Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.( Yohanes 15 : 16 )

Friday, July 10, 2009

Ruth Handler: Ibunda Kerajaan Bisnis Barbie


Ketika pendiri kedua Mattel, Ruth Handler, awalnya menawarkan agar perusahaan membuat boneka dewasa, staf marketing di Mattel menolak keras ide tersebut. Gadis-gadis kecil menyukai bermain dengan boneka-boneka bayi, klaim mereka. Dan mereka yakin bahwa wanita dewasa tak akan menginginkan anak-anak mereka bermain dengan boneka-boneka wanita dewasa. Tetapi dinamo rekan bisnis ini tidak menyerah begitu gampangnya. Memerlukan hampir tiga tahun bagi dirinya untuk meyakinkan perusahaan agar membuat boneka tersebut. Itu mungkin adalah keputusan terbaik yang akhirnya mereka lakukan. Barbie, begitulah Ruth berikan nama bagi boneka yang memiliki panjang 11,5 inch tersebut, menjadi hit besar, tidak hanya membuat Mattel sebuah pemimpin tak tergoyahkan dalam pembuatan boneka, tetapi juga menciptakan industri $1,9 milyar per tahunnya.

Perusahaan tersebut akhirnya menjadi salah satu pemimpin pembuat boneka di dunia dimulai dari sebuah bisnis garasi tak menguntungkan di El Segundo, California. Para pendiri aslinya, Harold Matson dan Elliot Handler, memberi nama perusahaan tersebut dengan nama "Mattel," menciptakan sebuah nama dengan mengkombinasikan dari awal dan akhir nama mereka. Produk pertama Mattel adalah bingkai-bingkai foto, tetapi Elliot mengembangkan sebuah bisnis pembuatan furnitur rumah boneka dari sisa potongan bingkai foto.

Mempercayai bahwa perusahaan sedang menukik jatuh, Matson menjual semuanya ke partnernya dan istrinya Handler, yakni Ruth, yang bergabung dengan suaminya sebagai sesama pendiri. Terdorong oleh kesuksesan mereka dalam bisnis furnitur boneka, kedua Handlers mengubah inti perusahaan ke boneka-boneka dan mulai membuat sebuah dasar untuk produk-produk musikal, termasuk ukulele berukuran anak-anak dan sebuah kotak musik pengengkol tangan yang dipatenkan, yang meraup banyak pemasukan perusahaan pada tahun 50an dan 60an.

Perusahaan berjalan dengan sangat baik, tetapi masih dari jauh dari kelompok industri besar. Itulah pada tahun 1956 ketika Ruth Handler mengeluarkan ide jenius yang akan meroketkan Mattel menjadi yang terdepan dalam industri boneka dan memukau empat generasi gadis muda.

Ruth mendapatkan inspirasinya akan boneka Barbie ketika sedang menonton putrinya yang masih kecil, Barbara, dan teman-temannya bermain dengan boneka kertas. Para gadis kecil itu sedang bermain seandai-andai gadis dewasa atau remaja dengan boneka-boneka tersebut, membayangkan diri mereka sebagai mahasiswi, cheerleaders, dan orang dewasa yang berkarir. Itu dengan instan membuat Handler menyadari dan berpura-pura akan masa depan adalah bagian penting dari pertumbuhan. Dalam meriset pasar, ia menemukan area yang kosong dan berketetapan untuk mengisi ceruk pasar tersebut dengan boneka 3 dimensi.

Para desainer Mattel memiliki keragu-raguan, hingga mengatakan bahwa membuat boneka seperti itu adalah mustahil. Selagi berlibur di Eropa, Handler menemukan sebuah boneka Jerman bernama Lili - sebuah hadiah yang agak berbau pornografi bagi pria. Ia membeli tiga buah boneka ke rumah dan mengirimkan para desainer Mattel ke Jepang untuk mengatakan kepada mereka "carikan kami seorang pembuatnya."

Visi Ruth bagi boneka tersebut, yang ia panggil Barbie (panggilan putrinya), agar boneka tersebut menjadi wanita yang "ideal." Menurut legenda, wajah dan figur Barbie diciptakan dari sebuah kombinasi dari fitur-fitur bintang-bintang populer masa itu, termasuk alis Audrey Hepburn yang terkenal.

Pada tahun 1959, Barbie adalah sebuah realita dan siap untuk menggebrak toko-toko. Tetapi ada sedikit halangan. Pada awalnya dalam riset pasar, terungkapkan bahwa para ibu membenci boneka tersebut, satu orang melaporkan, "Wow! Itu benar-benar adalah boneka kesukaan ayah, bukankah begitu?" Para peritel boneka di Toy Fair tahun 1959 di New York City, para peritel tidak pernah melihat sebelumnya sebuah boneka yang sama sekali tidak seperti boneka bayi dan balita yang populer pada masa tersebut, dan banyak yang menolak untuk membawanya.

Tak kenal takut, Ruth langsung mengarahkan ke para gadis muda dengan iklan-iklan televisi yang merepresentasikan Barbie sebagai orang sebenarnya. Terima kasih kepada pendekatan marketing inovatif ini, dalam tiga bulan semenjak debutnya, boneka-boneka Barbie terjual rata-rata sekitar 20.000 per minggunya. Permintaan akan boneka tersebut begitu luar biasa hingga itu membutuhkan beberapa tahun untuk persediaan memenuhi permintaan. Barbie begitu suksesnya hingga ia mampu menjadikan Mattel untuk publik pada tahun 1960, dan dalam waktu lima tahun, Mattel bergabung dalam peringkat Fortune 500.

Selama beberapa tahun selanjutnya, seluruh industri hanya berputar mengenai Barbie. Para desainer secara berlanjut bekerja menciptakan pekerjaan-pekerjaan untuk Barbie yang merefleksikan perubaha fesyen masa itu. Tetapi mereka tidak hanya berputar pada pakaian saja. Barbie selanjutnya memiliki rumah impiannya sendiri, mobil, pesawat, yacht, lusinan aksesoris lainnya, belum termasuk lagi "teman-temannya," seperti boneka-boneka bernama Midge, Skipper, dan Christie. Barbie bahkan memiliki kekasihnya sendiri, yakni Ken, yang diberi nama seperti putranya Handler. Ironisnya, kisaran dari harga $5 ke atas, kebanyakan dari pakaian-pakaian dan aksesoris-aksesoris Barbie harganya lebih dari boneka itu sendiri (Barbie harganya $3). Faktanya, di masa sekarang aksesoris-aksesori Barbie meraup nyaris 40 persen dari pemasukan Mattel.

Semenjak "kelahirannya," diperkirakan 1 milyar Barbie telah terjual dalam empat dekade, menjadikan "anak" dari Handler ini sebagai boneka fesyen terlaris di setiap pasar global besar, dengan penjualan tahunan di seluruh dunia mencapai $1,9 milyar.

Pada tahun 1999, dalam sebuah event gala merayakan 40 tahun Barbie, Handler ditanya apakah ia terkejut akan kesuksesan dari Barbie yang luar biasa. "Saya selalu berpikir bahwa Barbie sangat sangatlah basic," jawabnya. "Ia adalah dasar dari sebuah boneka untuk dimainkan selama mungkin, dan saya memiliki keyakinan bahwa ia akan menjadi mainan yang luar biasa. Tetapi saya tidak pernah berpikir bahwa akan ada mainan manaoun yang bisa bertahan sepanjang ini atau bertumbuh sebesar ini."

Setelah kemenangan pribadi melawan kanker payudara di pertengahan tahun 1970an, Ruth Handler pensiun dari Mattel. Ia melangkah menggunakan pengalaman pribadi dan keahliannya untuk memulai Ruthton Corp. yang didedikasikan untuk pengembangan dan memproduksi prostheses payudara yang disebut "Nearly me." Oleh pertemuan dengan pembeli-pembeli department store, mempromosikan sendiri produk-produk di sepanjang AS, dan berbicara dengan sesama pejuang melawan kanker payudara lainnya, Handler membangun perusahaan keduanya dengan sukses. Pada tahun 1991, ia menjual Ruthton Corp. ke sebuah divisi dari raksasa kecantikan dan kesehatan Kimberly-Clark.

Sumber : entrepreneur.com & www.jawaban.com

Michael Dell: Pria Muda Ajaib Di Dunia Komputer


"Anda tidak harus menjadi seorang yang jenius atau seorang visionaris atau bahkan seorang lulusan perkuliahan untuk menjadi sukses. Anda hanya membutuhkan sebuah framework dan sebuah mimpi." - Michael Dell

Michael Dell bukanlah satu-satunya pengusaha muda yang mengendarai booming komputer di akhir tahun 1980an dan awal 1990an dari keusangan menuju kejayaan. Seperti Rod Canion dari Compaq dan Steve Jobs dari Apple, Michael mengubah bisnis muda yang belum banyak pengalaman menjadi kerajaan komputer milyaran dolar. Tetapi tidak seperti Canion dan Jobs yang mengalami nasib buruk, yang kehilangan kendali atas ciptaan mereka ketika mereka bertumbuh, Michael telah menangani untuk tetap memegang kendali atas usaha maverick-nya dan menerima pengakuan unik untuk menjadi CEO terlama dalam industri komputer.

Mengikuti ide sederhana dengan menjual sistem-sistem komputer personal yang terkustomisasi langsung ke para kustomer ia dapat sangat mengerti kebutuhan-kebutuhan mereka dan menyediakan solusi-solusi komputer paling efektif untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu, Michael telah menjadikan Dell Computer Corp. Sebagai perusahaan pemimpin penjualan langsung sistem-sistem komputer.

Orang-tua Michael menginginkan ia menjadi seorang dokter. Tetapi sewaktu ia berada di masa sekolah menengah pertama, Michael terpaku pada komputer-komputer. Selagi kebanyakan teman-teman seangkatannya terpaku di bawah atap-atap mobil tua, Michael menyukai terpaku dengan Apple IIe-nya.

Untuk menyenangkan orang-tuanya, Michael terdaftar sebagai pra-mahasiswa kedokteran di Universitas Texas pada tahun 1983, tetapi tetap saja yang menjadi kegemarannya adalah komputer-komputer. Sepanjang semester pertamanya, Michael menghabiskan waktu luangnya membeli PC-PC lama yang perlu dibetulkan dari ritel-ritel lokal, lalu meng-upgradenya dan menjualnya dari kamar asramanya. Usahanya itu sukses, hingga akhirnya satu hari teman sekamarnya menumpuk inventarisnya yang semakin banyak dekat pintu kamar asrama mereka.

Michael menganggap itu sebagai satu tanda sudah waktunya untuk memindahkan bisnisnya yang berkembang dari kampus. Kedua orang-tuanya geram ketika ia mengatakan kepada mereka bahwa ia ingin drop out dari kampus, maka untuk menenangkan mereka, Michael setuju untuk kembali ke sekolah jika penjualan musim panas terbukti mengecewakan. Di bulan pertama bisnisnya, Michael menjual beberapa PC seharga $180.000. Ia pun tak pernah kembali lagi masa senior sekolahnya.

Selagi mencari jalan untuk memperlebar bisnis awalnya yang sedang bertumbuh, Michael menyimpulkan bahwa komputer dengan cepat akan menjadi sebuah komoditas, dan dengan komoditas-komoditas, apa yang paling penting adalah harga dan pengantarannya. Michael melihat bahwa cara tercepat untuk menerima kedua gol tersebut adalah dengan memotong perantara. Ia menyadari bahwa ia bisa membeli komponen-komponen dan merakit keseluruhan PC sendiri dengan harga lebih murah. Lalu ia bisa menjual setiap mesinnya melalui telepon langsung ke para pelanggan dengan 15 persen untuk membangun brand-nya. Teknik ini, yang selanjutnya dikenal sebagai "model penjualan langsung," dapat merevolusi industri dan menjadikan Michael Dell sebagai multi-milyuner dalam prosesnya.

Michael Dell yang berusia 19 tahun memakukan usaha bisnisnya PCs Ltd., dan perusahaan yang berbasis di Austin ini dengan cepat menjadi salah satu perusahaan yang bertumbuh paling cepat di negerinya. Daripada membanjiri pasaran dengan ratusan dari ribuan komputer "berkulit coklat yang tawar," perusahaan dapat berfokus pada apa yang terbaik - menciptakan mesin-mesin yang terkustomisasi untuk meng-order.

Strategi ini bekerja. Dalam operasinya di tahun pertama, PCs Limited menarik hingga lebih dari $6 juta dari penjualan, dan Michael dengan cepat mendapat reputasi sebagai "pria muda ajaib." Untuk membayar namanya yang semakin tenar, ia mengubah nama perusahaan menjadi Dell Computer Corp. pada tahun 1987. Penjualan terus berlanjut mengembang, mencapai puncak $159 juta pada akhir tahun 1988. Di tahun yang sama, Dell membuat sebuah penawaran awal publik yang meraup $30 juta, dan sekitar $18 juta-nya masuk langsung ke kantong Michael.

Bagi banyak pengusaha awal, itu bisa menjadi sinyal puncak bahwa sudah waktunya untuk berpindah ke petualangan selanjutnya yang menjanjikan. Tetapi dalam pikiran Michael ia baru saja mulai. Ia sekarang mengatur pandangannya untuk mengambil alih pemimpin industri IBM, mengatakan kepada para stafnya bahwa kata pertama dari putrinya yang baru lahir adalah "Daddy, kill IBM." Teknik ini mendapat responm dan penjualan Dell melompat pada lebih dari $800 juta pada tahun 1991. Pada tahun 1992, Michael menyiapkan sebuah gol untuk melewati $1,5 milyar di akhir tahun tersebut. Selalu melewati pencapaiannya, Michaell mendapatkan gol-nya dan lalu, penjualan pun meroket hingga $2juta milyar. Tetapi di tengah kesuksesannya, ada awan-awan mendung yang bertemu di langit-langit.

Pertumbuhan perusahaan melangkah terlalu cepat bagi si pengusaha muda untuk menanganinya. Pada pertengahan 1993, Dell Computer Corp. terlihat berada di luar kendali. Harga-harga saham terpantul dari $49 pada Januari 1993 menuju sekitar $16 pada bulan Juli. CFO dari Dell pun resign, meninggalkan kekosongan manajemen. Dan yang terburuknya, Michael membongkar semua merek baru dari komputer-komputer notebook dikarenakan produksi yang miskin dan dipaksa untuk duduk di atas sisi dari segmen yang bertumbuh cepat dari pasar PC untuk lebih dari 12 bulan.

Michael menyadari bahwa ia perlu untuk melakukan sesuatu - dan melakukannya dengan cepat. Solusinya adalah mencari para manajer yang lebih tua berpengalaman untuk menolongnya mengambil kendali dari juggernaut-nya yang berusia 9 tahun. Pertama ia membawa Mort Topfer, eksekutif musiman dari Motorola, untuk menangani operasi sehari-hari. Selanjutnya ia memanfaatkan talenta-talenta Kevin Rollins, sebuah pakar organisasi dari Bain and Co., untuk menjalankan operasi-operasi pekerja Amerikanya. Dan, mungkin saja kudetanya yang paling penting, Michaell mencuri desainer Apple Powerbook yakni John Medica.

Dalam 12 bulan penyusunan perusahaan sangatlah benar, dan di tahun selanjutnya keuntungan-keuntungan pun mendaki hingga $149 juta. Tetapi bahkan dengan perubahan haluan yang luar biasa ini, Michael mengetahui tempat perusahaannya di persaingan industri PC yang terus meningkat biar bagaimanapun tak ada jaminannya. Untuk memastikan agar terus berlanjut sukses, Michael dan para eksekutif top-nya membuat sepasang keputusan strategi kontroversial yang menjalankan penghitungan tren industri yang sedang terjadi. Pertama, bukannya mengawali perang harga untuk mengejar penjualan unit-unit yang luar biasa, Michael memutuskan untuk berfokus pada para pelanggan bisnis yang bermargin tinggi. Kedua, perusahaan memandang untuk bersandar secara eksklusif pada pasar langsung daripada ritel.

Para pengamat industri mempertanyakan gerakan yang kedua, menunjuk bahwa dengan menjual langsung Dell merendahkan pasar home PC. Tetapi Michael mengetahui lebih baik. Dalam penyelidikan awal ke toko-toko ritel, Michael menemukan bahwa ia tidak bisa berkompetisi dengan nama brand Compaq yang kuat dan harga Packard Bell yang mematikan. Menjual melalui toko-toko ritel sudah pasti di luar rencana. Tetapi Michael tidak menyerahkan pasar konsumen yang menguntungkan begitu saja. Melainkan, ia memutuskan untuk menjual PC-PC yang terkustomisasi penuh melalui telepon, fax, dan penjualan langsung untuk para pembeli komputer rumah yang lebih mutakhir.

Sekali lagi, Michael memutuskan para pengkritiknya bahwa mereka salah. Pendekatan baru perusahaannya telah memiliki penjualan yang mencapai puncak $5,5 milyar pada akhir tahun 1996. Tetapi Michael memiliki kartu as yang lain di balik lengan bajunya. Pada Juli 1996, Dell meluncurkan salah satu website penjualan komputer langsung pertama, dan hanya dalam dua bulan, telah meratakan penjualan internet dengan kelebihan dari $2 juta sehari (sebuah angka yang dapat terus naik hingga $6 juta sehari pada 1998). Kombinasi dari penjualan langsung via telepon dan Internet mendorong penjualan Dell hingga $7.7 juta pada Februari 1997.

Hingga saat ini, para pakar industri dan tiga lawan utama Dell yakni, Compaq, IBM, dan Hewlett-Packard, teryakinkan bahwa penjualan langsung hanya dapat memberi sebuah ceruk pasar. Tetapi sebagaimana serangan langsung Dell mulai meningkatkan potongan ke pembagian pasar mereka, semua ketiga kompetitornya mengadopsi model penjualan langsung itu, tetapi tidak seperti Dell, melanjutkan untuk menawarkan mesin-mesin mereka melalui toko-toko ritel juga.

Baik ya tidaknya Compaq, IBM dan Hewlett Packard merubah strategi mereka sebenarnya selanjutnya akan menangkap kembali pembagian pasar yang terhilang akan hadirnya Dell. Tetapi dengan menjadi yang pertama kali, Dell tentu saja memiliki keuntungan, sebagaimana ketika angka-angka dengan jelas bermunculan. Selagi industri PC bertumbuh dengan 5 persen yang diremehkan pada tahun 1998, Dell bertumbuh dalam jalur yang luar biasa dengan lebih dari 50 persen, mencapai penjualan $12.3 milyar. Pada Januari 1999, Dell habis terjual baik IBM dan Hewlett-Packard pun seimbang untuk mengambil ali sebagai pembuat komputer nomor satu, meninggalkan Compaq.

Selagi ia telah benar-benar mendiamkan para pengkritiknya, Michael Dell telah membuktikan bahwa ia memiliki fleksibilitas, stamina, dan visi untuk berada di puncak dari bisnis paling kompetitif di negeri itu, bahkan dengan melalui waktu-waktu yang bergelombang. Sebagai roketer penjualan internet ($30 juta sehari pada Juli 1999), Dell melanjutkan untuk mengherankan para kompetitornya, mencengangkan para analis, dan mempesona para pemegang saham.

Sumber : entrepreneur.com & www.jawaban.com

5 Macam penyesalan





Sunday, April 19, 2009

Setan atau Malaikat


Mahluk yang paling menakjubkan adalah manusia, karena dia bisa memilih untuk menjadi “setan atau malaikat”.
–John Scheffer-

Dari pinggir kaca nako, di antara celah kain gorden, saya melihat lelaki itu mondar-mandir di depan rumah. Matanya berkali-kali melihat ke rumah saya. Tangannya yang dimasukkan ke saku celana, sesekali mengelap keringat di keningnya.
Dada saya berdebar menyaksikannya. Apa maksud remaja yang bisa jadi umurnya tak jauh dengan anak sulung saya yang baru kelas 2 SMU itu? Melihat tingkah lakunya yang gelisah, tidakkah dia punya maksud buruk dengan keluarga saya? Mau merampok? Bukankah sekarang ini orang merampok tidak lagi mengenal waktu? Siang hari saat orang-orang lalu-lalang pun penodong bisa beraksi, seperti yang banyak diberitakan koran. Atau dia punya masalah dengan Yudi, anak saya?

Kenakalan remaja saat ini tidak lagi enteng. Tawuran telah menjadikan puluhan remaja meninggal. Saya berdoa semoga lamunan itu salah semua. Tapi mengingat peristiwa buruk itu bisa saja terjadi, saya mengunci seluruh pintu dan jendela rumah. Di rumah ini, pukul sepuluh pagi seperti ini, saya hanya seorang diri. Kang Yayan, suami saya, ke kantor. Yudi sekolah, Yuni yang sekolah sore pergi les Inggris, dan Bi Nia sudah seminggu tidak masuk.
Jadi kalau lelaki yang selalu memperhatikan rumah saya itu menodong, saya bisa apa? Pintu pagar rumah memang terbuka. Siapa saja bisa masuk.
Tapi mengapa anak muda itu tidak juga masuk? Tidakkah dia menunggu sampai tidak ada orang yang memergoki? Saya sedikit lega saat anak muda itu berdiri di samping tiang telepon. Saya punya pikiran lain. Mungkin dia sedang menunggu seseorang, pacarnya, temannya, adiknya, atau siapa saja yang janjian untuk bertemu di tiang telepon itu. Saya memang tidak mesti berburuk sangka seperti tadi. Tapi dizaman ini, dengan peristiwa-peristiwa buruk, tenggang rasa yang semakin menghilang, tidakkah rasa curiga lebih baik daripada lengah?
Saya masih tidak beranjak dari persembunyian, di antara kain gorden, di samping kaca nako. Saya masih was-was karena anak muda itu sesekali masih melihat ke rumah. Apa maksudnya? Ah, bukankah banyak pertanyaan di dunia ini yang tidak ada jawabannya.
Terlintas di pikiran saya untuk menelepon tetangga. Tapi saya takut jadi ramai. Bisa-bisa penduduk se-kompleks mendatangi anak muda itu. Iya kalau anak itu ditanya-tanya secara baik, coba kalau belum apa-apa ada yang memukul.
Tiba-tiba anak muda itu membalikkan badan dan masuk ke halaman rumah. Debaran jantung saya mengencang kembali. Saya memang mengidap penyakit jantung. Tekad saya untuk menelepon tetangga sudah bulat, tapi kaki saya tidak bisa melangkah. Apalagi begitu anak muda itu mendekat, saya ingat, saya pernah melihatnya dan punya pengalaman buruk dengannya. Tapi anak muda itu tidak lama di teras rumah. Dia hanya memasukkan sesuatu ke celah di atas pintu dan bergegas pergi. Saya masih belum bisa mengambil benda itu karena kaki saya masih lemas.
Saya pernah melihat anak muda yang gelisah itu di jembatan penyeberangan, entah seminggu atau dua minggu yang lalu. Saya pulang membeli bumbu kue waktu itu. Tiba-tiba di atas jembatan penyeberangan, saya ada yang menabrak, saya hampir jatuh. Si penabrak yang tidak lain adalah anak muda yang gelisah dan mondar-mandir di depan rumah itu, meminta maaf dan bergegas mendahului saya. Saya jengkel, apalagi begitu sampai di rumah saya tahu dompet yang disimpan di kantong plastik, disatukan dengan bumbu kue, telah raib.
Dan hari ini, lelaki yang gelisah dan si penabrak yang mencopet itu, mengembalikan dompet saya lewat celah di atas pintu. Setelah saya periksa, uang tiga ratus ribu lebih, cincin emas yang selalu saya simpan di dompet bila bepergian, dan surat-surat penting, tidak ada yang berkurang.
Lama saya melihat dompet itu dan melamun. Seperti dalam dongeng. Seorang anak muda yang gelisah, yang siapa pun saya pikir akan mencurigainya, dalam situasi perekonomian yang morat-marit seperti ini, mengembalikan uang yang telah digenggamnya. Bukankah itu ajaib, seperti dalam dongeng. Atau hidup ini memang tak lebih dari sebuah dongengan?
Bersama dompet yang dimasukkan ke kantong plastik hitam itu saya menemukan surat yang dilipat tidak rapi. Saya baca surat yang berhari-hari kemudian tidak lepas dari pikiran dan hati saya itu. Isinya seperti ini:
—–
“Ibu yang baik…, maafkan saya telah mengambil dompet Ibu. Tadinya saya mau mengembalikan dompet Ibu saja, tapi saya tidak punya tempat untuk mengadu, maka saya tulis surat ini, semoga Ibu mau membacanya.
Sudah tiga bulan saya berhenti sekolah. Bapak saya di-PHK dan tidak mampu membayar uang SPP yang berbulan-bulan sudah nunggak, membeli alat-alat sekolah dan memberi ongkos. Karena kemampuan keluarga yang minim itu saya berpikir tidak apa-apa saya sekolah sampai kelas 2 STM saja. Tapi yang membuat saya sakit hati, Bapak kemudian sering mabuk dan judi buntut yang beredar sembunyi-sembunyi itu.
Adik saya yang tiga orang, semuanya keluar sekolah. Emak berjualan goreng-gorengan yang dititipkan di warung-warung. Adik-adik saya membantu mengantarkannya. Saya berjualan koran, membantu-bantu untuk beli beras.
Saya sadar, kalau keadaan seperti ini, saya harus berjuang lebih keras. Saya mau melakukannya. Dari pagi sampai malam saya bekerja. Tidak saja jualan koran, saya juga membantu nyuci piring di warung nasi dan kadang (sambil hiburan) saya ngamen. Tapi uang yang pas-pasan itu (Emak sering gagal belajar menabung dan saya maklum), masih juga diminta Bapak untuk memasang judi kupon gelap. Bilangnya nanti juga diganti kalau angka tebakannya tepat. Selama ini belum pernah tebakan Bapak tepat. Lagi pula Emak yang taat beribadah itu tidak akan mau menerima uang dari hasil judi, saya yakin itu.
Ketika Bapak semakin sering meminta uang kepada Emak, kadang sambil marah-marah dan memukul, saya tidak kuat untuk diam. Saya mengusir Bapak. Dan begitu Bapak memukul, saya membalasnya sampai Bapak terjatuh-jatuh. Emak memarahi saya sebagai anak laknat. Saya sakit hati. Saya bingung. Mesti bagaimana saya?
Saat Emak sakit dan Bapak semakin menjadi dengan judi buntutnya, sakit hati saya semakin menggumpal, tapi saya tidak tahu sakit hati oleh siapa. Hanya untuk membawa Emak ke dokter saja saya tidak sanggup. Bapak yang semakin sering tidur entah di mana, tidak perduli. Hampir saya memukulnya lagi.
Di jalan, saat saya jualan koran, saya sering merasa punya dendam yang besar tapi tidak tahu dendam oleh siapa dan karena apa. Emak tidak bisa ke dokter. Tapi orang lain bisa dengan mobil mewah melenggang begitu saja di depan saya, sesekali bertelepon dengan handphone. Dan di seberang stopan itu, di warung jajan bertingkat, orang-orang mengeluarkan ratusan ribu untuk sekali makan.
Maka tekad saya, Emak harus ke dokter. Karena dari jualan koran tidak cukup, saya merencanakan untuk mencopet. Berhari-hari saya mengikuti bus kota, tapi saya tidak pernah berani menggerayangi saku orang. Keringat dingin malah membasahi baju. Saya gagal jadi pencopet.
Dan begitu saya melihat orang-orang belanja di toko, saya melihat Ibu memasukkan dompet ke kantong plastik. Maka saya ikuti Ibu. Di atas jembatan penyeberangan, saya pura-pura menabrak Ibu dan cepat mengambil dompet. Saya gembira ketika mendapatkan uang 300 ribu lebih.
Saya segera mendatangi Emak dan mengajaknya ke dokter. Tapi Ibu…, Emak malah menatap saya tajam. Dia menanyakan, dari mana saya dapat uang. Saya sebenarnya ingin mengatakan bahwa itu tabungan saya, atau meminjam dari teman. Tapi saya tidak bisa berbohong. Saya mengatakan sejujurnya, Emak mengalihkan pandangannya begitu saya selesai bercerita.
Di pipi keriputnya mengalir butir-butir air. Emak menangis. Ibu…, tidak pernah saya merasakan kebingungan seperti ini. Saya ingin berteriak. Sekeras-kerasnya. Sepuas-puasnya. Dengan uang 300 ribu lebih sebenarnya saya bisa makan-makan, mabuk, hura-hura. Tidak apa saya jadi pencuri. Tidak perduli dengan Ibu, dengan orang-orang yang kehilangan. Karena orang-orang pun tidak perduli kepada saya. Tapi saya tidak bisa melakukannya. Saya harus mengembalikan dompet Ibu. Maaf.”
—–
Surat tanpa tanda tangan itu berulang kali saya baca. Berhari-hari saya mencari-cari anak muda yang bingung dan gelisah itu. Di setiap stopan tempat puluhan anak-anak berdagang dan mengamen. Dalam bus-bus kota. Di taman-taman. Tapi anak muda itu tidak pernah kelihatan lagi. Siapapun yang berada di stopan, tidak mengenal anak muda itu ketika saya menanyakannya.
Lelah mencari, di bawah pohon rindang, saya membaca dan membaca lagi surat dari pencopet itu. Surat sederhana itu membuat saya tidak tenang. Ada sesuatu yang mempengaruhi pikiran dan perasaan saya. Saya tidak lagi silau dengan segala kemewahan. Ketika Kang Yayan membawa hadiah-hadiah istimewa sepulang kunjungannya ke luar kota, saya tidak segembira biasanya.Saya malah mengusulkan oleh-oleh yang biasa saja.
Kang Yayan dan kedua anak saya mungkin aneh dengan sikap saya akhir-akhir ini. Tapi mau bagaimana, hati saya tidak bisa lagi menikmati kemewahan. Tidak ada lagi keinginan saya untuk makan di tempat-tempat yang harganya ratusan ribu sekali makan, baju-baju merk terkenal seharga jutaan, dan sebagainya.
Saya menolaknya meski Kang Yayan bilang tidak apa sekali-sekali. Saat saya ulang tahun, Kang Yayan menawarkan untuk merayakan di mana saja. Tapi saya ingin memasak di rumah, membuat makanan, dengan tangan saya sendiri. Dan siangnya, dengan dibantu Bi Nia, lebih seratus bungkus nasi saya bikin. Diantar Kang Yayan dan kedua anak saya, nasi-nasi bungkus dibagikan kepada para pengemis, para pedagang asongan dan pengamen yang banyak di setiap stopan.
Di stopan terakhir yang kami kunjungi, saya mengajak Kang Yayan dan kedua anak saya untuk makan bersama. Diam-diam air mata mengalir dimata saya.
Yuni menghampiri saya dan bilang, “Mama, saya bangga jadi anak Mama.” Dan saya ingin menjadi Mama bagi ribuan anak-anak lainnya.

Saturday, April 18, 2009

Raja Alfred Dan Kue Yang Gosong


Suatu hari, ketika Raja Alfred yang baik dari Inggris dipaksa melarikan diri dari pasukan musuh, ia menyembunyikan dirinya di sebuah hutan. Di dalam hutan ini, ada sebuah gubuk yang kecil, dan Alfred bertanya pada wanita yang tinggal di sana apakah ia boleh masuk dan beristirahat. Wanita desa itu tidak mengetahui bahwa yang berdiri dihadapannya adalah raja, mengiranya sebagai seorang prajurit Inggris yang tampak sangat lelah, maka dia membiarkan raja Alfred masuk dan duduk di dapurnya.

Di atas perapian, beberapa kue sedang dipanggang, dan wanita itu mengatakan kepada orang asing itu untuk menjaganya, dan berhati-hatilah supaya ia tidak gosong, setelah itu wanita itu akan memberi dia makan malam dengan kue tersebut. Lalu wanita itu pergi untuk lakukan pekerjaannya.

Pada mulanya, Raja Alfred mengamati kue-kue itu secara hati-hati; ketika satu sisi sudah matang ia membalikkan sisi yang lain keperapian. Tetapi, saat sedang menunggu, ia mulai berpikir tentang negerinya, dan tentang rakyatnya yang miskin, lalu ia melupakan kue tersebut.

Ketika wanita itu kembali, kue-kue itu telah hitam dan gosong. “Kamu adalah seorang yang sangat ceroboh!” dia berteriak dengan marah. “Kamu telah sangat lapar dan bisa mengisi perut dengan kue-kue ini, tapi kenapa kamu tidak menjaganya sampai gosong begini!”

Selagi dia mendamprat dengan keras, suaminya pulang. Ia mengenali bahwa yang sedang duduk di dapurnya adalah Raja Alfred. Ia berkata: “Diam, istriku!” teriaknya. “Ia adalah yang mulia raja kita!”

Ketika wanita itu mendengar hal ini, dia sangat ketakutan, dan dia memohon kepada Alfred untuk mengampuninya.

Raja yang rendah hati ini tersenyum, dan berkata: “Saya akan dengan dengan senang hati memaafkan Anda, asalkan Anda mengampuni saya karena membuat kue-kue ini gosong.”

Sumber : www.erabaru.or.id

"Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut Tuhan dari padamu : selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hdapan Allahmu ?" (Mikha 6 : 8)

3 pertanyaan


Leo Tolstoy menceritakan sebuah kisah indah tentang seorang raja yang ingin mengetahui jawaban atas 3 pertanyaan: Kapan waktu yang tepat untuk melakukan segala hal? Siapa yang terpenting? Dan apa hal terpenting yang harus dilakukan? Raja menjanjikan hadiah besar bagi mereka yang berhasil menjawab ketiga pertanyaan tersebut dengan tepat.

Untuk pertanyaan pertama, ada yang menasehatkan raja untuk membuat jadwal kerja dan berkonsentrasi. Yang lain menganjurkan supaya raja tidak membuang-buang waktu. Ada yang menganjurkan raja untuk mengangkat penasehat-penasihat yang bijak. Yang berikutnya menganjurkan supaya raja memakai juru ramal saja karena lebih cepat daripada mencari dan merekrut orang bijaksana.

Pertanyaan kedua, seseorang berkata bahwa raja perlu mempercayai pegawai-pegawainya, pendeta, dan ahli-ahli perang.

Pertanyaan ketiga, ada yang mengatakan ilmu pengetahuan, ada yang mengatakan agama atau ilmu kemiliteran.

Raja tidak puas dengan semua jawaban yang ada. Akhirnya ia memutuskan untuk mengunjungi seorang pertapa bijaksana yang hidup di puncak gunung. Raja kemudian menyamar menjadi seorang rakyat jelata dan pergi mengunjungi orang tersebut. Sampai di puncak gunung, ia mendapati sang pertapa sedang menggali beberapa lubang di kebunnya. Ketika raja menanyakan ketiga pertanyaannya, si pertapa hanya tersenyum sambil menepuk-nepuk pundak sang raja dan meneruskan pekerjaannya. Raja berkata, "Anda kelihatannya lelah mari saya bantu menggali." Pertapa itu mengucapkan terima kasih, dan memberikan sekopnya kepada raja. Ia duduk di bawah pohon untuk beristirahat.

Ketika raja telah menyelesaikan 2 lubang, kembali ia menanyakan 3 pertanyaannya kepada si pertapa. Pertapa itu tidak menjawabnya, malahan ia mengatakan hal lainnya, "Kenapa Anda tidak beristirahat dulu? Biarkan saya meneruskan pekerjaan itu lagi." Tetapi raja meneruskan pekerjaannya. Satu,dua jam pun berlalu. Akhirnya Matahari terbenam. Raja meletakkan sekop dan duduk di samping Si Pertapa. Raja menanyakan kembali pertanyaannya.

Tiba-tiba seorang laki-laki lari mendekati mereka dari dalam hutan. Ia meletakkan tangannya di perutnya yang terluka. Laki-laki itu pingsan di tanah. Seluruh tubuhnya berlumuran darah. Tak tahan melihatnya, raja membuka pakaian laki-laki itu dan membersihkan lukanya. Saat siuman, raja memberi ia minum. Berdua bersama Si Pertapa, ia menggendong laki-laki itu ke pondok karena hari mulai gelap. Raja merasa kelelahan, dan jatuh tertidur. Keesokan paginya, ketika raja membuka mata, laki-laki itu telah siuman. Ketika melihat raja, laki-laki itu berbisik, "Maafkan saya." "Mengapa saya harus memaafkanmu?" tanya raja. “Saya adalah musuh Anda, saya datang untuk membunuh Anda. Tetapi saya bertemu pengawal-pengawal istana, Mereka melukai saya. Untung saya bisa melarikan diri. Kalau saja Anda tidak menolong saya, pasti saat ini saya sudah mati. Anda telah menyelamatkan saya! Saya merasa malu dan saya ingin berterima kasih atas kebaikan Anda. Saya bersumpah, saya, anak dan cucu saya akan mengabdi kepada Anda? Maafkan saya."

Raja merasa sangat bersukacita karena begitu mudah ia didamaikan dengan musuhnya. Sebelum pulang, raja menemui Pertapa untuk berpamitan. Pertapa itu berkata, "Pertanyaan-pertanyaan Anda telah terjawab." Ketika Pertapa melihat raja kebingungan, ia segera melanjutkan pernyataannya. "Kemarin seandainya Anda tidak merasa kasihan kepada saya dan menolong saya di kebun, maka Anda sudah terbunuh di hutan. Maka Anda pasti akan menyesal mengapa tidak tinggal saja di sini. Jadi waktu yang tepat adalah saat Anda menggali lubang, orang yang terpenting adalah saya dan pekerjaan yang terpenting adalah menolong saya.

Kemudian saat laki-laki itu datang, waktu yang terpenting adalah saat Anda mengobati lukanya, karena bila tidak Anda lakukan ia akan mati dan Anda akan kehilangan kesempatan berdamai dengannya. Demikian juga, ia adalah orang yang terpenting. Sedangkan hal yang terpenting adalah mengobati lukanya."

Ingatlah bahwa waktu yang terpenting itu cuma satu dan waktu itu adalah “Sekarang”. “Sekarang” adalah satu-satunya waktu yang ada di tangan kita. Orang yang terpenting selalu adalah orang yang ada di sisi kita, di depan kita karena siapa yang tahu hubungan apa yang akan kita miliki dengannya di masa yang akan datang. Pekerjaan yang terpenting adalah membuat orang itu bahagia.

Sumber : www.erabaru.or.id

Adakah yang mendoakan kita?


Seorang pengusaha mengalami stroke, sudah 7 malam dirawat di RS di ruang ICU. Pada suatu malam di dalam dunia roh seorang Malaikat menghampiri si pengusaha yang terbaring tak berdaya.

Malaikat memulai pembicaraan, "Kalau dalam waktu 24 jam ada 50 orang berdoa buat kesembuhanmu, maka kau akan hidup dan sebaliknya jika dalam 24 jam jumlah yang aku tetapkan belum terpenuhi, itu artinya kau akan meninggal dunia!

"Kalau hanya mencari 50 orang, itu sih gampang. Aku memiliki 2000 karyawan. " kata si pengusaha ini dengan yakinnya.

Setelah itu Malaikat pun pergi dan berjanji akan datang 1 jam sebelum batas waktu yang sudah disepakati.

Tepat pukul 23:00, Malaikat kembali merngunjunginya, dengan antusiasnya si pengusaha bertanya, "Apakah besok pagi aku sudah pulih?".

Dengan lembut si Malaikat berkata, "Anakku, aku sudah berkeliling mencari suara hati yang berdoa buatmu tapi sampai saat ini baru 3 orang yang berdoa buatmu, sedang waktumu sempit, rasanya mustahil ada 50 orang yang berdoa buat kesembuhanmu".

Lalu si Malaikat menunjukkan layar besar berupa TV, 3 orang yang berdoa buat kesembuhannya adalah istri dan kedua anaknya. Berdoa dengan khusuk dan tampak tetesan air mata di pipi mereka".

Kata Malaikat, "Aku akan memberitahumu, kenapa Tuhan mau memberikanmu kesempatan kedua? Itu karena doa istrimu yang tidak putus-putus berharap akan kesembuhanmu"

Kembali terlihat di mana si istri sedang berdoa pada pukul 02:00 dini hari, " Tuhan, aku sadar kalau selama hidupnya suamiku bukanlah suami atau ayah yang baik! Tapi Tuhan, tolong pandang anak-anak yang telah Engkau titipkan pada kami, mereka masih membutuhkan seorang ayah dan hamba tidak mampu membesarkan mereka seorang diri." dan setelah itu istrinya berhenti berkata tapi air matanya semakin deras mengalir di pipinya yang kelihatan tirus karena kurang istirahat".

Melihat peristiwa itu, tanpa terasa, air mata mengalir di pipi pengusaha ini. Timbul penyesalan bahwa selama ini dia bukanlah suami yang baik dan ayah yang menjadi teladan bagi anak-anaknya, dan malam ini dia baru menyadari betapa besar cinta istri dan anak-anak padanya.

Waktu terus bergulir, waktu yang dia miliki hanya 10 menit lagi, tidak mungkin dalam waktu 10 menit ada 47 orang yang berdoa untuknya!

Dengan setengah bergumam dia bertanya, "Apakah di antara orang yang ku kenal, tidak ada yang berdoa buatku?"

Jawab si Malaikat, "Ada beberapa yang berdoa buatmu tapi mereka tidak tulus, bahkan ada yang mensyukuri penyakit yang kau derita saat ini. Itu karena selama ini kamu arogan, egois dan bukanlah atasan yang baik, bahkan kau tega memecat karyawan yang tidak bersalah".

Si pengusaha tertunduk lemah, dan pasrah menghadapi saat terakhir, dia minta waktu sesaat untuk melihat anak dan si istri yang setia menjaganya sepanjang malam.

Ketika waktu menunjukkan pukul 24:00, tiba-tiba si Malaikat berkata, "Anakku, Tuhan melihat air matamu dan penyesalanmu! Kau tidak jadi meninggal, karena ada 47 orang yang berdoa buatmu tepat jam 24:00".

Si Malaikat menunjukkan Panti Asuhan yang pernah diberinya bantuan. Meski bantuannya waktu itu tidak tulus namun sangat berarti bagi panti asuhan itu. Anak-anak panti asuhan itulah yang berdoa buat kesembuhannya.

Sumber : www.erabaru.or.id

Wednesday, March 25, 2009

Khotbah tentang dosa kebohongan


Pengkhotbah memberitahu pada umatnya, “Minggu depan saya merencanakan untuk berkhotbah tentang dosa kebohongan. Untuk membantu Anda memahami-nya, saya ingin Anda semua membaca Markus pasal 17.”

Pada Minggu berikutnya, ketika bersiap menyampaikan khotbahnya, ia berkata, “Saya ingin tahu berapa banyak di antara Anda telah membaca Markus 17.”

Semua orang mengacungkan jarinya. Pengkhotbah itu tersenyum dan berkata, ”Markus hanya memiliki 16 pasal. Sekarang saya akan memulai khotbah saya tentang dosa kebohongan.”

Pendeta gugup


Seorang pendeta muda yang gugup karena masih baru di gereja itu, dalam khotbahnya mengatakan, “Dan mereka pun memberi makan pada lima orang dengan lima ribu roti dan dua ribu ikan.”

Seorang anggota jemaat menggumam, “Tak ada yang aneh, saya pun bisa.”

Menyadari kesalahannya, pada Minggu berikutnya pendeta itu mengulangi lagi kata-katanya, kali ini dengan benar, “Dan mereka pun memberi makan pada lima ribu orang dengan lima roti dan dua ikan.”

Dengan tersenyum pendeta itu bertanya, “Pak Perkins, apakah Anda bisa melakukannya?”

“Tentu saja saya bisa.” jawab yang ditanya.

“Bagaimana Anda melakukannya? “

“Dari yang tersisa Minggu yang lalu.”

Anggota bala tentara Allah


Suatu hari seorang teman saya datang ke gereja. Seperti biasa pendeta berdiri didepan pintu menyalami umatnya. Ketika menyalami teman saya itu pendeta menariknya ke samping.

Pendeta itu berkata padanya, “Anda perlu bergabung pada Bala Tentara ALLAH.”

Teman saya menjawab, “Tetapi saya sudah bergabung.”

Pendeta itu bertanya, “Bagaimana bisa, saya melihat Anda di gereja hanya pada waktu Natal dan Paskah.”

Teman saya berbisik, “Saya bekerja di dinas rahasianya pak.”

Pendeta selalu menolong

Seorang guru muda yang masih baru berusaha membuka lemari yang berisi perlengkapan mengajar.

Ia sudah diberitahu nomor kombinasi untuk lemari itu, tetapi ia lupa.Akhirnya ia pergi ke kamar kerja pendeta untuk minta tolong.

Pendeta itu datang ke ruang perlengkapan dan mencoba memutar nomor kombinasi. Setelah memutar dua nomor pertama pastor tampak ragu-ragu.

Akhirnya ia menengadah ke atas dan dengan khidmat mulutnya mengucapkan sesuatu. Kemudian ia kembali melihat ke kunci kombinasi dan tanpa ragu-ragu ia memutar nomor kombinasi dan membuka kuncinya.

Guru muda itu sangat takjub, “Saya sangat mengagumi pendeta.”

“Sebenarnya bukan apa-apa,” jawab pendeta itu, “Nomor itu saya tempel di langit-langit. “

Apakah anda kristen


Sikecil Johny sedang berjalan-jalan di tepi pantai dan ia melihat seorang wanita sedang duduk santai di pasir di bawah payung. Ia berjalan menuju ke wanita itu seraya bertanya, “Apakah Anda Kristen?”

“Ya.” Jawabnya. “Apakah Anda membaca Alkitab setiap hari?”

Wanita itu menganggukkan kepala, “Ya.”

“Apakah Anda sering berdoa?” tanya Johny, dan sekali lagi wanita itu menjawab, “Ya.”

“Kalau begitu bolehkah saya titip uang saya karena saya akan berenang.”

Kalau dia tidak disurga


Seorang wanita Kristen sering melakukan perjalanan untuk keperluan bisnisnya.Tetapi setiap kali terbang ia selalu gelisah hingga ia selalu membawa Alkitab untuk dibacanya agar dapat menenangkan diri.

Suatu ketika ia duduk disebelah seorang laki-laki. Laki-laki itu bertanya “Apakah Anda benar-benar percaya pada apa yang tertulis disitu?” Perempuan itu menjawab, “Tentu saja. Ini adalah Alkitab.”

Laki-laki itu berkata, “Lalu bagaimana dengan Yunus yang ditelan oleh ikan paus?” Perempuan itu menjawab, “Oh, Yunus. Ya saya percaya itu, bukan-kah itu diceritakan dalam Alkitab?”

Laki-laki itu bertanya, “Dapatkah Anda menjelaskan, bagaimana ia dapat selamat berada di perut ikan paus selama tiga hari?”

Perempuan itu berkata, “Oh itu saya tidak tahu. Saya kira bila kelak saya masuk Surga, saya akan menanyakannya. “

“Bagaimana kalau ia tidak di sorga?”, tanya laki-laki itu dengan sinis.

“Kalau begitu Anda saja yang menanyakannya. “

Cinta tak harus berwujud bunga


Suatu hari saya dikunjungi oleh teman saya yang sudah berumah tangga, sebut saja Ika, dia bercerita :

loveTiga tahun dalam masa perkenalan, dan dua tahun dalam masa pernikahan, saya harus akui, bahwa saya mulai merasa lelah, alasan-2 saya mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan. Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-2 sensitif. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan. Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal.

Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan perceraian.

“Mengapa?”, dia bertanya dengan terkejut.

“Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya inginkan”

Dia terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak.

Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya?

Akhirnya dia bertanya,:

“Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiranmu?”.

Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan,:

“Saya punya pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya di dalam hati saya, saya akan merubah pikiran saya : Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung dan kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati, Apakah kamu akan melakukannya untuk saya?”

Dia termenung dan akhirnya berkata,

“Saya akan memberikan jawabannya besok.”

Hati saya langsung gundah mendengar responnya. Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan saya menemukan selembar kertas dengan oret-2an tangannya dibawah sebuah gelas yang bertuliskan. …

“Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya… “

Kalimat pertama ini menghancurkan hati saya. Saya melanjutkan untuk membacanya.

“Kamu bisa mengetik di komputer namun selalu mengacaukan program di PC-nya dan akhirnya menangis di depan monitor, saya harus memberikan jari-2 saya supaya bisa membantumu dan memperbaiki programnya.”

“Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar rumah, dan saya harus memberikan kaki saya supaya bisa mendobrak pintu, dan membukakan pintu untukmu ketika pulang.”

“Kamu suka jalan-2 ke luar kota tetapi selalu nyasar di tempat-tempat baru yang kamu kunjungi, saya harus menunggu di rumah agar bisa memberikan mata saya untuk mengarahkanmu. “

“Kamu selalu pegal-2 pada waktu ‘teman baikmu’ datang setiap bulannya, dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kakimu yang pegal.”

“Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi ‘aneh’. Dan harus membelikan sesuatu yang dapat menghiburmu di rumah atau meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal lucu yang aku alami.”

“Kamu selalu menatap komputermu, membaca buku dan itu tidak baik untuk kesehatan matamu, saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu.”

“Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-2 bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajahmu”.

“Tetapi sayangku, saya tidak akan mengambil bunga itu untuk mati. Karena, saya tidak sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kematianku.” “Sayangku, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintaimu lebih dari saya mencintaimu. “

“Untuk itu sayang, jika semua yang telah diberikan tanganku, kakiku, mataku, tidak cukup bagimu. Aku tidak bisa menahan dirimu mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakanmu. “

Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat cintanya menjadi kabur, tetapi saya tetap berusaha untuk membacanya.

“Dan sekarang, sayangku, kamu telah selasai membaca jawaban saya. Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkanku untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri disana menunggu jawabanmu.”

“Jika kamu tidak puas, sayangku, biarkan aku masuk untuk membereskan barang-barangku, dan aku tidak akan mempersulit hidupmu. Percayalah, bahagiaku bila kau bahagia.”.

Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaanku.

Oh, kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai saya lebih dari dia mencintaiku.

Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang dari hati kita karena kita merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu.

Hukum Truk Sampah


Suatu hari saya naik sebuah taxi dan menuju ke Bandara. Kami melaju pada jalur yang benar ketika tiba-tiba sebuah mobil hitam melompat keluar dari tempat parikr tepat di depan kami. Supir taxi menginjak pedal rem dalam-dalam hingga ban mobil berdecit dan berhenti hanya beberapa cm dari mobil tersebut.

Pengemudi mobil hitam tersebut mengeluarkan kepalanya dan mulai menjerit ke arah kami. Supir taxi hanya tersenyum dan melambai pada orang orang tersebut. Saya benar-benar heran dengan sikapnya yang bersahabat. Maka saya bertanya, “Mengapa anda melakukannya? Orang itu hampir merusak mobil anda dan dapat saja mengirim kita ke rumah sakit!”

Saat itulah saya belajar dari supir taxi tersebut mengenai apa yang saya kemudian sebut “Hukum Truk Sampah”.

Ia menjelaskan bahwa banyak orang seperti truk sampah. Mereka berjalan keliling membawa sampah, seperti frustrasi, kemarahan, kekecewaan. Seiring dengan semakin penuh kapasitasnya, semakin mereka membutuhkan tempat untuk membuangnya, dan seringkali mereka membuangnya kepada anda. Jangan ambil hati, tersenyum saja lambaikan tangan, berkati mereka, lalu lanjutkan hidup.

Jangan ambil sampah mereka untuk kembali membuangnya kepada orang lain yang anda temui, di tempat kerja di rumah atau dalam perjalanan. Intinya, orang yang sukses adalah orang yang tidak membiarkan “truk sampah” mengambil alih hari-hari mereka dengan merusak suasana
hati.

Hidup ini terlalu singkat untuk bangun di pagi hari dengan penyesalan, maka:
Kasihilah orang yang memperlakukan anda dengan benar, berdoalah bagi yang tidak Hidup itu 10% mengenai apa yang kau buat dengannya dan 90% tentang bagaimana kamu menghadapinya Hidup bukan mengenai menunggu
badai berlalu, tapi tentang bagaimana belajar menari dalam hujan
Selamat menikmati hidup yang diberkati dan bebas dari “sampah”