kumpulan ilustrasi kotbah,ilustrasi kristen, ilustrasi kotbah kristen, humor dan artikel rohani , yang dapat digunakan untuk tambahan materi kotbah.
Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.( Yohanes 15 : 16 )
Friday, December 09, 2011
Lepaskan
Rupanya toples itu adalah perangkap yang ditaruh di sana oleh seorang pemburu. Salah seekor monyet muda mendekat dan memasukkan tangannya ke dalam toples untuk mengambil kacang-kacang tersebut. Akan tetapi tangannya yang terkepal menggenggam kacang tidak dapat dikeluarkan dari sana karena kepalan tangannya lebih besar daripada ukuran leher toples itu.
Monyet ini meronta ronta untuk mengeluarkan tangannya itu, namun tetap saja gagal. Seekor monyet tua menasihati monyet muda itu: `Lepaskanlah kepalanmu atas kacang-kacang itu! Engkau akan bebas dengan mudah! Namun monyet muda itu tidak mengindahkan anjuran tersebut, tetap saja ia bersikeras menggenggam kacang itu.
Beberapa saat kemudian, sang pemburu datang dari kejauhan. Sang monyet tua kembali meneriakkan nasihatnya: `Lepaskanlah kepalanmu sekarang juga agar engkau bebas!Monyet muda itu ketakutan, namun tetap saja ia bersikeras untuk mengambil kacang itu. Akhirnya, ia tertangkap oleh sang pemburu.
Renungan,
Demikianlah, kadang kita juga sering mencengkeram dan tidak rela melepaskan hal-hal yang sepatutnya kita lepaskan: kemarahan, kebencian, iri hati, ketamakan, dan sebagainya. Apabila kita tetap tak bersedia melepas, tatkala kematian datang menangkap kita, semuanya akan terlambat sudah.
Bukankah lebih mudah jika kita melepaskan setiap masalah yang lampau, dan menatap hari esok dengan lebih cerah? Bukankah dunia akan menjadi lebih indah jika kita bisa melepaskan "kepalan" kita dan membagi kebahagiaan dengan orang lain?
.
Buat tanganmu terbuka untuk selalu siap merengkuh masa depan... terbuka menyambut sahabat... Its True sob....
Sunday, November 27, 2011
WHEN GOD DOESN'T MAKE SENSE
Ya....benar sekali, Ochie adalah keponakan kandung saya.
Putri sulung dari abang saya.
Semua mengenalnya sebagai anak yang cantik, baik hati, sopan, suka tersenyum, suka menolong teman dan sangat suka belajar.
Saya ingat semasa balita, orang-orang senang mencubit pipinya karena sangat cantik dan menggemaskan.
Desember 2010, saya mendapat kabar kalau Ochie demam tinggi, dan ketika dibawa ke RS, hasil pemeriksaan menyatakan mengidap penyakit LEUKEMIA. KANKER DARAH. Seperti petir di siang bolong. Begitu tiba-tiba.
Ochie menjalani perawatan intensif di sebuah Rumah Sakit khusus kanker di Subang, Malaysia. Dan dipastikan, ya... memang Ochie menderita penyakit Leukemia. Perkiraan dokter waktu itu hanya butuh beberapa bulan saja untuk menangani penyakit tsb.
Bulan demi bulan dilalui, ternyata penyakit ini tidak mudah untuk diatasi. tidak seperti perkiraaan dokter semula. Leukemia yang diderita Ochie sangat agresif sekali.
Meskipun begitu, anak yang suka tersenyum ini, benar-benar menunjukkan perjuangannya melawan penyakit yang sangat ganas ini. Berkali-kali menjalani kemoterapi, hingga semua rambut rontok, dan berbagai tindakan medis lainnya, yang sangat menyakiti tubuh anak belasan tahun ini, tidak mampu melumpuhkan semangat hidupnya.
Ada 1 jenis obat yang bila diminum akan membuat Ochie kesakitan dari ujung kepala sampai ujung kaki, tapi tidak pernah ia menolak atau enggan untuk mengkonsumsi obat tsb.
Semangat hidupnya tergambar jelas dalam salah satu status di twitternya, Ochie menulis :
"I HAVE CANCER, I HATE CANCER, AND I'M KILLING CANCER"
Semua keluarga yang menyaksikan perjuangannya setuju bahwa Ochie tidak mau diintimidasi oleh penyakitnya. Tidak sekalipun kelihatan anak kecil ini mengeluh. Setiap orang yang membesuknya selalu melihat senyuman menghiasi wajah Ochie.
Padahal semua orang tahu bagaimana rasa sakit yang dideritanya.
Banyak pasien lain yang mengalami derita seperti Ochie, mulai patah semangat, murung, dan tidak mau makan. Ochie sebaliknya, selalu tersenyum.
Apapun yang disediakan dia makan dengan lahap (kita bisa terkecoh, dan menyangka makanan yang dimakannya sangat lezat).
Nggak heran, badannya bukan semakin kurus, malah lebih gemuk dan segar daripada sebelum didiagnosa Leukemia.
Suatu ketika, melihat Ochie yang makan dengan sangat lahap, mamanya ingin mencicipi makanannya tersebut, dan akhirnya menyadari ternyata makanan itu sangat plain, tidak seperti yang dibayangkan.
Sang mama menangis dalam hati menyadari betapa putrinya ini sangat berjuang melawan Leukemia.
Setelah 10 bulan berjuang, akhirnya Ochie menghembuskan nafas terakhir,
4 Oktober 2011 di tengah keluarga yang mengasihinya. Ia sempat berpesan kepada adiknya Catherine supaya menjaga kesehatannya, Ochie sempat memeluk erat papanya, dan ia juga mengucapkan terimakasih kepada mama yang tidak pernah lelah menemani dan merawatnya selama sakit.
Banyak orang yang mengenalnya menangis dan bertanya "WHY GOD?"
Selama 10 bulan semua keluarga tahu bagaimana Ochie dan seluruh keluarga berdoa kepada Tuhan memohon kesembuhan. Papanya meninggalkan pekerjaannya selama 10 bulan untuk bisa mendampingi Ochie, sang mama juga selalu ada di sampingnya, merawat Ochie sambil tekun berdoa memohon kemurahan Tuhan untuk kesembuhan anak terkasih.
Setiap pagi dan malam di RS mereka membaca firman Tuhan, memuji, menyembah dan berdoa, mendekatkan diri kepada Tuhan. Keluarga ini masuk dalam keintiman yang sangat dalam kepada Tuhan, yang belum pernah mereka alami sebelumnya.
Mulai dari dokter, suster, bahkan janitor di RS negeri tetangga ini pun mengasihi anak kecil yang tabah, dan suka tersenyum ini.
Ochie menjadi pasien favorit di RS.
Ada keluarga pasien lain yang sama-sama menderita Leukemia, berwarganegara Malaysia, juga sangat mengasihi Ochie. Sering membeli keperluan-keperluan Ochie, membawakan makanan untuk Ochie.
Semua orang yang mengenalnya di sana mengasihinya..
Muncul pertanyaan, kalau manusia saja sangat mengasihi Ochie, masakan Tuhan tidak menunjukkan belas kasihnya dengan menyembuhkan Ochie?
Mengapa Tuhan? Bukankah Ochie anak yang baik? Bukankah ia meminta dengan sangat supaya Engkau menyembuhkannya? Ohhh Tuhan, .... bagaimana mungkin anak yang Kau beri otak yang pintar (angka-angka yang menghiasi raportnya rata-rata angka 9) tidak Engkau beri kesempatan berkarya bagi Tuhan lebih lagi? Ohhh Tuhan,,,,,,, Air mata membanjiri hati keluarga, dan teman-teman yang mengasihi Ochie.
Saya sebagai tantenya juga sangat berduka.
Semalam sebelum kepergiannya, saya menangis berdoa di hadapan Tuhan, dengan berpegang kepada 1 ayat firman Tuhan saya berdoa "Tuhan, jangan ambil Ochie di pertengahan umurnya. Ijinkan dia menggenapi seluruh rencanaMu dalam hidupnya"
Ditengah-tengah galaunya pikiran yang dipenuhi pertanyaan "kenapa ?", satu kesaksian yang membuat hati saya bisa berkata "God makes sense" (sekalipun belum mengerti) adalah ketika kemudian mendengar bahwa 2 hari sebelum pulang ke rumah Bapa, Ochie berkata kepada mamanya,
Yesus sudah menyediakan rumah baru untuk Ochie, sehingga Ochie harus pulang. Pertandingannya sudah selesai. Ochie sudah sampai garis FINISH.
Teman-teman sekolah yang sudah 10 bulan tidak ditemuinya, menyempatkan diri datang ke rumah duka mengucapkan perpisahan terakhir kali.
Bahkan menulis lagu perpisahan dan menyanyikannya untuk Ochie.
Mereka juga minta ijin kepada pihak sekolah agar diberi kesempatan mengantarkan Ochie ke tempat peristirahatan terakhir. Tidak hanya berseragam putih-biru selayaknya siswa SMP, bahkan banyak yang berseragam putih-abu-abu, siswa SMA. Panas terik cuaca saat itu tidak mengurungkan niat mereka untuk ikut sampai ke tempat Ochie akan dikebumikan.
Guru yang pernah mengajarnya ketika masih TK juga datang ke rumah duka. Kalau bukan karena Ochie anak yang menyenangkan, tidak mungkin guru yang mengajarnya 10 tahun yang lalu masih ingat kepadanya. Orangtua teman-temannya juga menyempatkan diri untuk menyampaikan kesaksian mereka tentang Ochie. Melihat banyaknya teman dan saudara yang mengasihinya, kita mungkin cenderung akan mengingat Ochie sebagai anak yang baik, supel, pintar bergaul, sehingga dikasihi semua.
Sebelum membuka halaman demi halaman yang ada di dalam diary itu, apa yang ada dalam benak Anda?
Pastilah isi dari diary itu kira-kira seperti ini:
Dear Diary..... hari ini aku merasakan sakit yang luar biasa, .... aku sudah nggak kuat lagi ...
Dear Diary ......kenapa ya Tuhan mengijinkan aku mengalami sakit ini?
Dear Diary... kok aku nggak sembuh-sembuh ? Tuhan kenapa nggak tolong Ochie? Apa Tuhan nggak sayang sama Ochie?
TERNYATA ...............
Kapan Ochie menuliskan ayat-ayat di dalam Diary ini ?
Apakah ketika ia sedang dalam kondisi agak fit ? Yang sangat jarang terjadi?
Papanya bersaksi, bukan hanya ketika kondisinya baik, bahkan ketika merasa sakit pun Ochie tetap menuliskan ayat-ayat firman Tuhan yang menguatkan imannya.
Di antara ayat-ayat tersebut ada yang diberi kotak merah :
Karena Ochie tetap menulis bahkan ketika ia sedang di tengah rasa sakit yang hebat, saya bisa merasakan sukacitanya sekalipun doanya belum dijawab. Saya bisa merasakan pengucapan syukurnya, sekalipun Ochie tidak melihat adanya fakta untuk mengucap syukur.
Rasa penasaran saya membuat saya terus membuka halaman demi halaman sampai tulisan tangannya yang terakhir. Saya menghitung.
Semuanya ada 101 halaman yang berisi tulisan tangannya.
Total ada 599 ayat dari Alkitab yang ditulisnya ulang di diary ini.
WHAT WOULD YOU DO WHEN GOD DOESN'T MAKE SENSE ?
Banyak kejadian dimana kelihatannya tindakan Tuhan tidak makes sense.
Kenapa harus berputar kembali dan terpojok di tepi Laut Teberau menghadapi serbuan tentara Mesir ? Kenapa hanya ada manna?
Kenapa harus menghadapi kehausan dan kekurangan air di padang gurun?
Kenapa Musa yang diangkat menjadi pemimpin?
Saya menemukan kata 'COMPLAIN' di perjalanan bangsa Israel tersebut lebih banyak dari pada kata 'PRAISE' atau ucapan syukur.
Apa yang dialami Ochie, bagi kami keluarganya, bagi teman-teman yang mengasihinya, sepertinya nggak masuk akal.
Tapi kalau teman-teman membaca diary Ochie, teman-teman akan melihat sosok seorang anak yang berusaha tetap mengucap syukur sekalipun nggak mengerti kenapa semuanya Tuhan ijinkan terjadi.
599 ayat Alkitab yang ditulisnya menggambarkan isi hati Ochie yang mungkin tidak pernah diungkapkannya kepada orang lain. Tapi diungkapkannya dihadapan Tuhan, Penciptanya.
STOP COMPLAINING. START PRAISING.
Percakapan dengan adik kelas yang menderita kanker otak dan sama seperti Ochie harus menjalani kemoterapi dan mengalami rasa sakit yang mungkin hampir mirip dengan Ochie.
Sang adik kelas mengeluhkan tentang rasa sakit tersebut, merasa putus asa atas siksaan yang tak kunjung reda.
Apa yang Ochie tuliskan di situ?
Ochie menghibur adik kelasnya, mengatakan: "Jangan percaya perkataan vonis dokter .... Tuhan Yesus lebih berkuasa. Tuhan Yesus itu baik....."
Dan ketika papa Ochie melihat tanggal postingan chatting-chatting tersebut, air mata menetes.
Itu adalah tanggal-tanggal dimana puterinya sedang merasa kesakitan,
itu adalah hari-hari dimana Ochie belum melihat tangan Tuhan menolong....
tapi Ochie menghibur temannya seolah-olah dia sudah mengalami jawaban, Ochie menguatkan sahabatnya seolah-olah dia sendiri sudah mengalami kesembuhan.
Ketika dokter di Singapore berkata bone marrow Ochie sudah rusak, Ochie menyatakan imannya di status twitternya:
Bahkan ketika ujung dari perjuangannya, ... akhir dari imannya bukanlah kesembuhan, Ochie tidak complain, tapi mengucap syukur dalam segala keadaan. Dia percayakan hidupnya kepada PenciptaNya.
Apa yang akan kita lakukan saat apa yang Tuhan ijinkan nggak masuk akal?
Karena Tuhan berjanji bagi semua umatNya, Dia tidak pernah merancangkan kecelakaan even yang kita lihat sepertinya kecelakaan.
Melainkan rancangan damai sejahtera yang membawa kita kepada hari depan yang penuh harapan. (Yeremia 29:11)
KEEP REJOICING. KEEP PRAYING. KEEP THANKING.
Kehadirannya yang singkat mengajarkan saya banyak hal.
Untuk tetap percaya bahwa Tuhan itu baik, ... apapun kenyataan di hadapan.
Apa yang saya baca dari diary tersebut membuat saya mengerti seperti apa Ochie ingin dikenang.
Bukan semata sebagai anak dan kakak yang penurut dan baik, bukan hanya sebagai teman yang setia, bukan hanya sebagai murid yang pintar dan rajin, tetapi lebih dari pada itu semua, .......
Andrika G.Manik, Ellys Silalahi, dan Catherine Manik.
Air mata belum lagi kering, tapi berbahagialah karena kalian adalah orangtua yang diberkati memiliki puteri seperti Ochie, dan adik yang harus bangga memiliki kakak yang teguh imannya seperti kak Ochie.
Apa yang diperbuat Ochie dalam waktu yang singkat, telah memberkati banyak orang untuk tidak menyerah dan tetap menaruh percaya dan harap kepada Tuhan Yesus yang baik. Sambil tetap menugucap syukur kepadaNya dalam segala keadaan.
All blessings,
Julita Manik
Saturday, November 26, 2011
Catatan Seorang Pramugari
Pada tanggal 7 Juni yang lalu saya menjumpai suatu pengalaman yang membuat perubahan pandangan saya terhadap pekerjaan maupun hidup saya.
Hari ini jadwal perjalanan kami adalah dari Shanghai menuju Peking, penumpang sangat penuh pada hari ini.
Diantara penumpang saya melihat seorang kakek dari desa, merangkul sebuah karung tua dan terlihat jelas sekali gaya desanya. Pada saat itu saya yang berdiri dipintu pesawat menyambut penumpang.
Kesan pertama dari pikiran saya ialah zaman sekarang sungguh sudah maju seorang dari desa sudah mempunyai uang untuk naik pesawat.
Ketika pesawat sudah terbang, kami mulai menyajikan minuman, ketika melewati baris ke 20, saya melihat kembali kakek tua tersebut, dia duduk dengan tegak dan kaku di tempat duduknya dengan memangku karung tua bagaikan patung.
Kami menanyakannya mau minum apa, dengan terkejut dia melambaikan tangan menolak. Kami hendak membantunya meletakan karung tua diatas bagasi tempat duduk juga ditolak olehnya, lalu kami membiarkannya duduk dengan tenang, menjelang pembagian makanan kami melihat dia duduk dengan tegang ditempat duduknya, kami menawarkan makanan juga ditolak olehnya.
Akhirnya kepala pramugari dengan akrab bertanya kepadanya apakah dia sakit, dengan suara kecil dia menjawab bahwa dia hendak ke toilet tetapi dia takut apakah di pesawat boleh bergerak sembarangan, takut merusak barang didalam pesawat.
Kami menjelaskan kepadanya bahwa dia boleh bergerak sesuka hatinya dan menyuruh seorang pramugara mengantar dia ke toilet.
Pada saat menyajikan minuman yang kedua kali, kami melihat dia melirik ke penumpang di sebelahnya dan menelan ludah, dengan tidak menanyakannya kami meletakan segelas minuman teh di meja dia. Ternyata gerakan kami mengejutkannya, dengan terkejut dia mengatakan "tidak usah, tidak usah."
Kami mengatakan, "Engkau sudah haus, minumlah," Pada saat itu dengan spontan dari sakunya dikeluarkan segenggam uang logam yang disodorkan kepada kami. Kami menjelaskan kepadanya minumannya gratis, dia tidak percaya. Katanya saat dia dalam perjalanan menuju bandara, merasa haus dan meminta air kepada penjual makanan dipinggir jalan dia tidak diladeni malah diusir. Pada saat itu kami mengetahui demi menghemat biaya perjalanan dari desa dia berjalan kaki sampai mendekati bandara baru naik mobil, karena uang yang dibawa sangat sedikit, hanya dapat meminta minuman kepada penjual makanan dipinggir jalan. Itupun kebanyakan ditolak dan dianggap sebagai pengemis.
Setelah kami membujuk dia terakhir dia percaya dan duduk dengan tenang meminum secangkir teh, kami menawarkan makanan tetapi ditolak olehnya.
Dia menceritakan bahwa dia mempunyai dua orang putra yang sangat baik. Putra sulung sudah bekerja di kota dan yang bungsu sedang kuliah ditingkat tiga di Peking. Anak sulung yang bekerja di kota pernah menjemput kedua orang tuanya untuk tinggal bersama di kota, tetapi kedua orang tua tersebut tidak biasa tinggal dikota akhirnya pindah kembali ke desa.
Kali ini orang tua tersebut hendak menjenguk putra bungsunya di Peking. Anak sulungnya tidak tega orang tua tersebut naik mobil begitu jauh, sehingga membeli tiket pesawat dan menawarkan menemani bapaknya bersama-sama ke Peking. Tetapi ditolak olehnya karena dianggap terlalu boros dan tiket pesawat sangat mahal. Dia bersikeras dapat pergi sendiri akhirnya dengan terpaksa disetujui anaknya, dengan merangkul sekarung penuh ubi kering yang disukai anak bungsunya.
Ketika melewati pemeriksaan keamanan di bandara, dia disuruh menitipkan karung tersebut ditempat bagasi tetapi dia bersikeras membawa sendiri, katanya jika ditaruh ditempat bagasi ubi tersebut akan hancur dan anaknya tidak suka makan ubi yang sudah hancur.
Akhirnya kami membujuknya meletakkan karung tersebut di atas bagasi tempat duduk, akhirnya dia bersedia dengan hati-hati dia meletakkan karung tersebut.
Saat dalam penerbangan kami terus menambah minuman untuknya, dia selalu membalas dengan ucapan terima kasih yang tulus, tetapi dia tetap tidak mau makan, meskipun kami mengetahui sesungguhnya dia sudah sangat lapar.
Saat pesawat hendak mendarat dengan suara kecil dia menanyakan saya apakah ada kantongan kecil, dan meminta saya meletakkan makanannya di kantong tersebut. Dia mengatakan bahwa dia belum pernah melihat makanan yang begitu enak, dia ingin membawa makanan tersebut untuk anaknya. Kami semua sangat kaget. Menurut kami yang setiap hari melihat makanan yang begitu biasa, dimata seorang desa menjadi begitu berharga.
Dengan menahan lapar, disisihkannya makanan tersebut demi anaknya, dengan terharu kami mengumpulkan makanan yang masih tersisa yang belum kami bagikan kepada penumpang ditaruh di dalam suatu kantongan yang akan kami berikan kepada kakek tersebut.
Tetapi diluar dugaan dia menolak pemberian kami, dia hanya menghendaki bagian dia yang belum dimakan tidak menghendaki yang bukan miliknya sendiri. Perbuatan yang tulus tersebut benar-benar membuat saya terharu dan menjadi pelajaran berharga bagi saya.
Sebenarnya kami menganggap semua hal tersebut sudah berlalu, tetapi siapa menduga pada saat semua penumpang sudah turun dari pesawat, dia yang terakhir berada di pesawat. Kami membantunya keluar dari pintu pesawat,
Sebelum keluar dia melakukan sesuatu hal yang sangat tidak bisa saya lupakan seumur hidup saya, yaitu dia berlutut dan menyembah kami, mengucapkan terima kasih dengan bertubi-tubi, dia mengatakan bahwa kami semua adalah orang yang paling baik yang dijumpai.
"Kami di desa hanya makan sehari sekali dan tidak pernah meminum air yang begitu manis dan makanan yang begitu enak, hari ini kalian tidak memandang hina terhadap saya dan meladeni saya dengan sangat baik, saya tidak tahu bagaimana mengucapkan terima kasih kepada kalian. Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian."
Dengan menyembah dan menangis dia mengucapkan perkataannya. Kami semua dengan terharu memapahnya dan menyuruh seseorang anggota yang bekerja di lapangan membantunya keluar dari lapangan terbang.
Selama 5 tahun bekerja sebagai pramugari, beragam-ragam penumpang sudah saya jumpai, yang banyak tingkah, yang cerewet dan lain-lain. Tetapi belum pernah kami menjumpai orang yang menyembah kami. Kami hanya menjalankan tugas kami dengan rutin dan tidak ada keistimewaan yang kami berikan, hanya menyajikan minuman dan makanan. Tetapi kakek tua yang berumur 70 tahun tersebut sampai menyembah kami mengucapkan terima kasih, sambil merangkul karung tua yang berisi ubi kering dan menahan lapar menyisihkan makanannya untuk anak tercinta, dan tidak bersedia menerima makanan yang bukan bagiannya.
Perbuatan tersebut membuat saya sangat terharu dan menjadi pengalaman yang sangat berharga buat saya di masa datang, yaitu jangan memandang orang dari penampilan luar tetapi harus tetap menghargai setiap orang dan mensyukuri apa yang kita dapat.
Wednesday, October 19, 2011
Selalu Bersyukur
Bpk. Pdt : "Selamat pagi Andoy, apa kabarmu? Apakah kamu akan ke sekolah?"
Andoy : "Ya, Bapa Pendeta!" balas Andoy sambil tersenyum.
Bpk.Pdt : "Mulai sekarang saya akan membantu dan menemani kamu menyeberangi jalan raya tersebut setiap kali kamu akan menyeberang.
Andoy : Terima kasih, Bapa Pendeta."
Bpk. Pdt : "sekarang apa yang akan kamu lakukan?"
Andoy : "Aku hanya ingin menyapa Tuhan Yesus... sahabatku."
Lalu Pendeta itu segera meninggalkan Andoy untuk melewatkan waktunya bersama Tuhan, tapi kemudian Pdt. Agaton bersembunyi dibalik altar untuk mendengarkan apa yang dibicarakan Andoy.
Andoy mulai berbicara kepada Sahabatnya
Andoy : "Engkau tahu Tuhan, ujian matematikaku hari ini sangat buruk, tetapi aku tidak mencontek walaupun teman2ku yang lain melakukannya. Ayahku mengalami musim paceklik dan yang bisa kumakan hanyalah kue ini.Terima kasih buat kue ini Tuhan!. aku tadi melihat anak kucing malang yang kelaparan dan aku memberikan kueku yang terakhir buatnya.. lucunya, aku nggak begitu lapar. Lihat, ini sepatuku yang terakhir..mungkin minggu depan aku harus berjalan tanpa sepatu. Engkau tahu Tuhan sepatu ini akan rusak, tapi tak mengapa..yang terpenting aku tetap dapat pergi ke sekolah.
Tuhan¡K kata orang-orang kami akan mengalami musim panen yang susah bulan ini, karena itu beberapa temanku sudah berhenti sekolah. tolong bantu mereka supaya bisa sekolah lagi.
Oh ya, Engkau tahu Ibu memukulku lagi. Sakit sekali, tetapi aku bersyukur karena masih memiliki seorang ibu. Dan rasa sakit ini pasti akan hilang. Lihatlah lukaku ini Tuhan ??? Aku tahu Engkau mampu menyembuhkannya, disini bekas lukanya (Andoy memegang bekas lukanya) Tolong jangan marahi Ibuku ya..??? memang dia sedang lelah dan kuatir memikirkan kebutuhan makanan juga biaya sekolahku .. Itulah mengapa dia memukulku.
Oh ya..Tuhan. aku rasa aku sedang jatuh cinta saat ini. Ada seorang gadis yang cantik dikelasku, menurutMu apakah dia akan menyukaiku?
Ah..bagaimanapun juga aku tahu bahwa Engkau tetap menyukaiku karena aku tidak perlu menjadi siapapun untuk menyenangkan hatiMu. Engkau adalah sahabatku.
Hei.. Tuhan temanku, ulang tahunMu tinggal dua hari lagi, apakah Engkau gembira? Tunggu saja aku punya hadiah untukMu. tapi ini kejutan dan Aku harap Engkau menyukainya.Ooops aku harus pergi sekarang. Selamat siang"
Kemudian Andoy segera berlari keluar dan memanggil Pendeta Agaton.
Andoy : "Pak Pendeta..pa Pendeta..aku sudah selesai berbicara dengan Sahabatku, Tuhan Yesus, skarang anda bisa menemaniku menyeberang jalan!
Kegiatan tersebut berlangsung setiap hari, Andoy tidak pernah absen sekalipun.
Pendeta Agaton berbagi cerita ini kepada jemaat di Gerejanya setiap hari Minggu karena dia belum pernah melihat iman dan kepercayaan yang murni kepada Allah dan bersyukur saat situasi yang sulit terjadi seperti yang dimiliki Andoy.
Bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita juga memiliki iman seperti Andoy? Apakah kita juga berdoa untuk teman-teman seperti Andoy? Apakah kita juga tetap mengucap syukur disaat sulit seperti Andoy? Andoy sangat mengasihi Tuhan Yesus, dan menyebutnya Sahabat tepat seperti kata Yesus di dalam kitab Injil Yohanes 15;14 ¡§kamu adalah sahabatku jikalau kamu berbuat apa yang kuperintahkan kepadamu¡¨.
Saat hari Natal tiba, Pendeta Agaton jatuh sakit sehingga dia tidak bisa memimpin gereja dan dirawat di rumah sakit. Pengelolaan Gereja diserahkan kepada 4 wanita tua yang tidak pernah tersenyum, mereka selalu menyalahkan segala sesuatu yang diperbuat orang lain.
Hari itu tgl. 25 Desember ketika 4 wanita tua tadi sedang berada di gereja tiba-tiba masuklah Andoy dan hendak menyapa Sahabatnya.
Andoy: "Halo Tuhan..Aku ...'
4 Wanita : "Kurang ajar kamu bocah !!! Apakah matamu tidak melihat kami sedang berdoa ??!!! Keluar.!!!"
Andoy begitu terkejut, karena tidak pernah ia diusir oleh Pdt.Agaton.
Andoy: "Dimana Bapa Pendeta? Dia seharusnya membantuku menyeberangi jalan raya.. dia selalu menyuruhku mampir lewat pintu belakang Gereja. tidak hanya itu, aku juga harus menyapa Sahabatku, hari ini adalah hari ulang tahunNya, aku punya hadiah untukNya ."
Ketika Andoy hendak mengambil hadiah tersebut dari dalam bajunya, seorang dari keempat wanita itu menarik kerah bajunya dan mendorongnya keluar. Andoy sedih, bigung dan setelah berpikir sebentar ia tidak mempunyai pilihan lain kecuali sendirian menyeberangi jalan raya tersebut.
Di situ ada sebuah tikungan yang tidak terlihat pandangan, sebuah bus melaju dengan kencang dan Andoy mulai menyeberang sambil melindungi hadiah tadi di dalam bajunya, sehingga dia tidak melihat datangnya bus tadi. Tiba-tiba brakkk ... (terdengar bunyi gaduh dan bus tadi berhenti mendadak) Apa yang terjadi? ternyata karena tidak bisa menghindari bus besar tadi Andoy tertabrak dan tewas seketika. Orang-orang disekitarnya berlarian dan mengelilingi tubuh Andoy yang sudah tak bernyawa.
Sedih...Saat itu entah darimana munculnya tiba-tiba datang seorang pria berjubah putih dengan wajah yang lembut namun penuh dengan air mata, ia memeluk tubuh Andoy dan menangis.
Orang-orangpun heran, mereka penasaran lalu bertanya;
Orang-orang : " Maaf Tuan, apakah anda keluarga bocah malang ini ? Apakah anda mengenalnya ?"
Dengan hati yang berduka ia segera berdiri dan berkata : "Anak ini namanya Andoy, Dia adalah sahabatku."
Lalu diambilnya bungkusan hadiah dari dalam baju Andoy dan menaruh didadanya. Dia lalu berdiri dan membawa pergi tubuh Andoy. Kerumunan orang tersebut semakin penasaran...
Malam itu, Pendeta Agaton menerima berita yang sungguh mengejutkan. Dia berkunjung ke rumah Andoy. Ketika Pdt. Agaton bertemu dengan orangtua Andoy ia bertanya; "Bagaimana anda mengetahui putera anda meninggal ?" Ibu Andoy menjawab sambil menghapus airmatanya: "Seorang pria berjubah putih yang membawanya kemari." Pdt. Agaton bertanya lagi: "Apa katanya ?"
"Dia tidak mengucapkan sepatah katapun. Dia sangat berduka. Kami tidak mengenalnya namun dia terlihat sedih, sepertinya Dia mengenal Andoy dengan baik. Tetapi ada suatu kedamaian yang sulit untuk dijelaskan mengenai dirinya. Dia menyerahkan anak kami dan tersenyum lembut. Dia membelai rambut Andoy dan mencium keningnya kemudian Dia membisikkan sesuatu" Jawab ayah Andoy.
Pdt.Agaton ; "Apa yang dikatakannya ?"
Ayah Andoy menjawab; " Dia berkata Terima kasih buat kadonya. Aku akan segera berjumpa denganmu.engkau akan bersamaku." Dan sang Ayah melanjutkan, "Anda tahu kemudian. semuanya itu terasa begitu indah.. aku menangis karena bahagia .. aku tidak dapat menjelaskannya, ketika Dia meninggalkan kami ada suatu kedamaian yang memenuhi hati kami, Aku tahu puteraku sudah berada di Surga sekarang. Tapi Pak Pendeta tolonglah katakan siapakah Pria ini yang selalu bicara dengan puteraku setiap hari di Gerejamu? anda pasti mengenalnya karena anda selalu berada disana setiap hari, kecuali hari ini saat puteraku meninggal¡¨
Tiba-tiba air mata Pendeta Agaton menetes dipipinya, dengan lutut gemetar Pdt. Agaton berbisik, "Dia tidak berbicara dengan siapa-siapa.. kecuali dengan Tuhan Yesus."
Tahukah anda dimana Andoy berada sekarang? Ya ia berada di sorga bersama Tuhan Yesus. Inginkah kita sekalian juga ... berada di sorga nanti ? Ya kita semua menginginkannya.
Andoy memiliki hati yang selalu bersyukur. Walaupun situasi hidup yang dialaminya sulit tetapi ia selalu bergembira karena ia tahu Tuhan Yesus sahabatnya selalu mengasihi dia. Melalui peristiwa tabrakan tadi Tuhan Yesus datang menjemputnya ke sorga.
Firman Tuhan berkata di dalam Kitab Roma 8 : 28;¡§Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.¡¨
Mari kita sama-sama berdoa;
¡§Tuhan Yesus yang baik...
Seperti engkau mengenal Andoy dalam cerita tadi, Engkau juga mengenal kami. Ampunilah kami jikalau selama ini kami tidak berlaku setia; Kami hanya mengucapkan syukur kepadaMu saat keadaan kami baik, tetapi ketika kami mengalami masalah dan kehidupan kami menjadi sulit kami mengeluh dan tidak mengucap syukur.
Saat ini ya Tuhan Yesus...
Ajarlah kami mengucap syukur
Saat kami bersedih karena Engkaulah penghibur kami.
Saat kami sakit karena Engkaulah dokter yang ajaib.
Saat kami kecewa karena Engkau tidak pernah mengecewakan kami.
Saat kami lemah karena Engkau memberi kekuatan kepada kami.
Saat kami gagal karena Engkau tak pernah gagal.
Saat kami putus asa karena Engkaulah penolong kami
Tuhan Yesus yang baik...
Kini kami tahu bahwa dengan mengucap syukur dalam susah dan senang kami
Menyenangkan hatiMu.
Dalam namaMu Ya Tuhan Yesus kami berdoa. Amin
Friday, September 30, 2011
Ayam , Anjing , Rubah
Kedua sahabat itu berjalan bersama dengan semangat dan tidak bertemu dengan petualangan yang mereka sering bicarakan.
Pada malam hari, ayam jantan, mencari tempat untuk bertengger seperti kebiasaannya, dia melihat sebuah pohon yang berlubang dan dipikirnya pohon tersebut sangat baik untuk dijadikan tempat menginap.
Sang anjing dapat menyelinap ke dalam lubang pohon tersebut dan sang ayam dapat terbang ke atas salah satu dahan pohon tersebut. Keduanya lalu tertidur dengan nyenyak di pohon tersebut.
Disaat fajar mulai menyingsing, ayam jantan tersebut terbangun dan sejenak dia lupa dimana dia berada. Dia mengira dirinya masih di tanah pertanian dimana tugasnya adalah membangunkan seisi rumah pada pagi hari.
Sekarang dengan berdiri diatas jari kakinya, dia mengepakkan sayapnya dan berkokok dengan semangat.
Tetapi bukannya petani yang terbangun mendengar dia berkokok melainkan dia membangunkan seekor rubah yang tidur tidak jauh dari pohon tersebut.
Rubah tersebut dengan cepat melihat ke arah ayam tersebut dan berpikir bahwa dia mendapatkan sarapan pagi yang sangat lezat.
Dengan cepat dia mendekati pohon dimana ayam jantan bertengger, dan berkata dengan sopan:
"Selamat datang di hutan kami, tuanku yang agung. Saya tidak dapat berbicara bagaimana senangnya saya bertemu dengan anda di tempat ini. Saya merasa yakin bahwa kita akan menjadi teman baik."
"Saya merasa tersanjung, tuan yang baik." kata ayam jantan tersebut dengan malu-malu. "Jika kamu memang mau, pergilah ke pintu rumahku di bawah pohon ini, pelayanku akan membiarkan kamu masuk."
Rubah yang sedang lapar itu tidak mencurigai apapun, berjalan ke arah lubang dibawah pohon tersebut seperti yang disuruhkan, dan dalam sekejap mata anjing yang tadinya tidur di dalam lubang pohon itu menyergapnya.
Pesan Moral: Siapa yang akan menipu, akan menerima akibatnya sendiri.
Jadilah SINGA
Walaupun serigala ini tidak mempunyai kaki, tetapi kelihatan serigala ini sangat gemuk dan sehat, kelihatannya dia tidak kekurangan makanan.
Dia merasa sangat heran :”seekor srigala tanpa kaki bagaimana dapat hidup dihutan belantara dan memburu mangsa untuk makanannya?
Kemudian, dia melihat seekor singa menggigit seekor rusa. Dengan sangat rakus dan tergesa-gesa singa ini mengerogoti mangsanya, lalu setelah perutnya kenyang, berlalu dari tempat itu: lalu baru kemudian serigala ini memakan remah-remah daging rusa yang ditinggalkan singa itu, dengan demikian dia mengisi perutnya sampai kenyang.
Keesokan harinya, kejadian ini berulang kembali.
Rupanya setiap hari srigala ini mempertahankan hidupnya dari bekas sisa-sisa makanan singa.
Ketika orang ini melihat kejadian ini, merasa Tuhan sangat adil dan berbelas kasih, terhadap seekor srigala tanpa kaki saja sudah diatur santapan yang dapat mengenyangkan perut setiap hari.
Oleh sebab itu, mulai saat ini orang tersebut tidak mengerjakan pekerjaan apapun lagi, menunggu Tuhan memberi dia makan.
Sesudah beberapa hari berlalu, Tuhan tidak memberi dia sebutir beras, teman dan saudaranya juga tidak datang menanyakan keadaannya, akhirnya dia menjadi kurus kering, pada saat dia merasa sangat lapar.
Suatu saat dia mendengar sebuah suara yang berkata :
”Manusia! Engkau seharusnya seperti seekor singa itu menyisakan makanan untuk orang lain, kenapa harus sama dengan srigala yang tergantung kepada orang lain, menunggu belas kasihan orang lain memakan sisa makanan dari orang lain?
Selagi muda mempunyai tenaga harus bekerja dengan giat mencari makan dan membagi kepada orang lain, jangan hanya bermalas-malas menunggu belas kasihan dari orang lain, orang bijak harus giat bekerja untuk menghidupkan diri sendiri dengan begitu kehidupan yang dijalani akan berarti.
Hanya orang bodoh yang menunggu belas kasihan dan pemberian orang lain untuk kelangsungan hidupnya membuat dia menjadi orang yang tidak berguna dan diremehkan orang lain."
Thursday, September 15, 2011
Ujian Yang Sepele
Jika kita menjadi wanita ini, bagaimana reaksi kita? Tentunya kita akan marah sebab kita merasa di permainkan. Mengapa disuruh datang jam 5, bukankah seharusnya lebih manusiawi jika disuruh berangkat lebih siang? Saat kita sudah datang jam 5, ternyat masih hrs menunggu 3 jam lamanya, bukankah kita punya alasan utk marah ? Sebab kita membayangkan nyamanya 3 jam dipagi hari itu jika digunakan utk melanjutkan tidur. Terlebih lagi pertanyaan yg diberikan kpd kita adl pertanyaan anak TK, bukankah kita bisa marah? Datang jam 5pagi & menunggu 3 jam hanya utk pertanyaan bodoh seperti itu?
Namun dari byk pelamar, wanita inilah yg akhirnya di terima bekerja. Mengapa bisa demikian? Si penguji menjelaskan alasannya, "pertama2, saya menyuruhnya dtg jam 5 pagi sementara hujan sdg turun. Saat ia datang berarti dia punya KOMlTMEN. Saat saya menyuruhnya menunggu selama 3 jam & dia melakukannya, berarti dia punya KESABARAN. Saat saya memberikan pertanyaan sepele, dia tdk jengkel & marah, berarti dia punya PENGENDALlAN DlRl yg bagus".
Sahabat, sesungguhnya setiap hari kita dihadapkan dgn UJlAN2 KEHlDUPAN semacam itu. Melalui hal2 kecil & sepele sesungguhnya kesabaran, komitmen, integritas & karakter kita sedang di uji. Jika kita berhasil lulus melalui ujian2 seperti itu, percayalah bahwa berkat & keberhasilan sdh menanti di depan kita.
JADlLAH PEMENANG ATAS SETlAP UJlAN KEHlDUPAN YG DATANG DLM HlDUP KlTA.
Saturday, September 10, 2011
Di Balik Kisah Foto Tangan Berdoa
Walaupun kondisi keluarga itu senin-kemis, nyaris tanpa harapan, dua anak sulungnya mempunyai cita-cita tinggi. Albrecht Durer dan adiknya Albert Durer bercita-cita suatu saat kelak mereka akan menjadi seniman terkenal, kuliah di akademi tinggi di Nuremberg, walau pun mereka tahu ayah mereka secara finansial tidak akan mampu membiayai kuliah di sana.
Setelah diskusi yg panjang di suatu malam di tempat tidur mereka yg penuh sesak, kedua anak laki-laki tertua ini akhirnya membuat kesepakatan. Mereka akan melemparkan sebuah koin. Yg menang, dialah yg melanjutkan studi ke akademi utk mengejar impian menjadi seniman terkenal. Yg kalah akan tetap tinggal di kampung halaman, bekerja di pertambangan di dekat rumah mereka, dan dgn penghasilannya dari bekerja itu, membiayai kuliah saudaranya yg akan menjadi seniman hebat. Diharapkan, setelah kuliah empat tahun, sang seniman besar itu sudah bisa kembali dan membiayai adik-adiknya yg lain.
Mereka melemparkan koin. Hasilnya? Albrecht Durer memenangkan undian dan kuliah ke akademi di Nuremberg. Albert tinggal di kampung dan bekerja sebagai buruh tambang, sebuah pekerjaan yg cukup berbahaya kala itu. Selama empat tahun ke depan, ia membiayai saudaranya yg menempuh pendidikan di akademi.
Di akademi, Albrecht ternyata menjadi bintang. Lukisan-lukisannya, ukiran kayunya dan lukisan minyaknya jauh lebih baik daripada karya para profesornya. Dan pada saat ia lulus, ia mendapat cukup banyak uang atas karya-karyanya.
Ketika seniman muda itu kemudian kembali ke desanya, keluarga Durer mengadakan pesta makan malam di halaman rumah mereka utk merayakan kepulangan Albrecht. Setelah makan malam yg panjang dan berkesan, diselingi dgn musik dan tawa, Albrecht bangkit dari posisi terhormat di ujung meja utk minum bersulang bagi adik tercintanya, atas tahun-tahun pengorbanan yg memungkinkan Albrecht memenuhi ambisinya. Di akhir pidatonya, Albrecht berkata, "Sekarang, Albert, saudaraku yg sangat disayangi Tuhan, giliranmu lah. Sekarang engkau sudah punya kesempatan berangkat ke akademi di Nuremberg utk mengejar impianmu, dan saya akan mengurus semua yg kau perlukan."
Kini, hampir lima abad sudah berlalu. Ribuan lukisan potret dan karya lainnya dari Albrecht Durer telah beredar dan menghiasi banyak dinding dan ruang di seluruh dunia. Dan hampir dapat dipastikan, sebagian besar orang pernah melihat, bahkan mungkin memiliki reproduksi dari salah satu lukisannya yg sangat terkenal, yakni gambar yg diberi judul: The Praying Hands. Tangan yg berdoa.
Ada sejarah di balik gambar itu.
Suatu hari, utk memberi penghormatan kpd Albert atas semua yg telah dikorbankannya, Albrecht Durer dgn susah payah menghela tangan adiknya itu, meluruskan jari-jarinya dan kemudian melukisnya. Ia memberi judul lukisan itu "Hands," tetapi seluruh dunia melihat lukisan itu jauh dari sekadar 'Hands' melainkan suatu persembahan cinta yg tulus, tangan yg berkorban dan memohon. Itu lah sebabnya ia lebih terkenal dengan judul "The Praying Hands." Tangan yg bekerja, berkorban demi mewujudkan sebuah cita-cita dan doa. Itu lah Tangan yg Berdoa.
Friday, July 29, 2011
IRONIS
Konon, di Jepang ada cara unik utk menangkap ikan. Dimalam hari, mereka menggantung lentera disisi kiri kanan perahu & mengikat beberapa bebek utk berenang disekitar perahu. Cahaya lentera akan menarik ikan2 utk naik ke permukaan. Ketika ikan2 naik ke permukaan, dgn semangat bebek2 akan segera menangkapnya. Selanjutnya, dgn sigap bebek itu ditarik ke atas perahu & mereka memaksa bebek itu mengeluarkan ikan sebelum sempat ditelan. Setelah itu, bebek dilepaskan kembali ke air utk menangkap ikan lagi. Begitu seterusnya.
Nasib bebek2 itu bisa dibilang seperti nasib bangsa Israel. Kitab Hagai mencatat bagaimana bangsa Israel menabur banyak, tapi menuai sedikit. Mereka makan tapi tdk sampai kenyang. Minum tapi tdk sampai puas. Berpakaian tapi tdk merasa hangat. Bahkan bekerja tapi seperti tdk pernah menikmati hasil jerih payahnya. Bukankah ini juga sering terjadi pada org2 di zaman ini? Ada yg sdh bekerja dgn susah payah, lembur tiap hari, bahkan melakukan beberapa pekerjaan sekaligus, tapi bukannya keberhasilan yg didapat, melainkan justru sakit, hubungan keluarga berantakan, dll.
Ada satu kunci yg Tuhan tunjukkan bagi mereka yg mengalami kondisi itu. Bukan bekerja lebih keras, tapi Tuhan justru mengingatkan agar bangsa Israel mengutamakan pembangunan rumah Tuhan. Rumah Tuhan bicara tentang persekutuan yg intim denganNYA. Ya, hal ini berarti tinggal di dalam FirmanNYA & melakukan KehendakNYA. Hidup saat ini mungkin makin berat. Tapi, akan semakin berat saat kita tdk lagi memprioritaskan Tuhan.
Mari utamakan Tuhan lebih dulu diatas segala kesibukan hidup kita hari ini, sebab kita belum benar2 sukses jika Tuhan tdk terlibat didalamnya...
Memikul Salib Yang Lebih Berat

Penolakan negara-negara tertentu terhadap usaha penyebaran Kabar Baik tidak membuat hamba-hamba Tuhan mengurungkan niat dan berhenti memberitakan kebenaran Kristus. Banyak hal berbahaya yang akan membuat hamba Tuhan terancam dalam melakukan pelayanan mereka. Seperti yang dialami oleh H, seorang hamba Tuhan yang mengalami tembakan di pundaknya, tetapi ia terus memberitakan Kristus dengan duduk di kursi roda. Kesaksian ini akan menjadi perenungan untuk kita, terlebih lagi supaya kerinduan dan semangat dalam memberitakan Kristus semakin berkobar setiap hari, mengingat bahwa masih banyak orang yang belum mengenal Kristus.
Irak yang disebut sebagai tanah "asal mula peradaban" adalah tanah Adam dan Hawa dan tanah kelahiran orang-orang besar Perjanjian Lama seperti Abraham dan Daniel. Orang-orang Kristen telah tinggal di tanah itu lebih dari 2.000 tahun, dan sekarang militan "agama lain" sedang berusaha mengusir mereka.
H meninggalkan kota kelahirannya, Mosul, untuk tinggal di Lebanon. Tetapi gerejanya di Lebanon memintanya untuk kembali ke Mosul sebagai seorang hamba Tuhan dan merintis gereja-gereja di Irak. Masuk ke dalam zona perang untuk memberitakan Injil di tengah-tengah pertempuran antarkelompok "agama lain" kelihatannya bukanlah tindakan yang ideal, namun H mengatakan bahwa perang membuka suatu kesempatan yang besar untuk pembagian. Banyak orang Irak yang menghadapi kematian setiap harinya sedang mencari kebenaran tentang Tuhan. Mereka merindukan kedamaian dan sukacita, sesuatu yang mereka tidak dapatkan dalam agama mereka.
Tidak lama setelah ia kembali ke tanah kelahirannya di Irak, H dan sekelompok orang percaya mendirikan sebuah gereja rumah di Mosul. Hanya dalam waktu lima bulan, gereja tersebut telah menerima 60 orang percaya baru.
Pelayanannya bukannya tidak diketahui oleh kelompok lain. Seorang imam dari tempat ibadah setempat yang takut jikalau orang-orang akan berpindah keyakinan dan masuk ke gereja H menekan pemilik rumah untuk mengusir H. Para tetangga H, yang ramah dan bersahabat ketika ia pertama kali tiba di lingkungan itu, kini siap membunuhnya jika sang imam meminta.
Suatu hari, saat H sedang mengemudi sepanjang jalan Mosul bersama ibunya, ia memerhatikan sebuah mobil mengikuti mereka. Mobil itu menyusul mobil H dan ketika sudah sejajar, seorang bersenjata menembak dari dalam mobil itu.
H terkena tembakan pada pundaknya. Peluru itu menembus keluar dari tubuh H dan mengenai lengan ibunya. Ibunya selamat dalam penyerangan tersebut dan hanya mengalami luka-luka ringan, tetapi H mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga ke bawah. Dokter mengatakan ia mengalami luka tulang belakang dan ia tidak akan dapat berjalan lagi.
H terus membagikan Kabar Baik tentang Kristus kepada yang lain, tetapi hari ini ia melakukannya dari kursi roda di Lebanon. Ia berkata bahwa para hamba Tuhan yang melayani di Irak dihadapkan dengan bahaya yang terus-menerus. "Mereka sedang memikul sebuah salib yang lebih besar dan berat dibandingkan yang dipikul oleh hampir semua orang Kristen. Meskipun situasi sulit, keselamatan jiwa-jiwa sedang terjadi dalam jumlah yang besar di antara orang-orang Irak. Mereka akan pergi dan bersembunyi di bawah sayap Tuhan dan mengenal Dia sebagai Juru Selamat, lalu mereka akan lebih bersemangat dan sungguh-sungguh untuk bersaksi mengenai Kristus pada orang lain seperti mereka."
H memohon doa bagi para hamba Tuhan yang sedang mempertaruhkan nyawa mereka di garis depan setiap harinya. "Berdoalah agar Tuhan turut campur secara langsung serta memberi kekuatan, semangat, dan kuasa pada kita untuk melakukan pekerjaan-Nya, sehingga kami dapat memberitakan Kabar Kebenaran ke Irak."
Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul buletin: Kasih Dalam Perbuatan, Edisi Juli -- Agustus 2009
Penulis: Tidak dicantumkan
Penerbit: Yayasan Kasih Dalam Perbuatan, Surabaya
Halaman: 6 -- 7
Tenggelam Dalam Lautan BerkatNya

Cobaan hidup yang berat yang datang secara bertubi-tubi sering kali melemahkan iman seseorang untuk berserah penuh pada Yesus. Sebagai orang Kristen, sudah seharusnya kita percaya penuh pada penyertaan-Nya. Di saat kehidupan kita mengalami guncangan, dari situlah iman kita harus semakin kuat di dalam Tuhan. Tuhan sanggup melakukan perkara-perkara yang besar dalam hidup kita. "Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita." (Efesus 3:20) Melalui kesaksian berikut ini, semoga dapat membangun iman kita untuk lebih lagi berserah pada Tuhan. Selamat membaca, Tuhan Yesus memberkati!
Dua tahun setelah melangsungkan pernikahan dengan adik kelas semasa kuliah dahulu, tepatnya pada tahun 1993, saya divonis terkena kanker ganas. Peristiwa ini menjadi pukulan berat bagi saya. Kemoterapi pun saya jalani tanpa saya tahu kalau efeknya akan sangat menyiksa hari-hari saya. Setelah kemoterapi tersebut, saya menjadi mual sepanjang hari, sehingga harus meminum "primperan" agar tidak muntah. Selera makan saya juga hilang sehingga badan saya menjadi lemas sepanjang hari. Saya juga tidak bisa buang air kecil sampai berhari-hari, sehingga keringat terus bercucuran, pikiran menjadi sangat tegang, dan saya tidak bisa tidur sepanjang malam.
Saya harus menelan obat penenang agar saya bisa tidur selama satu jam, selebihnya saya terjaga sepanjang malam dengan penderitaan yang sangat berat. Setiap kali saya terbangun, di atas bantal saya penuh dengan rambut yang rontok -- efek dari kemoterapi. Akhirnya saya mencukur rambut hingga botak. Hati saya semakin tersiksa bila saya memikirkan keadaan ini akan berlangsung sangat lama. Saya sangat sedih namun Tuhan memberikan kekuatan. Ia menuntun saya untuk membaca Alkitab. Melalui firman-Nya, saya mengerti bahwa di balik semua ini ada rencana Tuhan yang indah dalam kehidupan saya, sehingga di hari-hari kemudian saya bahkan dapat menghibur dan menguatkan orang lain. Keajaiban dan kekuatan Tuhan menyertai saya setiap kali saya menjalani paket kemoterapi yang menyiksa itu, sehingga saya dapat menyelesaikan seluruh paket kemoterapi tersebut selama 6 bulan lebih.
Setelah saya menerima kesembuhan dari Tuhan, saya dan istri sangat merindukan kehadiran anak dalam hidup kami. Selain berdoa, kami juga berkonsultasi ke dokter. Istri saya menjalani pengobatan dari dokter kandungan namun tidak membawa perubahan. Maka dokter memberi surat pengantar ke seorang androlog, yaitu dokter yang khusus menangani kesuburan laki-laki. Namun dari hasil pemeriksaan androlog tersebut, ternyata harapan kami untuk memiliki keturunan sangat kecil -- hanya di bawah 5 persen. Ia memberikan obat-obatan yang sangat mahal harganya, namun setelah sekian lama tetap tidak membawa dampak apa-apa, sehingga saya memutuskan untuk berhenti mengonsumsi obat-obatan itu dan sungguh-sungguh berserah kepada Tuhan.
Beberapa waktu kemudian, saat bertugas ke Surabaya selama beberapa hari, saya bertemu dengan seorang teman yang memiliki pergumulan yang sama yaitu ingin memiliki keturunan. Teman itu menceritakan bahwa istrinya mengalami endometriosis. Ia sudah membawa istrinya berobat ke Singapura dengan biaya yang sangat besar untuk inseminasi buatan, bahkan teknik bayi tabung sudah mereka lakukan namun tidak berhasil. Saat itu saya mencoba menguatkan dia dengan menceritakan bahwa Yesus sanggup melakukan perkara yang tersulit sekalipun dan tidak ada yang mustahil bagi Dia. Teman saya memberikan sebuah jawaban yang memukul hati saya. Dia berkata bahwa perkataan saya hanya omong kosong saja karena buktinya saya juga belum memiliki anak. Saat itu saya hanya diam walau hati saya bergejolak. Saya tidak mau berdebat dengannya. Saya hanya berdoa agar Tuhan menenteramkan hati saya saat itu.
Saat kembali ke Bandung, istri saya ternyata sudah tidak sabar menunggu kehadiran saya. Ia mengatakan bahwa ia terlambat beberapa hari. Ia sudah membeli tes kehamilan dan hasilnya positif. Tanggal 21 Oktober 1995, anak kami lahir. Sungguh sebuah mukjizat Tuhan. Pada suatu hari di bulan Desember 1998, saat saya melakukan pemeriksaan rutin, dokter mendeteksi bahwa kanker yang sudah mati selama 5 tahun itu ternyata hidup lagi. Saya diharuskan untuk menjalani kemoterapi lagi sebanyak enam kali. Setelah mendengar saya harus dikemoterapi lagi, saya segera membayangkan kengerian pengobatan tersebut, tetapi puji Tuhan saya dikuatkan oleh teman-teman di gereja. Ketika saya belajar mengucap syukur dalam segala hal, ternyata tidak terasa saya sudah menjalani seluruh paket kemoterapi dan melewatinya dengan baik.
Pada Juni tahun 2000, kami melakukan perjalanan liburan ke Jawa Timur. Ketika hari mulai gelap, kami memasuki kota Kediri dan mampir di sebuah rumah makan untuk makan malam. Tiba-tiba anak kami, Y, turun dari mobil dan berlari dengan cepat karena ingin ke kamar kecil. Saya khawatir dan mengejarnya namun saya terpeleset, dan saat terjatuh saya mendengar bunyi "krak" di kaki saya. Setelah dilakukan rontgen, kaki kiri saya patah tepat di atas pergelangan kaki -- tulang kering patah dan menusuk hingga keluar, dan tulang besar kaki saya remuk berbentuk serpihan-serpihan kecil. Setelah saya dirawat di Kediri, saya memutuskan untuk tidak meneruskan perjalanan dan kembali ke Bandung untuk segera dioperasi. Tiba di Bandung, saya langsung menuju ke salah satu rumah sakit yang khusus menangani masalah tulang. Di sana saya segera dioperasi selama 5 jam. Tulang kering yang sudah putus diikat dengan kawat, tulang besar yang remuk disatukan kembali, lalu dipasang plat dan dibaut sekitar 7 sentimeter sebanyak 4 buah.
Biasanya saya selalu aktif dalam berbagai kegiatan, namun sejak hari itu ke mana pun saya berjalan saya harus dipapah, bahkan untuk membersihkan tubuh saja saya harus dibantu. Dalam keadaan seperti itu, terkadang iman saya lemah tetapi Tuhan Yesus datang menghibur dan memberikan kekuatan, sehingga saya dapat melaluinya dengan penuh pengharapan kepada-Nya.
Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul majalah: SUARA
Penulis: KM
Penerbit: Yayasan Persekutuan Usahawan Injili Sepenuh Internasional (PUISI), Jakarta
Halaman: 21 -- 25
Pelajaran Dari Seekor GAJAH

Gajah adalah hewan mamalia yang lembut juga sangat kuat tenaganya. Seekor gajah jantan memiliki kekuatan dan mampu untuk menumbangkan sebuah pohon dan mengangkat batang kayu gelondongan hanya dengan menggunakan belalainya.
Satu hal yang mengejutkan adalah tidak adanya kandang untuk gajah. Mungkin kita dapat mengurung singa, beruang dan harimau tapi tidak pernah ada kandang untuk gajah. Mengapa bisa begini? Bagaimana cara menahan mahluk yang sangat kuat ini dari niatan melarikan diri. Yang mereka lakukan hanya mengikatkan seutas tali (atau rantai tipis) ke kaki gajah dan mengikatnya ke sebuah batang yang ditancapkan ke tanah.
Sekali kakinya sudah terikat, maka ia tidak akan mencoba melarikan diri lagi. Sekarang, apakah Anda pikir gajah tersebut tidak mampu menghancurkan rantai atau tali tersebut bila dia mau? Tentu saja bisa dan mampu, bahkan bisa menumbangkan sebuah pohon.
Tapi mengapa dia tidak memutuskan tali tipis yang melingkar di kakinya?
Jawaban yang saya dapatkan dari para pawang gajah adalah dengan membiarkan gajah-gajah tersebut percaya bahwa dia tak bisa memutuskan tali tersebut.
Keadaan ini berlangsung sejak kecil… Ketika seekor bayi gajah lahir dan masih terlalu lemah untuk berjalan bahkan berdiri, mereka (para pawang) mengikat kaki gajah kecil itu ke sebuah batang yang ditancapkan ke tanah. Dan dapat dipastikan ketika bayi gajah tersebut mencoba berlari menuju induknya, ia tidak dapat memutuskan tali tersebut.
Ketika ingin melarikan diri, tali itu akan menggenggam kaki gajah dan dia akan jatuh di atas tanah. Tidak jera, sang gajah akan berdiri dan mencoba kembali. Dia akan berlari menuju induknya hanya untuk mendapatkan kaki yang terikat dan badan yang terentak ke tanah. Setelah mengalami kesakitan yang berulang-ulang, suatu ketika, sang gajah tidak akan berusaha menarik rantai lagi. Pada saat itu terjadi, para pawang tahu bahwa gajah tersebut telah terkondisi untuk terperangkap sepanjang hidupnya.
Saya benar-benar tertarik sekali dengan cerita sang pawang gajah, dan ketika saya menyaksikan bagaimana mahluk kuat ini diamankan hanya dengan rantai tipis yang seharusnya dengan mudahnya dapat diputuskan oleh sang gajah.
Analogi cerita di atas adalah saya menyaksikan, bagaimana orang-orang yang saya temui tiap hari mengalami keterperangkapan yang sama dengan keterbatasan keyakinan mereka dan kebiasaan yang dengan mudah dapat diubah namun tidak mereka lakukan . Sebagai manusia, kita sama seperti gajah dengan berbagai macam potensi untuk mendapatkan mimpi apapun yang kita inginkan, dari menjadi seorang jutawan sampai menjadi orang yang dapat membuat perbedaan di dunia. Namun, cukup banyak orang yang dengan kemampuannya tidak berani mengambil tindakan karena mereka percaya bahwa mereka tidak dapat melakukannya. Mereka kuatir bahwa yang mereka lakukan akan gagal total.
Bisa jadi sewaktu muda, mereka gagal dan jatuh berkali-kali sama seperti bayi gajah tersebut. Mungkin sewaktu mereka muda, orang tua mereka mengatakan mereka malas dan bodoh. Mungkin teman-teman mereka menjuluki mereka si kuper. Mungkin guru mereka pernah mengatakan mereka tidak dapat melakukan apa-apa. Sebagai hasil dari keadaan masa lalu, orang-orang akan berpikir bahwa mereka tidak dapat melakukan apapun.
Sama seperti gajah tersebut, mereka berpikir bila aku tidak bisa melakukannya di masa lalu bagaimana bisa aku melakukannya sekarang? Di masa lalu aku seorang yang pemalas, jadi bagaimana bisa aku menjadi orang pekerja keras. Di masa lalu aku tidak percaya diri, bagaimana aku bisa percaya diri sekarang. Di masa lalu aku seorang yang menangkap pelajaran dengan lambat, sekarang bagaimana aku bisa menangkap pelajaran dengan cepat. Di masa lalu aku tidak bisa berbicara dengan baik, bagaimana aku bisa sekarang?
Apa yang tidak dilihat oleh orang-orang ini adalah bahwa masa lalu tidak sama dengan masa depan. Mereka tidak menyadari sama seperti yang dialami gajah tersebut, bahwa sebenarnya mereka bukan orang yang sama lagi. Sang gajah tidak menyadari di masa lalu dia tidak memiliki kekuatan seperti yang ia miliki sekarang. Saya ingin Anda tahu bahwa tiap hari Anda akan bangun menjadi orang yang berbeda. Orang yang semakin bertambah ilmu, pengalaman dan orang yang bijaksana. Tahukah Anda bahwa jutaan sel di tubuh kita mati setiap hari dan digantikan dengan yang baru.
Bila Anda telah membiarkan keyakinan dan kebiasaan yang lama merantai diri Anda, bukankah sudah saatnya menggunakan tenaga dan kemauan Anda sekarang untuk melepaskan diri dari penjara ketidakmampuan dan melangkah menuju kebebasan, sukses dan kemapanan yang memang berhak kita dapatkan.
"CARI! dan Anda akan mendapatkannya. Hidup adalah untuk mencari. Jika Anda tidak mencari, Anda akan stagnan. Diam di tempat adalah langkah mundur, waktu ataupun dunia tidak akan menunggu Anda. Jadi cari, atau mati secara perlahan lahan" - Dato Vijay Eswaran -
"Jika Anda membatasi pilihan hanya pada apa yang tampaknya mungkin atau masuk akal, Anda telah melepaskan diri dari apa yang sungguh-sungguh Anda inginkan, dan yang tertinggal hanyalah kompromi dan keterpaksaan" - Robert Fritz -





