Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.( Yohanes 15 : 16 )

Friday, April 15, 2016

KEBAHAGIAAN

Suatu ketika istri John Maxwell (pembicara motivator top) Margaret, sedang menjadi pembicara di salah satu sesi seminar tentang “kebahagiaan”. Maxwell sang suami duduk di bangku paling depan dan mendengarkan.

Di akhir sesi, semua pengunjung bertepuk tangan dan tiba, sesi tanya jawab.
Setelah beberapa pertanyaan, seorang ibu mengacungkan tangannya untuk bertanya..

“Mrs. Margaret, apakah suami Anda membuat Anda bahagia?”
Seluruh ruangan langsung terdiam. Satu pertanyaan yang bagus.
Margaret tampak berpikir beberapa saat dan kemudian menjawab, “Tidak…”

Seluruh ruangan terkejut. “Tidak…” katanya sekali lagi,”John Maxwell tidak bisa membuatku bahagia.”
Seisi ruangan langsung menoleh ke arah Maxwell. Maxwell juga menoleh-noleh mencari pintu keluar. Rasanya ingin cepat-cepat keluar. Kemudian, lanjut Margaret, “John Maxwell adalah seorang suami yang sangat baik.

Ia tidak pernah berjudi, mabuk-mabukan, main serong. Ia selalu setia, selalu memenuhi kebutuhan saya, baik jasmani maupun rohani. Tapi, tetap dia tidak bisa membuatku bahagia.”
Tiba-tiba ada suara bertanya, “Mengapa?”

“Karena,” Jawabnya, “Tidak ada seorang pun di dunia ini yang bertanggung jawab atas kebahagiaanku selain DIRIKU SENDIRI.”

Margaret mengatakan, tidak ada orang lain yang bisa membuatmu bahagia. Baik itu pasangan hidupmu, sahabatmu, uangmu, hobimu.
Semua itu tidak bisa membuatmu bahagia.

Karena yang bisa membuat dirimu bahagia adalah dirimu sendiri..

Kamu bertanggung jawab atas dirimu sendiri. Kalau kamu sering merasa berkecukupan, tidak pernah punya perasaan minder, selalu percaya diri, kamu tidak akan merasa sedih.
Sesungguhnya pola pikir kita yang menentukan apakah kita bahagia atau tidak, bukan faktor luar. Bahagia atau tidaknya hidupmu bukan ditentukan oleh seberapa kaya dirimu, cantik istrimu/gagah suamimu, atau sesukses apa hidupmu.

Tuesday, January 19, 2016

KEKUATAN DOA

Ada dua orang anak sedang duduk berbincang dengan ibunya diruang tamu, Pada saat mereka sedang berbicara, tiba-tiba terjadi “badai” besar, guntur dan kilat yang sambar-menyambar. Keadaan sangat mencekam dan menjadikan ketiga orang itu ketakutan.
Kedua anak itu langsung mendekap Ibunya dan sang Ibu dalam kepanikan memberikan kata-kata penghiburan pada kedua anak ini.
.
Setelah satu jam terjadi, badai itu reda dan keadaan baik tidak terjadi apapun hanya terjadi sedikit karusakan pada rumah itu. Anak pertama bilang pada adiknya,” Apakah kamu baik-baik saja dik?”. Jawab sang adik,”Benar aku dalam keadaan baik, hanya aku tadi takut sekali hingga aku terus berdoa berulang-ulang agar tidak terjadi hal-hal buruk pada kita”. Sang kakak berbicara,”aku tidak berdoa apa-apa tetapi aku juga dalam keadaan baik, jadi doa atau tidak bukan hal penting karena tanpa doapun kita dalam keadaan baik”. Sambung anak ini,”mam, apakah kau tadi juga berdoa??? aku lihat mama tidak berdoa karena mama sibuk menenangkan kami agar tidak takut”. Jawab Ibu anak-anak itu,” aku berdoa dengan aku melakukan pekerjaan terbaik yaitu menenangkan kalian dan doa yang terbaik adalah ada dalam tindakan nyata”. Jawab anak pertama itu,” apakah ketika mama berbicara untuk menenangkan kami tadi bisa dikatakan doa???”. Jawab Ibu itu,”benar berdoalah dengan tindakan bukan hanya diam saja tidak melakukan apa-apa?”.
.
Sejenak percakapan kedua anak dengan Ibunya ini seperti percakapan biasa dan sering kita alami. Seperti pandangan anak pertama sering ada dalam diri kita,” tidak berdoapun kita selamat jadi apa artinya sebuah doa?” Anak pertama ini tidak menyadari kalau hasil dari doa yang dilakukan orang lain juga berkaitan dengan dirinya bahkan “kemungkinan” yang menyelamatkan dia adalah doa dari adik dan Ibunya itu. Jika suasana doa dari adiknya tidak ada dan adiknya ketakutan dan menangis berlarian kesana-kemari maka cerita akan lain dan jika Ibunya tidak melakukan tindakan untuk menenangkan mereka maka keadaan akan berbicara lain. Susana akan penuh dengan ketakutan yang mencekam dan dalam keadaan seperti ini orang akan kehilangan “arah” akhirnya bertindak “sembarangan” dengan berjuta pemikiran akan yang terjadi diluar rumah itu entah berkaitan dengan mobilnya, ayamnya, kebunnya atau apapun yang dipunyai dan ada diluar rumah itu. Maka “hasil” nyata dari doa itu adalah “ketenangan”.
Dalam keadaan tenang orang menjadi siaga dan tahu apa yang akan terjadi dan kecepatan bertindak lebih cepat. Maka sebenarnya yang menjadikan “kehancuran” dan “ketidakselamatan” seseorang sebenarnya bukan bencana itu tetapi rasa panik dan ketakutan akan keadaan yang terjadi. Dengan doa dan tindakan nyata dari doa, rasa panik bisa diatasi dan kebaikan dapat didapatkan.
.
Pernah ada cerita yang saya baca. Ada wabah penyakit lewat dan bertemu dengan Nasrudin. Nasrudin bertanya,” mau kemanakah kau, hai wabah penyakit??”.
Jawab wabah itu,” ke kota A untuk membunuh sepuluh orang???”.
Setelah bebarapa hari Nasrudin kembali bertemu dengan wabah itu dan Nasrudin bertanya,” hai wabah, kau bilang akan membunuh sepuluh orang, tapi mengapa yang mati seratus orang”. Jawab wabah itu,” aku hanya membunuh sepuluh orang dan yang sembilan puluh mati karena panik dan ketakutan”. Nasrudin hanya bisa mangut-manggut saja.
.
Maka ketakutan dan kepanikan yang sebenarnya berbahaya dalam kehidupan ini. Maka seperti Ibu dan anak kedua dari kelauarga itu, mereka berdoa untuk menenangkan suasana agar kepanikan tidak terjadi dalam rumah itu. Maka dalam menyikapi bencana dan kesulitan selalulah berdoa dan tenangkan diri jangan bairkan kepanikan dan ketakutan ada karena dengan doa dan ketenangan semua bisa berjalan dengan baik.
.
Selamat menjaga ketenangan hati dengan doa dalam keadaan apa pun.

Thursday, November 05, 2015

Kisah ROBBY

Saya seorang mantan guru sekolah musik dari Desa Moines, Iowa. Saya mendapat nafkah dengan mengajar piano-selama lebih dari 30 tahun. Selama itu, saya menyadari tiap anak punya kemampuan musik yang berbeda. Tapi saya tidak pernah merasa telah menolong walaupun saya telah mengajar beberapa murid berbakat. Walaupun begitu, saya ingin bercerita tentang murid yang "tertantang secara musik". Contohnya adalah Robby.

Robby berumur 11 tahun, ketika ibunya memasukkan dia dalam les untuk pertama kalinya. Saya lebih senang kalau murid (khususnya laki-laki) mulai ketika lebih muda, saya jelaskan itu pada Robby. Tapi Robby berkata, ibunya selalu ingin mendengar dia bermain piano. Jadi saya jadikan dia murid.

Robby memulai les pianonya dan dari awal saya pikir dia tidak ada harapan.Robby mencoba, tapi dia tak mempunyai perasaan nada maupun irama dasar yang perlu dipelajari. Tapi dia mempelajari benar-benar tangga nada dan beberapa pelajaran awal yang saya wajibkan untuk dipelajari semua murid.

Selama beberapa bulan, dia mencoba terus dan saya mendengarnya dengan ngeri dan terus mencoba menyemangatinya. Setiap akhir pelajaran mingguannya, dia berkata, "Ibu saya akan mendengar saya bermain pada suatu hari."

Tapi rasanya sia-sia saja. Dia memang tak berkemampuan sejak lahir. Saya hanya mengetahui ibunya dari jauh ketika menurunkan Robby atau menjemput Robby. Dia hanya tersenyum dan melambaikan tangan tapi tidak pernah turun.

Pada suatu hari, Robby tidak datang lagi ke les kami. Saya berpikir untuk menghubunginya, tapi karena ketidakmampuannya, mungkin dia mau les yang lain saja. Saya juga senang dia tidak datang lagi. Dia menjadi iklan yang buruk untuk pengajaran saya!

Beberapa minggu sesudahnya, saya mengirimkan brosur ke tiap murid, mengenai pertunjukan yang akan dilaksanakan. Yang mengagetkan saya, Robby (yang juga menerima brosur) menanyakan saya apakah dia bisa ikut pertunjukan itu.

Saya katakan kepadanya, pertunjukan itu untuk murid yang ada sekarang dan karena dia telah keluar, tentu dia tak bisa ikut.

Dia katakan bahwa ibunya sakit sehingga tak bisa mengantarnya ke les, tapi dia tetap terus berlatih. "Bu Hondrof... saya mau main!" dia memaksa.

Saya tidak tahu apa yang membuat saya akhirnya membolehkan dia main di pertunjukan itu. Mungkin karena kegigihannya atau mungkin ada sesuatu yang berkata dalam hati saya bahwa dia akan baik-baik saja.

Malam pertunjukan datang. Aula itu dipenuhi dengan orang tua, teman, dan relasi. Saya menaruh Robby pada urutan terakhir sebelum saya ke depan untuk berterima kasih dan memainkan bagian terakhir. Saya rasa kesalahan yang dia buat akan terjadi pada akhir acaradan saya bisa menutupinya dengan permainan dari saya.

Pertunjukan itu berlangsung tanpa masalah. Murid-murid telah berlatih dan hasilnya bagus. Lalu Robby naik ke panggung.Bajunya kusut dan rambutnya bagaikan baru dikocok. "Kenapa dia tak berpakaian seperti murid lainnya?" pikir saya. "Kenapa ibunya tidak menyisir rambutnya setidaknya untuk malam ini?"

Robby menarik kursi piano dan mulai. Saya terkejut ketika dia menyatakan bahwa dia telah memilih Mozart's Concerto#21 in C Major. Saya tidak dapat bersiap untuk mendengarnya.Jarinya ringan di tuts nada, bahkan menari dengan gesit. Dia berpindah dari pianossimo ke fortissimo.. . dari allegro ke virtuoso. Akord tergantungnya yang diinginkan Mozart sangat mengagumkan! Saya tak pernah mendengar lagu Mozart dimainkan orang seumur dia sebagus itu!

Setelah enam setengah menit, dia mengakhirinya dengan crescendo besar dan semua terpaku disana dengan tepuk tangan yang meriah. Dalam air mata, saya naik ke panggung dan memeluk Robby dengan sukacita. "Saya belum pernah mendengar kau bermain seperti itu, Robby!Bagaimana kau melakukannya? "

Melalui pengeras suara Robby menjawab, "Bu Hondorf...ingat saya berkata bahwa ibu saya sakit? Ya, sebenarnya dia sakit kanker dan dia telah berlalu pagi ini. Dan sebenarnya.. . dia tuli sejak lahir jadi hari inilah dia pertama kali mendengar saya bermain. Saya ingin bermain secara khusus."

Tidak ada satu pun mata yang kering malam itu. Ketika orang-orang dari Layanan sosial membawa Robby dari panggung ke ruang pemeliharaan, saya menyadari meskipun mata mereka merah dan bengkak, betapa hidup saya jauh lebih berarti karena mengambil Robby sebagai murid saya.

Tidak, saya tidak pernah menjadi penolong, tapi malam itu saya menjadi orang yang ditolong Robby. Dialah gurunya dan sayalah muridnya. Karena dialah yang mengajarkan saya artiketekunan, kasih, percaya pada dirimu sendiri, dan bahkan mau memberikesempatan pada seseorang yang tak anda ketahui mengapa.

Peristiwa ini semakin berarti ketika, setelah bermain di Desert Storm, Robby terbunuh oleh pengeboman yang tak masuk akal oleh Alfred P. Murrah Federal Building di Oklahoma pada April 1995, ketika dilaporkan.. . dia sedang main piano.

Thursday, October 15, 2015

Rahasia Di Balik TSUNAMI ACEH

Cerita ini adalah kisah nyata dan rahasia di balik terjadinya tsunami Aceh dengan kesaksian 400 orang umat Kristen bahwa kisah ini sungguh terjadi...

Bencana Raya Tsunami Aceh 2004 sudah lama berlalu, tapi tak seorangpun yang akan pernah melupakannya. Prahara itu setara dasyatnya dengan Bom Hiroshima dalam catatan sejarah bumi ini. Sampai kapanpun orang tidak akan pernah lupa pada Tsunami Aceh, dan seluruh umat manusia, keturunan demi keturunan, akan terus mengenangnya. Orang akan tetap mengingatnya sebagai bencana alam terbesar sepanjang zaman modern.

 Tak seorangpun yang akan lupa betapa stasiun-stasiun TV menayangkan video-video mengerikan: mayat-mayat manusia bergeletakan tak berarti di jalan-jalan, di trotoar, di lapangan, di selokan-selokan, tergantung di tiang listrik, di atas pohon dan tempat-tempat lain. Para reporter melaporkan langsung dengan berdiri di sekitar tumpukan mayat berserakan, bagai tumpukan ikan di pasar ikan.

Tapi adakah yang tahu rahasia besar di balik peristiwa dahsyat itu? Sekaranglah saatnya rahasia itu diungkapkan secara luas, agar menjadi peringatan besar bagi dunia, sama seperti Bahtera Nuh menjadi peringatan akan bengisnya murka Allah atas manusia di zaman itu.

Berikut ini saya salin dari catatan harian saya dari tahun 2005 lalu.

“Tadi pagi saya mendengar cerita yang menggetarkan dari tante saya. Beliau adik perempuan ibu saya, yang baru tiba dari Pekan Baru - Riau beberapa hari lalu ke kota ini, untuk meninjau anaknya yang sekolah di sini. Cerita itu terlalu mengguncangkan sampai saya merinding mendengarnya dan memutuskan untuk menulisnya di sini. Beliau bercerita tentang sebuah peristiwa yang luput dari pers, yang menjadi awal dari bencana besar Tsunami Aceh 2004 lalu”

Tanggal 24 Desember 2004, sebuah jemaat gereja berjumlah kira-kira 400 jiwa di Meulaboh, Aceh Darussalam, sedang kumpul-kumpul di gedung gereja untuk persiapan Natal, tiba-tiba mereka didatangi segerombol besar massa berwajah beringas. Mereka adalah warga kota, tetua-tetua kota, aparatur pemerintah serta polisi syariat. Massa ini dengan marah mengultimatum orang-orang Kristen itu untuk tidak merayakan Natal. Tetapi pendeta dan jemaat gereja itu mencoba membela diri, kurang lebih berkata:

“Mengapa Pak? Kami kan hanya merayakan hari besar agama kami. Kami tidak berbuat rusuh atau kejahatan kok. Acara besok untuk memuji dan menyembah Tuhan kok, Pak. Yakinlah, kami tidak akan mengganggu siapapun.”

Tetapi massa itu tidak menggubris dan kurang lebih berkata:

Sekali tidak boleh, ya tidak boleh! Ini negeri Islam! Kalian orang-orang kafir tidak boleh mengotori kota kami ini! Dengar, kalau kami membunuh kalian, tidak satupun yang akan membela kalian, kalian tahu itu!?

Tetapi orang-orang Kristen itu tetap berusaha membujuk-bujuk massa itu. Lalu massa yang ganas itu memutuskan begini: “Kalian tidak boleh merayakan Natal di dalam kota. Kalau kalian merayakannya di sini, kalian akan tahu sendiri akibatnya! Tapi kalau kalian tetap mau merayakan Natal, kalian kami ijinkan merayakannya di hutan di gunung sana!!”

Setelah mengultimatum demikian, massa itupun pergi. Lalu pendeta dan jemaat gereja itu berunding, menimbang-nimbang apakah sebaiknya membatalkan Natal saja, ataukah pergi ke hutan dan bernatalan di sana. Akhirnya mereka memilih pilihan kedua. Lalu berangkatlah mereka ke hutan, di daerah pegunungan. Di suatu tempat, mereka mulia membersihkan rumput dan belukar, mengikatkan terpal-terpal plastik ke pohon-pohon sebagai atap peneduh, lalu mulai menggelar tikar. Besoknya, 25 Desember 2004, jemaat gereja itu berbondong-bondong ke hutan untuk merayakan Natal.

Perayaan Natal yang sungguh memilukan sekali. Mereka menangis meraung-raung kepada Tuhan, meminta pembelaanNya. Sebagian besar mereka memutuskan menginap di hutan malam itu.

Lalu pagi-pagi buta sekali, ketika hari masih gelap, istri si pendeta terbangun dari tidur. Ia bermimpi aneh, membangunkan suaminya dan yang lain. Dalam mimpinya itu TUHAN YESUS datang kepadanya, menghiburnya dengan berkata:

“Kuatkanlah hatimu, hai anakKu. Jangan engkau menangis lagi. Bukan kalian yang diusir bangsa itu, tetapi Aku! Setiap bangsa yang mengusir Aku dan namaKu dari negeri mereka, tidak akan luput dari murkaKu yang menyala-nyala. Bangunlah dan pergilah ke kota, bawa semua saudaramu yang tertinggal di sana ke tempat ini sekarang juga, karena Aku akan memukul negeri ini dengan tanganKu!”

Lalu mereka membahas sejenak mimpi itu. Sebagian orang menganggap itu mimpi biasa, menenangkan si ibu pendeta dengan berkata kira-kira begini: “Sudahlah Ibu, jangan bersedih lagi. Tentulah mimpi itu muncul karena ibu terlalu sedih”. Tetapi sebagian lagi percaya atau agak percaya bahwa mimpi itu memang betul-betul pesan Tuhan. Akhirnya mereka memutuskan mengerjakan pesan seperti dalam mimpi itu. Beberapa orang ditugaskan ke kota pagi buta itu juga untuk memanggil keluarga-keluarga jemaat yang tak ikut bernatalan ke hutan.

Ketika pagi hari, sekitar pukul 7 s/d 8 pagi mereka semua telah berada kembali di pegunungan, mereka dikejutkan goncangan gempa yang dasyat sekali. Tak lama kemudian, peristiwa Tsunami Besar itupun terjadi.

Sekarang, pendeta gereja yang selamat itu telah pergi ke mana-mana, mempersaksikan kisah luar biasa itu ke gereja-gereja di seluruh Indonesia, termasuk ke gereja dimana tante saya beribadah, di Pekan Baru.

Saya tidak tahu kebenaran cerita tante saya itu, sebab dialah orang satu-satunya yang pernah bercerita begitu pada saya. Itulah sebabnya saya tulis dulu di buku harian ini supaya saya tidak lupa dan supaya bila kelak saya telah mendengar cerita yang sama dari orang lain, barulah saya akan percaya dan akan saya ceritakan kepada sebanyak-banyaknya orang”.

Saudara dalam Yesus,

Beberapa waktu lalu, saya teringat pada catatan itu lalu terpikir untuk surfing di internet ini, apakah ada orang lain yang mendengar kesaksian yang sama. Jika ada, berarti tante saya itu tidak membual pada saya, dan berarti peristiwa itu benar terjadi.

Lalu apa yang saya temukan? Saya BENAR-BENAR menemukannya setelah dengan susah payah membuka-buka banyak situs. Salah satunya saya temukan di pedalaman salib.net.

Itulah sebabnya catatan harian itu saya publikasikan di blog ini untuk saudara publikasikan lebih luas lagi ke seluruh dunia. Biarlah seluruh dunia tahu bahwa Tuhan kita Yesus Kristus adalah satu-satunya Tuhan dan Ia sungguh-sungguh HIDUP!
Haleluyah!!

Tuesday, October 13, 2015

Proses PENDEWASAAN DIRI


lemari.
Di sebuah toko mebel ada seorang tukang yang terlihat sedang serius menggosok kayu untuk sebuah

Dia gosok terus menerus, ketika amplas tersebut habis sisi kasarnya, dibuang dan
digantikan dengan yang baru hingga terlihat halus dan mengkilat.

Sebenarnya hidup kita ibarat kayu dan amplas, kita bagaikan kayu dan seseorang yang bersikap jahat dan selalu menyakiti diri kita ibarat sebuah amplas.!!

Biarlah dia selalu menggesek, dan menyakiti kita, sakit memang dan terluka pula, tapi lihatlah sebuah kayu akan mengkilap ketika kita di gosok dgn amplas,??
Seperti itulah diri kita sebenarnya, hati kita akan berkilau karena kesabaran atas rasa sakit yang kita tanggung.

Jika tiba saatnya nanti, kita akan menjadi berkilau dan seseorang yang menyakiti kita, akan menjadi terbuang dan tak berguna seperti sebuah amplas yang kehilangan fungsinya untuk menghaluskan.

Mari kita belajar menjalani hidup ini seperti kayu dan amplas, karna semuanya itu merupakan sebuah proses untuk kita mendewasakan diri.
Usia seseorang belum tentu menjadi tolak ukur kedewasaan seseorang.
Sumber: unknown

Friday, October 09, 2015

KIND WORD


Pada suatu hari Thomas Alva Edison pulang ke rumah & memberikan sepucuk surat kpd mamanya. Ia berkata: "Guru saya memberikan surat ini pada saya & berpesan agar surat ini hanya diberikan pd mama."

Membaca surat itu, dgn airmata berlinang sang ibu membaca surat tsb: "Anak kamu terlalu jenius. Sekolah ini terlalu sederhana & tdk cukup guru yg baik utk melatih dia. Ajarlah dia secara langsung."

Tahun demi tahun berlalu, mama dari Thomas A. Edison pun mendidik anaknya di rumah sampai dia meninggal dan Hasilnya ia skrg menjadi penemu terhebat sepanjang sejarah.

Suatu ketika dia menemukan surat yg dulu dikirim oleh gurunya di laci meja mamanya. Dia membuka dan membacanya: "Anak kamu punya masalah kejiwaan. Kami tdk mengizinkan lagi utk datang ke sekolah ini selamanya."

Edison menangis ber-jam2 & menulis ini di buku hariannya: "Thomas Alva Edison adalah anak gila yg oleh seorang Pahlawan yaitu Mama Saya, Saya diubahnya menjadi orang yg paling jenius sepanjang abad."
Perkataan yg buruk merusak moral & mental seseorang. Perkataan yg baik dpt memotivasi org utk menjadi yg Terbaik.

"Try to make at least one person happy everyday. If you cannot do a kind deed, speak a kind word. If you cannot speak a kind word, think a kind thought. Count up, if you can, the treasure of happiness that you would dispense in a week, in a year, in a lifetime!" Lawrence G. Lovasik
"Impossible is a word to be found only in the dictionary of fools." Napoleon Bonaparte.

Hidup Adalah PILIHAN

Di sebuah konferensi mahasiswa pada sebuah Universitas terkenal di AS,
ada seorang Wanita yg didaulat utk memperkenalkan diri.

“Saya adalah seorang Anak HARAM, ibuku bisu tuli & sangat miskin.”
“Suatu hari, ibu diperkosa hingga hamil.
Saya lahir tanpa pernah kenal siapa ayah saya.”
Lanjutnya berkaca-kaca.
“Kami hidup sangat miskin, hingga dalam umur yg masih sangat muda,saya terpaksa bekerja dgn ibu utk hidup.” Hadirin pun terdiam.

“Saya bekerja sebagai buruh kasar di sebuah perkebunan kapas.
Saya BENCI keadaan saat itu.”
“Saya PERNAH KECEWA pada TUHAN.
Karena DIA tidak ADIL atas hidup saya.
Disaat kebanyakan anak-anak nikmati hidup layak,
Saya harus bergumul dalam penderitaan.
Sungguh, saya tidak paham kenapa dilahirkan&tidak melihat kehidupan yang baik di MASA DEPAN.”
Suaranya bergetar…

“Suatu hari saya berbicara dgn hati nurani saya:
“Azie, tahukah kamu..
bahwa hidup ini adalah PILIHAN ?
Mau tetap seperti ini atau keluar dari ketidak-bergunaan ini,
PILIHAN itu ada di TANGANMU!”

Perlu kamu tahu,
RENCANA TUHAN atasmu bukan rencana KECELAKAAN, melainkan hari depan yg penuh HARAPAN.
Selama bisa memilih,
pilihlah yg TERBAIK !”

Nadanya lirih penuh makna.
“Akhirnya Saya Pilih KELUAR dari rasa Kecewa & tak berguna ini.”
Nadanya mengelegar memecah keheningan.

Singkat cerita,
sang wanita mulai bekerja dgn GIAT utk biayai sekolah & kehidupan ibunya.
Dia bekerja keras &ulet,
hingga akhirnya meraih KESUKSESAN.

TAHUKAH siapa Dia..?
Dia adalah:
Azie Taylor Morton
Menteri Keuangan AS
“From Zero to HERO”

Pesan Moral:
Jangan bandingkan diri anda dgn org lain tapi Lepaskan & Merdekakan diri Anda dari rasa iri, kecewa  kepada orang lain.
Bangkitlah, berjuang dari keterpurukan utk saling PEDULI terhadap sesama.
Maka HIDUP kita akan jadi lebih BERMAKNA

Tuesday, September 29, 2015

Kisah Dibalik Pulitzer Prize 1994

Penghargaan tertinggi bidang fotografi jurnalistik "Pulitzer Prize" pada tahun 1994, jatuh pada foto seorang gadis yang menangis kelaparan dan berusaha merangkak kelelahan menuju camp pengungsian PBB yang berjarak 1 kilometer dari tempatnya. Ia tanpa pakaian, kurus dengan tulang menonjol dimana-mana, sementara di belakangnya ada burung pemakan bangkai yang sudah mencium 'bau kematian' gadis kecil tersebut.

Foto tersebut diambil di Sudan, Afrika Utara pada Maret 1993, oleh seorang wartawan bernama Kevin Carter, yang mendengar suara tangis anak tersebut. Ia sempat menunggu selama 20 menit supaya burung pemakan bangkai itu pergi, tetapi akhirnya mengambil foto gadis itu karena burung tersebut tidak juga meninggalkan gadis tersebut. Kemudian ia meninggalkannya.

Begitu foto tersebut dipublikasikan oleh harian "New York Times", redaksi menerima begitu banyak telepon menanyakan kabar gadis itu:

"Apakah dia tewas?"
"Apakah dia bisa sampai ke camp/food-center PBB?"
"Apakah dia dimakan burung pemakan bangkai?"
"Bagaimana saya bisa menolong gadis tersebut?", dan...
"Mengapa Kevin tidak segera menolong anak itu?!"

Dua bulan setelah menerima penghargaan bergengsi tersebut, Kevin mati bunuh diri karena dihantui pemandangan tersebut. Mungkin dia menyesal, tidak menolong anak kelaparan tersebut.

Selagi masih ada KESEMPATAN ..berbuat baiklah pada banyak orang dan jangan mengharap imbal baliknya.
Jangan sampai kita MENYESAL diri karena kesempatan berbuat baik itu sudah tertutup.