Pada zaman dahulu hiduplah dua orang jendral perang besar, Cyrus dan Cagular. Cyrus adalah raja Persia yang terkenal. Sedangkan Cagular adalah kepala suku yang terus-menerus melakukan perlawanan terhadap serbuan pasukan Cyrus, yang bertekat menguasai Persia. Pasukan Cagular mampu merobek-robek kekuatan tentara Persia sehingga membuat berang Cyrus karena ambisinya untuk menguasai perbatasan daerah selatan menjadi gagal. Akhirnya, Cyrus mengumpulkan seluruh kekuatan pasukannya, mengepung daerah kekuasaan Cagular dan berhasil menangkap Cagular beserta keluargnya. Mereka lalu dibawa ke ibu kota kerajaan Persia untuk diadili dan dijatuhi hukuman.
Pada hari pengadilan, Cagular dan istrinya dibawa ke sebuah ruangan pengadilan. Kepala suku itu berdiri menghadapi singgasana, tempat Cyrus duduk dengan perkasanya. Cyrus tampak terkesan dengan Cagular. Ia tentu telah mendengar banyak tentang kegigihan Cagular. "Apa yang akan kau lakukan bila aku menyelamatkan hidupmu?" tanya sang kaisar. "Yang mulia," jawab Cagular, "Bila Yang Mulia menyelamatkan hidup hamba,hamba akan kembali pulang dan tunduk patuh pada Yang Mulia sepanjang umur hamba." "Apa yang akan kau lakukan bila aku menyelamatkan hidup istrimu?" tanya Cyrus lagi.
"Yang mulia, bila Yang Mulia menyelamatkan hidup istri hamba, hamba bersedia mati untuk Yang Mulia," jawab Cagular. Cyrus amat terkesan dengan jawaban dari Cagular. Lalu ia membebaskan Cagular dan istrinya. Bahkan ia mengangkat Cagular menjadi gubernur yang memerintah di provinsi sebelah selatan.
Pada perjalanan pulang, Cagular dengan penuh antusias bertanya pada istrinya, "Istriku, tidakkah kau lihat pintu gerbang kerajaan tadi? Tidakkah kau lihat koridor ruang pengadilan tadi? Tidakkah kau lihat kursi singgasana tadi? Itu semuanya terbuat dari emas murni! Gila!"
Istri Cagular terkejut mendengar pertanyaan suaminya, tetapi ia menyatakan, "Aku benar-benar tidak memperhatikan semua itu." "Oh begitu!" tanya Cagular terheran-heran, " Aneh, lalu apa yang kau lihat tadi?" Istri Cagular menatap mata suaminya dalam-dalam. Lalu ia berkata, "Aku hanya melihat wajah seorang pria yang mengatakan bahwa ia bersedia mati demi hidupku."
Apakah Anda tahu demi apa Anda mati? Demi kekasih Anda? Rumah? Negara? Keyakinan? Kebebasan? Cinta? Tentukan demi apa Anda bersedia untuk mati,dan Andapun akan menemukan demi apa Anda hidup. Hiduplah demi sesuatu yang Anda bersedia untuk berkorban, bahkan mati pun rela, maka Anda akan hidup dengan penuh. Anda pun akan menemukan bagaimana Anda bisa berbahagia. (suaramerdeka)
kumpulan ilustrasi kotbah,ilustrasi kristen, ilustrasi kotbah kristen, humor dan artikel rohani , yang dapat digunakan untuk tambahan materi kotbah.
Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.( Yohanes 15 : 16 )
Showing posts with label renungan. Show all posts
Showing posts with label renungan. Show all posts
Friday, December 09, 2011
Wednesday, October 19, 2011
Selalu Bersyukur
Ada seorang anak kecil kelas 4 SD yang selalu mengucap syukur dalam
keadaan apapun. Ia tinggal di suatu desa di Negara Filipina. Setiap hari
untuk sampai ke sekolahnya ia harus berjalan kaki melintasi daerah yang
tanahnya berbatu dan menyeberangi jalan raya yang berbahaya dimana
banyak kendaraan yang melaju kencang. Setiap kali berhasil menyeberangi
jalan raya tersebut, Andoy selalu mampir sebentar ke Gereja untuk
berdoa. Tindakannya ini diamati oleh Pdt. Agaton. Karena merasa terharu
dengan sikap Andoy yang lugu dan beriman tersebut. Suatu hari ketika
Andoy hendak masuk ke Gereja Pdt. Agaton menyapanya.
Bpk. Pdt : "Selamat pagi Andoy, apa kabarmu? Apakah kamu akan ke sekolah?"
Andoy : "Ya, Bapa Pendeta!" balas Andoy sambil tersenyum.
Bpk.Pdt : "Mulai sekarang saya akan membantu dan menemani kamu menyeberangi jalan raya tersebut setiap kali kamu akan menyeberang.
Andoy : Terima kasih, Bapa Pendeta."
Bpk. Pdt : "sekarang apa yang akan kamu lakukan?"
Andoy : "Aku hanya ingin menyapa Tuhan Yesus... sahabatku."
Lalu Pendeta itu segera meninggalkan Andoy untuk melewatkan waktunya bersama Tuhan, tapi kemudian Pdt. Agaton bersembunyi dibalik altar untuk mendengarkan apa yang dibicarakan Andoy.
Andoy mulai berbicara kepada Sahabatnya
Andoy : "Engkau tahu Tuhan, ujian matematikaku hari ini sangat buruk, tetapi aku tidak mencontek walaupun teman2ku yang lain melakukannya. Ayahku mengalami musim paceklik dan yang bisa kumakan hanyalah kue ini.Terima kasih buat kue ini Tuhan!. aku tadi melihat anak kucing malang yang kelaparan dan aku memberikan kueku yang terakhir buatnya.. lucunya, aku nggak begitu lapar. Lihat, ini sepatuku yang terakhir..mungkin minggu depan aku harus berjalan tanpa sepatu. Engkau tahu Tuhan sepatu ini akan rusak, tapi tak mengapa..yang terpenting aku tetap dapat pergi ke sekolah.
Tuhan¡K kata orang-orang kami akan mengalami musim panen yang susah bulan ini, karena itu beberapa temanku sudah berhenti sekolah. tolong bantu mereka supaya bisa sekolah lagi.
Oh ya, Engkau tahu Ibu memukulku lagi. Sakit sekali, tetapi aku bersyukur karena masih memiliki seorang ibu. Dan rasa sakit ini pasti akan hilang. Lihatlah lukaku ini Tuhan ??? Aku tahu Engkau mampu menyembuhkannya, disini bekas lukanya (Andoy memegang bekas lukanya) Tolong jangan marahi Ibuku ya..??? memang dia sedang lelah dan kuatir memikirkan kebutuhan makanan juga biaya sekolahku .. Itulah mengapa dia memukulku.
Oh ya..Tuhan. aku rasa aku sedang jatuh cinta saat ini. Ada seorang gadis yang cantik dikelasku, menurutMu apakah dia akan menyukaiku?
Ah..bagaimanapun juga aku tahu bahwa Engkau tetap menyukaiku karena aku tidak perlu menjadi siapapun untuk menyenangkan hatiMu. Engkau adalah sahabatku.
Hei.. Tuhan temanku, ulang tahunMu tinggal dua hari lagi, apakah Engkau gembira? Tunggu saja aku punya hadiah untukMu. tapi ini kejutan dan Aku harap Engkau menyukainya.Ooops aku harus pergi sekarang. Selamat siang"
Kemudian Andoy segera berlari keluar dan memanggil Pendeta Agaton.
Andoy : "Pak Pendeta..pa Pendeta..aku sudah selesai berbicara dengan Sahabatku, Tuhan Yesus, skarang anda bisa menemaniku menyeberang jalan!
Kegiatan tersebut berlangsung setiap hari, Andoy tidak pernah absen sekalipun.
Pendeta Agaton berbagi cerita ini kepada jemaat di Gerejanya setiap hari Minggu karena dia belum pernah melihat iman dan kepercayaan yang murni kepada Allah dan bersyukur saat situasi yang sulit terjadi seperti yang dimiliki Andoy.
Bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita juga memiliki iman seperti Andoy? Apakah kita juga berdoa untuk teman-teman seperti Andoy? Apakah kita juga tetap mengucap syukur disaat sulit seperti Andoy? Andoy sangat mengasihi Tuhan Yesus, dan menyebutnya Sahabat tepat seperti kata Yesus di dalam kitab Injil Yohanes 15;14 ¡§kamu adalah sahabatku jikalau kamu berbuat apa yang kuperintahkan kepadamu¡¨.
Saat hari Natal tiba, Pendeta Agaton jatuh sakit sehingga dia tidak bisa memimpin gereja dan dirawat di rumah sakit. Pengelolaan Gereja diserahkan kepada 4 wanita tua yang tidak pernah tersenyum, mereka selalu menyalahkan segala sesuatu yang diperbuat orang lain.
Hari itu tgl. 25 Desember ketika 4 wanita tua tadi sedang berada di gereja tiba-tiba masuklah Andoy dan hendak menyapa Sahabatnya.
Andoy: "Halo Tuhan..Aku ...'
4 Wanita : "Kurang ajar kamu bocah !!! Apakah matamu tidak melihat kami sedang berdoa ??!!! Keluar.!!!"
Andoy begitu terkejut, karena tidak pernah ia diusir oleh Pdt.Agaton.
Andoy: "Dimana Bapa Pendeta? Dia seharusnya membantuku menyeberangi jalan raya.. dia selalu menyuruhku mampir lewat pintu belakang Gereja. tidak hanya itu, aku juga harus menyapa Sahabatku, hari ini adalah hari ulang tahunNya, aku punya hadiah untukNya ."
Ketika Andoy hendak mengambil hadiah tersebut dari dalam bajunya, seorang dari keempat wanita itu menarik kerah bajunya dan mendorongnya keluar. Andoy sedih, bigung dan setelah berpikir sebentar ia tidak mempunyai pilihan lain kecuali sendirian menyeberangi jalan raya tersebut.
Di situ ada sebuah tikungan yang tidak terlihat pandangan, sebuah bus melaju dengan kencang dan Andoy mulai menyeberang sambil melindungi hadiah tadi di dalam bajunya, sehingga dia tidak melihat datangnya bus tadi. Tiba-tiba brakkk ... (terdengar bunyi gaduh dan bus tadi berhenti mendadak) Apa yang terjadi? ternyata karena tidak bisa menghindari bus besar tadi Andoy tertabrak dan tewas seketika. Orang-orang disekitarnya berlarian dan mengelilingi tubuh Andoy yang sudah tak bernyawa.
Sedih...Saat itu entah darimana munculnya tiba-tiba datang seorang pria berjubah putih dengan wajah yang lembut namun penuh dengan air mata, ia memeluk tubuh Andoy dan menangis.
Orang-orangpun heran, mereka penasaran lalu bertanya;
Orang-orang : " Maaf Tuan, apakah anda keluarga bocah malang ini ? Apakah anda mengenalnya ?"
Dengan hati yang berduka ia segera berdiri dan berkata : "Anak ini namanya Andoy, Dia adalah sahabatku."
Lalu diambilnya bungkusan hadiah dari dalam baju Andoy dan menaruh didadanya. Dia lalu berdiri dan membawa pergi tubuh Andoy. Kerumunan orang tersebut semakin penasaran...
Malam itu, Pendeta Agaton menerima berita yang sungguh mengejutkan. Dia berkunjung ke rumah Andoy. Ketika Pdt. Agaton bertemu dengan orangtua Andoy ia bertanya; "Bagaimana anda mengetahui putera anda meninggal ?" Ibu Andoy menjawab sambil menghapus airmatanya: "Seorang pria berjubah putih yang membawanya kemari." Pdt. Agaton bertanya lagi: "Apa katanya ?"
"Dia tidak mengucapkan sepatah katapun. Dia sangat berduka. Kami tidak mengenalnya namun dia terlihat sedih, sepertinya Dia mengenal Andoy dengan baik. Tetapi ada suatu kedamaian yang sulit untuk dijelaskan mengenai dirinya. Dia menyerahkan anak kami dan tersenyum lembut. Dia membelai rambut Andoy dan mencium keningnya kemudian Dia membisikkan sesuatu" Jawab ayah Andoy.
Pdt.Agaton ; "Apa yang dikatakannya ?"
Ayah Andoy menjawab; " Dia berkata Terima kasih buat kadonya. Aku akan segera berjumpa denganmu.engkau akan bersamaku." Dan sang Ayah melanjutkan, "Anda tahu kemudian. semuanya itu terasa begitu indah.. aku menangis karena bahagia .. aku tidak dapat menjelaskannya, ketika Dia meninggalkan kami ada suatu kedamaian yang memenuhi hati kami, Aku tahu puteraku sudah berada di Surga sekarang. Tapi Pak Pendeta tolonglah katakan siapakah Pria ini yang selalu bicara dengan puteraku setiap hari di Gerejamu? anda pasti mengenalnya karena anda selalu berada disana setiap hari, kecuali hari ini saat puteraku meninggal¡¨
Tiba-tiba air mata Pendeta Agaton menetes dipipinya, dengan lutut gemetar Pdt. Agaton berbisik, "Dia tidak berbicara dengan siapa-siapa.. kecuali dengan Tuhan Yesus."
Tahukah anda dimana Andoy berada sekarang? Ya ia berada di sorga bersama Tuhan Yesus. Inginkah kita sekalian juga ... berada di sorga nanti ? Ya kita semua menginginkannya.
Andoy memiliki hati yang selalu bersyukur. Walaupun situasi hidup yang dialaminya sulit tetapi ia selalu bergembira karena ia tahu Tuhan Yesus sahabatnya selalu mengasihi dia. Melalui peristiwa tabrakan tadi Tuhan Yesus datang menjemputnya ke sorga.
Firman Tuhan berkata di dalam Kitab Roma 8 : 28;¡§Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.¡¨
Mari kita sama-sama berdoa;
¡§Tuhan Yesus yang baik...
Seperti engkau mengenal Andoy dalam cerita tadi, Engkau juga mengenal kami. Ampunilah kami jikalau selama ini kami tidak berlaku setia; Kami hanya mengucapkan syukur kepadaMu saat keadaan kami baik, tetapi ketika kami mengalami masalah dan kehidupan kami menjadi sulit kami mengeluh dan tidak mengucap syukur.
Saat ini ya Tuhan Yesus...
Ajarlah kami mengucap syukur
Saat kami bersedih karena Engkaulah penghibur kami.
Saat kami sakit karena Engkaulah dokter yang ajaib.
Saat kami kecewa karena Engkau tidak pernah mengecewakan kami.
Saat kami lemah karena Engkau memberi kekuatan kepada kami.
Saat kami gagal karena Engkau tak pernah gagal.
Saat kami putus asa karena Engkaulah penolong kami
Tuhan Yesus yang baik...
Kini kami tahu bahwa dengan mengucap syukur dalam susah dan senang kami
Menyenangkan hatiMu.
Dalam namaMu Ya Tuhan Yesus kami berdoa. Amin
Bpk. Pdt : "Selamat pagi Andoy, apa kabarmu? Apakah kamu akan ke sekolah?"
Andoy : "Ya, Bapa Pendeta!" balas Andoy sambil tersenyum.
Bpk.Pdt : "Mulai sekarang saya akan membantu dan menemani kamu menyeberangi jalan raya tersebut setiap kali kamu akan menyeberang.
Andoy : Terima kasih, Bapa Pendeta."
Bpk. Pdt : "sekarang apa yang akan kamu lakukan?"
Andoy : "Aku hanya ingin menyapa Tuhan Yesus... sahabatku."
Lalu Pendeta itu segera meninggalkan Andoy untuk melewatkan waktunya bersama Tuhan, tapi kemudian Pdt. Agaton bersembunyi dibalik altar untuk mendengarkan apa yang dibicarakan Andoy.
Andoy mulai berbicara kepada Sahabatnya
Andoy : "Engkau tahu Tuhan, ujian matematikaku hari ini sangat buruk, tetapi aku tidak mencontek walaupun teman2ku yang lain melakukannya. Ayahku mengalami musim paceklik dan yang bisa kumakan hanyalah kue ini.Terima kasih buat kue ini Tuhan!. aku tadi melihat anak kucing malang yang kelaparan dan aku memberikan kueku yang terakhir buatnya.. lucunya, aku nggak begitu lapar. Lihat, ini sepatuku yang terakhir..mungkin minggu depan aku harus berjalan tanpa sepatu. Engkau tahu Tuhan sepatu ini akan rusak, tapi tak mengapa..yang terpenting aku tetap dapat pergi ke sekolah.
Tuhan¡K kata orang-orang kami akan mengalami musim panen yang susah bulan ini, karena itu beberapa temanku sudah berhenti sekolah. tolong bantu mereka supaya bisa sekolah lagi.
Oh ya, Engkau tahu Ibu memukulku lagi. Sakit sekali, tetapi aku bersyukur karena masih memiliki seorang ibu. Dan rasa sakit ini pasti akan hilang. Lihatlah lukaku ini Tuhan ??? Aku tahu Engkau mampu menyembuhkannya, disini bekas lukanya (Andoy memegang bekas lukanya) Tolong jangan marahi Ibuku ya..??? memang dia sedang lelah dan kuatir memikirkan kebutuhan makanan juga biaya sekolahku .. Itulah mengapa dia memukulku.
Oh ya..Tuhan. aku rasa aku sedang jatuh cinta saat ini. Ada seorang gadis yang cantik dikelasku, menurutMu apakah dia akan menyukaiku?
Ah..bagaimanapun juga aku tahu bahwa Engkau tetap menyukaiku karena aku tidak perlu menjadi siapapun untuk menyenangkan hatiMu. Engkau adalah sahabatku.
Hei.. Tuhan temanku, ulang tahunMu tinggal dua hari lagi, apakah Engkau gembira? Tunggu saja aku punya hadiah untukMu. tapi ini kejutan dan Aku harap Engkau menyukainya.Ooops aku harus pergi sekarang. Selamat siang"
Kemudian Andoy segera berlari keluar dan memanggil Pendeta Agaton.
Andoy : "Pak Pendeta..pa Pendeta..aku sudah selesai berbicara dengan Sahabatku, Tuhan Yesus, skarang anda bisa menemaniku menyeberang jalan!
Kegiatan tersebut berlangsung setiap hari, Andoy tidak pernah absen sekalipun.
Pendeta Agaton berbagi cerita ini kepada jemaat di Gerejanya setiap hari Minggu karena dia belum pernah melihat iman dan kepercayaan yang murni kepada Allah dan bersyukur saat situasi yang sulit terjadi seperti yang dimiliki Andoy.
Bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita juga memiliki iman seperti Andoy? Apakah kita juga berdoa untuk teman-teman seperti Andoy? Apakah kita juga tetap mengucap syukur disaat sulit seperti Andoy? Andoy sangat mengasihi Tuhan Yesus, dan menyebutnya Sahabat tepat seperti kata Yesus di dalam kitab Injil Yohanes 15;14 ¡§kamu adalah sahabatku jikalau kamu berbuat apa yang kuperintahkan kepadamu¡¨.
Saat hari Natal tiba, Pendeta Agaton jatuh sakit sehingga dia tidak bisa memimpin gereja dan dirawat di rumah sakit. Pengelolaan Gereja diserahkan kepada 4 wanita tua yang tidak pernah tersenyum, mereka selalu menyalahkan segala sesuatu yang diperbuat orang lain.
Hari itu tgl. 25 Desember ketika 4 wanita tua tadi sedang berada di gereja tiba-tiba masuklah Andoy dan hendak menyapa Sahabatnya.
Andoy: "Halo Tuhan..Aku ...'
4 Wanita : "Kurang ajar kamu bocah !!! Apakah matamu tidak melihat kami sedang berdoa ??!!! Keluar.!!!"
Andoy begitu terkejut, karena tidak pernah ia diusir oleh Pdt.Agaton.
Andoy: "Dimana Bapa Pendeta? Dia seharusnya membantuku menyeberangi jalan raya.. dia selalu menyuruhku mampir lewat pintu belakang Gereja. tidak hanya itu, aku juga harus menyapa Sahabatku, hari ini adalah hari ulang tahunNya, aku punya hadiah untukNya ."
Ketika Andoy hendak mengambil hadiah tersebut dari dalam bajunya, seorang dari keempat wanita itu menarik kerah bajunya dan mendorongnya keluar. Andoy sedih, bigung dan setelah berpikir sebentar ia tidak mempunyai pilihan lain kecuali sendirian menyeberangi jalan raya tersebut.
Di situ ada sebuah tikungan yang tidak terlihat pandangan, sebuah bus melaju dengan kencang dan Andoy mulai menyeberang sambil melindungi hadiah tadi di dalam bajunya, sehingga dia tidak melihat datangnya bus tadi. Tiba-tiba brakkk ... (terdengar bunyi gaduh dan bus tadi berhenti mendadak) Apa yang terjadi? ternyata karena tidak bisa menghindari bus besar tadi Andoy tertabrak dan tewas seketika. Orang-orang disekitarnya berlarian dan mengelilingi tubuh Andoy yang sudah tak bernyawa.
Sedih...Saat itu entah darimana munculnya tiba-tiba datang seorang pria berjubah putih dengan wajah yang lembut namun penuh dengan air mata, ia memeluk tubuh Andoy dan menangis.
Orang-orangpun heran, mereka penasaran lalu bertanya;
Orang-orang : " Maaf Tuan, apakah anda keluarga bocah malang ini ? Apakah anda mengenalnya ?"
Dengan hati yang berduka ia segera berdiri dan berkata : "Anak ini namanya Andoy, Dia adalah sahabatku."
Lalu diambilnya bungkusan hadiah dari dalam baju Andoy dan menaruh didadanya. Dia lalu berdiri dan membawa pergi tubuh Andoy. Kerumunan orang tersebut semakin penasaran...
Malam itu, Pendeta Agaton menerima berita yang sungguh mengejutkan. Dia berkunjung ke rumah Andoy. Ketika Pdt. Agaton bertemu dengan orangtua Andoy ia bertanya; "Bagaimana anda mengetahui putera anda meninggal ?" Ibu Andoy menjawab sambil menghapus airmatanya: "Seorang pria berjubah putih yang membawanya kemari." Pdt. Agaton bertanya lagi: "Apa katanya ?"
"Dia tidak mengucapkan sepatah katapun. Dia sangat berduka. Kami tidak mengenalnya namun dia terlihat sedih, sepertinya Dia mengenal Andoy dengan baik. Tetapi ada suatu kedamaian yang sulit untuk dijelaskan mengenai dirinya. Dia menyerahkan anak kami dan tersenyum lembut. Dia membelai rambut Andoy dan mencium keningnya kemudian Dia membisikkan sesuatu" Jawab ayah Andoy.
Pdt.Agaton ; "Apa yang dikatakannya ?"
Ayah Andoy menjawab; " Dia berkata Terima kasih buat kadonya. Aku akan segera berjumpa denganmu.engkau akan bersamaku." Dan sang Ayah melanjutkan, "Anda tahu kemudian. semuanya itu terasa begitu indah.. aku menangis karena bahagia .. aku tidak dapat menjelaskannya, ketika Dia meninggalkan kami ada suatu kedamaian yang memenuhi hati kami, Aku tahu puteraku sudah berada di Surga sekarang. Tapi Pak Pendeta tolonglah katakan siapakah Pria ini yang selalu bicara dengan puteraku setiap hari di Gerejamu? anda pasti mengenalnya karena anda selalu berada disana setiap hari, kecuali hari ini saat puteraku meninggal¡¨
Tiba-tiba air mata Pendeta Agaton menetes dipipinya, dengan lutut gemetar Pdt. Agaton berbisik, "Dia tidak berbicara dengan siapa-siapa.. kecuali dengan Tuhan Yesus."
Tahukah anda dimana Andoy berada sekarang? Ya ia berada di sorga bersama Tuhan Yesus. Inginkah kita sekalian juga ... berada di sorga nanti ? Ya kita semua menginginkannya.
Andoy memiliki hati yang selalu bersyukur. Walaupun situasi hidup yang dialaminya sulit tetapi ia selalu bergembira karena ia tahu Tuhan Yesus sahabatnya selalu mengasihi dia. Melalui peristiwa tabrakan tadi Tuhan Yesus datang menjemputnya ke sorga.
Firman Tuhan berkata di dalam Kitab Roma 8 : 28;¡§Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.¡¨
Mari kita sama-sama berdoa;
¡§Tuhan Yesus yang baik...
Seperti engkau mengenal Andoy dalam cerita tadi, Engkau juga mengenal kami. Ampunilah kami jikalau selama ini kami tidak berlaku setia; Kami hanya mengucapkan syukur kepadaMu saat keadaan kami baik, tetapi ketika kami mengalami masalah dan kehidupan kami menjadi sulit kami mengeluh dan tidak mengucap syukur.
Saat ini ya Tuhan Yesus...
Ajarlah kami mengucap syukur
Saat kami bersedih karena Engkaulah penghibur kami.
Saat kami sakit karena Engkaulah dokter yang ajaib.
Saat kami kecewa karena Engkau tidak pernah mengecewakan kami.
Saat kami lemah karena Engkau memberi kekuatan kepada kami.
Saat kami gagal karena Engkau tak pernah gagal.
Saat kami putus asa karena Engkaulah penolong kami
Tuhan Yesus yang baik...
Kini kami tahu bahwa dengan mengucap syukur dalam susah dan senang kami
Menyenangkan hatiMu.
Dalam namaMu Ya Tuhan Yesus kami berdoa. Amin
Sunday, July 24, 2011
Membaca Hati

"Membaca itu tidak sekedar melihat. Sahabat yang baik akan lebih banyak 'membaca' hati kita dari pada sekedar 'melihat' keadaan kita."
Seorang anak kecil yang sedang belajar membaca, bertanya kepada ayahnya yang sedang mengemudikan mobilnya, "Kenapa sih mobil di depan ada tulisan BELAJAR?"
"Oh, itu berarti mobil khusus untuk belajar stir, sayang. Om yang nyopir mobil itu sedang belajar setir mobil."
"Lalu kenapa truk yang di sebelahnya ada tulisan AWAS REM MENDADAK?"
"Maksudnya, itu untuk peringatan mobil di belakangnya, bahwa sewaktu-waktu sopirnya bisa menginjak rem dan berhenti mendadak. Supaya tidak tabrakan!"
"Oh, maksudnya supaya kendaraan yang lain hati-hati?"
"Iya nak, benar sekali."
"Kan udah ada lampu rem yang menyala, atau lampu kedip-kedip kalau mau belok?"
"Benar, tetapi pemilik mobil di depan mungkin merasa belum cukup untuk hanya sekedar memberitahu kendaraan dibelakangnya dengan lampu rem atau lampu sein! Mereka memasang tulisan di belakang agar kendaraan lain waspada. Orang perlu membaca dari pada sekedar melihat tanda."
Benar, seperti kata si Ayah di atas. Seperti komunikasi di jalan raya, semua orang sebenarnya dikaruniai kemampuan untuk "melihat" tanda-tanda tetapi jarang yang mampu untuk "membaca" tanda-tanda itu. Ketika orang terdiam, kita hanya melihat dia sedang bad-mood, dan tidak berusaha "membaca" apa yang terjadi dengan dirinya. Ketika orang marah-marah, kita hanya melihat kemarahannya saja, dan tidak pernah "membaca" dengan sungguh-sungguh ada apa di balik kemarahannya. Kita cenderung melihat hanya "lampu rem" dan "lampu sein", tanpa pernah tahu maksud sesungguhnya kenapa mereka menginjak rem atau menyalakan lampu sein.
Menjadi sahabat yang baik tidak hanya "melihat" mereka sebagai teman dalam segala keadaannya, tetapi juga bisa "membaca" apa yang sedang terjadi di dalam hati sesungguhnya, memahaminya serta ikut merasakannya.
Kita semua adalah anak kecil di atas yang sesungguhnya sedang belajar "membaca", sedang belajar untuk bisa “ber-empathy”
Monday, May 16, 2011
Menyenangkan Hati Bapa

Filipi 1:21. Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.
Sering kita dengar orang berkata, dan mungkin juga kita katakan, “Tuhan Yesus,
Engkau berarti bagiku.” Kedengarannya sederhana, namun harus kita persoalkan,
mengapa Ia berarti bagi kita? Untuk menjawab pertanyaan ini, perlu ada jembatan
untuk membuka pikiran kita menemukan jawabannya yang tepat.
Coba kita pikirkan, mengapa jam tangan berarti bagi kita? Mengapa pulpen berarti
bagi kita? Mengapa komputer berarti bagi kita? Mengapa mobil berarti bagi kita?
Jawabannya sederhana, yaitu karena benda-benda tersebut berfungsi sesuai dengan
maksudnya dibuat. Sesuatu menjadi berarti kalau berfungsi sesuai dengan maksud
penciptanya. Kalau begitu apakah kita bisa bertanya, “Apakah Tuhan sudah
berfungsi bagi kita?” Ternyata tidak bisa begitu, sebab bukan kita yang
menciptakan Tuhan; Tuhanlah yang menciptakan kita. Kitalah yang harus bertanya
dan memikirkan, apa fungsi kita bagi rencana dan kehendak-Nya.
Dalam berurusan dengan Tuhan, banyak orang hanya mempersoalkan apa fungsi,
manfaat dan kegunaan memiliki Tuhan. Ini juga sering dipromosikan oleh pembicara
Kristen tertentu di mimbarnya. Itu cara berpikir yang salah, sebab sejatinya
sama saja dengan pola berpikir orang yang pergi ke dukun. Inilah yang
menyesatkan banyak orang beragama.
Seharusnya sebagai objek ciptaan Tuhan, kitalah yang harus bertanya kepada-Nya,
“Apa yang membuat aku berarti bagi-Mu, Tuhan?” Sama seperti jam tangan, pulpen,
mobil dan berbagai peralatan lain, semuanya diciptakan untuk maksud-maksud
tertentu bagi kepentingan manusia. Bukan manusia yang berkata kepada pulpennya,
“Bagaimana agar aku berarti bagimu?” tetapi pulpenlah yang harus tahu diri dan
mempersoalkan apa yang membuatnya berarti bagi manusia.
Jadi, saat kita berkata kepada Tuhan, “Apa yang membuat aku berarti bagi-Mu,
Tuhan?”, berarti kita harus sadar bahwa kita diciptakan oleh-Nya dan hidup
menurut kehendak-Nya. Hanya manusialah yang mempersoalkan hal ini, binatang
tidak. Jadi, kalau manusia tidak mempersoalkan hal ini, kualitas hidupnya
bukanlah kualitas hidup yang dikehendaki oleh Tuhan. Keselamatan dalam Yesus
Kristus harus bisa membawa seseorang pada pernyataan, “Bagiku hidup adalah
Kristus dan mati adalah keuntungan”. Sampai pada taraf hidup ini, seseorang
barulah bisa berkata, “Kau berarti bagiku Tuhan, sebab dengan menemukan tempatku
untuk melayani-Mu aku menemukan keindahan hidup ini. Kalau aku tidak menemukan
tempatku untuk melayani-Mu, lebih baik aku tidak pernah ada.”
Kita harus sadar bahwa kita diciptakan oleh-Nya dan hidup menurut kehendak-Nya.
Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.
Sering kita dengar orang berkata, dan mungkin juga kita katakan, “Tuhan Yesus,
Engkau berarti bagiku.” Kedengarannya sederhana, namun harus kita persoalkan,
mengapa Ia berarti bagi kita? Untuk menjawab pertanyaan ini, perlu ada jembatan
untuk membuka pikiran kita menemukan jawabannya yang tepat.
Coba kita pikirkan, mengapa jam tangan berarti bagi kita? Mengapa pulpen berarti
bagi kita? Mengapa komputer berarti bagi kita? Mengapa mobil berarti bagi kita?
Jawabannya sederhana, yaitu karena benda-benda tersebut berfungsi sesuai dengan
maksudnya dibuat. Sesuatu menjadi berarti kalau berfungsi sesuai dengan maksud
penciptanya. Kalau begitu apakah kita bisa bertanya, “Apakah Tuhan sudah
berfungsi bagi kita?” Ternyata tidak bisa begitu, sebab bukan kita yang
menciptakan Tuhan; Tuhanlah yang menciptakan kita. Kitalah yang harus bertanya
dan memikirkan, apa fungsi kita bagi rencana dan kehendak-Nya.
Dalam berurusan dengan Tuhan, banyak orang hanya mempersoalkan apa fungsi,
manfaat dan kegunaan memiliki Tuhan. Ini juga sering dipromosikan oleh pembicara
Kristen tertentu di mimbarnya. Itu cara berpikir yang salah, sebab sejatinya
sama saja dengan pola berpikir orang yang pergi ke dukun. Inilah yang
menyesatkan banyak orang beragama.
Seharusnya sebagai objek ciptaan Tuhan, kitalah yang harus bertanya kepada-Nya,
“Apa yang membuat aku berarti bagi-Mu, Tuhan?” Sama seperti jam tangan, pulpen,
mobil dan berbagai peralatan lain, semuanya diciptakan untuk maksud-maksud
tertentu bagi kepentingan manusia. Bukan manusia yang berkata kepada pulpennya,
“Bagaimana agar aku berarti bagimu?” tetapi pulpenlah yang harus tahu diri dan
mempersoalkan apa yang membuatnya berarti bagi manusia.
Jadi, saat kita berkata kepada Tuhan, “Apa yang membuat aku berarti bagi-Mu,
Tuhan?”, berarti kita harus sadar bahwa kita diciptakan oleh-Nya dan hidup
menurut kehendak-Nya. Hanya manusialah yang mempersoalkan hal ini, binatang
tidak. Jadi, kalau manusia tidak mempersoalkan hal ini, kualitas hidupnya
bukanlah kualitas hidup yang dikehendaki oleh Tuhan. Keselamatan dalam Yesus
Kristus harus bisa membawa seseorang pada pernyataan, “Bagiku hidup adalah
Kristus dan mati adalah keuntungan”. Sampai pada taraf hidup ini, seseorang
barulah bisa berkata, “Kau berarti bagiku Tuhan, sebab dengan menemukan tempatku
untuk melayani-Mu aku menemukan keindahan hidup ini. Kalau aku tidak menemukan
tempatku untuk melayani-Mu, lebih baik aku tidak pernah ada.”
Kita harus sadar bahwa kita diciptakan oleh-Nya dan hidup menurut kehendak-Nya.
Dimodifikasi dari Truth Daily Enlightenment, dengan ijin penerbit.
Subscribe to:
Posts (Atom)
