana aku mendengar kisah mengenai 1000 kelereng ini. Begini kisahnya. Aku keraskan suara radioku untuk mendengarkan suatu acara BINCANG-BINCANG SABTU PAGI. Aku mendengar seorang agak tua dengan suara emasnya.

Ia sedang berbicara mengenai seribu kelereng kepada seseorang di telpon yang dipanggil "TOM". Aku tergelitik dan duduk ingin mendengarkan apa obrolannya.

"Dengar TOM, kedengarannya kau memang sibuk dengan pekerjaanmu. Aku
yakin mereka menggajimu cukup banyak, tapi sangat disayangkan bila engkau harus terlalu sering meninggalkan rumah dan keluargamu. Sulit kupercaya bila ada anak muda yang harus bekerja 60 atau 70 jam seminggu demi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk menonton pertunjukan tarian putrimu pun kau tak sempat". Ia melanjutkan, "Biar kuceritakan ini, TOM, sesuatu yang membantuku mengatur dan menjaga prioritas apa yang yang harus kulakukan dalam hidupku."

Lalu mulailah ia menerangkan teori "1000 kelereng"-nya. "Begini TOM, suatu hari aku duduk-duduk dan mulai menghitung-hitung. Umumnya rata-rata hidup manusia 75 tahun, ya aku tahu ada yang lebih dan ada yang kurang. Namun secara umum sekitar 75 tahun. Lalu, aku kalikan 75 ini dengan 52 dan mendapatkan angka 3900 yang merupakan jumlah semua hari sabtu yang rata-rata dimiliki seseorang selama hidupnya. Sekarang perhatikan benar-benar TOM, aku mau beranjak ke hal yang lebih penting.

Tahukah kau, setelah aku berumur 55 tahun baru terpikir olehku semua detail ini", sambungnya, "dan pada saat itu aku sudah melewatkan 2800 hari Sabtu. Andaikata aku bisa hidup sampai 75 tahun, itu artinya buatku hanya tersisa sekitar 1000 hari Sabtu lagi yang masih bisa kunikmati. Lalu aku pergi ke toko mainan dan membeli tiap butir kelereng yang ada. Aku harus mengunjungi tiga toko, untuk bisa mendapatkan 1000 kelereng itu. Setibanya dirumah, kelereng-kelereng itu aku masukkan dalam sebuah kotak plastik bening besar yang kuletakkan di tempat kerjaku, di samping radio.

Sejak hari itu setiap hari sabtu, aku selalu mengambil sebutir kelereng dan membuangnya. Seiring dengan berjalannya waktu, ahwa dengan mengawasi kelereng-kelereng itu menghilang, aku lebih memfokuskan diri pada hal-hal yang betul-betul penting dalam hidupku.

Sungguh, tak ada yang lebih berharga daripada mengamati waktumu di dunia ini menghilang dan berkurang, untuk menolongmu membenahi dan meluruskan segala prioritas hidupmu. Sekarang aku ingin memberikan pesan terakhir sebelum kuputuskan teleponmu dan mengajak keluar istriku tersayang untuk sarapan pagi.

Pagi ini, kelereng terakhirku telah kuambil, kukeluarkan dari kotaknya. Aku berpikir, kalau aku sampai bertahan hingga Sabtu yang akan datang, maka Allah telah memberiku sedikit waktu tambahan untuk kuhabiskan dengan orang-orang yang kusayangi. Senang sekali bisa berbicara denganmu, TOM. Aku harap kau bisa melewatkan lebih banyak waktu dengan orang-orang yang kaukasihi, dan aku berharap suatu saat bisa berjumpa denganmu. Selamat pagi!"

Saat dia berhenti, suasana menjadi hening, bahkan moderator pun membisu, andaikan ada jarum yang jatuh, bunyinya pasti akan terdengar.

Sebenarnya aku sudah merencanakan mau pergi ke tempat kerja pagi itu, namun aku membatalkannya. Aku segera naik ke atas dan membangunkan istriku dengan sebuah kecupan hangat.

"Ayo sayang, kuajak kau dan anak-anak jalan-jalan ke luar, pergi sarapan.”
"Lho, ada apa ini...?", tanyanya seraya tersenyum.

"Ah, tidak ada apa-apa, tidak ada yang spesial", jawabku, "Sudah cukup lama kita tidak melewatkan hari Sabtu dengan anak-anak. Oh ya, nanti kita
berhenti juga di toko mainan ya? Aku hendak membeli kelereng."


SPEND YOUR WEEKEND WISELY AND MAY ALL SATURDAYS BE SPECIAL AND MAY YOU HAVE MANY HAPPY YEARS AFTER YOU LOSE ALL YOUR MARBLES.

CHARNEY


Seorang warga Perancis yang bernama CHARNEY telah membuat hati NAPOLEON menjadi gusar, oleh karena itu CHARNEY dimasukkan ke dalam penjara. Perasaan terbuang, ditinggal sendiri, dilupakan, kerap menghantui CHARNEY selama di dalam penjara.

Dalam kesendirian dan keputusasaannya, CHARNEY mengambil sebuah batu dan menggoreskannya pada dinding selnya sebuah kata, TAK SEORANG PUN PEDULI”.

Suatu hari, sebuah tunas tumbuh di bekas tempat batu yang diambil oleh CHARNEY. Setiap hari CHARNEY membawa air untuk menyirami tunas itu. Tunas itu terus tumbuh, makin lama makin membesar hingga mengeluarkan sebuah kuncup bunga indah berwarna biru.

Di tengah kesendiriannya, CHARNEY menghayati pertumbuhan tunas itu menjadi sebuah tanaman yang berbunga indah dan kemudian diatas goresan yang pertama, ia menggores dinding itu lagi dengan sebuah tulisan, ”ALLAH PEDULI.”

Tulisan itu bukan sekedar tulisan tanpa makna, ALLAH benar-benar mempunyai berkat baginya. Di sel yang lain, seorang tahanan mempunyai anak perempuan yang diizinkan mengunjungi para tahanan. Dia juga menengok ke sel dimana CHARNEY ditempatkan. Perempuan ini mendengar dan melihat apa yang yang telah diperbuat CHARNEY terhadap tanaman itu.

Dengan segera berita menyebar ke seantero negeri dan terdengar di telinga Ratu Josephine yang terkenal ramah itu. Ratu berkata, ”Seorang yang mengasihi dengan sungguh dan memelihara sebuah bunga tidak akan menjadi seorang yang jahat.”

Sang Ratu kemudian membujuk NAPOLEON untuk membebaskan CHARNEY dan CHARNEY pun dibebaskan. CHARNEY pun tak lupa membawa tanaman itu pulang ke rumahnya. Tanaman yang mengajarkannya untuk tetap percaya kepada Allah dan kepedulian-NYA terhadap kaum yang lemah.

Saat ini, mungkin anda sedang mengalami pergumuan yang berat, mengalami kejatuhan dan seakan-akan tidak ada yang peduli terhadap anda. Ingatlah akan satu hal, ALLAH PEDULI. Bahkan ketika seisi dunia tidak peduli kepada anda, ALLAH tetap peduli kepadamu.


KEPEDULIAN ALLAH SERINGKALI BERWUJUD SESUATU YANG KITA ANGGAP REMEH

Pemuda Dan TELEGRAPH


Sewaktu telegraph sedang memasuki masa kejayaan, tercatatlah seorang pemuda yang sangat mencintai sandi morse dan bermimpi bahwa suatu hari ia dapat bekerja di perusahaan tersebut.

Hingga suatu hari perusahaan telegraph mengumumkan lowongan pekerjaan untuk posisi itu. Tentu saja, sang pemuda sangat bersemangat dan segera mendatangi perusahaan tersebut untuk memberikan surat lamarannya. Ketika memasuki perusahaan tersebut, ia dibuat terpesona dan terkagum-kagum melihat keadaan di tempat itu, bagaimana setiap orang sangat menikmati pekerjaannya sekalipun terdengar bising suara dari sandi morse.

Begitu memasuki ruang tunggu, sang pemuda terkejut karena ternyata banyak juga orang yang berminat untuk bekerja di tempat itu. Oleh resepsionis ia diminta mengisi formulir dan menunggu antrian untuk test wawancara. Selesai mengisi formulir, sang pemuda segera beranjak dari tempat duduknya dan menyerahkan lembaran itu ke resepsionis dan melenggang masuk ke ruangan wawancara tanpa menunggu antrian lagi. Sikapnya yang seperti ini tentu saja, membuat tanda tanya besar di benak para calon pelamar dan tak sedikit yang merasa gusar, karena merasa telah didahului oleh pemuda ini.

Selang beberapa waktu, dari ruangan wawancara di umumkan bahwa pintu pendaftaran telah ditutup karena karyawan untuk posisi itu telah didapatkan yaitu sang pemuda tadi. Mendengar hal ini tentu saja, orang-orang yang berada di ruang tunggu sangat gusar dan marah-marah, tidak terima dengan keputusan sepihak dari pihak management.

Akhirnya pihak management memberikan penjelasan, “Tenang saudara-saudara, dengankan dulu penjelasan saya. Anak muda ini datang bukan hanya untuk sekedar mencari pekerjaan, namun ia benar benar menguasai dan mencintai sandi morse. Tahukah saudara, di dalam formulir itu ada sebuah tulisan yang ditulis dengan sandi morse yang berbunyi, Jika anda sudah mengisi formulir, silakan masuk untuk wawancara. Anak muda menangkap informasi tersebut dan melakukan apa yang diperintahkannya, sedangkan saudara tidak menangkap pesan ini.”

MORAL: Terkadang kita seperti para pelamar itu, sibuk dengan permintaan dan lupa bahwa sebenarnya TUHAN pun ingin berbicara dengan kita. Akibatnya, apa yang seharusnya kita dapatkan menjadi sia-sia, karena kita tidak sabar untuk menunggu waktu-NYA. Mari, kita belajar dari pemuda ini yang mencari tahu bagaimana menguasai sandi morse dan ketika tiba waktunya, ia bisa menunjukkannya dengan maximal.

Tuesday, November 09, 2010

Cepat Puas


Alkisah ada seorang bocah desa berusia 12 th yg blm pernah melihat sirkus. Suatu hari, disekolahnya ada poster yg mengumumkan bahwa hari Sabtu nanti sebuah sirkus akan pentas di kota terdekat.
Karena penasaran, maka Sabtu pagi , ia bergegas ke kota. Saat hampir sampai di perbatasan, dia melihat orang2 sdh berderet di pinggir jalan. Dia berusaha keras menyelinap di antara impitan orang2 sampai dia bisa melihat.
Ternyata itu sebuah parade sirkus. Parade itu merupakan hiburan terbesar yg pernah dilihatnya. Binatang2 buas yang ada dalam kerangkeng menggeram, pemain band memainkan musik yg dinamis, orang2 cebol melakukan akrobatik, badut2 & bendera serta pita warna-warni berkibar di depannya. Akhirnya, setelah semua anggota sirkus lewat, anak itu pulang ke desanya.
Mengapa?? Ternyata, anak itu mengira dia sudah melihat sirkus, padahal dia baru saja melihat arak2annya saja. ‎​

Tanpa disadari dlm hidup kita, kita sering berlaku seperti anak dlm kisah diatas. Sebuah pepatah mengatakan "Terlalu sering kita sdh puas dgn bermain di genangan air ketika keindahan & kebesaran samudera hanya beberapa meter jauhnya".
Renungan hari ini mengingatkan kita bahwa sebenarnya Tuhan ingin memberkati anak2NYA dgn limpah, tapi sering kali sikap hati kitalah yg menahan berkat itu turun.
Ini bukan berarti kita tdk usah mencukupkan diri dlm segala keadaan (filipi 4:11). Tapi, kadang kita bahkan tanpa sadar seolah membatasi Tuhan. Maksudnya, Tuhan sdh menganugerahi kita dgn berbagai kemampuan & talenta, tapi kita hanya memakainya menurut kehendak kita saja. kita berhenti & puas melihat keindahan disekitar kita, padahal ada pemandangan yg lebih luar biasa yg bisa kita nikmati, jika kita mau berjalan beberapa meter lagi.
kita hanya mengejar berkat secara materi & mengabaikan usaha untuk mengejar berkat rohani.‎​

Tuhan rindu menunjukkan kasihNYA pada kita, asalkiqta mau merendahkan hati, taat & datang mendekat padaNYA....

Monday, November 08, 2010

RAKUS


Sepasang pengantin merayakan pesta pernikahan mereka di sebuah restoran
mewah di Taipei. Sebagai bonus, keduanya boleh minum bir dan wine sepuasnya
tanpa biaya tambahan. Mumpung gra-tis, Wu, si pengantin pria, menenggak
minuman keras sebanyak-banyaknya. Sepulang dari pesta, wajahnya mendadak
pucat. Segera Wu dilarikan ke rumah sakit. Jantungnya tidak tahan menerima
asupan alkohol begitu banyak. Malam itu juga ia meninggal. Pada hari pernikahannya.

Kerakusan berbahaya. Nafsu rakus muncul saat orang merasa berhak memperoleh lebih.

Umat Israel telah diberi Tuhan cukup makanan. Setiap pagi mereka
menerima mukjizat.
Manna tersedia di depan tenda. Tinggal dipungut dan dimasak. Namun, nafsu rakus membuat mereka tidak puas. Mereka menuntut lebih: minta diberi daging. Tuhan murka, lalu menghukum dengan menuruti kemauan mereka. Dikirimnya burung-burung puyuh. Banyak sekali.
Setiap orang mengumpulkan minimal 10 homer. Setara dengan 50 ember besar berisi daging
puyuh! Setelah diawetkan dengan cara dikeringkan, daging itu malah jadi makanan beracun yang mematikan.

Nafsu rakus muncul bukan cuma dalam soal makan-minum, melainkan juga dalam
soal harta, kuasa, seks, pengetahuan, pengaruh, dan lain-lain.
Gejalanya:
kita merasa tidak puas terhadap berkat Tuhan, lalu menuntut lebih. Lalu
segala cara pun kita tempuh. Hati kita berbisik: "Ayo, ambil lebih banyak
lagi. Kamu bisa!" Jika nafsu rakus itu akhirnya bisa tersalurkan karena ada
kesempatan, jangan buru-buru berkata: "Itu berkat Tuhan!" Bisa jadi itu
sebuah hukuman!

*HUKUMAN TUHAN PALING MENGERIKAN IALAH SAAT DIA MEMBIARKAN ANDA PUNYA SEMUA YANG ANDA INGINKAN.

Sunday, November 07, 2010

Kisah Carlos


Kisah sukses Carlos Arboleya akan sangat menginspirasi kita. Tahun 1960 Carlos menjabat posisi yang cukup tinggi di salah satu bank terbesar di Kuba. Perubahan besar terjadi ketika rezim komunis Fidel Castro menasionalisasi semua bank swasta. Carlos bersama isteri dan ketiga orang anaknya yang masih kecil meninggalkan Kuba menuju Amerika hanya dengan membawa 42 dolar. Dia tidak memiliki pekerjaan dan tidak kenal dengan siapapun juga.

Pekerjaan pertama yang ia dapatkan adalah sebagai juru tulis di bagian inventaris sebuah pabrik sepatu. Meski mendapat bagian yang remeh, Carlos bekerja tanpa lelah dan menunjukkan kualitas kerja yang luar biasa. 16 bulan kemudian ia menjadi manajer. Dalam waktu singkat ia direkrut oleh sebuah bank yang menjadi mitra bisnis pabrik sepatu tersebut. Selanjutnya kita kini mengenal Carlos Arboleya menjadi salah seorang bankir paling sukses di Amerika.

Dari juru tulis rendahan sampai menjadi bankir sukses. Itulah kisah seorang pengungsi yang positif. Tempat kita memulai tidak penting. Tempat yang kita tuju, itulah yang penting. Banyak tokoh Alkitab yang sukses juga memulai dari tempat yang tidak penting. Yusuf memulainya dari penjara dan perbudakan. Daud memulainya dari seorang gembala. Murid-murid Yesus memulainya dari nelayan sederhana. Namun tempat yang berhasil mereka tuju adalah luar biasa! Apa kuncinya? Penyertaan Tuhan dan hiduplah di dalam kebenaran!

Jika kita melibatkan Tuhan senantiasa di dalam hidup kita. Jika kita hidup di dalam ketaatan penuh akan Firman-Nya. Jika kita bekerja dan berusaha dengan cara-cara yang benar. Jika kita menunjukkan kualitas kerja yang luar biasa : rajin, tekun, ulet, penuh semangat, setia, berdedikasi, jujur, bisa dipercaya, memiliki kompetensi, mau berkembang, dsb. maka kita pasti akan sampai ke tempat yang kita akan tuju. Sekali lagi, yang penting bukanlah bagaimana kita mengawali, tapi bagaimana kita mengakhirinya.

Tempat kita memulai tidak penting. Tempat yang kita tuju, itulah yang penting.

Friday, November 05, 2010

Yesusku Luar Biasa


Tadi pagi dalam perjalanan ke kantor aku dengerin radio Sangkakala di mobil.

Ada kesaksian Pdt Hendra mengenai seorang temannya kesaksiannya cukup unik.

Pdt Hendra crita soal temanya yg pengangguran, jebolan sales di pabrik kompor.

Dulu selama 18 tahun kerjanya keliling nawar2in kompor Sudah sebulan dia menganggur, & sudah banyak surat lamaran kerja yg dia buat, tapi belum pernah ada panggilan.

Sampai akhirnya dia nyaris frustasi, dia bikin satu surat lamaran terakhir, tidak tanggung2, ada lowongan sebagai Marketing Mgr, Personalia Mgr, & Branch Manager u. suatu cabang perusahaan asing(Jepang) yg akan dibuka di Bali dia melamar sebagai Branch manager !!! dia pasrah total sama Tuhan. & dia minta bantu Pdt Hendra ikut doakan.

Pdt Hendra sendiri yg mendoakan, sebenarnya merasa gak yakin juga tapi dia tetep ikut doakan

Beberapa hari kemudian, muncul surat undangan test. si salesman kompor ini sudah begitu bahagia bisa dipanggil, dia sudah sujud syukur sama Tuhan. Waktu datang ketempat test, dia baru sadar bahwa yg datang hari itu untuk test tiga lowongan tsb, sebanyak 460 orang!!! (tidak tahu berapa banyak dari 460 peserta ini yg akan ikutan test Branch Manager).

Waktu menunggu, dia mulai tanya2 kanan kiri ternyata banyak sekali yg ikutan test Branch Managerrata2 lulusan sarjana, ada yg pengalaman di nestle, dll.

Trus dia tanya2, pengujinya ternyata orang Jepang & testnya pake bahasa campuran, Bhs Indonesia & Bhs Inggris sementara dia sendiri, dia cuma jebolan sales kompor, & lulusannya cuma SMA!!!

bahasa Inggris juga sangat terbatas!!!

Dia begitu gelisah, dia bilang ke Pdt Hendra (mungkin by phone), dia maupulang saja dia rasa tidak mungkin dia maju test. dia merasa tidak sanggup bersaing. tidak sanggup menanggung malu, competitornya begitu kelihatan hebat2 semua!!!. tapi Pdt Hendra membesarkan hatinya, menyuruhnya tetap ikutan test, dgn tidak lupa terus berserah pada Tuhan (disertai joke u menenangkan : kalau ditanya bahasa Inggris Anda bingung, ya jawab aja pake bahasa roh.) Pas jam 12 siang, seharusnya dia giliran maju, tapi pas jam istirahat. dia diberitahu akan dipanggil nanti jam 1. Di saat peserta2 lain pergi beristirahat, dia putuskan waktu satu jam itu bukan buat pulang, tapi buat doa, nyanyikan puji2an, & doa dgn bahasa roh.

Akhirnya saatnya tiba. dia dipanggil masuk dia masuk dengan hati yg sangat gelisah lalu dia tengking ketakutan & kegelisahannya. Saat itu (pas dia baru pegang handle pintu mau menutup pintu ruangan) tiba2 dia dengar suara Tuhan Tuhan suruh dia beri hormat cara karate!!!! ( salesman kompor ini juga guru karate yg mengajar para marinir, & dia sudah DAN 2)

Dia bingung setengah mati. mau wawancara pekerjaan,kok Tuhan suruh kasih hormat cara karate???. tapi dia nekat ikuti saja pesan Tuhan dia berdiri lurus menghadap si Jepang, trus membungkukkan badan sambil teriak bahasa Jepang yg biasa sbg bahasa penghormatan di karate!!!

Gak taunya ini si Jepang tiba2 ikutan berdiri & membungkuk memberi hormat yg sama (cara karate). dgn teriakan yg sama pula!!!.

Lalu terjadi tanya jawab, si Jepang ini bukannya mewawancarai CV nya, tapi malah tanya2 soal background karate dari si salesman ini. Dan si Jepang ngajak tanding di situ!!!.

Si salesman bisa mengatasi semua serangan si Jepang, akhirnya si Jepang nyerah ternyata si Jepang ini karateka sabuk hitam, tapi belum punya DAN, sementara si salesman sudah DAN 2!!!

Lalu si Jepang tanya : “Anda melamar sebagai apa?” dijawab “Sebagai Branch Manager”

Kemudian tanpa basa basi lagi, si Jepang bilang kepada staffnya di luar “Lowongan untuk Branch Manager sudah ditutup, krn saya sudah dapatkan orangnya yg saya pilih jadi Branch Manager!!!

Pdt Hendra menutup cerita kesaksiannya ini dengan ulasan : Tidak ada sesuatu hal yang mustahil bagi Tuhan, semua masalah yang mustahil bagi manusia, adalah kecil dihadapan Tuhan. Tapi Iblis sangat senang menunjukkan pada manusia, hal2 yg mustahil, yang tidak mungkin akan bisa terjadi. Iblis senang sekali membuat manusia berpikir menurut logika manusia. bahwa hal ini tidak mungkin terjadi supaya manusia mau menyerah!!!

Tapi kalau kita mau mengandalkan Tuhan., mau berjalan dalam bimbingan Roh Kudus maka semua hal BISA terjadi!!!

Humor Anak Kecil


1. Yunus Dan Ikan Paus

Seorang gadis cilik bicara soal ikan paus dengan gurunya. Guru

Itu menjelaskan bahwa ikan paus itu walaupun tubuhnya besar tetapi tidak dapat menelan manusia karena kerongkongannya sempit.

Gadis itu berkata: “Tetapi nabi Yunus ditelan oleh seekor ikan paus.”

Merasa kesal guru itu mengulangi bahwa ikan paus tidak mungkin dapat menelan manusia.

Gadis itu berkata lagi: “Nanti kalau masuk surga saya akan tanya

Kepada nabi Yunus.”

Guru itu bertanya: “Bagaimana kalau ia masuk neraka?”

“Kalau begitu bapak saja yang nanya,” jawab anak itu.

2. Wajah Tuhan

Seorang guru TK sedang mengawasi murid-murid yang sedang

menggambar.

Ia keliling untuk kontrol. Seorang gadis kecil tampak asyik sekali

menggambar. Guru itu bertanya kepadanya apa yang sedang digambarnya.

Anak itu menjawab: “Saya sedang menggambar Tuhan.” Guru itu tercekat dan bertanya: “Tetapi tidak ada kan yang tahu wajah Tuhan seperti apa.”

Bergeming tanpa lepas dari lukisannya anak itu menjawab: “Sebentar

Lagi mereka akan tahu.”

3. Sepuluh Perintah Allah.

Seorang guru Bina Iman membahas soal Sepuluh Perintah Allah

Dengan anak-anak usia lima dan enam tahun. Setelah menjelaskan perintah “Hormatilah kedua orang tuamu” ia bertanya, “Anak-anak adakah perintah yang mengajarkan bagaimana kita harus memperlakukan saudara-saudara kita?”

Tanpa sangsi seorang anak laki-laki (sulung di keluarganya) menjawab:

“Jangan membunuh!”

4. Uban Dan Kenakalan

Suatu hari seorang gadis kecil sedang duduk memperhatikan

Ibunya mencuci piring di dapur. Tiba-tiba perhatiannya beralih pada

helai-helai uban yang mencolok mata pada rambut ibunya. Kemudian ia bertanya:

“Ma, mengapa beberapa lembar rambut Mama ubanan sih?” Ibunya menjawab:

“Ya, setiap kali engkau nakal dan membuat Mama menangis atau sedih hati, selembar rambut Mama menjadi putih.” Anak gadis kecil itu merenung sesaat mendengar pencerahan itu dan kemudian berkata: “Mama, lalu mengapa SEMUA rambut nenek menjadi putih semuanya?”

5. Foto Bersama

Anak-anak semuanya sudah selesai berfoto bersama dan guru

Sedang mencoba membujuk mereka memesan masing-masing selembar foto nantinya.

“Coba pikirkan betapa indahnya bila kalian semua sudah dewasa dan

berkata: ‘Nah itu Yani, ia jadi pengacara’, atau ‘itu Miki yang kini jadi dokter.’”

Tiba-tiba terdengar suatu suara nyeletuk: “Dan itu ibu guru kita.

Dan kini ia sudah mati.

Wednesday, November 03, 2010

Tiga Kelereng


Pada masa-masa susah di sebuah kota kecil Idaho, saya suka mengunjungi toko
kecil di tepi jalan milik Mr Miller yang menyediakan produk segar hasil pertanian.
Makanan dan uang cukup langka pada waktu itu...
dan jual beli dilakukan dengan cara tukar menukar barang.

Satu hari, Mr Miller sedang mengepak kentang-kentang yang saya beli ketika tidak
sengaja saya melihat seorang anak yang kecil kurus kelaparan, compang-camping
tetapi bersih, nampak sedang memilih-milih kacang polong segar yang baru dipetik
di keranjang. Saya membayar untuk kentang-kentang saya sambil
ikut tertarik pada kacang polong tersebut.
Saya adalah penjual kentang dan krim kacang.Saat menimbang kacang polong, tanpa
sadari, saya ikut mendengarkan pembicaraan mereka.

"Halo Barry, bagaimana kabarmu hari ini?" tanya si pemilik toko.

'Halo, Mr Miller. Saya baik, terima kasih ya. Saya cuma mengagumi kacang polong
ini....tampak segar dan bagus-bagus"

"Itu memang bagus Barry. Bagaimana dengan ibu kamu? "

"Oh... dia membaik, dan nampak semakin kuat."

"Bagus. Apa ada yang bisa saya bantu? "

"Tidak, Sir. saya cuma mengagumi kacang polong ini. "

'Apakah kamu ingin beberapa untuk di bawa pulang?" kata Mr Miller.

"Tidak, Sir. Saya tidak ada uang untuk membayar. "

"Jika begitu, apa kamu punya sesuatu sebagai penukar?"

"Saya hanya punya beberapa kelereng hadiah."

"Apakah itu benar? Coba kulihat "kata Mr Miller. "Ini .. bagus. "
"Aku bisa melihatnya. Hmm sayang warnanya biru sedang saya mencari warna merah.
Apakah kamu
memilikinya seperti ini di rumah? "

"Tidak persis tapi hampir sama. "

'Begini saja. Ambil saja dulu kacang polong ini, dan lain kali, kamu bawa
kelereng kamu yang merah'.
kata Mr Miller kepada anak itu.

"Tentu. Terima kasih Mr Miller. "


Ny Miller, yang sedang berdiri tidak jauh, datang untuk membantu saya. Dengan
tersenyum dia berkata,
"Ada dua anak laki-laki lain seperti dia di komunitas kami, ketiganya sama-sama
sangat miskin.
Jim suka tawar-menawar dengan mereka untuk kacang polong, apel, tomat, atau apa
pun.
Jika mereka kembali dengan warna yang diminta, Jim akan berkata bahwa dia sudah
tidak mencari
warna tersebut dan akan menanyakan warna lainnya. Tetapi Jim tetap memberikan
apa saja yang mereka
ingin tukarkan."


Saya meninggalkan toko sambil tersenyum sendiri, terkesan dengan orang ini.
Beberapa waktu kemudian saya pindah ke Colorado, tapi saya tidak pernah lupa
kisah tentang orang ini,
anak-anak, dan cara barter mereka.

Beberapa tahun berlalu dengan cepat. Baru-baru ini saya memiliki kesempatan
untuk mengunjungi beberapa teman lama di komunitas Idaho dan mendengar bahwa Mr
Miller meninggal dunia.
Teman-teman saya berencana untuk berkunjung sore itu dan saya sepakat untuk
ikut.

Saat tiba di tempat jenasah disemayamkan, kita menemui keluarga almarhum untuk
menyampaikan bela sungkawa dan kata-kata penghiburan.
Di depan kami, nampak tiga orang muda. Salah satunya mengenakan seragam tentara
dan
dua lainnya berpotongan rambut bagus, setelan gelap dan kemeja putih ... semua
tampak sangat profesional.

Mereka semua menghampiri Mrs Miller dan berdiri disampingnya sambil tersenyum
kepada jenasah
Mr Miller di dalam peti mati.
Setiap pemuda memeluknya, mencium pipi, bicara singkat dengannya dan pindah ke
peti mati, dengan mata berkaca-kaca, satu per satu, masing-masing pemuda
berhenti sebentar dan meletakkan tangan mereka di atas tangan yang pucat dingin
di peti mati.
Satu persatu meninggalkan tempat itu sambil menyeka mata.

Giliran kami datang menemui Ny Miller. Saya bilang padanya siapa saya dan
mengingatkannya pada kisah dari tahun-tahun yang lalu dan ketika ia bercerita
tentang suaminya yang suka berbarter untuk kelereng.
Dengan mata berkaca-kaca, dia meraih tanganku dan membawa saya ke peti mati.

"Mereka tiga pemuda yang baru saja meninggalkan adalah anak laki-laki yang
kuceritakan dulu.
Mereka hanya mengatakan kepada saya bagaimana mereka menghargai hal-hal yang Jim
'perdagangkan'
pada mereka. Sekarang, pada akhirnya, ketika Jim sudah tidak bisa lagi meminta
warna atau ukuran kelereng

mereka datang untuk membayar utang mereka. "

'Kami tidak pernah memiliki banyak kekayaan di dunia ini, "ia mengaku," tapi
sekarang, Jim akan
menganggap dirinya orang terkaya di Idaho ..'

Dengan lembut, dia mengangkat jari-jari almarhum suaminya.
Nampak disitu tiga buah kelereng warna merah yang bersinar indah.

*Moral:*
*Orang mungkin tidak bisa mengingat semua perkataan kita, tetapi akan mengingat
segala perbuatan baik kita.
Hidup ini tidak diukur oleh nafas yang kita habiskan, tetapi oleh waktu yang
kita habiskan untuk bernafas.

Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk
Tuhan dan bukan untuk manusia.

Tuesday, November 02, 2010

Bunga Cantik Dalam Pot Yang Retak


Rumah kami langsung berseberangan dengan pintu masuk RS John Hopkins di Baltimore. Kami tinggal dilantai dasar dan menyewakan kamar-kamar lantai atas pada para pasien yang ke klinik itu.

Suatu petang dimusim panas, ketika aku sedang menyiapkan makan malam, ada orang mengetuk pintu. Saat kubuka, yang kutatap ialah seorang pria dengan wajah yang benar buruk sekali rupanya. “Lho, dia ini juga hampir Cuma setinggi anakku yang berusia 8 tahun,” pikirku ketika aku mengamati tubuh yang bungkuk dan sudah serba keriput ini. Tapi yang mengerikan ialah wajahnya, begitu miring besar sebelah akibat bengkak, merah dan seperti daging mentah., hiiiihh…!

Tapi suaranya begitu lembut menyenangkan ketika ia berkata, “Selamat malam. Saya ini kemari untuk melihat apakah anda punya kamar hanya buat semalam saja. Saya datang berobat dan tiba dari pantai Timur, dan ternyata tidak ada bis lagi sampai esok pagi.” Ia bilang sudah mencoba mencari kamar sejak tadi siang tanpa hasil, tidak ada seorangpun tampaknya yang punya kamar. “Aku rasa mungkin karena wajahku … Saya tahu kelihatannya memang

mengerikan, tapi dokterku bilang dengan beberapa kali pengobatan lagi…” Untuk sesaat aku mulai ragu2, tapi kemudian kata2 selanjutnya menenteramkan dan meyakinkanku: “Oh aku bisa kok tidur dikursi goyang diluar sini, di veranda samping ini. Toh bis ku esok pagi2 juga sudah berangkat.” Aku katakan kepadanya bahwa kami akan mencarikan ranjang buat dia, untuk beristirahat di veranda.

Aku masuk kedalam menyelesaikan makan malam. Setelah rampung, aku mengundang pria tua itu, kalau2 ia mau ikut makan. “Wah, terima

kasih, tapi saya sudah bawa cukup banyak makanan.” Dan ia menunjukkan sebuah kantung kertas coklat. Selesai dengan mencuci piring2, aku keluar mengobrol dengannya beberapa menit. Tak butuh waktu lama untuk melihat bahwa orang tua ini memiliki sebuah hati yang terlampau besar untuk dijejalkan ketubuhnya yang kecil ini.

Dia bercerita ia menangkap ikan untuk menunjang putrinya, kelima anak2nya, dan istrinya, yang tanpa daya telah lumpuh selamanya

akibat luka ditulang punggung.

Ia bercerita itu bukan dengan berkeluh kesah dan mengadu; malah sesungguhnya, setiap kalimat selalu didahului dengan ucapan syukur

Pada Allah untuk suatu ber-kat! Ia berterima kasih bahwa tidak ada rasa sakit yang menyertai penyakitnya, yang rupa2nya adalah semacam kanker kulit. Ia bersyukur pada Allah yang memberinya kekuatan untuk bisa terus maju dan bertahan. Saatnya tidur, kami bukakan ranjang lipat kain berkemah untuknya dikamar anak2. Esoknya waktu aku bangun, seprei dan selimut sudah rapi terlipat dan pria tua itu sudah berada di veranda. Ia menolak makan pagi, tapi sesaat sebelum ia berangkat naik bis, ia berhenti sebentar, seakan

meminta suatu bantuan besar, ia berkata, “Permisi, bolehkah aku datang dan tinggal disini lagi lain kali bila aku harus kembali berobat? Saya sungguh tidak akan merepotkan anda sedikitpun. Saya bisa kok tidur enak dikursi.” Ia berhenti sejenak dan lalu menambahkan, “Anak2 anda membuatku begitu merasa krasan seperti di rumah sendiri. Orang dewasa rasanya terganggu oleh rupa buruknya wajahku, tetapi anak2 tampaknya tidak terganggu.” Aku katakan

silahkan datang kembali setiap saat.

Ketika ia datang lagi, ia tiba pagi2 jam tujuh lewat sedikit. Sebagai

oleh2, ia bawakan seekor ikan besar dan satu liter kerang oyster terbesar yang pernah kulihat. Ia bilang, pagi sebelum berangkat, semuanya ia kuliti supaya tetap bagus dan segar. Aku tahu bisnya berangkat jam 4.00 pagi, entah jam berapa ia sudah harus bangun untuk mengerjakan semuanya ini bagi kami.

Selama tahun2 ia datang dan tinggal bersama kami, tidak pernah sekalipun ia datang tanpa membawakan kami ikan atau kerang Oyster atau sayur mayur dari kebunnya. Beberapa kali kami terima kiriman lewat pos, selalu lewat kilat khusus, ikan dan oyster terbungkus dalam sebuah kotak penuh daun bayam atau sejenis kol, setiap helai tercuci bersih. Mengetahui bahwa ia harus berjalan sekitar 5 km untuk mengirimkan semua itu, dan sadar betapa sedikit penghasilannya, kiriman2 dia menjadi makin bernilai…

Ketika aku menerima kiriman oleh2 itu, sering aku teringat kepada komentar tetangga kami pada hari ia pulang ketika pertama kali datang. “Ehhh, kau terima dia bermalam ya, orang yang luar biasa jelek menjijikkan mukanya itu? Tadi malam ia kutolak. Waduhh, celaka dehh.., kita kan bakal kehilangan langganan kalau nerima orang macam gitu!” Oh ya, memang boleh jadi kita kehilangan satu dua tamu. Tapi seandainya mereka sempat mengenalnya,mungkin penyakit mereka bakal jadi akan lebih mudah untuk dipikul.

Aku tahu kami sekeluarga akan selalu bersyukur, sempat dan telah

mengenalnya; dari dia kami belajar apa artinya menerima yang buruk tanpa mengeluh, dan yang baik dengan bersyukur kepada Allah.

Baru2 ini aku mengunjungi seorang teman yang punya rumah kaca. Ketika ia menunjukkan tanaman2 bunganya, kami sampai pada satu Tanaman krisantemum yang paling cantik dari semuanya, lebat penuh tertutup bunga berwarna kuning emas. Tapi aku jadi heran sekali, melihat ia tertanam dalam sebuah ember tua, sudah penyok berkarat pula. Dalam hati aku berkata, “Kalau ini tanamanku, pastilah sudah akan kutanam didalam bejana terindah yang kumiliki.” Tapi temanku merubah cara pikirku. “Ahh, aku sedang kekurangan pot saat itu,” ia coba terangkan, “dan tahu ini bakal cantik sekali, aku pikir tidak apalah sementara aku pakai ember loak ini. Toh cuma buat sebentar saja, sampai aku bisa menanamnya ditaman.”

Ia pastilah ter-heran2 sendiri melihat aku tertawa begitu gembira, tapi

aku membayangkan kejadian dan skenario seperti itu disurga. “Hah, yang ini luar biasa bagusnya,” mungkin begitulah kata Allah saat Ia

sampai pada jiwa nelayan tua baik hati itu.” Ia pastilah tidak akan keberatan memulai dulu didalam badan kecil ini.” Semua ini sudah lama terjadi, dulu — dan kini, didalam taman Allah, betapa tinggi mestinya berdirinya jiwa manis baik ini.

“Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang didepan mata, tetapi Tuhan melihat hati.” (1 Samuel 16:7b)

HEBAT ! Luar Biasa !!


Seorang anggota jemaat yang sangat kaya datang ke pendetanya, “Saya ingin Pak Pendeta bersama Ibu melakukan perjalanan ke Tanah Suci dan seluruh ongkos akan saya tanggung. Bila Anda kembali saya akan memberi kejutan buat Anda. Pendeta itu menerima tawaran tersebut, dan ia bersama isterinya melakukan perjalanan ke Timur Tengah.

Tiga bulan kemudian mereka kembali dan ditemui oleh jemaat yang kaya itu. Ia mengatakan bahwa selama mereka bepergian ia telah membangun sebuah gereja baru. “Itu adalah gereja terhebat yang pernah ada, Pak Pendeta,” kata orang itu. Dan ia benar, Gereja itu sangat megah baik di luar maupun di dalam.

Tetapi ada sesuatu yang aneh. Di situ hanya ada sederetan bangku yang letaknya paling belakang. Sebuah gereja hanya dengan sederet bangku?” tanya pendeta itu.

“Lihat saja hari Minggu nanti,” kata orang kaya itu.

Ketika tiba waktunya untuk kebaktian Minggu, mereka yang datang pertama menduduki sederet bangku itu. Setelah deretan itu penuh, orang kaya itu memencet tombol dan deretan yang sudah penuh itu bergeser maju ke depan dan sederetan bangku yang kosong muncul dari bawah secara otomatis di belakang bangku yang sudah penuh itu. Begitu seterusnya hingga gereja itu penuh dari depan hingga belakang..

“Hebat!” kata pendeta, “Luar biasa! Jadi tidak ada bangku depan yang

kosong.”

Kebaktian pun mulai, tiba saatnya pendeta berkhotbah. Tetapi sampai jam

12:00 tampaknya ia masih bersemangat, tidak ada tanda-tanda bahwa

khotbahnya akan berakhir. Tiba-tiba terdengar suara bel, dan sebuah pintu jebakan di belakang mimbar terbuka dan pendeta itu lenyap.

“Hebat!” kata jemaat, “Luar biasa!”

Terdampat disebuah Pulau


Dua orang yang kapalnya karam terdampar di sebuah pulau. Salah seorang, John, berteriak-teriak, “Kita akan mati! Kita akan mati!” Temannya, Joe, tenang dan hanya bersandar di pohon kelapa.

John bertanya, “Bagaimana kamu bisa setenang itu? Joe menjawab, “Saya berpenghasilan $100,000 dolar per minggu. Dan saya tidak akan mati.”

John bertanya, “Kita akan mati dan apa hubungannya dengan penghasilanmu yang $100,000 per minggu itu?”

Joe menjawab, “Ya saya memperoleh penghasilan $100,000 setiap minggu dan saya selalu memberikan perpuluhan untuk setiap sen yang saya dapat.

Pendeta saya pasti mati-matian mencari saya.”

Pencapaian Terbesar


Suatu ketika di ruang kelas sekolah menengah, terlihat Suatu percakapan yang menarik. Seorang guru, dengan buku di tangan, tampak menanyakan sesuatu kepada murid-muridnya di depan kelas. Sementara itu, dari mulutnya keluar sebuah pertanyaan. “Anak-anak, kita sudah hampir memasuki saat-saat terakhir bersekolah di sini. Setelah 3 tahun, pencapaian terbesar apa yang membuatmu bahagia? Adakah hal-hal besar yang kalian peroleh selama ini?”

Murid-murid tampak saling pandang. Terdengar suara lagi dari guru,”Ya,ceritakanlah satu hal terbesar yang terjadi dalam hidupmu…”. Lagi-lagi semua murid saling pandang, hingga kemudian tangan guru itu menunjuk pada seorang murid. “Nah, kamu yang berkacamata, adakah hal besar yang kamu temui? Berbagilah dengan teman-temanmu…”.

Sesaat, terlontar sebuah cerita dari si murid, “Seminggu yang lalu, adalah masa yang sangat besar buatku. Orangtuaku, baru saja membelikan sebuah motor, persis seperti yang aku impikan selama ini”. Matanya berbinar, tangannya tampak seperti sedang menunggang sesuatu.”Motor sport dengan lampu yang berkilat, pasti tak ada yang bisa mengalahkan kebahagiaan itu!”

Sang guru tersenyum. Tangannya menunjuk beberapa murid lainnya. Maka,terdengarlah beragam cerita dari murid-murid yang hadir. Ada anak yang baru saja mendapatkan sebuah mobil. Ada pula yang baru dapat melewatkan liburan di luar negeri. Sementara, ada murid yang bercerita tentang keberhasilannya mendaki gunung.

Semuanya bercerita tentang hal-hal besar yang mereka temui dan mereka dapatkan. Hampir semua telah bicara, hingga terdengar suara dari arah belakang. “Pak Guru..Pak, aku belum bercerita”. Rupanya, ada seorang anak di pojok kanan yang luput dipanggil. Matanya berbinar. Mata yang sama seperti saat anak-anak lainnya bercerita tentang kisah besar yang mereka punya.

“Maaf, silahkan, ayo berbagi dengan kami semua”, ujar Pak Guru kepada murid berambut lurus itu. “Apa hal terbesar yang kamu dapatkan?”,Pak Guru mengulang pertanyaannya kembali.

“Keberhasilan terbesar buatku, dan juga buat keluargaku adalah..saat nama keluarga kami tercantum dalam buku telpon yang baru terbit 3 hari yang lalu”. Sesaat senyap. Tak sedetik, terdengar tawa-tawa kecil yang memenuhi ruangan kelas itu. Ada yang tersenyum simpul, terkikik-kikik, bahkan tertawa terbahak mendengar cerita itu.

Dari sudut kelas, ada yang berkomentar, “Ha? aku sudah sejak lahir menemukan nama keluargaku di buku telpon. Buku Telpon? Betapa menyedihkan…hahaha”. Dari sudut lain, ada pula yang menimpali, “Apa tak ada hal besar lain Yang kamu dapat selain hal yang lumrah semacam itu?” Lagi-lagi terdengar derai-derai tawa kecil yang masih memenuhi ruangan. Pak Guru berusaha menengahi situasi ini, sambil mengangkat tangan. “Tenang sebentar anak-anak, kita belum mendengar cerita selanjutnya. Silahkan teruskan, Nak…”.

Anak berambut lurus itu pun kembali angkat bicara. “Ya. Memang itulah kebahagiaan terbesar yang pernah aku dapatkan. Dulu, Ayahku bukanlah orang baik-baik. Karenanya, kami sering berpindah-pindah rumah. Kami tak pernah menetap, karena selalu merasa di kejar polisi”.

Matanya tampak menerawang. Ada bias pantulan cermin dari kedua bola mata anak itu, dan ia melanjutkan. Tapi, kini Ayah telah berubah. Dia telah mau menjadi Ayah yang baik buat keluargaku. Sayang, semua itu butuh waktu dan usaha. Tak pernah ada Bank dan Yayasan yang mau memberikan pinjaman modal buat bekerja.

Hingga setahun lalu, ada seseorang yang rela meminjamkan modal buat Ayahku.Dan kini, Ayah berhasil. Bukan hanya itu, Ayah juga membeli sebuah rumah kecil buat kami. Dan kami tak perlu berpindah-pindah lagi”. “Tahukah kalian, apa artinya kalau nama keluargamu ada di buku telpon? Itu artinya, aku tak perlu lagi merasa takut setiap malam dibangunkan ayah untuk terus berlari. Itu artinya, aku tak perlu lagi kehilangan teman-teman yang aku sayangi. Itu juga berarti, aku tak harus tidur di dalam mobil setiap malam yang dingin. Dan itu artinya, aku, dan juga keluargaku, adalah sama derajatnya dengan keluarga-keluarga lainnya”.

Matanya kembali menerawang. Ada bulir bening yang mengalir. “Itu artinya, akan ada harapan-harapan baru yang aku dapatkan nanti…”. Kelas terdiam. Pak Guru tersenyum haru. Murid-murid tertunduk.

Mereka baru saja menyaksikan sebuah fragmen tentang kehidupan. Mereka juga baru saja mendapatkan hikmah tentang pencapaian besar, dan kebahagiaan. Mereka juga belajar satu hal : “Bersyukurlah dan berbesar hatilah setiap kali mendengar keberhasilan orang lain. Sekecil apapun. Sebesar apapun”.

Apakah Tuhan Yesus Baik ?


Dr. John Wilson pernah mengisahkan satu cerita sebagai berikut.

Booth Tucker sedang memimpin Kebaktian Penginjilan dalam suatu Salvation Army Citadel yang besar di kota Chicago. Suatu malam, setelah ia selesai menyampaikan khotbah dengan tema “Simpatiknya Yesus kepada Manusia”, ada seorang pria maju ke depan dan bertanya pada tuan Tucker:

“Bagaimana sampai ia membicarakan tentang Allah yang penuh kasih, penuh pengertian dan penuh simpatik ini, jika isterimu baru saja meninggal, seperti apa yang sedang saya alami ini? Sementara anak-anakmu sedang menangisi ibu mereka yang pergi dan tidak mungkin akan kembali lagi, engkau pasti tidak akan berkata lagi seperti apa yang baru saja engkau khotbahkan.”

Beberapa hari kemudian, isteri tuan Tucker meninggal akibat kecelakaan kereta api. Jenazah isterinya di bawa ke Chicago serta dikuburkan di Citadel. Setelah kebaktian duka, Pengkhotbah yang sedang kehilangan isteri tercinta itu menatap peti mati dengan tenang, Kemudian memandang ke arah semua hadirin.

Lalu ia berkata: “Beberapa hari yang lalu, ketika saya berada di kota ini, ada seorang pria mengatakan bahwa jikalau isteri saya baru meninggal dan anak-anak saya sedang menangisi mama mereka, maka saya pasti tidak sanggup mengatakan bahwa Yesus itu simpatik padaku atau Yesus itu cukup baik bagiku. Seandainya pria yang saya maksudkan itu ada di sini, saya ingin menyampaikan kepadanya bahwa Kristus itu cukup baik bagiku. Hatiku sekarang hancur, bahkan berkeping-keping, namun ini ada sebuah nyanyian dari Kristus yang sangat mengasihi saya. Saya ingin mengatakan kepada pria itu bahwa Yesus Kristus telah menghibur hatiku melalui firmanNya hari ini.”

Pria yang dimaksud itu benar ada di situ dan ia datang menghampiri Tucker sambil berlutut serta menyatakan pada hari ini juga ia dan anak-anaknya mau menerima Yesus sebagai Juru Selamat mereka.

Biskuit Yang Ditukar Bunyi


“Darat!” seru seorang kelasi yang sedang bertengger di mercu yang tiang itu. “Ada darat di sana!” Suaranya mengalun dari atas ke bawah, ke geladak kapal layar yang sedang melintasi Lautan Pasifik itu.

Seluruh isi kapal itu segera naik dari bawah. Sudah lama mereka rindu menyaksikan daratan! Ada kelasi yang mulai naik ke tiang layar untuk dapat melihat lebih jauh ke arah haluan. Ada penumpang yang lari ke kayu rimbat di pinggir geladak.

Salah seorang penumpang itu adalah seorang pemuda bernama John Geddie. Ia pun rindu sekali menyaksikan daratan yang sudah nampak di kejauhan itu. Pasti daratan itu lain sekali daripada apa saja yang pernah dilihatnya sepanjang umur.

John Geddie berasal dari negara Kanada, propinsi Nova Skotia. Ia sudah mengenal lautan, tetapi lautan di sana ditumbuhi pohon cemara dan pines, dan sering tertutup salju.

Lain sekali dengan daratan yang sedang dituju oleh kapal layar itu! John Geddie telah datang ke daerah Pasifik Selatan yang panas lembab, agar ia dapat memberitakan Kabar Baik tentang Tuhan Yesus kepada para penduduk Kepulauan Vanuatu. Atau lebih tepat, Ia berharap ada kesempatan memberitakan Kabar Baik kepada mereka, sebelum mereka sempat memakan dia, karena pada tahun 1848, masih ada di antara penduduk Vanuatu itu yang suka makan daging manusia.

Selama kapal berlayar mendekati pelabuhan, John Geddie menunggu dengan perasaan kurang sabar. Pulau itu nampaknya seperti zamrud hijau ditengah-tengah lauatan nan biru. Pohon-pohon palem menjulang tinggi di pantai pasir putih.

Ternyata pulau yang pertama-tama dilihat John Geddie itu bernama pulau Aneityum. Penduduk pulau itu sudah biasa didatangi orang asing. Mereka suka berdagang dengan para pendatang yang naik kapal dari jauh. Jadi, John tidak usah khawatir akan dibunuh dan dimakan selama ia menetap dipulau Anityum itu.

Dengan mudah John Geddie menyewa sebuah rumah. Para tetangganya yang baru itu rupanya cukup ramah. Namun mereka kurang berminat akan ajarannya tentang Tuhan Yang Maha Esa.

“Kami punya ilah-ilah sendiri,” demikian kata orang-orang Vanuatu itu. “Buat apa kamu mau mendengar tentang ilah lain yang diceritakan orang asing yang warna kulitnya sudah luntur itu?”

Tidak lama kemudian, kapal laut yang telah membawa John Geddie ke pulau Aneityum itu berangkat lagi. Ia berdiri di pantai sambil melambaikan tangannya selama layar itu kelihatan semakin kecil di kejauhan.

Di pantai itu, di kelilingnya berdiri bapak-bapak, ibu-ibu, dan anak-anak. Mereka semua asyik bercakap-cakap. Namun tidak ada satu kata pun yang dapat dipahami oleh John Geddie.

“Sudah jelas, aku harus belajar bahasa mereka,” kata John dalam hatinya.

Maka pada saat kapal layar itu makin menghilang di lautan lepas, ia mulai mendengarkan baik-baik lagu kalimat yang sedang diucapkan disekitarnya.

Penduduk pulau Aneityum yang suka berdagang itu cukup pandai berbicara bahasa Inggris. Mereka biasa bisa menggali akar ararut (ubi garut), lalu menawarkannya kepada para pendatang. Biasanya daripada menerima uang, mereka lebih suka tukar-menukar saja, sehingga dengan demikian mereka mendapat barang-barang yang mereka inginkan.

Tetapi masalahnya, bahasa Inggris yang cocok untuk perdagangan tukar menukar itu, bukanlah bahasa Inggris yang cocok untuk memberitakan Kabar Baik tentang Tuhan Yesus. Apa lagi, John Geddie tidak berminat mengajarkan bahasa Inggris kepada penduduk pulau itu.

“Buat apa aku mengajar mereka membaca Alkitab dalam bahasa Inggris?” tanya John pada dirinya sendiri. “Sebaiknya, aku mau belajar bahasa Aneityum, bahasa mereka. Bila aku menceritakan isi Alkitab, aku ingin supaya mereka semua dapat mengerti, dari nenek yang paling tua samapi anak yang paling kecil. Aku ingin menjadi begitu pandai berbicara dalam bahasa mereka, sampai-sampai mereka akan merasakan bahwa aku adalah salah seorang dari antara mereka.”

Tidak lama kemudian, John Geddie memang dapat mengucapkan banyak kata dalam bahasa Aneityum. Namun ia belum puas. Ia sering meminta orang-orang Vanuatu mengulangi sampai berkali-kali satu kata yang sama. Ia pun minta supaya satu kata itu mereka ucapkan dengan sangat pelan-pelan, agar ia dapat membeo bunyi yang sedang didengarnya itu.

Tetapi penduduk pulau itu kurang senang jika terus-menerus mengulangi kata-kata yang sama. Malu rasanya, jika harus bertalu-talu mengluarkan bunyi yang sama, hanya agar seorang asing dapat memperhatikan mulut mereka. Lambat laun mereka tidak segan-segan menyatakan rasa bosan atau rasa tersinggung mereka; satu persatu mereka meninggalkan di seorang diri.

“Wah, bagaimana aku dapat menguasai bunyi bahasa ini?” tanya John Geddie pada dirinya sendiri. “Apa lagi, jika aku tidak dapat menguasai bunyinya, bagaimana aku dapat menyusun tanda-tanda tulisan untuk bahasa ini yang belum pernah ditulis?”

Pada suatu hari John sedang mengunyah sepotong biskuit kapal. Biskuit kapal itu lain daripada biskuit kaleng–keras sekali, dan rasanya asin.Justru karena kerasnya, biskuit semacam itu dapat bertahan lama. Pada masa lampau, selama pelayaran yang memakan waktu panjang, biskuit kapal biasa dibawa serta sebagai bekal.

Mula-mula John Geddie tidak suka memakan biskuit kapal. Tetapi lambat laun ia mulai menyukai rasanya, sehingga pada waktu kapal hendak melanjutkan perjalanannya, ia minta supaya ditinggalkan satu peti biskuit itu baginya. Sewaktu-waktu ia mengunyah sepotong biskuit yang keras dan asin rasanya itu.

Pada waktu John sedang makan-makan, kebetulan lewatlah seorang Vanuatu. Ia salah seorang penduduk setempat yang telah meninggalkan John tanpa pamit, karena ia bosan atau tersinggung jika diminta berulang-ulang mengucapkan kata yang sama. Namun John ingin tetap bersikap ramah terhadap tetangganya itu, maka ia menawarkan sepotong biskuit kapal kepadanya. “Silakan coba!” katanya dalam bahasa Inggris.

Dengan agak was-was orang itu mulai mencicipi. Ia mengunyah biskuit yang keras itu. Ia menjilat dengan lidahnya. Lalu ia mengunyah lagi. Sudah jelas, ia menyukai biskuit yang asin rasanya itu.

Setelah selesai, ia mengulurkan tangannya. Tetapi John Geddie baru mendapat akal. Ia tidak segera memberikan lagi kepada tetangganya itu.

“Ayo, tukar!” kata John. Dan memang mereka mulai tukar-menukar. Yang diterima John sebagai pengganti biskuit itu, bukannya barang melainkan bunyi-bunyi yang diucapkan berulang-ulang.

Dengan cepat berita itu mulai tersiar, “Orang asing yang aneh itu rela memberikan makanan yang enak, asal saja ada penduduk yang rela membuang waktu dengan berkali-kali mengucapkan kata-kata dalam bahasanya sendiri!” Maka selanjutnya John tidak pernah kekurangan penolong dalam usahanya belajar bahasa setempat.

Sepotong demi sepotong ia menawarkan biskuit kapal itu kepada penduduk setempat. Satu demi satu ia menguasai bunyi yang biasa dilafalkan dalam bahasa mereka, sampai dapat membeo setiap kata dengan tepat dan jelas.

Sementara itu, John Geddie juga sudah menyusun semacam abjad bahasa Aneityum. Ia mulai mencatat kata-kata dalam bentuk tulisan. Tidak lama kemudian, kepada para tetangganya ia dapat bercerita tentang Tuhan Yang Maha Esa. Ia juga dapat bercerita tentang Yesus Kristus, yang sangat mengasihi semua orang.

Cerita-cerita yang disampaikan John Geddie itu berasal dari Kitab Injil Markus. Setiap kali bercerita, ia pun mencatat kata-kata dari ceritanya itu. Lambat laun ia dapat menyusun seluruh Injil Markus dalam bahasa Aneityum.

Penduduk pulau itu sudah mulai mengenal John Geddie; ia pun sudah semakin mengenal mereka. Mereka mulai saling mempercayai dan saling mengasihi. Oleh para tetangganya John sering dibawa serta pada waktu mereka pergi menjala ikan atau memelihara tanaman ubi ararut. Mereka memperlihatkan kepadanya bagaimana mereka menggali akar ararut, serta menyiapkan hasil tumbuhan itu untuk dijual.

Mereka juga mengajar John tentang adat mereka, tentang dongeng mereka,tentang cara mereka beribadah. Dengan panjang sabar John pun mengajar mereka tentang Tuhan Yesus Kristus. Lambat laun ada banyak di antara mereka yang menjadi orang Kristen.

Di samping mengajar, John Geddie juga masih terus menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa setempat. Setelah Kitab Injil Markus selesai, naskahnya dikirim ke Australia untuk dicetak. Ketika buku-buku kecil yang berisi Injil Markus itu sudah kembali lagi, sebagian penduduk Vanuatu merasa sangat senang: Mereka dapat membaca firman Allah dalam bahasa mereka sendiri! Tetapi sebagian lagi merasa sangat sedih, karena mereka itu masih buta huruf.

Maka John Geddie mulai mengajar orang-orang yang buta huruf itu, agar mereka dapat membaca bahasa mereka sendiri. Sementara itu, ia pun terus mengalihkan Firman Allah ke dalam bahasa mereka. Ketika Kitab Injil Matius selesai, John berhasil membeli sebuah alat cetak kecil.

Selanjutnya hasil karyanya itu dapat langsung dicetak di Vanuatu.

Akhirnya seluruh Kitab Perjanjian Baru selesai diterjemahkan ke dalam bahasa Aneityum. Dengan gembira John Geddie berkata kepada kawan-kawannya, “Sekarang kita harus mencetaknya.”

Tetapi Kitab Perjanjian Baru itu terlalu tebal; tak mungkin dikerjakan dengan alat cetak kecil yang sudah ada. Maka John Geddie mengumpulkan para pemimpin masyarakat setempat.

“Sekarang sudah ada Kitab Perjanjian Baru dalam bahasa kalian sendiri,” ia mengumumkan.

“Benar!” jawab pemimpin mereka yang tertua.

“Sungguh bagus dan ajaib, bahwa hal itu sudah terwujud.”

“Selanjutnya,” kata John, “banyak salinan yang harus dibuat oleh mesin.”

Para pemimpin masyarakat akan menunggu perkataannya lebih lanjut.

“Hal itu menuntut uang.”

Tidak ada seorang pun yang berbicara.

“Aku tidak punya uang,” kata John dengan sedih.

“Kami juga tidak punya uang,” kata para pemimpin.

Hening sejenak. Lalu John Geddie berbicara lagi: “Namun kalian sudah biasa menawarkan akar arurat kepada para pedagang kapal. Apakah kalian rela menyisihkan sepersepuluh dari hasil tukar-menukar itu? Apakah kalian rela menguangkan yang sepersepuluh itu, agar dapat dipakai untuk mengongkosi pencetakan Alkitab?”

Para pemimpin itu pulang dan berunding dengan rakyat. Lalu mereka melaporkan bahwa rakyat Vanuatu memang rela menyisihkan sepersepuluh dari hasil perdagangan mereka.

Setelah sepersepuluh itu diuangkan, hasilnya dua ribu dolar. John Geddie mengirimkan uang itu beserta naskah Kitab Perjanjian Baru berbahasa Aneityum, agar dapat dicetak ditempat yang jauh.

Berbulan-bulan lamanya John dan kawan-kawannya menunggu. Lalu pada suatu hari, ada sebuah kapal yang sedang membongkar muatannya di pulau Aneityum. Di antara muatannya itu ada beberapa bungkusan besar yang dialamatkan kepada John Geddie.

Setiap keluarga di pulau itu menerima sebuah Kitab Perjanjian Baru. Namun di antara mereka masih ada yang belum pandai membaca.

“Mari kita mengadakan sayembara!” usul John. Beberapa hadiah di tawarkan kepada orang-orang yang berhasil membacakan Perjanjian Baru secara tepat dan jelas. Dengan rajin mereka bersaing untuk menjadi pandai membaca Firman Allah. Ternyata setiap hari ada sebanyak dua ribu orang Vanuatu asyik membacakan Alkitab. Dan sisa penduduk pulau itu asyik mendengarkan pembacaan mereka.

Sementara itu, John Geddie masih tetap meneruskan tugasnya sebagai guru dan penerjemah. Menjelang tahun 1872, hampir seluruh Kitab Perjanjian Lama sudah dialihkan ke dalam bahasa Aneityum.

Dua puluh empat tahun sudah lewat sejak kelasi itu menyerukan “Darat!”

dari mercu tiang layar yang sedang membawa John Geddie dari jauh. Dan pada tahun yang kedua puluh empat itu juga, John Geddie pun tutup usia.

Para penduduk Vanuatu berkabung. “Ia telah meninggalkan kita,” kata mereka. “Ia telah berpulang ke surga.” Lalu mereka memasang sebuah plaket pada dinding gedung gereja terbesar di pulau Aneityem. Di atas plaket itu terukir kata-kata ini:

“Ketika ia mendarat pada tahun 1848, Di sini tidak ada orang Kristen.

Ketika ia berpulang pada tahun 1872, Di sini tidak ada orang kafir.”

Monday, November 01, 2010

Bedil


Pernah ada seseorang yang tak punya makanan apapun untuk keluarganya. Ia masih punya bedil tua dan tiga butir peluru. Jadi, ia putuskan untuk keluar dan menembak sesuatu untuk makan malam.

Saat menelusuri jalan, ia melihat seekor kelinci dan ia tembak kelinci itu tapi luput. Lalu ia melihat seekor bajing, dia tembak tapi juga luput lagi.

Ketika ia jalan lebih jauh lagi, dilihatnya seekor kalkun liar di atas pohon dan ia hanya punya sisa sebutir pelor, tapi terdengar olehnya suatu suara yang berkata begini “Berdoalah dulu, bidik ke atas dan tinggallah tetap terfokus.”

Namun, pada saat bersamaan, ia melihat seekor rusa yang adalah lebih menguntungkan. Senapannya ia turunkan dan dibidiknya rusa itu. Tapi lantas ia melihat ada ular berbisa di antara kakinya,siap2 untuk mematuknya, jadi dia turunkan lebih ke bawah lagi, mengarah untuk menembak ular itu.

Tetap, suara itu masih berkata kepadanya, “Aku bilang ‘berdoalah dulu,bidik ke atas dan tinggallah tetap terfokus.’”

Jadi orang itu memutuskan untuk menuruti suara itu. Ia berdoa, lalu mengarahkan senapan itu tinggi ke atas pohon, membidik dan menembak kalkun liar itu. Peluru itu mental dari kalkun itu dan mematikan rusa. Pegangan senapan tua itu lepas, jatuh menimpa kepala si ular itu dan membunuhnya sekali. Dan, ketika senapan itu meletus, ia sendiri terpental ke dalam kolam. Saat ia berdiri untuk melihat sekelilingnya, ia dapatkan banyak ikan di dalam semua kantungnya.

Seekor rusa, dan, seekor kalkun untuk bekal makanannya. Ular (Iblis) mati konyol sebab orang itu mendengarkan suara Allah.

Makna :

Berdoalah sebelum kau lakukan apapun, bidik dan arahkan ke atas pada tujuanmu, dan tinggallah terpusat pada Allah.

Sebar luaskan ini agar ada seseorang lain yang bakal terberkati. Jangan kau dikecilhatikan oleh siapapun mengenai masa lampaumu. Masa lampau itu memang tepatnya begitu – “sudah lewat, sudah lampau.” Hidupilah setiap hari sehari demi sehari. Dan ingatlah bahwa hanya Allah yang tahu masa depan kita dan bahwa Ia tidak akan membiarkanmu melewati daya tahanmu.

Janganlah memandang pada sesamamu untuk meminta berkat melainkan lihat dan bergantungkah pada Tuhan. Ia bisa membuka pintu2 bagimu yang cuma Ia saja yang bisa lakukan. Pintu2 yang bukan kau masuki dengan menyelinap, melainkan yang hanya Ia yang sudah persiapkan bagi dan demi kamu.

Jadi, tunggulah, tenanglah, sabarlah: dahulukan Allah dan lain2nya akan nyusul dengan sendirinya.

Tiket , Tiket !


Di stasiun, tiga orang insinyur yang akan menghadiri sebuah konperensi membeli tiket, masing-masing satu. Mereka melihat ada tiga akuntan yang juga membeli tiket tetapi mereka bertiga hanya membeli satu tiket.

“Bagaimana kamu tiga orang hanya membeli satu tiket?” tanya salah seorang insinyur. “Lihat saja nanti,” jawab salah satu dari akuntan itu. Mereka pun naik ke kereta. Ketiga insinyur itu mengambil tempat duduknya masing-masing tetapi ketiga akuntan itu masuk ke kamar kecil. Mereka berdesakan di situ dan menutup pintu. Tak lama setelah kereta berangkat kondektur datang memeriksa tiket. Ia mengetuk pintu kamar kecil dan berteriak, “Tiket, tiket!” Pintu kamar kecil membuka sedikit dan satu tangan menjulur keluar menyerahkan tiket. Kondektur itu melubangi tiket dan mengembalikannya. Ketiga insinyur itu melihatnya dan berpikir cerdik juga cara akuntan-akuntan itu.

Setelah konperensi selesai ketiga insinyur itu pulang. Mereka bermaksud meniru cara yang cerdik akuntan-akuntan itu. Di stasiun mereka hanya membeli satu tiket untuk menghemat uang. Namun mereka sangat heran karena mereka kembali bertemu dengan ketiga akuntan dan mereka tidak membeli tiket. “Bagaimana Anda naik kereta tanpa tiket?” tanya salah seorang insinyur itu terheran-heran. “Lihat saja nanti,” jawab akuntan itu.

Setelah mereka naik ke kereta ketiga insinyur itu masuk ke salah satu kamar kecil dan menutup pintu. Lalu ketiga akuntan itu juga masuk ke kamar kecil di sebelahnya. Kereta pun berangkat. Sesaat kemudian salah seorang dari akuntan itu keluar dari kamar kecil dan mengetuk kamar kecil tempat ketiga insinyur itu berada. Ia mengetuk pintu dan berteriak, “Tiket, tiket!”

Cinta Sejati


John dan Jessica telah berumah tangga selama 7 tahun..

Mereka saling mencintai, namun Jessica sejak awal menutupi semua perasaan cintanya terhadap John..Ia begitu takut apabila John mengetahui betapa ia mencintai pria itu, John lantas meninggalkannya sebagaimana kekasih-kekasihnya selama ini..Tapi tidak bagi John..Ia selalu menyatakan perasaan cintanya kepada Jessica dengan tulus dan begitu terbuka..Setiap saat ketika bersama Jessica, John selalu menunjukkan cintanya yang besar, seolah-olah itulah saat akhir John bersama Jessica..

Jessica selalu bersikap tidak menyenangkan terhadap John..Setiap saat dia selalu mencoba menguji seberapa besar cinta John terhadapnya. Jessica selalu mencoba melakukan hal-hal yang keterlaluan dan diluar batas kepada John..Meski Jessica tahu betapa hal itu sungguh salah, namun melihat sikap John yang tetap berlaku baik padanya, membuat Jessica tetap bertahan untuk melihat seberapa besar kesungguhan cinta pria yg dinikahinya itu..

Hari pertama pernikahan mereka.. Jessica bangun siang..Dia tidak sempat menyiapkan sarapan untuk John ketika John hendak berangkat kerja..Namun John tetap tersenyum dan mengatakan, “Tidak apa-apa..Nanti aku bisa sarapan di kantor..”

Saat John pulang dari kantor, Jessica tidak sengaja memasak makanan yang tidak disukai John..Meski menyadari hal itu, Jessica tetap memaksakan agar suaminya mau makan makanan itu..John tetap tersenyum dan berkata, ” Wah..sepertinya sudah saatnya aku belajar menghadapi tantangan..Masakanmu sepertinya tantangan yang hebat, sayang..Aku sudah tidak sabar untuk menyantapnya.” Jessica terkejut, tapi tidak mengatakan apa-apa.

Tetapi Malaikat tahu betapa malam-malam saat Jessica terlelap John memanjatkan doa, “Tuhan….Di pagi pertama pernikahan kami Jessica tidak membuatkanku sarapan. Padahal aku begitu ingin bercakap-cakap di meja makan bersamanya sambil membicarakan betapa indah hari ini, di hari pertama kami menjalani kehidupan baru sebagai suami istri.. Tapi tidak apa-apa, Tuhan.. Karena sepertinya Jessica kelelahan setelah resepsi pernikahan kami tadi malam..Bantulah kekasih hatiku ini, Tuhan agar dia boleh punya tenaga yang cukup untuk menghadapi hari baru bersamaku besok..Tuhan, Engkau tau betapa aku tidak bisa makan spaghetti karena pencernaanku yang tidak begitu baik..Tapi sepertinya Jessica sudah bekerja keras untuk masak makanan itu..Mampukan aku untuk menghargai setiap apa yang dilakukan istriku kepadaku, Tuhan..Jangan biarkan aku menyakiti perasaannya meski itu tidak mengenakkan bagiku..”

Tahun kedua pernikahan mereka..John membangunkan Jessica pagi-pagi untuk berdoa bersama..Namun Jessica menolak dan lebih memilih melanjutkan tidurnya. John tersenyum dan akhirnya berdoa seorang diri.

Sore hari sepulang kantor, John mengajak Jessica berjalan-jalan ke taman..Meski terpaksa, Jessica akhirnya mau juga ke tempat dimana dulu perasaannya begitu berbunga-bunga saat bersama John..Tetapi Jessica menolak rangkulan John, dan berkata, “Jangan, John..Aku malu..”..John tersenyum dan berkata, “Ya, aku mengerti..” Jessica melihat kekecewaan dimata John, namun tidak melakukan apapun untuk menghilangkan kekecewaan itu..

Tetapi Malaikat tahu betapa malam-malam setelah Jessica terlelap, John memanjatkan doanya..” Tuhan..Ampuni aku yang tidak bisa membawa istriku untuk lebih dekat padaMU pagi hari ini..Mungkin tidurnya kurang karena pikirannya yang sedang berat..Tapi aku yakin, Tuhan besok Jessica mau bersama-sama denganku bercakap-cakap kepadaMu..Tuhan, Engkau juga tahu kesedihanku saat Jessica meolak kurangkul ketika ke taman hari ini. Tapi tidak apa-apa Dia sedang datang bulan, mungkin karena itu perasaannya juga jadi lebih sensitive Mampukan aku untuk melihat suasana hati istriku, Tuhan.”

Tahun ketiga pernikahan mereka. Mereka kini mempunyai seorang putera bernama Mark. Jessica menjadi tidak pernah lagi meneruskan kebiasaannya membaca bersama John sebelum tidur. Jessica semakin sering menolak ciuman John..

Jessica memarahi John habis-habisan sore itu ketika John lupa mencuci tangan saat akan menggendong Mark ketika John pulang kerja..Jessica tahu betapa hal itu membuat John terpukul..Namun idealismenya terhadap mendidik Mark membuat Jessica mengabaikan perasaan John..Dan John tetap tersenyum..

Tetapi Malaikat tahu betapa malam-malam setelah Jessica terlelap, John memanjatkan doanya..”Tuhan, Engkau tahu betapa sedih hatiku saat ini..Semenjak kelahiran Mark, aku kehilangan begitu banyak waktu bersama Jessica..Aku merindukan saat-saat kami membaca bersama sebelum tidur dan menciuminya sebelum ia tertidur..Tapi tidak apa-apa..Dia begitu capek mengurusi Mark seharian saat aku bekerja di kantor..Hanya saja, biarkanlah dia tetap terus tertidur dalam pelukanku, Tuhan….Karena aku begitu mencintainya. Sore tadi Jessica memarahiku karena aku lupa mencuci tangan saat menggendong Mark, Tuhan..Aku begitu kangen pada anakku sehingga teledor melakukan sebagaimana yg diminta istriku..Engkau tahu betapa aku terluka akan kata-kata Jessica, Tuhan..Tapi tidak apa-apa..Jessica mungkin hanya kuatir terhadap kesehatan anak kami Mark apabila aku langsung menggendongnya. .Kesehatan Mark lebih penting daripada harga diriku.”

Tahun keempat pernikahan mereka.. Jessica tidak ingat memasak makanan kesukaan John di hari ulang tahunnya..Jessica terlalu sibuk belanja sehingga lupa bahwa John selalu minta dibuatkan Blackforest dengan taburan coklat dan ceri diatasnya setiap ulang tahunnya tiba..

Jessica juga lupa menyetrika kemeja John yang menyebabkan John terlambat ke kantor pagi itu karena John terpaksa menyetrika sendiri kemejanya..Jessica tau kesalahannya, namun tidak menganggap hal itu sebagai sesuatu hal yang penting.

Tetapi Malaikat tahu betapa malam-malam setelah Jessica terlelap, John memanjatkan doanya..”Tuhan, Untuk kali pertama Jessica lupa membuatkan Blackforest kesukaanku di hari ulang tahunku ini..Padahal aku sangat menyukai kue buatannya itu. Menikmati kue Blackforest buatannya membuatku bersyukur mempunyai istri yang pandai memasak sepertinya, dan merasakan cintanya padaku.. Namun tahun ini aku tidak mendapatinya. Tapi tidak apa-apa..mungkin lebih banyak hal-hal lain yang jauh lebih penting daripada sekedar Blackforest itu. Paling tidak, aku masih mendapatkan senyuman dan ciuman darinya hari ini. Ampuni aku, Tuhan apabila tadi pagi aku lupa tersenyum kepada Jessica..Aku terlalu sibuk menyetrika bajuku dan memikirkan pekerjaanku di kantor..Jessica sepertinya lupa untuk melakukan hal itu, meski aku sudah meminta tolong padanya tadi malam. Jangan biarkan aku melampiaskan emosiku karena dampratan atasanku akibat keterlambatanku hari ini kepada Jessica, Tuhan.. Jessica mungkin keliru menyetrika kemeja mana yang seharusnya kupakai hari ini.. Lagipula, sepatuku begitu mengkilap..Aku yakin Jessica sudah berusaha keras agar aku kelihatan menarik saat presentasiku tadi..Terima kasih untuk kebaikan istriku, Tuhan.”

Tahun kelima pernikahan mereka. Jessica menampar dan menyalahkan John karena Mark sakit sepulang mereka berenang..John terlalu asyik bermain-main dengan Mark sehingga tidak menyadari betapa Mark sangat sensitive terhadap dinginnya air kolam renang, yang mengakibatkan Mark terpaksa dirawat dirumah sakit….

Jessica mengancam akan meninggalkan John apabila terjadi apa-apa dengan Mark..Jessica melihat genangan air mata di mata John, namun kekerasan hatinya lebih menguasainya ketimbang perasaan John.

Tetapi Malaikat tahu betapa saat itu John lantas menuju ke Kapel rumah sakit dan memanjatkan doanya sambil menangis..” Tuhan..Tadi Jessica menamparku karena kelalaianku menjaga Mark sehingga dia sakit.. Belum pernah Jessica bersikap dan berkata sekasar itu padaku, Tuhan..Tapi tidak apa-apa..Jessica benar-benar kuatir terhadap anak kami sehingga ia bersikap demikian..Tapi Tuhan, aku begitu terluka saat ia mengatakan akan meninggalkanku. Engkau tahu betapa ia adalah belahan jiwaku. Jangan biarkan hal itu terjadi, Tuhan..Mungkin dia begitu dikuasai kekuatiran sehingga melampiaskannya padaku..Tidak apa-apa, Tuhan..Tidak apa-apa. Asal dia mendapat ketenangan, aku akan merasa bersyukur sekali.. Dan sembuhkanlah putera kami, Mark agar dia boleh kembali dapat ceria dan bermain-main bersama kami lagi, Tuhan..”

Tahun keenam pernikahan mereka.. Jessica semakin menjaga jarak dengan John setelah kehadiran Rebecca, puteri mereka..Jessica tidak pernah lagi menemani John makan malam karena menjaga puteri mereka yang baru berusia 5 bulan..

Jessica juga menjual kalung berlian pemberian John dan menggantinya dengan perhiasan lain yang lebih baru. Ketika John mengetahui hal itu, Jessica tau John menahan amarahnya, namun Jessica berdalih, “John, itu hanya kalung berlian biasa. Lagipula, aku bukan menjualnya, melainkan menukarnya dengan perhiasan yang lebih baru..”

Tetapi Malaikat tahu betapa malam-malam setelah Jessica terlelap, John memanjatkan doanya..”Tuhan, Aku begitu kesepian melewatkan makan malam sendirian tanpa Jessica bersamaku.. Aku begitu ingin terus bercerita dan tertawa bersamanya di meja makan..Engkau tau, itulah penghiburanku untuk melepas kepenatanku setelah seharian bekerja di kantor..Tapi tidak apa-apa..Rebecca tentu lebih membutuhkan perhatiannya daripadaku.. Lagipula, Mark kadang-kadang mau menemaniku.. Hanya saja, jangan biarkan aku memendam sakit hati kepada Jessica karena menjual kalung pemberianku. .Engkau tau begitu lama aku menabung dan bekerja ekstra demi menghadiahinya kalung itu, hanya untuk membuktikan terima kasihku padanya atas kesetiaan dan pengabdiannya sebagai istriku dan ibu dari anak-anakku. Ampuni aku apabila tadi aku sempat berpikir untuk marah padanya..”

Tahun ketujuh pernikahan mereka.. Jessica sama sekali tidak mengindahkan kebiasaannya membelai kepala John dan mencium kening suaminya sebelum John berangkat kantor..Padahal Jessica tau, selama ini apabila dia lupa melakukannya, John selalu kembali kerumah siang hari demi mendapatkan belaian dan ciuman Jessica untuknya..Karena John tidak akan pernah tenang bekerja apabila hal itu belum dilakukan Jessica padanya..Jessica tidak mengucapkan I LOVE YOU untuk kali pertama dalam 7 tahun pernikahan mereka..

Dan di tahun ketujuh itu pula, John mengalami kecelakaan saat akan berangkat ke kantor..Ia mengalami pendarahan yang hebat, yang membuatnya terbaring tidak sadarkan diri di ranjang rumah sakit..

Jessica begitu terguncang dan terpukul.. Ia begitu takut kehilangan John, suami yang dicintainya. .Yang selalu ada kapan saja dia butuhkan..Yang selalu dengan tersenyum menampung semua emosi dan kemarahannya. Yang tak pernah berhenti mengatakan betapa John mencintainya.. Tak sedikitpun Jessica beranjak dari sisi tempat tidur John..Tangannya menggenggam erat jemari suaminya yang terbaring lemah tak sadarkan diri..Bibirnya terus mengucapkan I LOVE YOU, karena ia ingat kalau ia belum mengatakan kalimat itu hari ini..

Karena begitu sedih dan lelah menunggui John, Jessica tertidur..Dalam tidurnya, malaikat yang selama ini mendengar doa-doa John pada Tuhan membawa Jessica melihat setiap malam yg John lewatkan untuk mendoakan Jessica..Ia menangis sedih melihat ketulusan dan rasa cinta yg besar dari John padanya..Tak sedikitpun John menyalahkannya atas semua sikapnya yang tidak mempedulikan perasaan dan harga diri John selama ini..Alih-alih demikian, John malahan menyalahkan dirinya sendiri.. Jessica menangis menahan perasaannya. Dan untuk kali pertama dalam hidupnya, Jessica berdoa, “Tuhan, ampuni aku yang selama ini menyia-nyiakan rasa cinta suamiku terhadapku.. Ampuni aku yang tidak memahami perasaan dan harga dirinya selama ini.. Beri aku kesempatan untuk menunjukkan cintaku pada suamiku, Tuhan.. Beri aku kesempatan untuk meminta maaf dan melayaninya sebagai suami yang kucintai..”

Dan ketika Jessica terbangun, Ia melihat pancaran kasih suaminya menatapnya..” Kamu keliatan begitu lelah, sayang.. Maafkan aku yang tidak berhati-hati menyetir sehingga keadaannya mesti jadi begini dan membuatmu kuatir..Aku tidak konsentrasi saat menyetir karena memikirkan bahwa kau lupa mengatakan I LOVE YOU padaku..”..Belum selesai John berbicara, Jessica lantas menangis keras dan menghambur ke pelukan suaminya..

“Maafkan aku, John..Maafkan aku..I LOVE YOU..I really Love you..Kaulah matahariku, John..Aku tidak bisa bertahan tanpamu..Aku berjanji tidak akan pernah lupa lagi mengatakan betapa aku mencintaimu. .Aku berjanji tidak akan pernah mengabaikan perasaan dan harga dirimu lagi..I LOVE YOU, John..I LOVE YOU.”

Berapa banyak diantara kita yg menjadi seperti Jessica? Yang mengabaikan perasaan kekasih hati kita demi kepentingan dan harga diri kita sendiri? Jangan sampai terjadi sesuatu yang berat untuk kita lalui demi menyadari betapa berharganya orang-orang yang mengasihi kita..

Lebih dari itu, cinta yang sesungguhnya adalah ketika kita bisa seperti John, yang mengabaikan kepentingan dirinya dan perasaannya demi menjaga dan menunjukkan cintanya kepada pasangannya. Yang menjadikan pasangan hidup kita sebagai subjek untuk dikasihi dan dilayani, bukan sebaliknya..