Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.( Yohanes 15 : 16 )

Friday, March 09, 2012

Kugendong Engkau Sampai Ajal Tiba


Suatu malam ketika aku kembali ke rumah, istriku menghidangkan makan malam untukku, sambil memegang tangannya aku berkata; “Saya ingin mengatakan sesuatu kepadamu.” Istriku lalu duduk disamping sambil menemaniku menikmati makan malam dengan tenang. Dari raut wajah dan matanya kutahu dia sedang memendam luka batin yang membara.

Tiba-tiba aku tidak tahu harus memulai percakapan dari mana. Kata-kata rasanya berat keluar dari mulutku. Akan tetapi aku harus membiarkan istriku mengetahui apa yang sedang kupikirkan. Aku ingin sebuah perceraian diantara kami. Aku lalu memberanikan diri untuk membicarakannya dengan tenang. Nampaknya dia tidak terganggu sama sekali dengan pembicaraanku, dia malah balik dan bertanya kepadaku dengan tenang, tapi mengapa?

Aku menolak menjawabnya. Ini membuatnya sungguh marah kepadaku. Dia membuangchoptiks di tangannya dan mulai berteriak kepadaku, “engkau bukan seorang laki-laki sejati.” Malam itu kami tidak saling bertegur sapa. Dia terus menangis dan menangis. Aku tahu bahwa dia ingin mengetahui alasan dibalik keinginanku untuk bercerai. Tetapi aku dapat memberinya sebuah jawaban yang memuaskan; “Dia telah menyebabkan kasih sayangku hilang terhadap Jane (wanita simpananku). Aku tidak mencintainya lagi. Aku hanya kasihan kepadanya.”

Dengan sebuah rasa bersalah yang dalam, aku membuat sebuah pernyataan persetujuan untuk bercerai bahwa dia dapat memiliki rumah kami, mobil dan 30% dari keuntungan perusahaan kami. Dia sungguh marah, merobek kertas itu. Wanita yang telah menghabiskan 10 tahun hidupnya bersamaku kini telah menjadi orang asing di rumah kami, khususnya di hatiku. Aku meminta maaf untuknya, untuk waktunya yang telah terbuang selama 10 tahun bersamaku, untuk semua usaha dan energy yang diberikan kepadaku tapi aku tidak dapat menarik kembali apa yang telah kukatakan kepada Jane bahwa aku sungguh mencintainya. Akhirnya dia menangis dengan suara keras di hadapanku yang mana Aku sendiri berharap melihat terjadi padanya. Bagiku tangisannya tidak mempunyai makna apa-apa. Keinginanku untuk bercerai di hati dan pikiranku telah bulat dan aku harus melakukannya saat itu.

Hari berikutnya, ketika saya kembali ke rumah sedikit larut kutemukan dia sedang menulis sesuatu di atas meja di ruang tidur kami. Aku tidak makan malam tapi langsung pergi tidur karena rasa ngantuk yang tak tertahankan akibat rasa capai sesudah seharian bertemu dengan Jane, wanita idamanku saat itu. Ketika terbangun kulihat dia masih duduk di samping meja itu sambil melanjutkan tulisannya. Aku tidak menghiraukannya dan kembali meneruskan tidurku.
Pagi harinya dia menyerahkan syarat-syarat perceraian yang telah ditulisnya sejak semalam kepadaku; Dia tidak menginginkan sesuatupun dariku, tetapi hanya membutuhkan waktu sebulan sebelum percerain untuk saling memperlakukan sebagai suami-istri dalam arti sebenarnya. Dia memintaku dalam sebulan itu kami berdua harus berjuang untuk hidup normal layaknya suami-istri. Alasannya sangat sederhana; “Putra kami akan menjalani ujian dalam bulan itu sehingga dia tidak ingin mengganggunya dengan rencana perceraian kami.”

Aku menyetujui syarat-syarat yang dia berikan. Akan tetapi dia juga meminta beberapa syarat tambahan sebagai berikut; Dalam rentang waktu sebulan itu, aku harus mengingat kembali bagaimana pada permulaan pernikahan kami, aku  harus menggendongnya sambil mengenang kembali saat pesta pernikahan kami. Dia memintaku untuk menggendongnya selama sebulan itu dari kamar tidur sampai di muka pintu depan setiap pagi. Aku pikir dia sudah gila. Akan tetapi, biarlah kucoba untuk membuat hari-hari terakhir kami menjadi indah untuk memenuhi permintaannya kepadaku demi meluluskan perceraian kami.

Aku menceritakan kepada Jane (wanita simpananku) tentang syarat-syarat yang ditawarkan oleh istriku. Jane tertawa terbahak-bahak mendengarnya dan berpikir bahwa itu adalah sesuatu yang aneh dan tak bermakna. Terserah saja apa yang menjadi tuntutannya tapi yang pasti dia akan menghadapi perceraian yang telah  kita rencanakan, demikian kata Jane.

Kami tak lagi berhubungan badan layaknya suami-istri selama waktu-waktu itu. Sehingga sewaktu aku menggendongnya keluar menuju pintu rumah kami pada hari pertama, kami tidak merasakan apa-apa. Putra kami melihatnya dan bertepuk tangan dibelakang kami, sambil berkata, wow…papa sedang menggendong mama. Kata-kata putra kami sungguh membuat luka di hatiku.

Dari tempat tidur sampai di pintu depan aku menggendong dan membawanya sambil tangannya memeluk eratku. Dia menutup mata sambil berkata pelan; “Jangan beritahukan perceraian ini kepada putra kita.” Aku  menurunkannya di depan pintu. Dia lalu pergi ke depan rumah untuk menunggu bus yang akan membawanya ke tempat kerjanya. Sedangkan aku mengendarai mobil sendirian ke kantorku.

Pada hari kedua, kami berdua melakukannya dengan lebih mudah. Dia merapat melekat erat di dadaku. Aku dapat mencium dan merasakan keharuman tubuh dan pakaianya. Aku menyadari bahwa aku tidak memperhatikan wanita ini dengan saksama untuk waktu yang sudah agak lama. Aku menyadari bahwa dia tidak muda lagi seperti dulu. Ada bintik-bintik kecil di raut wajahnya, rambutnya mulai beruban! Perkawinan kami telah membuatnya seperti itu. Untuk beberapa menit aku mencoba merenung tentang apa yang telah kuperbuat kepadanya selama perkawinan kami.
Pada hari yang ke empat, ketika aku menggendongnya, aku merasa sebuah perasaan kedekatan/keintiman yang mulai kembali merebak di relung hatiku yang paling dalam. Inilah wanita yang telah memberi dan mengorbankan 10 tahun kehidupannya untukku. Pada hari keenam dan ketujuh, aku mulai menyadari bahwa kedekatan kami sebagai suami-istri mulai tumbuh kembali di hatiku. Aku tidak mau mengatakan perasaan seperti ini kepada Jane (wanita yang akan kunikahi setelah perceraian kami). Aku pikir ini akan lebih baik karena aku hanya ingin memenuhi syarat yang dia minta agar nantinya aku bisa menikah dengan wanita yang sekarang aku cintai, si Jane.

Aku memperhatikan ketika suatu pagi dia sedang memilih pakaian yang hendak dia kenakan. Dia mencoba beberapa darinya tapi tidak menemukan satu pun yang cocok untuk tubuhnya. Dia lalu sedikit mengeluh, semua pakaianku terasa terlalu besar untuk tubuhku sekarang. Aku kemudian menyadari bahwa dia semakin kurus, dan inilah alasannya mengapa aku dapat dengan mudah menggendongnya pada hari-hari itu.

Tiba-tiba kenyataan itu sangat menusuk dalam di hati dan perasaanku…Dia telah memendam banyak luka dan kepahitan hidup di hatinya. Aku lalu mengulurkan tanganku dan menyentuh kepalanya.

Tiba-tiba putra kami muncul pada saat it dan berkata, “Papa, sekarang waktunya untuk menggendong dan membawa mama.” Baginya, menggendong dan membawa ibunya keluar menjadi sesuatu yang penting dalam hidupnya. Istriku mendekati putra kami dan memeluk erat tubuhnya penuh keharuan. Aku memalingkan wajahku ke arah yang berlawanan karena takut situasi istri dan putraku akan mempengaruhi dan mengubah keputusanku untuk bercerai pada saat-saat akhir memenuhi syarat-syaratnya. Aku lalu mengangkatnya dengan kedua tanganku, berjalan dari kamar tidur kami, melalui ruang santai sampai ke pintu depan. Tangannya melingkar erat di leherku dengan lembut dan sangat romantis layaknya suami-istri yang hidupnya penuh kedamaian dan harmonis satu dengan yang lain. Aku pun memeluk erat tubuhnya; dan ini seperti moment hari pernikahan kami 10 tahun yang lalu.

Akan tetapi tubuhnya yang sekarang ringan membuatku sedih. Pada hari terakhir, ketika aku menggendongnya dengan kedua lenganku aku merasa sangat berat untuk menggerakkan  walaupun cuma selangkah ke depan. Putra kami telah pergi ke sekolah. Aku memeluk eratnya sambil berkata, aku tidak pernah memperhatikan selama ini bahwa hidup perkawinan kita telah kehilangan keintiman/keakraban satu dengan yang lain. Aku mengendarai sendiri kendaraan ke kantorku….melompat keluar dari mobilku tanpa mengunci pintunya. Aku sangat takut jangan sampai ada sesuatu yang membuatku mengubah pikiranku. Aku naik ke lantai atas. Jane membuka pintu dan aku berkata kepadanya, Maaf, Jane, Aku tidak ingin menceraikan istriku.

Jane memandangku penuh tanda tanya bercampur keheranan, dan kemudian menyentuh dahiku dengan jarinya. Apakah badanmu panas? Dia berkata. Aku mengelak dan mengeluarkan tangannya dari dahiku. Maaf, Jane, aku tidak akan bercerai. Hidup perkawinanku terasa membosankan karena dia dan aku tidak memakna secara detail setiap moment kehidupan kami, bukan karena kami tidak saling mencintai satu sama lain. Sekarang aku menyadari bahwa sejak aku menggendong dan membawanya setiap pagi, dan terutama kembali mengingat kenangan hari pernikahan kami aku memutuskan untuk tetap akan menggendongnya sampai hari kematian kami tak terpisahkan satu dari yang lain. Jane sangat kaget mendengar jawabanku. Dia menamparku dan kemudian membanting pintu dengan keras dan mulai meraung-raung dalam kesedihan bercampur kemarahan terhadapku. Aku tidak menghiraukannya. Aku menuruni tangga dan mengendarai mobilku pergi menjauhinya. Aku singgah di sebuah tokoh bunga di sepanjang jalan itu, aku memesan bunga untuk istriku. Gadis penjual bunga bertanya apa yang harus kutulis di kartunya. Aku tersenyum dan menulis; “Aku akan menggendongmu setiap pagi sampai kematian menjemput.”

Petang hari ketika aku tiba di rumah, dengan bunga di tanganku, sebuah senyum indah di wajahku, aku berlari kecil menaiki tangga rumahku, hanya untuk bertemu dengan istiriku dan menyerahkan bunga itu sambil merangkulnya untuk memulai sesuatu yang baru dalam perkawinan kami, tapi apa yang kutemukan? Istriku telah meninggal di atas tempat tidur yang telah kami tempati bersama selama 10 tahun pernikahan kami. Istriku telah berjuang melawan kanker ganas yang telah menyerangnya berbulan-bulan tanpa pengetahuanku karena kesibukanku untuk menjalin hubungan asmara dengan Jane. Istriku tahu bahwa dia akan meninggal dalam waktu yang relatif singkat akibat kanker ganas itu, dan ia ingin menyelamatkanku dari apapun pandangan negatif yang mungkin lahir dari putra kami sebagai reaksi atas kebodohanku sebagai seorang suami dan ayah, terutama rencana gila dan bodohku untuk menceraikan wanita yang telah berkorban selama sepuluh tahun mempertahankan pernikahan kami dan demi putra kami…

----sekurang-kurangnnya, di mata putra kami – aku adalah seorang ayah yang penuh kasih dan sayang….demikianlah makna dibalik perjuangan istriku.

Sekecil apapun dari peristiwa atau hal dalam hidup sangat mempengaruhi hubungan kita. Itu bukan tergantung pada uang di bank, mobil atau kekayaan apapun namanya. Semuanya ini bisa menciptakan peluang untuk menggapai kebahagiaan tapi sangat pasti bahwa mereka tidak bisa memberikan kebahagiaan itu dari diri mereka sendiri. Suami-istrilah yang harus saling memberi demi kebahagiaan itu.

Karena itu, selalu dan selamanya jadilah teman bagi pasanganmu dan buatlah hal-hal yang kecil untuknya yang dapat membangun dan memperkuat hubungan dan keakraban di dalam hidup perkawinanmu. Milikilah sebuah perkawinan yang bahagia. Kamu pasti bisa mendapatkannya, kawan!

Jika engkau tidak ingin membagi cerita ini, pasti tidak akan terjadi sesuatu padamu di hari-hari hidupmu.

Akan tetapi, kita engkau mau membagi cerita ini kepada sahabat kenalanmu, maka satu hal yang pasti bahwa Tuhan sedang menggunakanmu untuk  menyelamatkan perkawinan orang lain, terutama mereka yang sekarang mengalami masalah dalam pernikahan mereka.


Salam dan doa seorang sahabat untuk para sahabat yang menikah maupun
yang berencana untuk menikah,

Wednesday, February 29, 2012

MEMBERI

Rockefeller, pada usia 60 tahun menderita kanker diperutnya, dan dokter berkata bahwa tiga bulan lagi ia akan meninggal dunia. Ia lalu berkata, “Buat apa kekayaanku yang bermiliar-miliar, dan buat apa rumah-rumahku yang mewah.” lalu, ia datang kepada Tuhan dan berjanji, “Tuhan, dahulu saya hanya mencari uang, tetapi sekarang saya mau memberi.” 


Kemudian, ia mulai membangun rumah sakit Kristen, memberikan uangnya kepada hamba-hamba Tuhan yang pergi menginjil di Afrika, dan mengirim utusan-utusan Injil. Ia berkata bahwa sebelum ia meninggal dunia, ia mau memberi dahulu supaya dapat meninggalkan hal-hal yang baik. Tetapi, setelah 3 bulan ia tetap hidup, justru malah ia merasa semakin sehat. Lalu, ia pergi memeriksakan diri kepada dokter dan dokter berkata bahwa kanker itu telah lenyap. Puji Tuhan, ia sembuh bukan karena di doakan oleh pendeta, melainkan karena memberi. Dari mana datangnya kanker?Dari sifat yang kikir. Dari mana datangnya kesembuhan? Dari suka memberi.

Memberi bukanlah berarti hanya dalam bentuk uang. Banyak orang yang salah paham, dan jika ada seorang pendeta yang berkotbah mengenai memberi dikatakan ia mata duitan. Memberi tidak hanya berarti memberi uang, tetapi juga bisa berupa kasih, perhatian, waktu, tenaga, pikiran, dan sebagainya.
Sumber: secangkir sup 6 bagi jiwa anda (Timotius Adi Tan)

Uang Kembalian Terlalu Banyak


Kisah ini terjadi beberapa tahun yang lalu, mengenai seorang pendeta Inggris yang cukup dikenal dan dihormati. Pada suatu ketika, pendeta itu pergi dengan mempergunakan bus listrik pagi-pagi sekali dari rumahnya di pinggiran kota menuju gerejanya yang terletak di pusat kota London. Pada waktu ia hendak membayar ongkos kepada sopir bus, pikirannya sudah dipenuhi dengan kesibukan akan kegiatannya yang besar. Baru setelah ia duduk, disadarinya bahwa sopir tersebut sudah memberikan kepadanya uang kembalian yang terlalu banyak. Ketika ia menimang-nimang uang kelebihan itu, pikiran yang pertama yang muncul adalah,”O betapa luar biasanya Allah menyediakan uang ini untukku!”
Tetapi, semakin lama ia duduk disana, semakin tidak tenanglah hatinya. Karena sudah mendekati gedung gereja tempat ia melayani, ia mendekati si sopir dan berkata,”Ketika saya naik, rupa-rupanya anda memberi saya kembalian terlalu banyak.”
Si sopir itu dengan tersenyum dan berkata,” Bukan ketidaksengajaan sama sekali. Pendeta tentunya ingat kemarin saya hadir di kebaktian yang bapak pimpin, dan saya mendengar kotbah bapak mengenai hal kejujuran. Oleh karena itu, saya berpikir untuk menguji bapak.”
Kelemahlembutan hati adalah kesediaan seseorang untuk dibentuk oleh Tuhan.

Tamu Atau Pemilik Rumah


Seorang gubernur negara bagian Amerika Serikat pernah berjumpa dengan seorang Kristen yang menurutnya "memiliki sesuatu yang berbeda," padahal mereka sama-sama Kristen. Usut punya usut, sang gubernur menduga bahwa mungkin karena mereka berbeda denominasi.
Dalam diskusi mereka, sang gubernur berkata,"Jika Anda mau datang ke rumah, saya akan menerima Anda sebagai tamu kehormatan. Anda boleh menikmati apa saja yang ada di rumah saya, tapi Anda tidak berhak mengatur apa pun karena Anda tetap hanya seorang tamu yang tidak memiliki kunci rumah saya. Kecuali jika saya mengalihkan hak milik atas rumah ini kepada Anda maka saya akan menurut apa saja yang harus diperbuat di rumah ini sesuai petunjuk-petunjuk Anda." 
Mendengar itu, orang Kristen tadi menyahut, "Itulah bedanya Anda dan saya. Saya telah menyerahkan kunci rumah hati saya kepada Yesus. Sedangkan Anda hanya mengundang Dia sebagai seorang tamu."
Tatkala sang gubernur bertanya apa yang mesti dilakukan, rekan seiman tadi menjawab,"Yang perlu dilakukan hanyalah meminta Dia untuk menjadi pemilik rumah hati Anda." Sang gubernur pun mengikuti petunjuk tersebut dan sejak itu ia mengizinkan Tuhan bertahta dan mengatur setiap detail dalam hidupnya.
Saat kita diselamatkan, Allah ingin agar kita juga mengalami kuasa dan hadirat-Nya setiap hari, serta melihat bagaimana Dia bekerja dalam kehidupan kita. Hanya ada satu syarat, yakni asal kita mau menyerahkan kunci rumah hati kita kepada-Nya.  akhir february  di  gading serpong

Semut Dan Belalang


Di sebuah kelas sekolah dasar seorang guru memberikan tugas kepada murid-muridnya tentang menulis kreatif. Guru tersebut bercerita tentang semut dan belalang. “Semut berkerja keras selama musim panas dan mengumpulkan persediaan makanan. Tetapi belalang bermain selama musim panas dan tidak bekerja. Kemudian musim dingin datang. Belalang mulai kelaparan karena tidak memiliki makanan. Jadi dia datang ke rumah semut dan mengemis. 'Semut, tolonglah saya, berilah saya makanan.' Nah anak-anak, tugas kalian adalah menulis akhir cerita tersebut.”

Mark, salah satu muridnya mengangkat tangan, "Guru, bolehkan saya menggambar?"
"Tentu saja, kamu boleh menggambar. Tetapi kamu harus menulis akhir cerita itu dulu." Kertas-kertas dikumpulkan. Kebanyakan murid menulis bahwa Semut membagi makanannya selama musim dingin dan baik semut maupun Belalang bertahan hidup.

Beberapa anak menulis, 'Semut itu berkata, "Tidak, Belalang. Kamu seharusnya bekerja selama musim panas dan tidak bermain-main. Sekarang, saya hanya memiliki cukup makanan untuk diri saya sendiri." Jadi Semut itu hidup dan belalang meninggal.

Tetapi Mark mengakhiri cerita dengan cara yang sangat berbeda. Dia menulis, "Jadi Semut itu memberikan semua dari makanannya kepada Belalang; Belalang melalui musim dingin itu dan hidup. Tetapi sang Semut meninggal." Di dasar halaman, Mark menggambar tiga salib. "Dia memberikan segalanya untuk kita supaya kita beroleh hidup."

Yesus mati agar kita hidup. Yesus hidup agar kita selamat. (Anonim)sumber: www.glorianet.org      , akhir february from the desk at  gading serpong

Monday, January 30, 2012

Nyamanlah Jiwaku ( It is well with my soul )


Pernahkah anda mendengar lagu berjudul ‘It is Well with My Soul’? Lagu ini ditulis setelah kejadian2 traumatik yang dialami oleh Horatio Spafford. Pada akhir tahun 1860-an, ia dapat dikategorikan sebagai orang yang kaya raya. Dari rahim istrinya, Anna, Tuhan mengaruniakan lima orang  anak. Spafford adalah seorang ahli hukum (pengacara) yang sukses di Chicago, Amerika. Di jamannya, ia sangat akftif dalam gerakan reformasi dan selalu membuka pintu rumahnya bagi setiap aktifis lainnya. Meski ia sangat sibuk, sebagai seorang Kristen yang taat ia masih menyempatkan dirinya untuk turut melayani di gereja sebagai penatua.


Kelihatannya keluarga Spaffor hampir memiliki segala hal, dan sangat berkelebihan. Ia memiliki investasi besar di bidang perumahan elit di daerah tepi Danau Michigan. Akan tetapi, semua itu tidak bertahan lama. Tahun 1870 adalah tahun yang berat, iman mereka diuji di dalam penderitaan yang terjadi atas diri mereka. Anak keempatnya yang bernama Horatio, Jr (satu2nya laki2), menemui ajal karena wabah penyakit (cobaan pertama). Spafford sangat terpukul menerima kenyataan itu.



Ujian pun mendatanginya kembali. Pada tahun 1871, seluruh investasi perumahan yang dibangunnya mulai dari nol mengalami kebangkrutan. Ia rugi besar (cobaan kedua)! Situasi itu semakin buruk karena setelahnya, pada bulan Oktober di tahun itu juga, terjadi kebakaran besar di Chicago (daerah tempat tinggal mereka). Kebakaran itu sangat besar, sehingga hampir seluruh Chicago musnah. Ada 250 orang yang meninggal dan 90.000 orang kehilangan tempat tinggalnya. Puji syukur, Allah masih berbaik hati atas mereka sehingga Spafford tidak lekas putus asa. Rumah tempat tinggal dan seluruh keluarganya selamat. Meskipun memang uang mereka sudah habis. Ia dan Anna tetap mampu berjuang, menggunakan apa saja yang dimilikinya untuk memberi makan orang-orang yang kelaparan, menolong tunawisma, menjaga dan merawat semua korban kebakaran Chicago itu. Kebakaran besar ini merupakan tragedi, dan apa yang dialami Spafford juga sangat buruk. Namun, ia tetap teguh, dan tetap dapat menunjukkan kasih kasih bagi mereka yang membutuhkan.



Tahun 1873, dia berencana untuk bepergian bersama keluarganya dengan S.S Ville Du Havre (nama kapal), tapi akhirnya dia menyuruh keluarganya pergi duluan karena dia sendiri masih ada pekerjaan. Ketika menyebrangi samudra Atlantik, kapal yang ditumpangi keluarganya tenggelam karena bertabrakan dengan kapal lain, dan keempat putri Spafford meninggal (cobaan ketiga). Istrinya, Anna, selamat dan mengirimkan telegram (kemudian jadi terkenal) bertuliskan "saved alone". Tak lama setelah itu, saat Spafford pergi untuk menemui istrinya yang sedang berduka, ia terinspirasi untuk menulis kata2 dalam lagu ini ketika kapal yang ditumpanginya melewati tempat dimana keempat putrinya meninggal.


Lagu yang diciptakannya setelah peristiwa tragis ini punya makna, bahwa apapun yang terjadi di dalam hidup, baik atau buruk pun itu, Tuhan akan tetap menghibur jiwa kita. Jikapun kita merasa sendirian dalam penderitaan itu, Tuhan akan menunjukkan anugerahNya bagi hidup kita selanjutnya, sehingga dengan demikian, kita dapat menjadi perpanjangan tanganNya untuk menolong orang lain. So, jika kita terhempas, janganlah sampai kandas. Tetap SEMANGAT& GBU all.



Lirik:


When peace like a river attendeth my way
When sorrows like sea billows roll
Whatever my lot, Thou hast taught me to say
"It is well, it is well with my soul"


It is well with my soul
It is well, it is well with my soul


Though Satan should buffet, though trials should come
Let this blest assurance control:
That CHRIST has regarded my helpless estate
And hath shed His own blood for my soul


My sin, o the bliss of this glorious thought!
My sin, not in part but the whole
Is nailed to the cross, and I bear it no more
Praise the Lord, praise the Lord, o my soul!



And Lord haste the day when my faith shall be sight
The clouds be rolled back as a scroll
The trump shall resound and the Lord shall descend
Even so,
It is well with my soul


----------------------


Bila kebimbinganku telah lenyap
Hatiku senang selalu
Meskipun bahaya slalu mendekat
Tenanglah tenanglah jiwaku


Tenanglah jiwaku
Tenanglah tenanglah jiwaku


Meskipun setan selalu menggoda
'Ku tetap tenang dan teduh
Tuhan segera membrikan tanganNya
PadaNya selamatku teguh

HariMu Tuhan, segera datanglah
Bila masa telah genap
Terang wajahMu akan nyata cerah
genap umatMu selamat

Saturday, January 28, 2012

Kisah Pemburu dan Peternak Domba

Dikisahkan, ada dua lelaki yang bertetangga. Lelaki pertama bekerja sebagai pemburu binatang dan memelihara beberapa anjing buas. Sedangkan seorang lagi bekerja sebagai petani dan memelihara puluhan domba.

Kegusaran petani peternak domba timbul ketika anjing-anjing pemburu milik tetangganya sering melompat pagar dan menyerang domba-dombanya hingga terluka parah. Petani tersebut sudah berusaha mengingatkan tetangganya agar merantai anjing-anjingnya dengan baik, tetapi sama sekali tidak ditanggapi. Petani itupun semakin gusar, lalu ia berusaha menemui seorang hakim di kota yang dikenal adil dan bijaksana dalam mengambil keputusan.

Hakim tersebut memberi 2 pilihan solusi, dan peternak domba itu setuju dengan solusi ke-2. Sesampai di rumah, petani itupun segera melaksanakannya. Ia memilih 3 anak domba terbaik, lalu menghadiahkan kepada ketiga anak tetangganya.

Ternyata pemberian tersebut diterima dengan suka cita. Sang pemburu dengan suka rela mengurung anjing-anjingnya agar tidak melukai ‘mainan' baru anak-anaknya. Sejak saat itu tak terjadi konflik diantara mereka, bahkan mereka semakin rukun dan sering berbagi.

Sepenggal kisah di atas menggambarkan betapa penting memengaruhi orang lain. Ada banyak cara untuk mempengaruhi orang lain. Salah satunya adalah melakukan kebaikan kepada orang lain. Karena memberi kebaikan kepada orang lain akan mendorong mereka untuk bersikap baik kepada kita. Hal ini juga dapat kita manfaatkan untuk mendapatkan keinginan kita.

Coba bayangkan seandainya petani tersebut melancarkan kritik kepada tetangganya, mungkin dampak yang diterima mungkin berbeda. Pemburu tersebut mungkin akan merasa harga dirinya terlukai, perasaannya tersakiti atau merasa tidak nyaman. Jika hal itu terjadi mungkin dapat menimbulkan permusuhan dan masalah semakin berkepanjangan.

Mengkritik atau tindakan keras lainnya tidak memberikan efek yang permanen. Tetapi dengan salah satu trik memengaruhi orang lain, yaitu memberi sesuatu yang mereka sukai,maka mereka dengan senang hati melakukan hal yang kita inginkan. Terlebih jika Anda memberikannya dengan tulus, ini akan sangat membantu Anda mempengaruhi orang lain.

Kerabat Imelda...Dalam kehidupan kita bergaul dengan banyak orang, termasuk dengan orang yang sulit, musuh yang sering membuat masalah, menyepelekan dan menghambat kesuksesan kita. Beberapa pola bergaul yang terungkap di atas akan meningkatkan kemampuan Anda mempengaruhi orang lain dan membantu Anda untuk mendapatkan teman sejati yang dengan setia dan senang hati mendukung Anda. Dengan begitu, kehidupan Anda menjadi lebih memuaskan dan membahagiakan. 


Sumber: Andrew Ho - andriewongso.com

Friday, December 30, 2011

PETANI Dan Pohon APEL

i sebuah Desa yang damai dan tentram, tinggallah sebuah keluarga petani yang rajin di kaki bukit. Keluarga yang bahagia ini hanya mempunyai seorang anak perempuan. 

Pada suatu hari, si ayah petani yang rajin ini pergi ke ladangnya diatas bukit untuk bercocok tanam. Tiba-tiba datanglah seorang kakek yang aneh mendekati si Petani itu.

“Pak Tani, saya mempunyai 5 buah biji buah apel yang lezat dan manis sekali. Apabila dirawat dengan baik, maka dalam waktu 2 tahun pohon apel ini akan sudah dapat berbuah lebat. Maukah anda membelinya dengan 10 keping uang perak?”, kata kakek aneh tersebut dengan penuh harap.

Si Petani itu memandangi 5 biji apel itu dengan penuh kecurigaan,”Bagaimana mungkin 5 biji apel ini dihargai 10 keping uang perak?! Mahal sekali. Jangan-jangan kakek aneh ini ingin menipuku,” pikir si Petani itu. 

Namun ketika dia melihat wajah kakek aneh itu tidak menampakkan sedikit pun niat jahat, malah menimbulkan iba di hati Pak Tani. “Kakek ini pasti dalam kesulitan sehingga dia harus menjual biji apel ini, tidak ada salahnya aku membelinya. Kalaupun benih ini tidak tumbuh seperti yang diharapkan, paling tidak saya telah membantunya,” pikir Pak Tani.

“Baiklah saya akan membelinya,” kata Pak Tani. Setelah menerima uang pemberian dari Petani itu, kakek aneh ini segera lenyap dari pandangan. “Sungguh kakek yang aneh,” gumam Pak Tani.

Pada hari itu juga Pak Tani menanam 5 biji apel ini diladangnya. 

Hari berganti hari, Pak Tani dan Ibu Tani bergantian merawat benih apelnya. Terkadang anak perempuannya juga ikut membantu membersihkan rumput liar disekitar pohon apel itu. Dalam waktu singkat 5 benih apel itu tumbuh dengan suburnya. 

Tak terasa 2 tahun telah berlalu. Kelima pohon apel itu benar-benar telah menghasilkan buah-buah apel merah yang besar dan ranum. Ibu Tani dan anaknya segera memetik buah apel yang ranum dan memakannya. 

“Hmm, benar-benar apel yang lezat! Kakek aneh itu tidak menipu kita, Pak,” kata Ibu Tani dengan riang. 

“Jika kita jual ke kota, orang-orang pasti mau membelinya dengan harga tinggi,” timpal Pak Tani sambil membayangkan keuntungan besar yang bakal diperolehnya.

Beberapa hari kemudian, keluarga Petani ini hendak memanen pohon apel mereka. Dengan riang Pak Tani memikul keranjang bambunya pergi ke kebun apel. 

Namun ketika mereka tiba di kebun, alangkah terkejutnya. Kebun apel yang penuh harapan itu telah porak poranda. Ternyata binatang-binatang hutan seperti monyet, burung, babi hutan, tupai dan lain-lain, sedang asyik menikmati buah apel mereka. Mereka telah menghabiskan hampir semua buah apel yang siap panen.

Petani itu pulang dengan tangan hampa dan penuh kekecewaan. Sejak saat itu Pak Tani tidak mau lagi pergi ke kebun apelnya diatas bukit. Mereka telah beralih memelihara hewan ternak di rumahnya.

Tak terasa dua tahun telah berlalu, suatu pagi anak perempuan mereka mengajak bertamasya ke atas bukit, tempat kebun apel mereka dahulu. “Tak ada salahnya kita kesana melihat-lihat kebun apel itu. Lagipula tempat disana sangat indah dan sejuk,” pikir Pak Tani.

Kemudian mereka berangkat ke atas bukit itu. Sesampai disana, alangkah terkejutnya Pak Tani melihat kebun apelnya. “Bbba...bbagaimana mungkin bisa menjadi begini?!” kata Pak Tani tergagap-gagap melihat kebunnya dipenuhi dengan pohon-pohon apel yang sedang berbuah ranum. “Dibukit ini hanya dihuni babi hutan dan burung-burung. Mungkinkah ada orang yang menanam pohon apel di kebun kita?”, kata Pak Tani penuh keheranan.

Anak perempuan mereka berkata,”Tidak ayah, sewaktu para binatang itu memakan buah apel kita, bukankah mereka membuang biji-biji apel itu berserakan di setiap jengkal tanah kebun kita? Biji-biji itu ternyata tumbuh menjadi pohon-pohon apel ini.”

“Ya Tuhan, buahnya lebih lebat daripada pertama kali kita menanamnya. Ini baru benar-benar panen besar”, ujar Petani itu dengan penuh rasa syukur.
_____________________________________--

Pelajaran apa yang dapat kita petik dari cerita ini? Pengalaman pak Tani ini memberikan contoh pada kita bahwa janganlah melakukan sesuatu dengan setengah-setengah dan harus mengerjakan sesuatu dengan kesungguhan hati. Kecewa sesaat namun tidak patah semangat dapat merubah kegagalan menjadi sebuah keberhasilan.

Belajar Dari CICAK


Cicak tidak bersekolah. Mereka juga tak pernah belajar ilmu bela diri, namun seringkali saat menghadapi bahaya mereka terbukti jauh lebih pandai daripada kita. Saat bahaya menghadang, seekor cicak akan melepas ekornya untuk mengecoh pihak pemangsa. Mungkin banyak dari kita yang sudah mengetahui kenyataan ini.
Namun, seringkali kita tak melakukan tindakan yang cerdik saat diintai bahaya. Apakah bahaya itu? Mungkin bukan predator seperti yang ditakuti oleh si cicak, namun bahaya itu bisa saja berupa kebakaran rumah, status sebagai selingkuhan, pacar yang tak lagi menunjukkan cintanya, dan lain sebagainya.Saat rumah dilanda api, banyak orang lebih menyayangkan ‘ekor’nya daripada melepasnya. Ekor itu bisa berarti uang, TV, kalung emas, HP, panci baru beli, hingga surat-surat berharga. Bukannya tak penting, saya percaya itu semua berharga. Namun saat keadaan sedemikian genting, manakah yang lebih penting, nyawa atau harta? Lain lagi dengan status sebagai selingkuhan. Sudah ketahuan pihak istri, masih saja enggan putus dengan kekasih terlarang.
Apa bukan nekat dan cari perkara itu namanya. Belum lagi dengan pacar yang sudah nyata-nyata tak memperlihatkan sikap sayang, apakah masih ingin bertahan hanya karena “aku masih sayang dia”?  Kan masih banyak pria lain yang mau perhatian dan sayang, ngapain bertahan dengan yang jelas-jelas sudah ogah. Belajar dari beberapa contoh di atas, kita semua diajak untuk peka saat ‘bahaya mengancam’. Haruskah kita melepas atau mempertahankan? Jika melepas adalah hal terbaik yang memang harus dilakukan maka lepaskan saja.

Friday, December 09, 2011

Keledai Terpeleset

Seorang pedagang, menuntun keledainya untuk melewati sebuah sungai yang dangkal.

Selama ini mereka telah melalui sungai tersebut tanpa pernah mengalami satu pun kecelakaan, tetapi kali ini, keledainya tergelincir dan jatuh ketika mereka berada tepat di tengah-tengah sungai tersebut.

Ketika pedagang tersebut akhirnya berhasil membawa keledainya beserta muatannya ke pinggir sungai dengan selamat, kebanyakan dari garam yang dimuat oleh keledai telah meleleh dan larut ke dalam air sungai.

Gembira karena merasakan muatannya telah berkurang sehingga beban yang dibawa menjadi lebih ringan, sang Keledai merasa sangat gembira ketika mereka melanjutkan perjalanan mereka.

Pada hari berikutnya, sang Pedagang kembali membawa muatan garam. Sang Keledai yang mengingat pengalamannya kemarin saat tergelincir di tengah sungai itu, dengan sengaja membiarkan dirinya tergelincir jatuh ke dalam air, dan akhirnya dia bisa mengurangi bebannya kembali dengan cara itu.

Pedagang yang merasa marah, kemudian membawa keledainya tersebut kembali ke pasar, dimana keledai tersebut di muati dengan keranjang-keranjang yang sangat besar dan berisikan spons.

Ketika mereka kembali tiba di tengah sungai, sang keledai kembali dengan sengaja menjatuhkan diri, tetapi pada saat pedagang tersebut membawanya ke pinggir sungai, sang keledai menjadi sangat tidak nyaman karena harus dengan terpaksa menyeret dirinya pulang kerumah dengan beban yang sepuluh kali lipat lebih berat dari sebelumnya akibat spons yang dimuatnya menyerap air sungai.

Orang Kaya Yang Baik Hati

Pada zaman dahulu kala, terdapat sebuah desa kecil yang sederhana dan indah.

Disana ada seorang yang kaya raya yang baik, yang suka menolong orang lain.

Terkadang, tetangga rumah datang meminjam bahan pangan padanya. Namun karena tetangganya banyak yang miskin, maka ketika mereka hendak mengembalikan bahan pangan yang dipinjaminya itu, orang kaya itu tidak mau menerima.

Para tetangga merasa bahwa orang kaya ini sudah berbaik hati meminjamkan bahan pangan, itu sudah sangat membantu, mana boleh tidak mengembalikan? Tidak, harus dikembalikan kepadanya.

Lalu orang kaya ini memotong 2 bagian kendi besarnya, sebagian besar dan sebagian lagi kecil.

Ketika tetangga datang untuk meminjam bahan pangan, tuan Yang menimbang dengan centong besar, centong demi centong bahan pangan dipinjamkannya kepada tetangga.

Pada saat tetangga mengembalikan bahan pangan yang dipinjamnya itu, tuan Yang menimbangnya dengan centong kecil, hanya mengambil sedikit saja.

Diusianya yang ke-80 musim gugur tahun itu, tanaman gandum juga telah matang, orang kaya itu bermaksud hendak ke ladang untuk melihat sejenak gandumnya. Lalu, dengan terhuyung-huyung ia menopang tongkat pergi ke ladang gandumnya seorang diri.

Tiba-tiba, langit tertutup oleh awan hitam, petir bergemuruh di ladang. Melihat keadaan seperti ini, dalam benaknya dia berpikir , “Saya sudah tua, tidak bisa jalan lagi, lebih baik mati disini saja!”

Saat itulah, orang kaya itu mendengar satu suara keras bergema di ladangnya, “Dewa guntur, dewi petir dan naga laut, kalian dengar baik-baik, orang kaya yang baik saat ini berada di ladang rumahnya, setitik airpun tidak boleh kalian teteskan di atas gandumnya!”

Setelah lama berlalu, hujan yang disertai petir akhirnya berhenti, orang kaya itu bangun dari atas ladangnya dan begitu melihat, tidak ada setetes airpun membasahi ladang gandum tempat ia berbaring, sedangkan ladang gandum orang lain semuanya terbenam air.

Setelah orang kaya itu pulang ke rumah, ia menceritakan kepada putra-putrinya tentang peristiwa yang dialaminya itu, lantas dengan disertai putra-putrinya mereka berlutut menyembah, memanjatkan puji syukur dan terimakasih atas anugerah Yang Maha Kuasa.
______________________________

Mengapa kilatan petir tidak sampai melukai orang kaya yang baik hati itu?

Sebab seumur hidupnya ia memperlakukan orang dengan baik, selalu memikirkan kepentingan orang lain.

Kita harus selalu ingat prinsip bahwa baik dan jahat ada balasannya, percaya bahwa setiap hal yang dilakukan manusia, baik yang kecil maupun besar, Yang Maha Kuasa selalu melihatnya. Karena itu, semua orang berusaha berbuat hal yang baik, tidak melakukan perbuatan jahat.

Jepit Rambut

Dikisahkan seorang Raja memiliki tujuh Putri, ketujuh Putri yang cantik ini adalah kebanggaan Raja, kesayangan beliau.

Semua orang tahu perihal rambut panjang mereka yang hitam berkilauan itu. Dan dikenal hingga seluruh pelosok negeri. Karena itu, Raja menghadiahkan kepada mereka masing-masing 100 jepit rambut yang indah. Karena mereka sangat memperhatikan penampilannya, terutama pada rambut mereka.

Suatu pagi, Putri sulung sang Raja bangun dari tidurnya, dan seperti biasa ia menata rambutnya dengan jepitan rambut. Namun ia mendapati jepitan rambutnya kurang satu, lalu secara diam-diam ia ke kamar Putri kedua Raja, dan mengambil satu jepitan rambut.

Begitu halnya dengan Putri kedua ketika mendapati jepitan rambutnya kurang satu, lalu ia ke kamar Putri ketiga untuk mengambil jepit rambutnya.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Putri ketiga, saat ia mendapati jepitan rambutnya kurang satu, lalu dengan diam-diam ia ke kamar Putri keempat.

Putri keempat juga melakukan hal yang sama dengan putri-putri sebelumnya mengambil jepitan rambut saudarinya, Putri kelima.

Demikian juga dengan Putri kelima, ia mengambil jepitan rambut Putri keenam dan Putri keenam terpaksa juga mengambil jepitan rambut Putri ketujuh.

Akibatnya, jepitan rambut Putri ketujuh hanya tersisa 99 buah. Dan dia tak bisa melakukan hal seperti kakaknya.

Keesokannya, pangeran dari negeri tetangga yang tampan dan gagah tiba-tiba berkunjung ke istana, dan katanya kepada sang Raja: “Kemarin, burung Murai piaraan saya menggondol sebuah jepitan rambut, saya pikir ini pasti kepunyaan para putri, dan ini sepertinya suatu takdir yang unik, tidak tahu putri mana yang kehilangan jepitan rambut ini?”

Para putri Raja telah mendengar hal ini, dan dalam benak mereka masing-masing hendak berkata : “Punya saya, punya saya.”

Hanya Putri ketujuh yang ke luar sambil berkata: “Jepitan rambut saya hilang satu.”

Baru saja selesai berkata, rambut panjangnya yang indah jatuh tergerai karena kurang sebuah jepitan rambut. Dan sang Pangeran tak bisa tidak menjadi terkesima melihatnya.

Akhir dari cerita, sudah pasti sang Pangeran dan Putri Raja tersebut hidup bahagia selamanya sejak itu.
__________________________________

Mengapa begitu ada kekurangan, lalu berusaha keras untuk melengkapinya?

Seratus buah jepitan rambut, bak seperti sebuah kehidupan yang utuh sempurna. Namun dengan berkurangnya satu jepitan rambut, keutuhan ini terasa menjadi tidak lengkap.

Namun, justru karena kekurangan itu, kelak akan ada perubahan (baik), kemungkinan yang tak terhingga, bukankah ini sebuah peristiwa yang patut disyukuri!

Lantas bagaimana menghadapi kekurangan dalam perjalanan hidup yang tak terhindarkan?

Menghindar belum tentu dapat mengelakkan. Menghadapi belum tentu menyedihkan,

seorang diri (kesepian) belum tentu tidak bahagia. Mendapatkan belum tentu bisa kekal abadi. Kehilangan belum tentu tidak akan memiliki lagi.

Jangan terburu-buru berkata tiada pilihan lain jangan mengira di dunia ini hanya ada benar dan salah.

Jawaban sejumlah besar peristiwa bukan hanya ada satu. Jadi, selamanya ada jalan keluar bagi kita. Anda bisa mendapatkan alasan untuk sedih, tapi Anda juga bisa mendapatkan alasan untuk gembira.

Rela Berkorban

Pada zaman dahulu hiduplah dua orang jendral perang besar, Cyrus dan Cagular. Cyrus adalah raja Persia yang terkenal. Sedangkan Cagular adalah kepala suku yang terus-menerus melakukan perlawanan terhadap serbuan pasukan Cyrus, yang bertekat menguasai Persia. Pasukan Cagular mampu merobek-robek kekuatan tentara Persia sehingga membuat berang Cyrus karena ambisinya untuk menguasai perbatasan daerah selatan menjadi gagal. Akhirnya, Cyrus mengumpulkan seluruh kekuatan pasukannya, mengepung daerah kekuasaan Cagular dan berhasil menangkap Cagular beserta keluargnya. Mereka lalu dibawa ke ibu kota kerajaan Persia untuk diadili dan dijatuhi hukuman.

Pada hari pengadilan, Cagular dan istrinya dibawa ke sebuah ruangan pengadilan. Kepala suku itu berdiri menghadapi singgasana, tempat Cyrus duduk dengan perkasanya. Cyrus tampak terkesan dengan Cagular. Ia tentu telah mendengar banyak tentang kegigihan Cagular. "Apa yang akan kau lakukan bila aku menyelamatkan hidupmu?" tanya sang kaisar. "Yang mulia," jawab Cagular, "Bila Yang Mulia menyelamatkan hidup hamba,hamba akan kembali pulang dan tunduk patuh pada Yang Mulia sepanjang umur hamba." "Apa yang akan kau lakukan bila aku menyelamatkan hidup istrimu?" tanya Cyrus lagi.

"Yang mulia, bila Yang Mulia menyelamatkan hidup istri hamba, hamba bersedia mati untuk Yang Mulia," jawab Cagular. Cyrus amat terkesan dengan jawaban dari Cagular. Lalu ia membebaskan Cagular dan istrinya. Bahkan ia mengangkat Cagular menjadi gubernur yang memerintah di provinsi sebelah selatan.

Pada perjalanan pulang, Cagular dengan penuh antusias bertanya pada istrinya, "Istriku, tidakkah kau lihat pintu gerbang kerajaan tadi? Tidakkah kau lihat koridor ruang pengadilan tadi? Tidakkah kau lihat kursi singgasana tadi? Itu semuanya terbuat dari emas murni! Gila!"
Istri Cagular terkejut mendengar pertanyaan suaminya, tetapi ia menyatakan, "Aku benar-benar tidak memperhatikan semua itu." "Oh begitu!" tanya Cagular terheran-heran, " Aneh, lalu apa yang kau lihat tadi?" Istri Cagular menatap mata suaminya dalam-dalam. Lalu ia berkata, "Aku hanya melihat wajah seorang pria yang mengatakan bahwa ia bersedia mati demi hidupku."

Apakah Anda tahu demi apa Anda mati? Demi kekasih Anda? Rumah? Negara? Keyakinan? Kebebasan? Cinta? Tentukan demi apa Anda bersedia untuk mati,dan Andapun akan menemukan demi apa Anda hidup. Hiduplah demi sesuatu yang Anda bersedia untuk berkorban, bahkan mati pun rela, maka Anda akan hidup dengan penuh. Anda pun akan menemukan bagaimana Anda bisa berbahagia. (suaramerdeka)

Lepaskan

Di suatu hutan hiduplah sekelompok monyet. Suatu hari,tatkala mereka tengah bermain, tampak oleh mereka sebuah toples kaca berleher panjang dan sempit pada bagian bawah tertanam di tanah. Di dasar toples itu ada kacang dengan dibubuhi dengan aroma yang disukai monyet.

Rupanya toples itu adalah perangkap yang ditaruh di sana oleh seorang pemburu. Salah seekor monyet muda mendekat dan memasukkan tangannya ke dalam toples untuk mengambil kacang-kacang tersebut. Akan tetapi tangannya yang terkepal menggenggam kacang tidak dapat dikeluarkan dari sana karena kepalan tangannya lebih besar daripada ukuran leher toples itu.

Monyet ini meronta ronta untuk mengeluarkan tangannya itu, namun tetap saja gagal. Seekor monyet tua menasihati monyet muda itu: `Lepaskanlah kepalanmu atas kacang-kacang itu! Engkau akan bebas dengan mudah! Namun monyet muda itu tidak mengindahkan anjuran tersebut, tetap saja ia bersikeras menggenggam kacang itu.

Beberapa saat kemudian, sang pemburu datang dari kejauhan. Sang monyet tua kembali meneriakkan nasihatnya: `Lepaskanlah kepalanmu sekarang juga agar engkau bebas!Monyet muda itu ketakutan, namun tetap saja ia bersikeras untuk mengambil kacang itu. Akhirnya, ia tertangkap oleh sang pemburu.

Renungan,
Demikianlah, kadang kita juga sering mencengkeram dan tidak rela melepaskan hal-hal yang sepatutnya kita lepaskan: kemarahan, kebencian, iri hati, ketamakan, dan sebagainya. Apabila kita tetap tak bersedia melepas, tatkala kematian datang menangkap kita, semuanya akan terlambat sudah.

Bukankah lebih mudah jika kita melepaskan setiap masalah yang lampau, dan menatap hari esok dengan lebih cerah? Bukankah dunia akan menjadi lebih indah jika kita bisa melepaskan "kepalan" kita dan membagi kebahagiaan dengan orang lain?
.

Buat tanganmu terbuka untuk selalu siap merengkuh masa depan... terbuka menyambut sahabat... Its True sob....