Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.( Yohanes 15 : 16 )

Showing posts with label iman. Show all posts
Showing posts with label iman. Show all posts

Saturday, May 14, 2011

TUHAN Mengirim "Burung Gagak"


Di suatu musim dingin, seorang janda miskin menceritakan pemeliharaan Tuhan yang begitu ajaib terhadap hidup Nabi Elia kepada anaknya.

“Nak, pada masa kelaparan Tuhan mencukupkan makanan Nabi Elia yang tinggal di tepi Sungai Kerit lewat burung-burung gagak. (1 Raja-raja 17:5-6) Engkau dapat minum dari sungai itu, dan burung-burung gagak telah kuperintahkan untuk memberi makan engkau di sana. Pada waktu pagi dan petang burung-burung gagak membawa roti dan daging kepadanya, dan ia minum dari sungai itu.”

Sambil menahan lapar, anak itu berkata kepada ibunya, “Bu, bolehkah aku membuka pintu rumah agar gagak yang diutus Tuhan untuk membawa makanan kepada kita dapat segera masuk? Aku percaya bahwa gagak itu sedang dalam perjalanan!” Ibunya mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai tanda setuju.

Tak berapa lama kemudian seorang pria mengetuk pintu dan berkata, “Mengapa pintu rumah Anda terbuka di musim dingin seperti ini? Apakah Anda tidak tersiksa oleh hembusan angin sedingin ini?”

Janda itu kemudian menceritakan tentang imannya dan anaknya yang sedang menanti gagak utusan Tuhan. Pria berpakaian rapih itu ternyata adalah walikota yang sedang berjalan-jalan melihat keadaan masyarakat kota yang dipimpinnya. Pria itu kagum pada iman janda dan anaknya sehingga ia berkata, “Ibu, saya adalah gagak utusan Tuhan itu.

Setiap bulan saya akan memenuhi semua kebutuhan kalian, karena Tuhan sudah memerintahkan saya datang ke rumah yang diberkati ini.” Iman bukan hanya mampu menggugah hati Tuhan, tapi juga orang yang dapat melihat keteguhan iman di dalam diri seseorang.

Tuhan yang kita kenal di dalam nama Yesus Kristus adalah Tuhan yang bertanggung jawab dan begitu luar biasa! Lihatlah betapa besar kuasa dan hikmatNya, sehingga kehidupan di alam semesta ini tetap berjalan setiap detik. Siapakah yang sanggup memelihara kelangsungan hidup hewan di hutan, tumbuhan liar di padang, mengatur musim-musim, mengatur siklus air di bumi, dan memberi nafas manusia yang jumlahnya miliaran?

Mazmur Daud mengetahui dengan pasti siapa yang sanggup mengatur semua itu sehingga ia berkata, “Engkau yang memberi minum gunung-gunung dari kamar-kamar lotengMu, bumi kenyang dari buah pekerjaanMu. Engkau yang menumbuhkan rumput bagi hewan dan tumbuh-tumbuhan untuk diusahakan manusia, yang mengeluarkan makanan dari dalam tanah dan anggur yang menyukakan hati manuisa, yang membuat muka berseri karena minyak, dan makanan yang menyegarkan hati manusia.” (Mazmur 104:13-15)

Jika Tuhan sanggup memerintahkan gagak untuk memelihara kehidupan Nabi Elia dan kebesaranNya mengatasi kehidupan di jagat raya ini, maka Ia juga sanggup mengadakan apa yang kita butuhkan. Yang terpenting adalah, ada iman di hati kita yang percaya sepenuhnya bahwa Dia akan memelihara kita di dalam kelimpahanNya. Amin.~

Jagalah aku ya Allah. sebab pada-Mu aku berlindung. Aku berkata “Engkaulah TUHANKU, kebahagiaanku. tak ada yang melebihi Engkau! (Mazmur 16:1-2).

Friday, April 15, 2011

Timothy dan Maura


Pada tahun 304 Masehi, tahun sebelum Dioklesia mundur sebagai penguasa Roma, penganiayaan terhadap orang Kristen mencapai tingkat yang benar-benar biadab. Timothy, seorang diaken gereja di provinsi Mauritania -- bagian dari wilayah kekuasaan Roma, adalah seseorang yang bertanggung jawab menjaga keberadaan kitab-kitab Injil dalam gerejanya.

Ia dan istrinya, Maura, menikah beberapa minggu sebelum mereka menghadapi penganiayaan. Mereka ditangkap karena menjadi orang Kristen dan dibawa ke hadapan gubernur provinsi, Arrianus, yang mengetahui peran Timothy di gerejanya. Ia memerintahkan Timothy untuk mengembalikan kepadanya Injil-Injil yang disimpan dalam gereja untuk dibakar.

Timothy kemudian menjawab bahwa jika ia memiliki anak, ia lebih baik menyerahkannya kepada Arrianus untuk dikorbankan daripada mengorbankan Firman Allah. Mendengar jawaban tersebut, Arrianus marah dan memerintahkan agar mata Timothy dibakar dengan besi panas, supaya ia tidak bisa lagi membaca Injil, sehingga nantinya Injil-Injil tersebut akan tidak berguna lagi baginya.

Namun, keberanian Timothy menghadapi kesakitan luar biasa yang dialaminya, membuat Arrianus benar-benar marah sehingga ia memerintahkan supaya Timothy digantung kakinya dengan sebuah pemberat yang diikatkan pada lehernya, dan mulutnya disumbat. Si gubernur berpikir hal tersebut dapat mengalahkan kegigihannya.

Maura, yang dipaksa menyaksikan penganiayaan suaminya, memohon suaminya untuk mengaku bersalah supaya ia tidak menyaksikan peristiwa itu lagi. Sumbat diambil dari mulut Timothy supaya ia dapat menjawab permohonan istrinya. Namun, terjadi hal yang sebaliknya, ia tidak menyetujui permohonan istrinya dan mengatakan kepadanya bahwa ia telah 'salah jalan'. Ia menyatakan keputusannya untuk mati adalah demi imannya kepada Kristus. Akhirnya, Maura menetapkan hati mengikuti keberanian suaminya dan menemaninya menuju kemuliaan.

Arrianus tidak dapat lagi mengalahkan ketetapan hati Maura sehingga ia memerintahkan agar Maura diberi penganiayaan paling kasar. Setelah penganiayaan mereka selesai, Timothy dan Maura di salib berdampingan.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul asli buku: The Hidden Stones in Our Foundation

Judul buku: Batu-batu Tersembunyi dalam Fondasi Kita

Penulis: Tidak dicantumkan

Penerjemah: Ivan Haryanto

Penerbit: Kasih dalam Perbuatan, Surabaya 2005

Halaman: 27 -- 28

Penderitaan Yang Menumbuhkan


Yakobus 1:2"Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan"

Apa yang biasa Anda lakukan ketika penderitaan melanda hidup Anda? Mencari tahu penyebab mengapa Anda mengalami penderitaan tersebut atau justru mengambil sikap seperti Tuhan Yesus, yang tetap menjalani penderitaan-Nya dengan ketaatan penuh kepada Allah Bapa? Pengarang James Stalker menulis dalam sebuah bukunya, "Penderitaan tidak selalu menyucikan. Penderitaan dapat membuat watak menjadi buruk dan egois. Namun, ada banyak pula keberhasilan yang timbul dari pencobaan. Ada banyak kamar orang sakit yang merupakan suatu kehormatan untuk dikunjungi."

Suatu ketika J. Oswald Sanders pernah bercerita tentang kunjungannya ke tempat semacam itu di Australia, tempat di mana Nona Higgens tinggal. Dalam keadaan sakit terus-menerus, Nona Higgens tidak pernah meninggalkan kamarnya selama lebih dari 40 tahun. Kedua tangan dan kakinya telah diamputasi untuk menahan penyebaran penyakitnya ke seluruh tubuhnya.

Setelah memutuskan untuk hidup secara kreatif, ia menamai pondok tempat tinggalnya dengan nama "Pondok Harapan Sukacita". Di pondok inilah ia menyerahkan dirinya dalam doa kepada Tuhan dan aktif pelayanan rohani. Dengan pena yang diikatkan pada ujung lengannya yang buntung, ia berkirim surat ke seluruh dunia selama bertahun-tahun dan membimbing ratusan orang kepada Kristus.

Penderitaan yang dialami Nona Higgens tidaklah membuatnya patah semangat dan menjadikan dirinya sebagai orang yang tidak berguna, justru sebaliknya, penderitaannya justru mendorongnya untuk menjadi lebih kreatif di dalam hidup dan pelayanannya.

Jadi, jika saat ini Anda untuk hidup lebih kreatif, "Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan" (Yakobus 1:2). Sebutlah pergumulan-pergumulan dan derita hati Anda dengan sebutan "derita yang menumbuhkan," dengan penekanan pada kata menumbuhkan! Bila kita memuji Allah dalam ujian hidup kita, beban kita akan berubah menjadi berkat.

Saturday, December 18, 2010

Let God Leads Us


“Kita tidak pernah mempertanyakan ke mana supir bus kota yang kita tumpangi akan membawa bus-nya. Tetapi kita sering mempertanyakan Tuhan,kemana Dia akan membawa hidup kita”


Seorang ayah mengajak puterinya, Asa 6 tahun, mengendarai mobil menuju ke sebuah museum. Sudah lama Asa menginginkann ya. Si Ayah kebetulan hari itu mengambil cuti dan sengaja mengantar anaknya ke tempat yang sudah lama diimpikan Asa itu tanpa didampingi Bunda.

Di perjalanan, tak hentinya Asa bertanya kepada si Ayah :
“Ayah tahu tempatnya?”, tanya Asa yang duduk di samping kemudi Ayah.
“Tahu, jangan kuatir …”, jawab Ayah sembari tersenyum. “Emang Ayah tahu jalan-jalann ya? ” “Tahu, jangan kuatir …” “Benar, tidak kesasar Ayah?”
“Benar, jangan kuatir …”, jawab Ayah tetap dengan sabar.
“Nanti kalau Asa haus, bagaimana?” “Tenang, nanti Ayah beli air mineral …”
“Terus kalau lapar?” “Tenang, Ayah ajak mampir Asa ke restoran …”
“Emang ayah tahu tempat restorannya? ” “Tahu, sayang …”
“Emang ayah bawa cukup uang?” “Cukup, sayang …”
“Kalau Asa pengin ke kamar kecil?” “Ayah antar sampai depan pintu toilet wanita …”
“Emang di musium ada toiletnya?” “Ada, jangan kuatir …”
“Ayah bawa tissue juga?” “Bawa, jangan kuatir …”, kata ayah sembari membelokkan mobilnya masuk jalan tikus, karena macet.
“Kok Ayah belok ke jalan jelek dan sempit begini?”
“Ayah cari jalan yang lebih cepat … supaya Asa bisa menikmati museum lebih lama nanti …”

Tidak berapa lama, Asa kemudian tidak bertanya-ta nya lagi. Giliran sang Ayah yang bingung,
“Kenapa Asa diam, sayang?” “Ya, Asa percaya Ayah deh! Ayah pasti tahu, akan antar dan bantu Asa nanti!”

Kita ini seperti Asa si anak kecil ini. Kita bertanya banyak hal mengenai apa yang kita hadapi dan
terjadi dalam hidup kita. Terlalu banyak khawatir apa yang akan kita hadapi. Padahal sesungguhnya Tuhan “sedang mengemudi” buat kita semua. Kadang Ia membawa ke “gang sempit” yang barangkali tidak enak, tetapi itu semua untuk menghindari “kemacetan” di jalan yang
lain. Kadang Ia memperlambat “kendaraan-Nya” , kadang mempercepat. Semuanya ada maksudnya.

Ada baiknya kalau kita menyerahkan hal- hal yang di luar jangkauan kita kepada- Nya. Biarkan Dia berkarya atas hidup Anda, biarkan Dia mengemudikan hidup Anda, sebaliknya fokuskan hidup Anda
kepada hal-hal yang Anda bisa kerjakan di depan mata, dengan berkat kemampuan yang Anda sudah miliki.

Sunday, September 12, 2010

Sang Akrobat


Seorang pemain akrobat. Di ujung dua buah tiang yang tinggi dipasang sebatang balok besi yang menghubungkan kedua tiang tersebut. Dan di atas balok besi itulah ia berjalan kesana kemari sambil berusaha menjaga keseimbangan badannya. Ia mencoba beberapa gerakan yang nampaknya amat berbahaya yang membuat penonton harus menahan nafas agar jantung tidak terputus.

Sang akrobat lalu berhenti sejenak dan memperhatikan semua penontonnya, lalu bertanya; "Siapa di antara kalian merelakan diri agar saya pikul melewati balok besi ini?" Tak satupun di antara para penonton itu yang rela menerima tawaran tersebut. Semua tentu saja takut kalau-kalau suatu kefatalan terjadi maka mereka akan terjatuh. Dan bila sungguh terjadi demikian maka ajal mereka akan berakhir di balik balok besi tersebut.

Tiba-tiba seorang anak kecil secara amat berani menaiki tiang tersebut dan merelakan diri untuk dipikul sang akrobat melewati balok besi tersebut. Ketika ia berada di atas pundak sang akrobat, semua penonton menahan nafas. Semua mengatupkan tangan berdoa agar keduanya selamat. Ada pula di antara penonton tersebut yang memejamkan mata tak berani menonton.

Ketika adegan ini berakhir dan sang akrobat maupun anak kecil yang ada di pundaknya selamat tiba di seberang, ada orang datang bertanya kepada anak tersebut; "Mengapa anda begitu berani membiarkan dirimu berada dalam bahaya seperti itu?"

Sang anak kecil itu dengan penuh rasa bangga berkata; "Karena ia adalah ayahku. Bersama ayahku, aku tak akan pernah merasa takut, bahkan di tengah mara bahaya sekalipun."

Tahukah anda siapa Allah yang anda sembah?? Kita selalu menyapaNya sebagai Bapa. Dan dengan sapaan itulah kita mendoakan doa yang diajarkan Yesus kepada kita: "Bapa kami yang ada di Surga...". Namun apakah kita juga sama seperti sang anak kecil di atas, yang kendatipun berada di tengah bahaya namun tak merasa takut? Si kecil tak merasa takut karena ia percaya sepenuhnya pada cinta dan kasih setia ayahnya. Hendaknya kitapun demikian; Bersama Allah, kita tak perlu takut, bahkan ketika harus berhadapan dengan mara bahaya yang paling mengerikan sekali pun.

Hendaknya kitapun bersama sang Pemazmur bermadah: "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku." (Maz 23; 4).

Tuesday, August 10, 2010

3 Hal


1. Suatu kali, semua penduduk desa berdoa memohon hujan.. Pada hari semua orang berkumpul untuk berdoa, hanya 1 anak laki-laki yg membawa payung..
" Itulah iman! "


2. Teladan dari seorang bayi berusia 1 tahun...
Ketika anda melemparkannya ke udara, dia tertawa karena dia tahu anda akan menangkapnya..
" Itulah kepercayaan! "


3. Setiap malam kita tidur, kita tidak yakin bahwa kita masih hidup esok hari...Tapi kita masih mempunyai rencana untuk besok..
" Itulah harapan.. "

Dengan Iman kita hidup sesuai dengan apa yg kita doakan.

Dengan pengharapan kita akan selalu optimis merencanakan hari depan kita.

Dengan kepercayaan kita tidak perlu kuatir, apapun yg terjadi selalu ada tangan Tuhan yang siap mengangkat hidup kita.