Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.( Yohanes 15 : 16 )

Sunday, March 08, 2015

Tenggelamnya Kapal Pesiar


Sebuah kapal pesiar mengalami kecelakaan di laut dan akan segera tenggelam. Sepasang suami istri berlari menuju skoci untuk menyelamatkan diri. Sampai di sana, mereka menyadari bahwa hanya ada tempat untuk satu orang yang tersisa.

 Segera sang suami melompat mendahului istrinya untuk mendapatkan tempat itu. Sang istri hanya bisa menatap kepadanya sambil meneriakkan sebuah kalimat sebelum skoci menjauh dan kapal itu benar-benar menenggelamkannya.

Guru yang menceritakan kisah ini bertanya pada murid-muridnya, “Menurut kalian, apa yang istri itu teriakkan?”

Sebagian besar murid-murid itu menjawab, “Aku benci kamu!” “Kamu tau aku buta!!” “Kamu egois!” “Nggak tau malu!”

Tapi guru itu kemudian menyadari ada seorang murid yang diam saja. Guru itu meminta murid yang diam saja itu menjawab. Kata si murid, “Guru, saya yakin si istri pasti berteriak, ‘Tolong jaga anak kita baik-baik’”.

Guru itu terkejut dan bertanya, “Apa kamu sudah pernah dengar cerita ini sebelumnya?”

Murid itu menggeleng. “Belum. Tapi itu yang dikatakan oleh mama saya sebelum dia meninggal karena penyakit kronis.”
Guru itu menatap seluruh kelas dan berkata, “Jawaban ini benar.”

Kapal itu kemudian benar-benar tenggelam dan sang suami membawa pulang anak mereka sendirian.

Bertahun-tahun kemudian setelah sang suami meninggal, anak itu menemukan buku harian ayahnya. Di sana dia menemukan kenyataan bahwa, saat orangtuanya naik kapal pesiar itu, mereka sudah mengetahui bahwa sang ibu menderita penyakit kronis dan akan segera meninggal. Karena itulah, di saat darurat itu, ayahnya memutuskan mengambil satu-satunya kesempatan untuk bertahan hidup. Dia menulis di buku harian itu, “Betapa aku berharap untuk mati di bawah laut bersama denganmu. Tapi demi anak kita, aku harus membiarkan kamu tenggelam sendirian untuk selamanya di bawah sana.”
Cerita itu selesai. Dan seluruh kelas pun terdiam.

Guru itu tahu bahwa murid-murid sekarang mengerti moral dari cerita tersebut, bahwa kebaikan dan kejahatan di dunia ini tidak sesederhana yang kita sering pikirkan. Ada berbagai macam komplikasi dan alasan di baliknya yang kadang sulit dimengerti.

Karena itulah kita seharusnya jangan pernah melihat hanya di luar dan kemudian langsung menghakimi, apalagi tanpa tahu apa-apa.

Mereka yang sering membayar untuk orang lain, mungkin bukan berarti mereka kaya, tapi karena mereka menghargai hubungan daripada uang.

Mereka yang bekerja tanpa ada yang menyuruh, mungkin bukan karena mereka bodoh, tapi karena mereka menghargai konsep tanggung jawab.

Mereka yang minta maaf duluan setelah bertengkar, mungkin bukan karena mereka bersalah, tapi karena mereka menghargai orang lain.

Mereka yang mengulurkan tangan untuk menolongmu, mungkin bukan karena mereka merasa berhutang, tapi karena menganggap kamu adalah sahabat.

Mereka yang sering mengontakmu, mungkin bukan karena mereka tidak punya kesibukan, tapi karena kamu ada di dalam hatinya.

Monday, February 02, 2015

Selalu Ada Jawaban

Seorang pria dihukum kurungan dalam sel gelap dan hanya punya satu hal untuk mengisi pikirannya--sebuah kelereng, yang dilemparkannya berulangkali kali ke dinding sebagai mainannya yang berharga.

 Suatu hari tahanan itu melemparkan kelerengnya ke atas, tetapi tidak pernah kembali ke bawah. Hanya keheningan menggema dalam gelap. Raibnya kelereng ini dan ketidaksanggupannya mengetahui penyebab lenyapnya kelereng itu sangat mengganggu pikirannya.

 Akhirnya dia jadi gila, mencabuti seluruh rambutnya, lalu mati. Saat supir penjara datang menyingkirkan mayatnya, penjaga itu melihat sesuatu tersangkut pada sarang laba-laba besar di sudut atas ruangan. Aneh, pikirnya, bagaimana bisa sebuah kelereng sampai tersangkut di situ.

Terkadang pengalaman kita menyebabkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak mampu kita jawab. Tapi jawaban yang absah selalu ada. Jika menyangkut hal-hal yang kita derita, adalah bijaksana untuk tidak berharap agar semua dapat dijelaskan dengan mempertimbangkan persepsi kita yang terbatas. Hanya Allah yang tahu gambaran keseluruhannya. Salib mengatakan kepada kita bahwa kita bisa memercayai Dia.

Monday, September 30, 2013

Gadis Penjual APEL

Beberapa tahun lalu sebuah grup salesman menghadiri sebuah konfrensi di Chicago. Mereka telah berjanji kepada istri masing-masing akan tiba di rumah pada hari Jumat malam untuk makan malam bersama. Hal ini membuat mereka terburu-buru mengejar pesawat mereka sambil membawa koper-kopernya. Namun saat menuju tempat boarding pass tanpa sengaja salah seorang salesman itu menyenggol sekotak apel yang dijajakan. Apel-apel itu berhamburan kemana-mana. Namun para salesman itu tetap bergegas mengejar pesawat mereka, karena jika tidak maka mereka akan terlambat.

Tapi satu orang diantara mereka berhenti. Dia berhenti sejenak dan mengambil nafas dalam-dalam, dia mencoba mendengarkan suara hatinya, dan ia merasakan belas kasihan pada gadis yang menjual apel-apel itu. Dia segera memberitahu teman-temannya untuk berangkat tanpa dirinya, dia meminta salah satu dari mereka untuk menghubungi istrinya bahwa ia akan terlambat pulang. Pria itu kemudian kembali ke terminal dimana apel-apel tadi berhamburan ke lantai.

Pria itu bersyukur telah membuat keputusan yang benar. Gadis penjual apel itu ternyata buta! Gadis itu menangis, dan rasa frustasi terlihat jelas diwajahnya. Dia mencoba meraba-raba mencari apel-apelnya. Ia berseru meminta pertolongan untuk mengumpulkan barang dagangannya, namun tidak seorang pun yang peduli.

Salesman itu berlutut memunguti apel itu bersama gadis itu, setelah mengumpulkannya, ia membantu menatanya kembali di meja. Saat ia melihat banyak diantara apel itu yang rusak, ia memisahkannya. Saat telah selesai, ia berkata kepada gadis itu, “Ini uang 40 dolar, tolong ambil ini untuk mengganti kerusakan yang terjadi. Apakah kamu baik-baik saja?”
Gadis itu menghapus air matanya.

Pria itu kemudian berkata, “Aku harap apa yang kami lakukan tidak merusak harimu sedemikian buruk.”
Ketika pria itu hendak pergi meninggalkan gadis buta itu, gadis itu memanggilnya kembali.
”Tuan..” Pria itu berbalik menatap gadis itu.
”Apakah engkau Yesus?” tanya gadis itu.

Pria itu hanya tertegun dan tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Perlahan dia pergi ke arah penjual tiket untuk pulang kerumahnya dengan pesawat selanjutnya. Namun pertanyaan gadis itu terus terdengar di telinganya, “Apakah engkau Yesus?”

Banyak orang di dunia ini seperti gadis itu, mereka dalam keadaan buta dan membutuhkan pertolongan. Namun kita yang telah dicelikkan oleh Yesus Kristus jarang yang mau berhenti sejenak dan menolong mereka. Jika kita menyatakan mengenal Yesus, seharusnya kita berjalan dan hidup sebagaimana Yesus hidup. Sehingga ketika kehidupan seseorang bersentuhan dengan hidup kita, dia dapat merasakan kasih Yesus itu. Sudahkah hidup kita mencerminkan kehidupan Yesus?

Monday, August 26, 2013

Young At Heart

Usia yang sudah lanjut membuat sebagian besar orang mengundurkan diri dari panggung dunia. Tetapi bagi “Young at Heart” tidaklah demikian.

Mereka adalah kelompok vokal yang beranggotakan lanjut usia, di panti jompo Massachusetts dengan rentang usia 73-90an tahun. Didirikan pada tahun 1982, choir ini dipimpin oleh Bob Cilman yang mempunyai kesabaran luar biasa dalam mendampingi kelompok ini berlatih menyanyi.

Usia tua membuat mereka harus belajar lirik teks lagu dengan menggunakan kaca pembesar, karena mata yang sudah plus. Mereka juga berusaha keras dan menghafal lirik, karena daya ingat yang sudah menurun. Dan, kerja keras mereka tidaklah sia-sia. Mereka mulai diundang tampil di depan publik pada tahun 1983. Tiket mereka selalu sold out terjual.

Walau sudah lanjut usia, bukan berarti mereka menyanyikan lagu-lagu jadul (lama, tempo dulu), tetapi juga lagu-lagu yang sedang digandrungi anak-anak muda saat itu. Sehingga, pendengar dari usia muda dapat menikmati penampilan penyanyi yang seusia opa dan oma mereka. Dan dalam kurun waktu 1997-2004, mereka sudah melakukan lebih dari 12 tur di luar Amerika, yaitu di Eropa, Australia, dan Canada.

Sutradara Stephen Walker, tergerak mendokumentasikan perjalanan choir ini dengan membuat sebuah film dokumenter. Dalam sebuah adegan film, diperlihatkan saat mereka menyanyi di dalam penjara. Sebelum tampil, seperti biasanya mereka selalu diremehkan. Setelah mulai bernyanyi, atmosfir mencemooh segera berganti dengan tetesan air mata dari para penghuni penjara. Salah seorang penghuni penjara berkata, ”Ini adalah penampilan terbaik yang pernah saya lihat dalam hidup saya.”

Kitab Suci mengatakan ”Manusia sama seperti angin,
hari-harinya seperti bayang-bayang yang lewat.”

Umur itu seperti batu es, dipakai atau tidak, akan tetap mencair. Begitu juga dengan umur kita. Digunakan atau tidak, umur kita akan terus bertambah. Oleh karena itu, siapapun diri kita jadilah seseorang yang memiliki kepribadian yang berkualitas, selalu mengucap syukur dan berusaha melakukan yang terbaik.
Selamat menikmati berkat-berkatNya,
dan teruslah menjadi berkat bagi sesama..
Tuhan Yesus memberkati..

Sunday, July 21, 2013

Ikan Dan Air

Suatu hari seorang ayah dan anaknya sedang duduk berbincang-bincang di tepi sungai. Sang Ayah berkata kepada anaknya, Lihatlah anakku, air begitu penting dalam kehidupan ini, tanpa air kita semua akan mati.

Pada saat yang bersamaan, seekor ikan kecil mendengar percakapan itu dari bawah permukaan air, ikan kecil itu mendadak gelisah dan ingin tahu apakah air itu, yang katanya begitu penting dalam kehidupan ini. Ikan kecil itu berenang dari hulu sampai ke hilir sungai sambil bertanya kepada setiap ikan yang ditemuinya, Hai tahukah kamu dimana tempat air berada? Aku telah mendengar percakapan manusia bahwa tanpa air kehidupan akan mati.

Ternyata semua ikan yang telah ditanya tidak mengetahui dimana air itu. Si ikan kecil itu semakin kebingungan. Lalu ia berenang menuju mata air untuk bertemu dengan ikan sesepuh yang sudah berpengalaman, kepada ikan sesepuh itu ikan kecil ini menanyakan hal yang sama, Dimanakah air?
Ikan sesepuh itu menjawab dengan bijak, Tak usah gelisah anakku, air itu telah mengelilingimu, sehingga kamu bahkan tidak menyadari kehadirannya. Memang benar, tanpa air kita semua akan mati.

'Manusia kadang-kadang mengalami situasi yang sama seperti ikan kecil, mencari kesana kemari tentang kehidupan dan kebahagiaan, padahal ia sedang menjalaninya, bahkan kebahagiaan sedang melingkupinya sampai-sampai ia sendiri tidak menyadarinya.

Terkadang kita tidak sadar bahwa apa yang kita miliki saat ini sudah cukup membuat kita bahagia.
Apa sih yang kita cari di kehidupan ini? Hidup adalah pilihan.

Jangan juga pernah mengira bahwa orang lain lebih bahagia dari kita. Karena apa yang kita lihat dari orang lain itu hanya luarnya saja. Dalamnya? Tidak ada yg tahu. Tapi kita seharusnya lebih tahu apa yang ada pada kita dan yang disekitar kita. semoga menambah keteguhan Iman kita semua,( 1 Tes. 5:16-18).

Saturday, May 25, 2013

Patung Tuhan YESUS

Di salah satu gereja di Eropa Utara, ada sebuah patung Yesus Kristus yang disalib, ukurannya tidak jauh berbeda dengan manusia pada umumnya.

Karena segala permohonan pasti bisa dikabulkan-Nya., maka orang berbondong-bondong datang secara khusus kesana untuk berdoa, berlutut dan menyembah, hampir dapat dikatakan halaman gereja penuh sesak seperti pasar.

Di dalam gereja itu ada seorang penjaga pintu, melihat Yesus yang setiap hari berada di atas kayu salib, harus menghadapi begitu banyak permintaan orang, ia pun merasa iba dan di dalam hati ia berharap bisa ikut memikul beban penderitaan Yesus Kristus.

Pada suatu hari, sang penjaga pintu berdoa menyatakan harapannya itu kepada Yesus. Di luar dugaan, ia mendengar sebuah suara yang mengatakan, "Baiklah! Aku akan turun menggantikan kamu sebagai penjaga pintu, dan kamu yang naik di atas salib itu, namun apapun yang kau dengar, janganlah mengucapkan sepatah kata pun." Si penjaga pintu merasa permintaan itu sangat mudah.

Lalu, Yesus turun, dan penjaga itu naik ke atas, menjulurkan sepasang lengannya seperti Yesus yang dipaku diatas kayu salib. Karena itu orang-orang yang datang bersujud, tidak menaruh curiga sedikit pun. Si penjaga pintu itu berperan sesuai perjanjian sebelumnya, yaitu diam saja tidak boleh berbicara sambil mendengarkan isi hati orang-orang yang datang.

Orang yang datang tiada habisnya, permintaan mereka pun ada yang rasional dan ada juga yang tidak rasional, banyak sekali permintaan yang aneh-aneh. Namun, demikian, si penjaga pintu itu tetap bertahan untuk tidak bicara, karena harus menepati janji sebelumnya.

Pada suatu hari datanglah seorang saudagar kaya, setelah saudagar itu selesai berdoa, ternyata kantung uangnya tertinggal. Ia melihatnya dan ingin sekali memanggil saudagar itu kembali, namun terpaksa menahan diri untuk tidak berbicara. Selanjutnya datanglah seorang miskin yang sudah 3 hari tidak makan, ia berdoa kepada Yesus agar dapat menolongnya melewati kesulitan hidup ini. Ketika hendak pulang ia menemukan kantung uang yang ditinggalkan oleh saudagar tadi, dan begitu dibuka, ternyata isinya uang dalam jumlah besar. Orang miskin itu pun kegirangan bukan main, "Yesus benar-benar baik, semua permintaanku dikabulkan!" dengan amat bersyukur ia lalu pergi.

Diatas kayu salib, "Yesus" ingin sekali memberitahunya, bahwa itu bukan miliknya. Namun karena sudah ada perjanjian, maka ia tetap menahan diri untuk tidak berbicara. Berikutnya, datanglah seorang pemuda yang akan berlayar ke tempat yang jauh. Ia datang memohon agar Yesus memberkati keselamatannya. Saat hendak meninggalkan gereja, saudagar kaya itu menerjang masuk dan langsung mencengkram kerah baju si pemuda, dan memaksa si pemuda itu mengembalikan uangnya. Si pemuda itu tidak mengerti keadaan yang sebenarnya, lalu keduanya saling bertengkar.

Di saat demikian, tiba-tiba dari atas kayu salib "Yesus" akhirnya angkat bicara. Setelah semua masalahnya jelas, saudagar kaya itu pun kemudian pergi mencari orang miskin itu, dan si pemuda yang akan berlayar pun bergegas pergi, karena khawatir akan ketinggalan kapal.

Yesus yang asli kemudian muncul, menunjuk ke arah kayu salib itu sambil berkata, "TURUNLAH KAMU! Kamu tidak layak berada disana." Penjaga itu berkata, "Aku telah mengatakan yang sebenarnya, dan menjernihkan persoalan serta memberikan keadilan, apakah salahku?"
"Kamu itu tahu apa?", kata Yesus. "Saudagar kaya itu sama sekali tidak kekurangan uang, uang di dalam kantung bermaksud untuk dihambur-hamburkannya. Namun bagi orang miskin, uang itu dapat memecahkan masalah dalam kehidupannya sekeluarga. Yang paling kasihan adalah pemuda itu. Jika saudagar itu terus bertengkar dengan si pemuda sampai ia ketinggalan kapal, maka si pemuda itu mungkin tidak akan kehilangan nyawanya. Tapi sekarang kapal yang ditumpanginya sedang tenggelam di tengah laut."

Ini kedengarannya seperti sebuah anekdot yang menggelikan, namun dibalik itu terkandung sebuah rahasia kehidupan... Kita seringkali menganggap apa yang kita lakukan adalah yang paling baik, namun kenyataannya kadang justru bertentangan. Itu terjadi karena kita tidak mengetahui hubungan sebab-akibat dalam kehidupan ini.
Kita harus percaya bahwa semua yang kita alami saat ini, baik itu keberuntungan maupun kemalangan, semuanya merupakan hasil pengaturan yang terbaik dari Tuhan buat kita, dengan begitu kita baru bisa bersyukur dalam keberuntungan dan kemalangan dan tetap bersuka cita.

Sebab kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan buat kita. ( Roma 8:28)

Wednesday, April 10, 2013

Garis Tangan

Paul Liao adalah salah satu 10 orang terkaya di Taiwan,
taipan ini memiliki sejumlah hotel, real estate dan sederet bisnis yang besar.

Yang menuai banyak pujian orang adalah taipan ini memperoleh semua harta
kekayaannya benar-benar dari nol.

Sehingga ini membuat banyak orang antusias untuk mengetahui kunci kesuksesannya
Paul.

Suatu ketika Paul Liao diundang dalam suatu seminar di sebuah fakultas,
seorang mahasiswa mendekatinya dan menanyakan apa rahasia kesuksesannya itu.  

“Terimakasih Bapak mau menerima saya.

Terus terang saya sangat ingin menimba pengalaman dari Bapak, apa yang bisa
membuat Bapak sedemikian suksesnya” ujar mahasiswa itu.

Mendengar permintaan itu,
Paul Liao tersenyum sejenak,
lalu ia pun meminta mahasiswa itu menengadahkan tangannya.

Mahasiswa itu tertegun sejenak,
dan ia memperlihatkan telapak tangannya.

“Mari saya lihat garis tanganmu. Simaklah baik-baik apa pendapatku,” ujar sang
taipan.

Taipan Paul pun menunjuk garis garis di tangannya sambil berkata ”Lihatlah
telapak tanganmu ini,
di sini ada beberapa garis utama yang menentukan nasib.

Ada garis Kehidupan,
ada garis Rezeki dan
 ada pula garis Jodoh.

Sekarang coba kamu menggenggamnya”.

Sang mahasiswa kemudian melanjuti “Sekarang dimana garis tanganmu?” Tanya si
Taipan.

“Di dalam telapak tangan yang saya genggam”,
jawab mahasiswa itu penasaran.

“Nah, apa artinya itu?

Hal itu mengandung arti,
bahwa apapun takdir dan keadaanmu kelak,
semua itu ada dalam genggamanmu sendiri.

Anda lihat bukan?

Bahwa semua garis tadi ada di tanganmu.

Begitulah rahasia suksesku selama ini.
Aku Berjuang dan Berusaha dengan BERBAGAI CARA untuk menentukan
Nasibku sendiri,
bukan melalui ketergantungan pada garis tangan” jawab si taipan.

“Tapi coba lihat pula genggamanmu. Bukankah masih ada garis yang tak ikut
tergenggam?

Sisa garis itulah yang berada di luar kendalimu,
karena di sanalah letak kekuatan dari TUHAN.


Kita tak akan mampu melakukan
dan itulah bagian TUHAN”,

lanjut si taipan “Kesuksesanmu
tidak bakal terjadi
tanpa campur tangan TUHAN.”

Belajar Dari Ashley

Dapat dibayangkan betapa berat dan memprihatikan hidupnya seorang anak yang
lahir dalam keluarga yang hidupnya tergantung dalam narkoba.

Ini terjadi pada Ashley Dawn Loogins, gadis kecil berkacamata yang mempunyai
orang tuanya pecandu narkoba.

Semasa kecilnya, gadis kecil ini sudah tidak mendapatkan hidup yang layak, orang
tuanya tidak pernah mempeduli sekolah, makannya, apalagi masa depannya. Bukan
kasih sayang didapatnya, tetapi malah sebaliknya, ia selalu diperlakukan kasar
dan kejam. Juga lingkungan hidupnya tidak sehat yang dipenuhi pengguna narkoba.

Ketika usianya baru 7 tahun, kedua orang tuanya membawa ke rumah neneknya, dan
pergi meninggalkannya begitu saja. Walaupun neneknya sangat miskin tapi sangat
menyayanginya.

Disini Ashley juga belum mendapati hidup yang layak. Karena kemiskinan neneknya,
air minum sudah diputus hubungan ke rumahnya, sehingga Ashley jarang sekali
mandi.  Untuk mendapatkan air yang gratis, ia harus berjalan ke taman kota yang
jaraknya jauh.

Gadis kecil yang malang ini, hanya memakai baju yang sama selama berbulan-bulan.
Tiada teman sekolah yang ingin bergaul dengannya, ia selalu diejek dengan
panggilan gelandangan jelek, bodoh dan bau. Tiada hari yang tanpa air mata saat
ia pulang dari sekolah.

Ketika duduk di bangku SMA. Terjadi sedikit perubahan dalam kehidupan Ashley,
penasehat sekolah,  Robyn Putman menyarankan Ashley mengejar ketinggalan
sekolahnya secara online, dan banyak baca di perpustakaan.

Agar bisa membiaya biaya hidupnya sehari-hari, Mr Putman memberinya pekerjaan
sebagai petugas kebersihan sekolah dan ia diijinkan tinggal di sekolah.

Pada awalnya ia merasa berat dan malu akan pekerjaannya, yang harus membersihkan
semua kelas, wc dan taman, namun secara perlahan ia bisa mengadaptasi dengan itu
semua.

Ejekan siswa sekolah tidak pernah usai, namun itu malah dijadikan pemompa
semangat belajarnya.

Benar saja, di saat siswa siswa lain sibuk bermain, Ashley selalu terlihat
berada di perpustakaan sekolah, malam harinya ia belajar secara online. Ini
membuat prestasi sekolahnya selalu mendapat nilai A.

Ketika menjelang tamat SMA, ia mencoba mendaftar di beberapa universitas, salah
satunya adalah Universitas Harvard. Dan tidak sia-sia kerja kerasnya selama ini
dengan mendapat nilai tinggi. Awal tahun 2006, Universitas terbaik di dunia itu,
Harvard,  yang terkenal sangat bergensi dan paling mahal itu, siap menerimanya
dengan memberi beasiswa pada Ashley.

Ashley pantas dipuji, prestasinya di Harvard juga luar biasa, dan menjelang
tamat dari Harvard, beberapa posisi penting pekerjaan telah menunggunya.

Seorang gadis yang tadinya miskin, tunawisma, yang kerja keras bisa berhasil
mengubah hidupnya menuju sukses.

Ketika Ashley diwawancara bersama CNN, ia tidak henti-hentinya menyeka air
matanya, mengingat kembali masa lalunya yang demikian pahit, tetapi dengan
 rendah hati ia berkata Rasanya luar biasa karena saya telah menyelesaikan
semua ini dengan kerja keras dan bisa mencapainya. Terima kasih pada semua orang
yang telah membantu saya.

Ashley juga mengungkapkan pada CNN bahwa ia mempunyai cita cita ingin mendirikan
sebuah yayasan untuk membantu anak anak lain yang senasib atau lebih buruk
darinya untuk mendapatkan pendidikan, ia berkata :  Satu satunya cara untuk
keluar dari kemiskinan adalah dengan Pendidikan.

Selama setiap orang memiliki impian, mereka pasti bisa mewujudkannya.

Tidak alasan untuk tidak mewujudkan impian.

SEMUA INI TERGANTUNG PADA ANDA, BUKAN PADA ORANG LAIN” , demikian pesan Ashley
menutup wawancaranya.

Kisah Seorang Pemulung

Lou Xiaoying adalah seorang wanita miskin yang hidup di China. Ketika suaminya
meninggal tahun 1972, Lou Xiaoying yang telah berusia 71 tahun, terpaksa
menopang sisa hidupnya sebagai pemulung sampah.

Setiap pagi dia telah berada di tempat pembuang sampah yang menggunung, mencari
benda apa saja yang dapat dijual. Namun di tempat inilah ia kemudian menemukan
sampah yang sangat bernilai.

Pada suatu pagi, ketika sedang mencari sampah, ia menemukan sebuah kardus yang
berisikan seorang bayi perempuan. Bayi itu telah sedemikian lemahnya, hanya
dibungkus sebuah handuk. 

Buru buru Xiaoying mengendong, membawa pulang  ke rumahnya yang sangat kecil.
Ia tidak mengerti mengapa begitu teganya ibunya membuang bayinya, tetapi ia
yakin ini pasti adalah bayi diluar nikah, atau tiada biaya untuk menghidupnya.

Tidak lama setelah bayi pertama ia temukan, kembali ia menemukan bayi buangan
lainnya, nenek ini tetap saja membawanya pulang untuk dipelihara. Ia rela
bekerja lebih berat dan lebih lama demi untuk menghidupi bayi bayi itu. Ia
peduli dimana orang lain tidak peduli.

Ternyata pembuang bayi dalam kardus telah menjadi trend di China, dalam 17
tahun, Xiaoying berhasil memungut 30 orang bayi, ia membawa pulang semua bayi
itu untuk dipelihara.

Dapat dibayangkan betapa berat beban yang dipikulnya sendiri. Masih beruntung,
beberapa anak yang telah tumbuh sehat dan besar, diadopsi oleh keluarga lebih
mampu.

Akhirnya perjuangan nenek Lou untuk menghidup bayi bayi buangan tercium
wartawan. Kisah itu kemudian menyebar ke seluruh China, bahkan dunia.

Wartawan yang datang mewawancarai Lou yang telah terbaring lemah di rumah sakit,
di usianya yang ke 88, sebelum menghempus napas terakhirnya, ia masih sempat
berkata :

"Saya tidak mengerti mengapa orang-orang tega meninggalkan bayi selemah itu
terbaring di antara sampah di jalan.  

Bayi-bayi tersebut adalah makhluk hidup yang berharga, mereka seharusnya
mendapat kasih sayang dan cinta. 

‹Saya sangat bersyukur semua bayi bayi dapat dibesarkan dengan sehat dan
bahagia. Saya yakin mereka akan menjadi orang yang berguna.

Kisah ini sungguh menyadarkan banyak orang bahawa untuk kebaikan hati seseorang
tidak dapat dinilai dengan materi.

Seorang pumulung sampah yang kehidupannya sulit bisa memiliki hati semulia emas.
Inilah kebesaran hati Tuhan yang kadang tak mampu dirasakan semua orang.

Jadilah manusia yang BERGUNA untuk orang lain.

Jangan MENUNGGU MATERI atau KESEMPATAN.

HATI mulia yang akan menuntun Anda.