Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.( Yohanes 15 : 16 )

Friday, October 07, 2016

Saya Melihat Papa di SURGA


Kesaksian
Dr Grace Natalia Adriana Simatupan

September 2015 merupakan bulan terkelam dalam hidup saya, saya amat sayang kepada papi dan mami,
saya rela pindah ke Siantar
demi menemani papi mami di hari tua, rela mengorbankan karir saya di Jakarta
dengan sejumlah tawaran praktek
di beberapa RS besar di Jakarta
harus menerima kenyataan pahit.

Papi meninggal mendadak setelah beberapa jam sebelumnya masih mengoperasi dan menyelamatkan nyawa orang.
Papi pergi setelah sebelumnya membangunkan saya di jam 4 pagi, beberapa menit kemudian papi pergi begitu saja.
Kepahitan hati saya masih ditambah dengan kondisi mami yang kankernya aktif lagi
setelah 5 th mami sehat2,
dan dinyatakan bebas kanker. 

Mami harus melakukan kemoterapi lagi di Jakarta
mami ada di Jakarta
saat papi dipanggil Tuhan.
Saat itu saya berontak,
saya menangis :
 Mengapa orang yang amat kusayangi dalam hidupku harus begitu cepat Engkau panggil ❓
kenapa saat kondisi mami sedang menurun
bagaimana kami mengatakannya pada mami
Bagaimana kami menjaga mami
Bagaimana mami melanjutkan hidup tanpa papi
Mengapa semua ini terjadi
Penolakan di hati saya terjadi terus menerus....
bahkan saya tidak mau melihat anak saya Zaveta, seolah
saya tidak perduli padanya, 

saya marah pada semua orang
saya marah pada Tuhan Yesus.
7 September pagi papi pergi
7 September malam mami tiba
dari Jakarta ke Siantar.
Kondisi mami amat sangat lemah.
Mami diam tapi terlihat shock. Ditengah kondisinya yang menurun,
mami harus menerima kenyataan kepergian papi.
8 September mami masuk RS Vita Insani
karena kondisi amat lemah,  trombosit hanya 25.000,
tensi hanya 60 per palpasi.

saat itu tim dokter menyatakan mami SIRS / Sepsis
harus dirawat untuk mendapat obat2 inotropik
karena fungsi jantung melemah.
Jadi kami harus menahan tangis,  menegarkan diri, memberi kekuatan dan menemani mami selama dirawat di RS
sementara papi
disemayamkan dirumah.
Bagaimana hati saya ini
melihat kondisi mami yang kritis
sambil memandang jenazah papi 

Dunia seakan runtuh.
Saya 1/2 waras dalam menjalani ini semua.
Saya bilang pada Tuhan
bawa tanpa papi
saya ga sanggup menjalani hidup.
Begitu teganya Engkau Tuhan
Baringkan saya disamping papi
saya ga kuat Tuhan.
Puncaknya 10 Sept 2015
hari dimana papi akan dimakamkan.
Saat itu tim dokter tidak memperbolehkan mami ikut acara pemakaman
karena trombositnya 20.000
( dibawah 50.000 )
Tim dokter takut
mami syok, mami memakai 3 jenis inotropik
untuk membantu kontraksi jantung,
dengan kata lain,
bila obat dihentikan
maka mami tidak mampu bertahan. ditakutkan bisa terjadi perdarahan spontan
pada mami
yang dipicu stress.
Mami berkeras
mau melihat papi terakhir kalinya,
mami memaksa ikut mengantarkan papi
ke tempatnya yang terakhir.
Ditengah kondisinya
yang sangat lemah,
mami masih berdandan, memakai lipstik
dan kaca mata hitamnya.
Luar biasa
melihat ketabahan hati mami,
mami yang setiap hari berdoa selama 1 jam,
mami yang dalam setiap helaan nafasnya
selalu mengatakan dalam nama Yesus,
mami yang selalu mengajarkan dan menguatkan kami,
 apapun yang terjadi didunia ini - adukan pada Tuhan Yesus .
dan biarlah Tuhan membimbing  hidup kita
Mami membuktikan imannya, mami kenal Tuhannya,
mami tidak berteriak,
tidak menangis / menjerit.
mami hanya meneteskan airmata
dan berdoa atas kejadian
yang dialaminya
mami tidak marah pada Tuhan.
Mami berangkat ke tempat papi disemayamkan
dengan memakai oksigen, memakai kursi roda,
memakai infus pump
dengan 3 jenis obat penguat jantung ( inotropik)
ditemani tim medis & dokter.
Pada saat saya sedang mengikuti ibadah yang dilakukan oleh tim FULL GOSPEL (FGBFMI) yang khusus datang dari Jakarta,
saat itu saya dipanggil
seorang anggota Vita Insani
(Selly), dia berkata :
dokter, tolong lihat ibu,
ibu ga kuat berdiri
dari tempat duduk toilet".
Segera saya berlari,
saat itu saya melihat mami duduk di toilet setelah BAK
dengan memakai oksigen,
infus pump
dengan nafas tersengal2
mami bilang : Grace, mami sesak
mami ga kuat berdiri.
Dengan menahan air mataku, aku memeluk mami,
aku mengiggit bibirku
supaya aku tidak menangis
melihat kondisi mami
aku berbisik pada mami"
Mi.. ingat Yesus ya mi
mami selalu bilang apa2
dalam nama Tuhan Yesus, sekarang kita coba bangkit sambil mami bilang
DALAM NAMA TUHAN YESUS".
Mami memandangku
dan mengangguk.
Aku meletakkan kedua tangan mami di leherku
dan akupun memegang pinggang mami
sambil berusaha mengangkat mami...
"mi, dalam hitungan ketiga
mami bilang "DALAM NAMA TUHAN YESUS ya,
tegakkan kaki mami
dan berdiri ya...."
mami pun melakukannya
dan karena nama YESUS,
mami pun berhasil berdiri.
Aku segera menyuruh perawat memakaikan baju dalam mami dan memegang mami,
tapi aku
tidak mau memandang mami
karena bila kupandang
pasti tangisku pecah
aku segera kabur
dari kamar mandi
aku ga kuat,
aku ga mampu tidak menangis,
aku berjalan sambil menangis
sambil melangkah
ke samping  jenazah papi
sambil mengikuti kebaktian
dari tim Full Gospel....
🙏 Sambil mengikuti kebaktian
air mataku mengalir terus
bagaikan sungai derasnya,
aku menangis tanpa suara, hatiku sakit melihat kondisi mami,
memandang jenazah papi
dan aku hanya mengatakan kata2 ini pada Tuhan
Tuhan, aku ga sanggup lagi, Tuhan tolong aku,
Tuhan tolong aku,
Tuhan...Tolong
berkali kali kata2 itu
yang aku ucapkan.
sambil berdoa
air mataku mengalir
seperti aliran sungai.
Pada saat itu tiba2
aku merasakan lidahku bergoyang sendiri,
aku ketakutan karena aku mengira aku bakal kena stroke
aku menutup mulutku
dengan satu tangan
namun lidahku semakin kuat bergoyang
akhirnya aku menutup mulutku dengan ke 2 tangan
karena aku takut dilihat orang.
Namun semakin kuat aku menutup mulutku,
bukan hanya lidahku
mulutku juga bergoyang
Dan tiba2
aku bebahasa roh
Padahal aku tidak pernah berbahasa roh
dan tidak mengerti
bagaimana bahasa roh.
Aku juga
tidak begitu percaya
dengan bahasa roh
namun sekarang
aku mengalaminya
mulutku bergoyang sendiri
tanpa bisa kukontrol.
Pada saat berbahasa roh itu
aku menutup mata
saat itu aku melihat langit
dan melihat YESUS
↘ Tuhan berkata padaku :
Grace, mengapa engkau menangis
Papi sudah senang di sorga"
Tuhan membuka suatu layar dilangit dan tampak
↘ paduan suara
yang sedang bernyanyi.
Mereka membentuk 2 barisan
rapi, memanjang ke kanan.
Mereka memakai jubah putih panjang dengan tanda salib
ungu didadanya.
aku tidak bisa mengenali seorangpun
karena wajahnya sama.
namun aku bisa melihat papi
ya aku melihat papi.
berdiri di tengah2 barisan, dengan usia sekitar 45 tahun,
tampak muda
dengan belahan rambut ke samping ( saat meninggal belahan rambut papi ke belakang semua).
Papi kurus, muda dan ganteng aku melihat papi sedang bernyanyi
aku berteriakkk " PAPIIIIII...
aku disini piiii
lihattt piiii
aku disini sebelah kiri papi
Lihatt piiiii
aku berteriak sekuat tenaga namun papi tidak juga menoleh
lalu aku berkata pada Tuhan
Tuhan bilang papi
aku disinii
suruh papi menoleh ke kiri
namun papi tetap tidak mendengar aku.
karena kecapean
aku akhirnya berhenti berteriak
dan terdiam , sambil terus memandang papi
yang sedang bernyanyi.
Papi tampak muda
tampak ganteng
dengan jubah putihnya....
Tiba2 penglihatanku berubah
aku melihat satu lapangan
sepak bola besar.
dan ratusan ribu penontonnya
anehnya penontonnya semua memakai jubah putih
dan wajah mereka
sama semua mereka sedang bernyanyi2 lagu pujian .
Setelah melihat penglihatan tersebut , aku sadar.
namun aku tidak mampu menghentikan bahasa rohku
sampai akhirnya
pendeta Hutagaol mendoakan aku.
Terimakasih Bapa, untuk roh penghibur kepada anak ini..
kuatkan anak ini Bapa
Saat itulah aku mengerti
mengapa aku bisa berbahasa roh,
ternyata Tuhan
mengirimkan Roh Kudus
untuk menghibur aku
disaksikan hampir 200 an orang yang sedang mengikuti prosesi pemakaman papi.
pada saat itu
aku mendengar seseorang
berkata di telinga kiriku "
🙋 MARILAH KEPADAKU
SEMUA YANG LEMAH,
LETIH LESU & BERBEBAN BERAT,
AKU AKAN MEMBERIKAN KELEGAAN KEPADAMU" Matius 11: 28
Pada saat suara itu berhenti,
aku merasakan bebanku terangkat, aku merasa kuat
saat itu aku mampu tersenyum dan tidak menangisi papi
seperti sebelumnya.
aku berseru kepada mami...."
miii, aku melihat papi di sorga
mami tenang ya.
papi sudah di sorga
aku berkata pada mami.
saat itu mami menangis
sambil berkata "halelluya
terima kasih Tuhan"
Aku mengikuti acara keberangkatan jenasah papi
dengan hati yang kuat & tenang
aku akhirnya merelakan kepergian papi.
setelah itu mami kembali
ke Rumah Sakit untuk dirawat
Aku bertanya kepada Tuhan
kenapa Tuhan memperlihatkan tempat papi di sorga,
beberapa pendeta berkata
itu karunia.
Ternyata Tuhan memberi penglihatan itu
untuk menguatkanku
dalam proses berikutnya 
proses pemanggilan Tuhan terhadap mami.
Yang kondisinya semakin menurun
mami masuk ventilator
di RS Columbia Asia Medan. kami memutuskan memindahkan mami
ke RS Medistra Jakarta
dengan memakai pesawat
yang ada ventilatornya
dari Medan  ke Jakarta. 
Saya, Suami, Zaveta
serta 2 perawat kami
sudah sampai duluan
di Bandara Soekarno Hatta
untuk menerima mami
di bandara.
Namun proses ini gagal
karena mami sudah meninggal
di bandara Kualanamu
persis didepan pesawat
yang sudah tiba dari Jakarta
jadi saya menyaksikan
detik2 mami meninggal
dan di resusitasi
oleh tim Siloam Jakarta
dengan LINE
yang dinyalakan oleh abang saya selama mami kritis
saya yang waktu itu
baru saja nyampe di bandara Soekarno Hatta
menangis histeris
melihat detik2 kepergian mami
melalui video call
saya harus kembali ke Medan.
betapa berat
beban yang saya alami....
26 hari setelah kepergian papi, kami harus merelakan
kepergian mami kami
dalam waktu 1 bulan
kami menguburkan kedua orangtua kami
kedua orangtua kami
yang amat sangat kami sayangi, bahkan di tahun 2009,
pertama kali mami didiagnosis kanker multiple mieloma grade IIIb ( late stage)
Prof Hematologi mengatakan
usia mami tidak lebih dari 3  bulan
karena kankernya
sudah metastasis ke tulang
dan ginjal, 70% kanker sudah menyebar keseluruh tubuh. 
Saya yang sedang menjalani masa PPDS Anak
di RSCM selalu menangis
setiap hari melihat kondisi mami
saya selalu memakai masker
supaya teman2 kuliah
tidak melihat wajah
dan  mata saya
yang selalu bengkak karena menangis.
Waktu itu Tuhan menjawab doaku
dengan memberikan mujizat kepada mami.
mami hidup lebih panjang,
dari semua teman2nya
dengan sakit yang sama.
mami bertahan
bahkan sehat selama 5 tahun terakhir
mami mampu jalan2
ke mana mana
dan melakukan aktivitasnya sehari hari.
namun ternyata Tuhan memanggil papi dan mami secara bersamaan.
Setelah kejadian ini,
saya mengerti.
Dalam hidup ini
Tuhan tidak pernah berjanji
kita bebas dari masalah.
Tuhan berjanji akan selalu memberikan KEKUATAN.
Pada saat imanmu diuji,
pada saat itulah
Tuhan menilaimu
Sanggupkah engkau melewati ujian
Apakah engkau tetap bersyukur
↘ mereka yang tahan uji
dan tetap setia pada Tuhan
akan menerima mahkota  Yakobus 1 : 12
namun mereka yang Lemah
dan Menyerah
akan menerima Kegagalan dalam hidupnya.
Sejak kepergian papi mami, fokus hidup saya berubah.
Dulu fokus saya
menjadi dokter anak
yang kaya raya,
yang terkenal dan hebat....
Sekarang fokus saya  menolong orang.
saya butuh duit
tapi saya tidak fokus lagi
menjadi kaya raya.
Kekayaan sudah  tidak terlalu menarik lagi
bagi saya,  rumah papi mami,
mobil, harta bendanya
ditinggal begitu saja
Saat menghadap Tuhan.
Jadi bila semua itu tidak kekal,
untuk apa saya mengejarnya
Meski saya tidak terlalu ngotot cari uang, namun Tuhan membuka pintu rejekinya ,
sehingga saya terheran
pada waktu itu saya membuktikan kebenaran firman
Berkat TuhanLah
yang menjadikan kaya,
susah payah  tidak menambahinya  Amsal 10 : 22
Beberapa orang
merasa heran melihat saya, abang & adik saya
yang merasa begitu kehilangan orangtuanya,
padahal banyak orang
yang ditinggal orangtuanya
tidak sesedih & sedepresi kami.
Jawabannya sederhana,
tidak semua orang
punya hubungan yang kuat dengan orangtuanya,
banyak yang tidak terlalu akrab dengan orangtuanya.
Hubungan kasih kami sangatlah kuat,
kami benar2 dicintai & dikasihi
oleh mami papi.
Kami selalu menyempatkan diri
pulang di hari2 ulangtahun
mami papi
sebagai bentuk terimakasih kami pada mereka berdua
tanpa didikan mereka berdua, kami hanyalah manusia
yang sekedar bernafas
namun karena didikan mereka, kami dapat melakukan kebaikan pada orang lain.
Biarlah pengalaman ini
menjadi kekuatan
bagi yang membutuhkan.
Amin. Gbu

Tuesday, September 27, 2016

Aku Bertemu Tuhan Yesus

Saya seorang remaja berusia 15 tahun. Kegiatan saya sehari-hari adalah seorang pelajar dan hanya ke gereja setiap minggunya. Pada Sabtu, 12 Maret 2016, saya harus menjalankan operasi Sinusitis, Amandel dan Polip. Seminggu setelah operasi, secara medis luka bekas operasi saya sudah sembuh, namun yang saya rasakan adalah rasa sakit itu semakin parah karena obat melalui infus. Dalam beberapa hari rasa sakit itu reda, sehingga saya bisa pulang ke rumah.
Ketika kembali ke rumah, rasa sakit itu kembali lagi. Lebih sakit dari sebelumnya, sampai saya kembali ke rumah sakit, langsung ke ruang emergency, untuk penanganan medis. Karena kamar di rumah sakit tersebut penuh, maka saya mendapat kamar 'isolasi'.
Keesokan harinya, saya pindah kamar ke ruang biasa, pada sore hari. Lalu pada saat jam 5 rasa sakit itu kembali datang, dan saya hanya terbaring lemas. Sampai pukul 11 malam ketika itu saya tidak bisa melakukan aktivitas apa-apa, tidak bisa minum, tidak bisa makan. Mama saya hanya membasahkan mulut saya yang kering, tiba-tiba rasa sakit itu seperti terbakar, dan menjadi parah.
Dokter dan suster yang menangani saya bingung dan pasrah harus melakukan apa lagi, karena dosis obat untuk anti rasa sakit yang diberikan kepada saya sudah sangat tinggi. Sampai akhirnya saya merasa tidak kuat saya lemas dan saya merasa jiwa saya sudah tidak ditubuh saya lagi.
Saya berada di hutan pinus yang lebat, saya berdiri di sebuah pertigaan. Saya melihat ada Goa besar, lalu saya masuk ke dalam Goa tersebut. Di dalam Goa itu terdapat anak goa atau semacam lorong kiri dan kanan. Yang membedakan adalah Goa kiri tersebut gelap, sedangkan Goa kanan tersebut terang.
Lalu ada seorang pria dengan wajah Yahudi datang kepada saya dan berkata
"Jangan Takut! ini aku Petrus, murid Yesus."
Saya semakin bingung apa maksud dari pria ini. Lalu Petrus menuntun saya menuju Goa kanan yang terang itu. Disana terdapat 2 orang penjaga malaikat dengan jubah putih dan pedang di tangan mereka sehingga membentuh huruf 'X'.
"Jangan takut dia hanya titipan.", ucap Petrus kepada 2 orang malaikat itu. Akhirnya kedua malaikat itu memberikan saya jalan untuk masuk. Ketika saya masuk, jalanan tersebut berlapisi emas. Lalu Petrus membawa saya ke sebuah tempat yang terdapat seperti mimbar pendeta yang diatasnya terletak buku yang berlapisi emas sampai ke kertas dalamnya.
"Cari namamu di buku itu!' ucapnya,
jujur saya kebingungan mencari nama saya karena banyak nama yang mirip seperti "Joan Corrina, Joana Corrinna" dan sebagainya, dan saya harus mencari nama yang benar-benar milik saya.
Setelah saya menemukan nama itu, Petrus memberikan garis bawah di nama saya. Menggunakan pena dari bulu burung merpati. Setelah itu saya dibawa masuk kedalam suatu tempat terlihat seperti desa yang sejuk dan indah.
Ketika saya masuk, badan saya terasa ringan, seperti semua beban di pundak saya telah hilang. Yang saya lihat disana adalah, setiap rumah memiliki inisial pemilik mereka. 'JC'. Lalu disana hanya terdapat 1 ruangan saja. Setiap individu memiliki 1 rumah masing-masing.
Sampai akhirnya, ada seorang anak seperti berusia 2 tahun datang kepada saya dan menarik jubah putih saya (Saat itu saya baru menyadari bahwa saya memakai jubah putih).
"Hi Aunty! Aunty apa kabar..? Kok Aunty ada disini..?", ucap anak kecil itu sambil menarik jubah putih saya.
"Kamu siapa...?", tanya saya.
"Aku Hans, anaknya bunda Okta.
Aunty, aku denger aku punya adek lagi ya..? Aunty jagain Bunda sama Kakak sama Adek ya, titip salam sama Bunda. Aunty jangan pulang dulu. Kasian di dunia mereka, butuh Aunty. Masih banyak yang sayang sama Aunty!", ucapnya sambil pergi bersama teman-temannya.
Saya disitu sadar jika saya berada di Surga karena anak kecil itu adalah anak kakak saya yang keguguran pada usia kandungan 6 bulan. Saya disitu hanya bisa menangis. Karena saya sudah berada di rumah Bapa. Lalu Petrus mengajak saya ke sebuah bangunan yang terdapat pondasi saja.
"Ini rumah kamu, masih 15% itu tandanya belum saatnya kamu pulang kesini."
Petrus langsung megajak saya ke ujung jalan dimana terdapat istana megah dan indah. Lalu, ketika saya berjalan di jembatan terdengar suara :
"Akulah jalan kebenaran, tidak ada seorang pun yang dapat ke rumah Bapa, kalau tidak melalui Aku!" (Yohanes 14:6)
Lalu saya sampai di sebuah ruangan, dimana terdapat 1 buah kursi kosong.
"Tunggu disini", ucapnya sambil pergi meninggalkan saya. Saya hanya duduk di kursi kosong tersebut, lalu saya melihat seperti sorotan lampu datang kepada saya.
Semakin lama semakin mendekat, saya menyadari itu adalah Tuhan Yesus. Saya berlari lalu memeluk Tuhan sambil menangis 😂. Saya menceritakan segala pergumulan saya kepada Tuhan.
"Aku ga mau balik kedunia, disana terlalu jahat. Disini aja enak nyaman, aku ga mau balik kesana.", ucap saya.
Tuhan menjawab : "Anak-Ku, Aku kuat maka engkau juga harus kuat."
Lalu Tuhan Yesus membawa saya pergi mengelilingi surga. "Disini rumah dibangun melalui iman. Semakin dalam iman kamu ke Aku, maka semakin cepat rumah ini jadi", ucap-Nya (Wahyu 22: 1-17).
Hingga akhirnya saya berada di sebuah jurang, dimana ketika saya melihat kebawah terdapat banyak lautan manusia yang sudah hancur, dan disiksa.
"Yesus! Tolong Saya..!" "Yesus Maafkan Saya..!"
itulah teriakan mereka. Saya melihat Tuhan Yesus sedih dengan apa yang terjadi pada mereka semua.
Lalu saya mencium bau yang sangat busuk dan anyir, saya menyadari Tuhan Yesus tidak lagi di samping saya. Lalu semuanya berubah menjadi hutan pinus kembali, disitu saya bertemu dengan seorang lelaki yang gagah, sangat tampan.
"Kamu kalo takut kesana, ke tempat aku aja! Tempat aku enak, ga jauh dari dunia kok, disana tenang, enak, nyaman!", ucapnya sambil berjalan mendahului saya. Ketika dia berjalan, saya melihat di belakang tubuhnya terdapat ekor yang panjang.
"Lucifer", ucap saya tiba-tiba.
Dia langsung memegang tangan saya lalu berubah menjadi seram sangat seram. Keadaan berubah kembali, saya berada di sebuah jurang yang sama namun ketika itu Lucifer berada di belakang saya, sehinga ia akan mendorong saya, karena selangkah lagi saya akan masuk kedalam neraka itu.
Suhu disana sangat panas, seperti terbakar. Bau busuk dan menyengat dimana-mana. Lalu Petrus menarik tangan saya.
"Dia milikku", ucap Petrus sambil menarik tangan kiri saya.
"Tidak! Dia milikku!", ucap Lucifer sambil menarik tangan kanan saya.
Ketika saya melihat ke belakang, saya melihat badan saya berada di rumah sakit dan kedua orang tua saya sedang berdoa dan menangis.
Jawab saya : Siapa yang kamu percaya..?!", teriak Petrus.
Saya berteriak sambil menutup mata :
"JESUS I BELIEVE IN YOU!" lalu keadaan berubah, saya berada dipelukan Tuhan Yesus, sambil menangis.
"Pulanglah...!
Beritakanlah injil keselamatan ini kepada dunia. Karena waktu-Ku sudah sangat dekat.", ucap Yesus.
Lalu saya merasa saya menyatu dengan badan saya kembali. Saya mendapat penglihatan seperti layaknya film, mengenai kegiatan, aktivitas, dosa, apa yang telah saya perbuat dari bayi sampai besar.
Tidak sampai disitu, 2 hari berturut-turut saya dibawa kembali ke awan-awan, yang saya lihat adalah saya berada di tengah-tengah para malaikat. Lalu saya melihat sebuah pagar emas surga. Ketika saya naik ke pagar itu, terdapat suara :
"Pulanglah ke dunia..! Belum waktunya kau disini..!", ucap suara itu.
Lalu saya dibawa pergi oleh bayangan hitam melihat bagaimana indahnya dunia. Sambil mengajak saya mengikuti dunia. Sampai akhirnya pendeta saya datang pada jam 2 pagi, dan berdoa di kamar rawat inap tersebut. Saya merasa bebas disitu.
Jujur setelah kejadian ini saya didatangi 2x oleh 2 malaikat dengan berkata :
"Kamu tahu tugas kamu di dunia ini apa..?", ucap mereka.
"Tugas kamu bukan stress karena dunia, Melainkan tugasmu adalah menjadi pelayan Tuhan, Kamu harus memberitakan injil ini, memberitakan apa yang sudah kamu dapat ke seluruh dunia. Setelah itu kamu kembali lagi kesana (surga). Ingat! Waktunya sudah sangat dekat!", ucap mereka.
Sejak saat itu saya sadar, dan memohon bantuan Tuhan untuk memberitakan injil ini. Lalu saya bertekad untuk membagi pengalaman saya kepada kita semua. Tugas saya hanya memberitakan kebenaran ini, biarlah Roh Kudus bekerja bagi kita semua. Terima Kasih. Tuhan Yesus memberkati.
Matius 28:19-20
"Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."
Matthew 28:19-20 (ERV)
"So go and make followers of all people in the world. Baptize them in the name of the Father and the Son and the Holy Spirit. Teach them to obey everything that I have told you to do. You can be sure that I will be with you always. I will continue with you until the end of time."
Tuhan Yesus Memberkati

Monday, August 01, 2016

Tiga Nasehat

Seorang pekerja setelah 20 tahun bekerja di kota, saatnya pensiun dan pulang kampung... lalu bertemulah dia dengan boss-nya...

Boss bertanya kepada pekerja itu... "Kamu sudah kerja di sini selama 20 tahun dengan baik... sekarang saya tanya kamu mau uang pensiun 20 tahun... atau 3 nasihat saya... ?"

Si Pekerja berpikir sejenak... lalu memilih meminta *3 Nasihat* boss-nya...

Maka Boss-nya berkata :

*Nasihat pertama* :  Jangan pernah mau cari jalan pintas... tidak ada yang mudah dan gratis di dunia ini... lakukan segala sesuatu langkah demi langkah dengan mantap dan mandiri...

*Nasihat kedua* :  Terhadap sesuatu hal yang tidak baik... jangan menaruh rasa ingin tahu yang mendalam... hal itu bisa merengut nyawamu...

*Nasihat ketiga* :  Jangan melakukan putusan apa pun saat sedang emosi... hal tersebut akan membuat kamu menyesal seumur hidup...

Kemudian si Boss memberi dia sedikit uang jalan, dan 3 buah Roti... serta berpesan... "Roti yang paling besar dimakan bersama keluarga saat sampai di rumah... !"

Esok harinya si Pekerja pamit dan mulai perjalanan pulang ke kampung halamannya...

Sampai di salah satu kampung... dia bertanya jalan mana paling dekat ke kampungnya...

Si A menjawab... "Jalan kecil lebih dekat..."
Dan si B menjawab... "Jalan besar lebih aman..."

Karena ingin cepat sampai di rumah... maka dia memilih jalan kecil... Baru setengah perjalanan bertemulah dia dengan orang yang balik arah, dan memberitahu bahwa di jalan ini banyak perampok... Maka dia pun teringat nasihat boss-nya... dan balik lagi untuk lewat jalan besar... Saking laparnya, dia pun melahap satu roti yang diberi boss-nya...

Karena sudah malam... maka dia pun menginap di Losmen... Malam harinya dia mendengar suara seorang wanita menangis... Namun dia teringat nasihat ke 2 dari boss-nya... maka dia pun mengurungkan niatnya untuk keluar mencari tahu... Dan lalu dia makan roti yang ke 2...

Esok paginya, saat dia bangun... orang-orang heran dan bertanya kepadanya... "Kok kamu masih hidup... ? Semalam ada seorang wanita gila menangis... memancing tamu keluar... lalu membunuhnya... syukur kamu tidak keluar..."

Setelah sampai di rumah... hari sudah malam... Dia pun ingin memberikan kejutan kepada Isterinya... Maka diam-diam dia masuk ke kamar... Alangkah terkejutnya dia melihat seorang lelaki tidur dengan Isterinya... Emosinya meluap... lalu mengambil parang hendak membunuh lelaki tersebut... Namun dia teringat akan nasihat ke 3 dari boss-nya... dia pun lalu mengurungkan niatnya... dan tidur di luar...

Keesokan harinya... Isterinya bangun melihat suaminya tidur di luar... Alangkah senangnya sang Isteri... dan memanggil pria yang menemaninya tidur selama suaminya tidak ada di rumah... "Cepat bangun, Nak... mari sini... Ayah kamu pulang..."

Ternyata... lelaki tersebut adalah anak kandungnya sendiri...

Isterinya berkata... "Saat kamu berangkat... saya sudah hamil... Selama ini saya tidak bisa menghubungimu..."

Lalu dipeluklah anak bujangnya dengan haru... dan meneteskan air mata... karena hampir saja dia membunuh anaknya sendiri jika tidak mengingat nasihat boss-nya...

Sambil cerita panjang lebar tentang pengalaman dia... dan 3 nasihat boss-nya... dia pun ingat roti besar untuk makan bersama di rumah... Setelah dipotong... ternyata di dalamnya terselip uang pensiunnya selama 20 tahun dia bekerja...

Akhir cerita... keluarga ini hidup bahagia...

Pesan yang dapat kita petik dari ceritera ini :

* HATI-HATI DALAM MENGAMBIL KEPUTUSAN...*

Tuesday, July 19, 2016

Pesan Tokoh Alkitab


Pesan Nuh,
“Hiduplah bergaul karib dgn TUHAN jgn melihat sekelilingmu yg kadang-kadang melemahkan imanmu kpd TUHAN, tetapi kamu harus tetap hidup bergaul karib dgn TUHAN.”

Pesan Abraham,
“Walaupun kamu belum melihat janji-janji TUHAN digenapi dlm hidupmu, kamu harus tetap PERCAYA kpd TUHAN. Di dlm TUHAN tdk ada yg sukar, semuanya menjadi mungkin walaupun sekelilingmu tdk memungkinkan kamu mendapatkan janji-janji TUHAN.”

Pesan Yusuf,
”Peganglah setiap visi atau janji yg TUHAN berikan baik melalui mimpi atau firman yg TUHAN berikan. Jagalah visi itu, berjuanglah sampai visi itu terjadi dlm hidupmu. Apapun yg terjadi dlm hidupmu yg terburuk sekalipun jgn sampai engkau melupakan visi itu, tetapi anggaplah kejadian-kejadian dlm hidupmu merupakan bagian dari rencana TUHAN yg indah sampai visi TUHAN tercapai dlm hidupmu.”

Pesan Musa,
“Aku menyesal tdk dapat masuk ke Tanah Kanaan yg dijanjikan TUHAN karena ketidaktaatanku. Taatlah kpd TUHAN senantiasa, apapun yg TUHAN suruh kerjakan, kerjakanlah itu dgn taat.”

Pesan Yosua,
“Kuatkan & teguhkanlah hatimu. Apapun yg terjadi, tetaplah pandang TUHAN, beribadahlah kpd-NYA dgn taat & setia. Jangan sekali-kali hatimu terikat kpd berhala-berhala.”
(Yos 1:7-9)

Pesan Ayub,
“Kamu tdk berhak atas hidupmu bahkan yg terkecil sekalipun dlm hidupmu, rambutmu sekalipun kamu tdk berhak atasnya. Hanya TUHAN yg berhak atas hidupmu, karena TUHAN yg punya hidupmu. Jadi apapun yg terjadi atas hidupmu, yg terburuk sekalipun jangan pernah engkau bersungut-sungut kpd TUHAN atau berkata TUHAN itu jahat atau tdk sayang kpdmu.”

Pesan Paulus,
“Sesungguhnya pencobaan-pencobaan yg kamu alami adlh pencobaan-pencobaan yg biasa. Apabila kamu mengalami masalah seberat apapun, percayalah pasti akan ada jalan keluar & masalah tersebut tdk akan melebihi kekuatanmu.”
(1 Kor 10:13),

'' AMIN ''
Semoga Pesan-Pesan ini Memberkati Anda

Tuesday, May 24, 2016

Pintar Belum Tentu BIJAKSANA

Diceritakan bahwa Jendral Tso menyukai permainan catur dan beliau adalah pemain catur yg sangat Handal, sudah tingkat master pula, bisa dikatakan tidak ada pecatur lain yang mampu mengalahkannya.

Suatu hari, Jendral Tso dalam perjalanan dinasnya, melihat sebuah gubuk yang pada dindingnya tergantung papan bertuliskan "Pecatur Terbaik Dunia", tentu saja hal ini membuat sang Jendral tidak puas, dengan penasaran segera menghampiri gubuk tsb dan menantang pemilik gubuk untuk bermain catur, dan ternyata sang Jendral dapat memenangkan seluruh tiga set yang mereka mainkan.

Karena itu, sang Jendral dengan penuh kepercayaan diri mengatakan : " Anda harus segera mencopot papan ini ", dan segera melanjutkan perjalanannya dengan penuh kegembiraan.

Tak lama setelah itu, dalam perjalanan pulangnya, sang Jendral melewati gubuk itu lagi dan menemukan bahwa papan "Pecatur Terbaik Dunia" belum juga dicopot, dengan perasaan penuh penasaran, masuklah dia dan menantang pemilik gubuk itu untuk bermain catur lagi.
Namun kali ini hasilnya sangat mengejutkan sang Jendral, dia kalah telak tiga kali berturut-turut.

Sang Jendral sangat terkejut, dan bertanya mengapa bisa terjadi demikian.
Lalu si pemilik gubuk menjawab dengan Bijak : "Pada waktu yang lalu, saya tahu anda sedang dalam perjalanan melaksanakan tugas negara, maka saya tidak mau mengalahkan anda untuk menjaga semangat juang Anda, namun sekarang anda telah kembali dalam kondisi telah sukses melaksanakan tugas anda, tentu saja saya melayani tantangan anda sesuai dengan kemampuan saya yang sebenarnya. Saya tidak akan mengalah lagi".

Pemenang Sejati, mampu menang , tetapi belum tentu mau menang , mampu mengalah dengan bijaksana. Bisa Menang, dan tidak harus menang, menunjukkan kepribadian yang mulia. Demikian pula kehidupan.

Ingat .... Pintar belum tentu Bijaksana, tetapi Kebijaksanaan pasti menyertakan Kepintaran;

Monday, May 23, 2016

GIVE AND GIVE

Di zaman Tiongkok Kuno ada seorang petani mempunyai seorang tetangga yang berprofesi sebagai pemburu dan mempunyai anjing-anjing  yang galak dan kurang terlatih.

Anjing-anjing itu sering melompati pagar dan mengejar-ngejar domba-domba petani. Petani itu meminta tetangganya untuk menjaga anjing-anjingnya, tetapi ia tidak mau peduli.

Suatu hari aning-anjing itu melompati pagar dan  menyerang beberapa domba sehingga terluka parah.
Petani itu merasa tak sabar, dan memutuskan untuk pergi ke kota untuk berkonsultasi pada seorang hakim.
Hakim itu  mendengarkan cerita petani itu dengan hati-hati dan berkata, “Saya bisa saja menghukum pemburu itu dan memerintahkan dia untuk merantai dan mengurung anjing-anjingnya.

Tetapi Anda akan kehilangan seorang teman dan mendapatkan seorang musuh. Mana yang kau inginkan, teman atau musuh yang jadi tetanggamu?”
Petani itu menjawab bahwa ia lebih suka mempunyai seorang teman.
“Baik, saya akan menawari Anda sebuah solusi yang mana Anda harus manjaga domba-domba Anda supaya tetap aman dan ini akan membuat  tetangga Anda tetap sebagai teman.” Mendengar solusi pak hakim, petani itu setuju.

Ketika sampai di rumah, petani itu segera melaksanakan solusi pak hakim. Dia mengambil tiga domba terbaiknya dan menghadiahkannya kepada tiga anak tetangganya itu, yang mana ia menerima dengan sukacita dan mulai bermain dengan domba-domba tersebut.

Untuk menjaga mainan baru anaknya, si pemburu itu mengkerangkeng anjing pemburunya.
Sejak saat itu anjing-anjing itu tidak pernah menggangu domba-domba pak tani.
Di samping rasa terimakasihnya kepada kedermawanan petani kepada anak-anaknya, pemburu itu sering membagi hasi buruan kepada petani.

Sebagai balasannya petani mengirimkan daging domba dan keju buatannya. Dalam waktu singkat tetangga itu menjadi teman yang baik.
Sebuah ungkapan Tiongkok Kuno mengatakan :
“Cara Terbaik untuk mengalahkan  dan mempengaruhi  orang adalah dengan kebajikan.

PENAMPILAN Yang Menipu

Seorang wanita yang mengenakan gaun pudar menggandeng suaminya yang
berpakaian sederhana dan usang, turun dari kereta api di Boston, dan berjalan dengan malu-malu menuju kantor Pimpinan Harvard University.

 Mereka meminta janji.Sang sekretaris Universitas langsung mendapat kesan bahwa mereka adalah orang kampung, udik, sehingga tidak mungkin ada urusan di Harvard dan bahkan mungkin tidak pantas berada di Cambridge.

“Kami ingin bertemu Pimpinan Harvard”, kata sang pria lembut.
“Beliau hari ini sibuk,” sahut sang Sekretaris cepat.
“Kami akan menunggu,” jawab sang Wanita.

Selama 4 jam sekretaris itu mengabaikan mereka, dengan harapan bahwa
pasangan tersebut akhirnya akan patah semangat dan pergi. Tetapi nyatanya
tidak. Sang sekretaris mulai frustrasi, dan akhirnya memutuskan untuk
melaporkan kepada sang pemimpinnya.
“Mungkin jika Anda menemui mereka selama beberapa menit, mereka akan pergi,” katanya pada sang Pimpinan Harvard.

Sang pimpinan menghela nafas dengan geram dan mengangguk. Orang sepenting dia pasti tidak punya waktu untuk mereka. Dan ketika dia melihat dua orang yang mengenakan baju pudar dan pakaian usang di luar kantornya, rasa tidak senangnya sudah muncul.

Sang Pemimpin Harvard, dengan wajah galak menuju pasangan tersebut.
Sang wanita berkata padanya, “Kami memiliki seorang putra yang kuliah tahun pertama di Harvard. Dia sangat menyukai Harvard dan bahagia di sini. Tetapi setahun yang lalu, dia meninggal karena kecelakaan. Kami ingin mendirikan peringatan untuknya, di suatu tempat di kampus ini, bolehkan?” tanyanya, dengan mata yang menjeritkan harap.

Sang Pemimpin Harvard tidak tersentuh, wajahnya bahkan memerah. Dia tampak terkejut.
“Nyonya,” katanya dengan kasar, “Kita tidak bisa mendirikan tugu untuk setiap orang yang masuk Harvard dan meninggal. Kalau kita lakukan itu,  tempat ini sudah akan seperti kuburan.”
“Oh, bukan,” Sang wanita menjelaskan dengan cepat, “Kami tidak ingin mendirikan tugu peringatan. Kami ingin memberikan sebuah gedung untuk Harvard.” 

Sang Pemimpin Harvard memutar matanya. Dia menatap sekilas pada baju pudar dan pakaian usang yang mereka kenakan dan berteriak, “Sebuah gedung?! Apakah kalian tahu berapa harga sebuah gedung ?! Kami memiliki lebih dari 7,5 juta dolar hanya untuk bangunan fisik Harvard.” 

Untuk beberapa saat sang wanita terdiam. Sang Pemimpin Harvard senang. Mungkin dia bisa terbebas dari mereka sekarang.

Sang wanita menoleh pada suaminya dan berkata pelan, “Kalau hanya sebesar itu biaya untuk memulai sebuah universitas, mengapa tidak kita buat sendiri saja?” Suaminya mengangguk. Wajah sang Pemimpin Harvard menampakkan kebingungan.

Mr. dan Mrs. Leland Stanford bangkit dan berjalan pergi, melakukan perjalanan ke Palo Alto, California, di sana mereka mendirikan sebuah Universitas yang menyandang nama mereka, sebuah peringatan untuk seorang anak yang tidak lagi diperdulikan oleh Harvard.

Universitas tersebut adalah Stanford University, salah satu universitas favorit kelas atas di AS saat ini.
Kita, seperti pimpinan Harvard itu, acap silau oleh baju, dan lalai.
Padahal, baju hanya bungkus, apa yang disembunyikannya, kadang sangat tak ternilai. Jadi, janganlah kita selalu abai, karena baju-baju, acap menipu.

MICHAEL JORDAN

Michael Jordan, berkulit hitam, lahir pada tahun 1963, di daerah kumuh Brooklyn, New York. Ia memiliki empat orang saudara, sementara upah ayahnya yang hanya sedikit tidak cukup untuk menafkahi keluarga. Semenjak kecil, ia melewati kehidupannya dalam lingkungan miskin dan penuh diskriminasi, hingga ia sama sekali tidak bisa melihat harapan masa depannya.

Ketika ia berusia tiga belas tahun, ayahnya memberikan sehelai pakaian bekas kepadanya, “Menurutmu, berapa nilai pakaian ini?”

Jordan menjawab, “Mungkin 1 dollar.”

Ayahnya kembali berkata, “Bisakah dijual seharga 2 dollar? Jika engkau berhasil menjualnya, berarti telah membantu ayah dan ibumu.”

Jordan menganggukkan kepalanya, “Saya akan mencobanya, tapi belum tentu bisa berhasil.”

Dengan hati-hati dicucinya pakaian itu hingga bersih. Karena tidak ada setrika untuk melicinkan pakaian, maka ia meratakan pakaian dengan sikat di atas papan datar, kemudian dijemur sampai kering. Keesokan harinya, dibawanya pakaian itu ke stasiun bawah tanah yang ramai, ditawarkannya hingga lebih dari enam jam. Akhirnya Jordan berhasil menjual pakaian itu. Kini ia memegang lembaran uang 2 dollar dan berlarilah ia pulang.

Setelah itu, setiap hari ia mencari pakaian bekas, lalu dirapikan kembali dan dijualnya di keramaian. Lebih dari sepuluh hari kemudian, ayahnya kembali menyerahkan sepotong pakaian bekas kepadanya, “Coba engkau pikirkan bagaimana caranya untuk menjual pakaian ini hingga seharga 20 dolar?”

Kata Jordan, “Bagaimana mungkin? Pakaian ini paling tinggi nilainya hanya 2 dollar.”

Ayahnya kembali memberikan inspirasi, “Mengapa engkau tidak mencobanya dulu? Pasti ada jalan.”

Akhirnya, Jordan mendapatkan satu ide, ia meminta bantuan sepupunya yang belajar melukis untuk menggambarkan Donal Bebek yang lucu dan Mickey Mouse yang nakal pada pakaian itu. Lalu ia berusaha menjualnya di sebuah sekolah anak orang kaya. Tak lama kemudian seorang pengurus rumah tangga yang menjemput tuan kecilnya, membeli pakaian itu untuk tuan kecilnya. Tuan kecil itu yang berusia sepuluh tahun sangat menyukai pakaian itu, sehingga ia memberikan tip 5 dolar. Tentu saja 25 dollar adalah jumlah yang besar bagi Jordan, setara dengan satu bulan gaji dari ayahnya.

Setibanya di rumah, ayahnya kembali memberikan selembar pakaian bekas kepadanya, “Apakah engkau mampu menjualnya kembali dengan harga 200 dolar?” Mata ayahnya tampak berbinar.

Kali ini, Jordan menerima pakaian itu tanpa keraguan sedikit pun. Dua bulan kemudian kebetulan aktris film populer “Charlie Angels”, Farah Fawcett datang ke New York melakukan promo. Setelah konferensi pers, Jordan pun menerobos pihak keamanan untuk mencapai sisi Farah Fawcett dan meminta tanda tangannya di pakaian bekasnya. Ketika Fawcett melihat seorang anak yang polos meminta tanda tangannya, ia dengan senang hati membubuhkan tanda tangannya pada pakaian itu.

Jordan pun berteriak dengan sangat gembira, “Ini adalah sehelai baju kaus yang telah ditandatangani oleh Miss Farah Fawcett, harga jualnya 200 dollar!” Ia pun melelang pakaian itu, hingga seorang pengusaha membelinya dengan harga 1.200 dollar.

Sekembalinya ke rumah, ayahnya dengan meneteskan air mata haru berkata, “Tidak terbayangkan kalau engkau berhasil melakukannya. Anakku! Engkau sungguh hebat!”

Malam itu, Jordan tidur bersama ayahnya dengan kaki bertemu kaki. Ayahnya bertanya, “Anakku, dari pengalaman menjual tiga helai pakaian yang sudah kau lakukan, apakah yang berhasil engkau pahami?”

Jordan menjawab dengan rasa haru, “Selama kita mau berpikir dengan otak, pasti ada caranya.”

Ayahnya menganggukkan kepala, kemudian menggelengkan kepala, “Yang engkau katakan tidak salah! Tapi bukan itu maksud ayah. Ayah hanya ingin memberitahumu bahwa sehelai pakaian bekas yang bernilai satu dolar juga bisa ditingkatkan nilainya, apalagi kita sebagai manusia yang hidup? Mungkin kita berkulit lebih gelap dan lebih miskin, tapi apa bedanya?”

Seketika dalam pikiran Jordan seakan ada matahari yang terbit. Bahkan sehelai pakaian bekas saja bisa ditingkatkan harkatnya, lalu apakah saya punya alasan untuk meremehkan diri sendiri?

Sejak saat itu, dalam hal apapun, Michael Jordan merasa bahwa masa depannya indah dan penuh harapan.

Potensi diri kita begitu besar, jangan dipandang kecil hanya karena kita terlihat lecek, kumal, dan belum “diasah”. Tetaplah berusaha dan teruslah mengasah kecerdasan dalam melakukannya.
SEMANGAT !!

Friday, April 15, 2016

KEBAHAGIAAN

Suatu ketika istri John Maxwell (pembicara motivator top) Margaret, sedang menjadi pembicara di salah satu sesi seminar tentang “kebahagiaan”. Maxwell sang suami duduk di bangku paling depan dan mendengarkan.

Di akhir sesi, semua pengunjung bertepuk tangan dan tiba, sesi tanya jawab.
Setelah beberapa pertanyaan, seorang ibu mengacungkan tangannya untuk bertanya..

“Mrs. Margaret, apakah suami Anda membuat Anda bahagia?”
Seluruh ruangan langsung terdiam. Satu pertanyaan yang bagus.
Margaret tampak berpikir beberapa saat dan kemudian menjawab, “Tidak…”

Seluruh ruangan terkejut. “Tidak…” katanya sekali lagi,”John Maxwell tidak bisa membuatku bahagia.”
Seisi ruangan langsung menoleh ke arah Maxwell. Maxwell juga menoleh-noleh mencari pintu keluar. Rasanya ingin cepat-cepat keluar. Kemudian, lanjut Margaret, “John Maxwell adalah seorang suami yang sangat baik.

Ia tidak pernah berjudi, mabuk-mabukan, main serong. Ia selalu setia, selalu memenuhi kebutuhan saya, baik jasmani maupun rohani. Tapi, tetap dia tidak bisa membuatku bahagia.”
Tiba-tiba ada suara bertanya, “Mengapa?”

“Karena,” Jawabnya, “Tidak ada seorang pun di dunia ini yang bertanggung jawab atas kebahagiaanku selain DIRIKU SENDIRI.”

Margaret mengatakan, tidak ada orang lain yang bisa membuatmu bahagia. Baik itu pasangan hidupmu, sahabatmu, uangmu, hobimu.
Semua itu tidak bisa membuatmu bahagia.

Karena yang bisa membuat dirimu bahagia adalah dirimu sendiri..

Kamu bertanggung jawab atas dirimu sendiri. Kalau kamu sering merasa berkecukupan, tidak pernah punya perasaan minder, selalu percaya diri, kamu tidak akan merasa sedih.
Sesungguhnya pola pikir kita yang menentukan apakah kita bahagia atau tidak, bukan faktor luar. Bahagia atau tidaknya hidupmu bukan ditentukan oleh seberapa kaya dirimu, cantik istrimu/gagah suamimu, atau sesukses apa hidupmu.

Tuesday, January 19, 2016

KEKUATAN DOA

Ada dua orang anak sedang duduk berbincang dengan ibunya diruang tamu, Pada saat mereka sedang berbicara, tiba-tiba terjadi “badai” besar, guntur dan kilat yang sambar-menyambar. Keadaan sangat mencekam dan menjadikan ketiga orang itu ketakutan.
Kedua anak itu langsung mendekap Ibunya dan sang Ibu dalam kepanikan memberikan kata-kata penghiburan pada kedua anak ini.
.
Setelah satu jam terjadi, badai itu reda dan keadaan baik tidak terjadi apapun hanya terjadi sedikit karusakan pada rumah itu. Anak pertama bilang pada adiknya,” Apakah kamu baik-baik saja dik?”. Jawab sang adik,”Benar aku dalam keadaan baik, hanya aku tadi takut sekali hingga aku terus berdoa berulang-ulang agar tidak terjadi hal-hal buruk pada kita”. Sang kakak berbicara,”aku tidak berdoa apa-apa tetapi aku juga dalam keadaan baik, jadi doa atau tidak bukan hal penting karena tanpa doapun kita dalam keadaan baik”. Sambung anak ini,”mam, apakah kau tadi juga berdoa??? aku lihat mama tidak berdoa karena mama sibuk menenangkan kami agar tidak takut”. Jawab Ibu anak-anak itu,” aku berdoa dengan aku melakukan pekerjaan terbaik yaitu menenangkan kalian dan doa yang terbaik adalah ada dalam tindakan nyata”. Jawab anak pertama itu,” apakah ketika mama berbicara untuk menenangkan kami tadi bisa dikatakan doa???”. Jawab Ibu itu,”benar berdoalah dengan tindakan bukan hanya diam saja tidak melakukan apa-apa?”.
.
Sejenak percakapan kedua anak dengan Ibunya ini seperti percakapan biasa dan sering kita alami. Seperti pandangan anak pertama sering ada dalam diri kita,” tidak berdoapun kita selamat jadi apa artinya sebuah doa?” Anak pertama ini tidak menyadari kalau hasil dari doa yang dilakukan orang lain juga berkaitan dengan dirinya bahkan “kemungkinan” yang menyelamatkan dia adalah doa dari adik dan Ibunya itu. Jika suasana doa dari adiknya tidak ada dan adiknya ketakutan dan menangis berlarian kesana-kemari maka cerita akan lain dan jika Ibunya tidak melakukan tindakan untuk menenangkan mereka maka keadaan akan berbicara lain. Susana akan penuh dengan ketakutan yang mencekam dan dalam keadaan seperti ini orang akan kehilangan “arah” akhirnya bertindak “sembarangan” dengan berjuta pemikiran akan yang terjadi diluar rumah itu entah berkaitan dengan mobilnya, ayamnya, kebunnya atau apapun yang dipunyai dan ada diluar rumah itu. Maka “hasil” nyata dari doa itu adalah “ketenangan”.
Dalam keadaan tenang orang menjadi siaga dan tahu apa yang akan terjadi dan kecepatan bertindak lebih cepat. Maka sebenarnya yang menjadikan “kehancuran” dan “ketidakselamatan” seseorang sebenarnya bukan bencana itu tetapi rasa panik dan ketakutan akan keadaan yang terjadi. Dengan doa dan tindakan nyata dari doa, rasa panik bisa diatasi dan kebaikan dapat didapatkan.
.
Pernah ada cerita yang saya baca. Ada wabah penyakit lewat dan bertemu dengan Nasrudin. Nasrudin bertanya,” mau kemanakah kau, hai wabah penyakit??”.
Jawab wabah itu,” ke kota A untuk membunuh sepuluh orang???”.
Setelah bebarapa hari Nasrudin kembali bertemu dengan wabah itu dan Nasrudin bertanya,” hai wabah, kau bilang akan membunuh sepuluh orang, tapi mengapa yang mati seratus orang”. Jawab wabah itu,” aku hanya membunuh sepuluh orang dan yang sembilan puluh mati karena panik dan ketakutan”. Nasrudin hanya bisa mangut-manggut saja.
.
Maka ketakutan dan kepanikan yang sebenarnya berbahaya dalam kehidupan ini. Maka seperti Ibu dan anak kedua dari kelauarga itu, mereka berdoa untuk menenangkan suasana agar kepanikan tidak terjadi dalam rumah itu. Maka dalam menyikapi bencana dan kesulitan selalulah berdoa dan tenangkan diri jangan bairkan kepanikan dan ketakutan ada karena dengan doa dan ketenangan semua bisa berjalan dengan baik.
.
Selamat menjaga ketenangan hati dengan doa dalam keadaan apa pun.