Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.( Yohanes 15 : 16 )

Showing posts with label topi. Show all posts
Showing posts with label topi. Show all posts

Friday, April 01, 2011

Mana Topinya Johnny


ADA sebuah cerita tentang satu keluarga yang piknik di pinggir danau. Ketika itu, putra mereka yang berumur lima tahun bermain di danau, lalu melangkahkan kakinya ke bagian danau yang dalam, dan tenggelam hilang dari pandangan mata. Tidak satu pun orang dewasa di keluarga itu yang dapat berenang, sehingga mereka hanya berlari-lari ke sana ke mari di pinggir danau itu dengan panik, sementara anak tadi timbul tenggelam di dalam danau, sambil berteriak-teriak minta tolong.

Tidak lama kemudian, seorang pria yang melihat situasi tersebut segera melompat ke dalam danau dan menyelamatkan anak itu. Pria tersebut muncul di pinggir danau dengan membawa anak yang selamat tetapi ketakutan itu, hanya untuk mendengar ibu dari anak itu dengan kesal bertanya, “Mana topinya Johnny?”

Seringkali kita berfokus pada kekecewaan-kekecewaan kecil yang membuat kita menggerutu dan mengeluh daripada berfokus pada hal-hal indah yang telah diberikan Allah dalam hidup kita, terutama keselamatan kekal dan kasih-Nya yang tidak berkesudahan. Ketika kita mengeluh tentang kekecewaan kecil dalam hidup kita, kita sebenarnya sedang bertanya, “Mana topinya Johnny?”

Mungkin sulit untuk bersyukur ketika kita kehilangan pekerjaan, atau ketika kita sakit, tetapi kita dapat bersyukur untuk kebaikan yang telah diberikan Allah dalam hidup ini dan untuk kehidupan mendatang.

Wednesday, March 16, 2011

Penjual Topi


Suatu ketika ada seorang penjual topi yang berjalan melintasi hutan. Cuaca saat itu sangat panas. Ia lalu memutuskan untuk beristirahat sejenak di bawah sebuah pohon besar. Sebelum merebahkan diri, ia meletakkan keranjang berisi topi-topi dagangan di sampingnya. Beberapa jam ia terlelap dan terbangun oleh suara-suara ribut. Hal pertama yang disadarinya adalah bahwa semua topi dagangannya telah hilang. Kemudian ia mendengar suara monyet-monyet di atas pohon. Ia mendongak ke atas. Betapa terkejutnya ia melihat pohon itu penuh dengan monyet. Dan, semua monyet itu mengenakan topi-topinya.

Penjual topi itu terduduk dan berpikir keras bagaimana caranya ia bisa mendapatkan kembali topi-topi dagangannya yang sekarang sedang dibuat main-main oleh monyet-monyet itu. Ia berpikir dan berpikir, dan mulai menggaruk-garukkan kepalanya. Lalu ia melihat monyet-monyet itu ternyata menirukan tingkah lakunya. Kemudian, ia melepas topinya dan mengipas-ngipaskan ke wajahnya. Dan monyet-monyet itu pun melakukan hal yang sama. Aha..! Ia pun mendapat ide..! Lalu ia membuang topinya ke tanah, dan monyet-monyet itu juga membuang topi-topi di tangan mereka ke tanah. Segera saja si penjual itu mengumpulkan dan mendapatkan kembali semua topi-topinya. Ia pun melanjutkan perjalanannya.

Lima puluh tahun kemudian, cucu dari si penjual topi itu juga menjadi seorang penjual topi juga dan telah mendengar cerita tentang monyet-monyet itu dari kakeknya.

Suatu hari, persis seperti kakeknya, ia melintasi hutan yang sama. Udara sangat panas. Ia beristirahat di bawah pohon yang sama dan meletakkan keranjang berisi topi-topi dagangan di sampingnya. Sekali lagi, ketika terbangun ia menyadari kalau monyet-monyet telah mengambil semua topi-topinya. Ia pun teringat akan cerita kakeknya. Ia mulai menggaruk-garuk kepala, dan monyet-monyet itu menirukannya. Ia melepas topinya dan mengipas-ngipaskan ke wajahnya, monyet-monyet itu masih menirukannya. Nah, sekarang ia merasa yakin akan ide kakeknya. Kemudian ia melempar topinya ke tanah. Tapi kali ini ia yang terkejut, karena monyet-monyet itu tidak menirukannya dan tetap memegangi topi itu erat-erat.

Kemudian, seekor monyet turun dari pohon, mengambil topi yang di lemparkan oleh cucu pedagang topi itu, lalu menepuk bahunya sambil berkata, “Memangnya cuma kamu saja yang punya kakek…?”

Renungan:

Jangan hanya karena anda mampu mengambil pelajaran dari suatu pengalaman buruk, lalu anda menganggap orang lain tidak mengambil pelajaran yang sama juga. Jangan hanya karena anda merasa lebih tahu, lalu anda menganggap orang lain bodoh. Jangan-jangan andalah yang lebih bodoh daripada orang lain :)