Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.( Yohanes 15 : 16 )

Saturday, January 15, 2011

Inspirasi Mengatasi Masalah


Inspirasi untuk mengatasi Masalah-Masalah Besar dalam Hidup Anda

Eunice Chew adalah seorang wanita Sukses. Secara finansial, Beliau memiliki penghasilan besar dari merawat orang-orang kaya di Singapura. Ibu Chew juga mengelola sebuah bisnis mega-profit di bidang Herbal Tradisional Tiongkok. Selain itu, wanita yang dinobatkan sebagai Finalis Wanita Teladan Singapura 2005 pada usia 52 tahun ini juga aktif sebagai sukarelawan yang memberikan konsultasi dan pendampingan gratis bagi kaum wanita korban ketidak-setiaan pasangan hidup, dan juga bagi orang-orang yang telah lama menderita sakit tak tersembuhkan.

Eunice Chew menjadi Seorang yang Besar ternyata bukan karena kondisi-kondisi besar atau kondisi yang menguntungkan dirinya untuk menjadi besar. Beliau menjadi seorang yang besar adalah karena Beliau MEMILIH DIRINYA untuk menjadi Besar di tengah-tengah kondisi-kondisi kecil atau kondisi yang sama sekali tidak menguntungkan, di mana kebanyakan orang akan menyerah dalam kondisi-kondisi tersebut.

Mari kita simak sekilas kisah hidup Eunice Chew…

Chew kecil diangkat anak oleh Keluarga kaya raya Teochew yang ingin memiliki anak perempuan. Masa kanak-kanak Chew kecil dikelilingi kemewahan layaknya anak orang kaya. Namun di sisi lain, Pasangan Teochew memiliki gaya hidup kuno yang tidak mengenal sentuhan, pelukan dan ciuman untuk anak-anak mereka dalam mengungkapkan kasih sayang. Chew kecil tumbuh menjadi wanita yang selalu mendambakan kasih sayang.

Usia 17 tahun, Chew muda menikah dengan seorang pegawai transportasi, dan berharap mendapatkan kasih sayang dari pria itu. Singkat cerita, harapan itu adalah harapan kosong. Sang suami ternyata adalah pria yang suka menyiksa istri. Perkawinan itu hanya bertahan lima tahun, dan Chew muda sudah dikaruniai dua orang anak.

Tidak lama setelah Chew bercerai, ayah angkatnya wafat karena sakit. Pembagian warisan menimbulkan pertikaian sengit dalam keluarga besar Teochew. Akhirnya Chew yang hanya anak angkat harus rela tidak kebagian apa-apa. Lebih parah lagi, saudara-saudaranya, anak kandung Keluarga Teochew sendiri, membebani Chew untuk mengurusi ibu mereka yang sudah buta dan lumpuh. Chew hidup bersama kedua anak dan ibu angkatnya dalam keadaan sangat miskin.

Chew berjualan susu coklat untuk menyambung hidup. Itulah pengalaman pertamanya mencari uang. Setiap malam selesai berjualan, Chew menangis karena dia sama sekali tidak mengerti bagaimana harus menjalankan usaha, bahkan usaha sekecil itu. Chew harus bisa memberi makan ibunya yang mulai sakit-sakitan dan kedua anaknya.

Kepedihan ini mereka jalani selama 2 tahun. Kemudian Chew berganti pekerjaan menjadi koki. Kondisinya pun sama saja. Sekitar dua tahun juga, Chew berganti lagi menjadi penjual pakaian. Setiap hari ia menumpang kendaraan umum dengan menggendong 3-4 kantong besar berisi baju dagangannya. Saat bersamaan, ia melakukan pekerjaan lain sebagai makelar rumah dan mobil bekas. Sebagai tambahan pula, setiap malam Chew mendesain beberapa pola kain untuk sebuah perusahaan garmen di Jepang. Meskipun hampir tidak pernah beristirahat sepanjang hari, pendapatannya mulai lumayan. Namun akhir tahun 70-an, pasar tekstil melemah, pekerjaannya menjual pakaian dan mendesain kain pun lenyap.

Chew terpaksa beralih menjadi pelayan restoran. Karena etos kerjanya yang bagus, beberapa saat kemudian dia diangkat menjadi pimpinan pelayan dan akhirnya menjadi manajer untuk bidang entertainment di restoran tersebut. Sementara menekuni pekerjaan itu, Chew tetap menjalani pekerjaan sambilannya sebagai makelar rumah dan mobil.

Alhasil, Chew berhasil mengumpulkan modal untuk mendirikan bisnis sendiri dalam pembuatan asesoris fashion. Namun, kondisi buruk masih menimpanya, dua orang asisten yang dipercaya ternyata kabur bersama semua aset perusahaan. Peristiwa itu terjadi justru di saat Chew sangat membutuhkan uang karena ibunya berkali-kali harus keluar-masuk rumah sakit. Hidupnya yang tadinya mulai tertata mapan, harus dia bangun kembali dari NOL.

Sempat terlintas di benak Chew untuk bunuh diri, namun Tuhan masih mengetuk hati Chew dengan kasih sayangnya pada anak-anak dan juga Ibunya. Chew bangkit, dan memulai lagi usahanya dari awal dengan pinjaman modal dari beberapa sahabat yang bersimpati padanya. Sampai pada akhirnya, Eunice Chew meraih semua keberhasilannya.

Inilah cuplikan pidato Ibu Chew yang dikutip oleh Majalah The Strait Times Singapura ketika Beliau menjadi Finalis Wanita Teladan Singapura:

"Hidup ini telah mengajarkan saya bahwa selalu ada JALAN KELUAR dari setiap KESULITAN. Tenangkan diri untuk mengatasi gejolak, dan melangkahlah setapak demi setapak. Gelindingkan saja batu-batu karang yang kecil dari hidup Anda, hingga akhirnya Anda pasti memiliki kekuatan untuk mendorong batu-batu karang yang besar.”

"Pertimbangkanlah selalu perasaan orang lain terlebih dahulu, BUKANNYA perasaan Anda sendiri. Berusahalah selalu menjadi PIHAK PERTAMA yang memberikan Cinta & Perhatian pada orang lain, dan berhentilah menuntut orang lain memberikannya terlebih dahulu. Itulah satu-satunya cara yang saya ketahui untuk keluar dari kegelapan hidup.”

Ibu Eunice Chew juga memberi saran bagi mereka yang menghadapi kesulitan:
1. Tulislah Daftar Kesulitan yang Anda hadapi itu di atas kertas.
2. Bacalah Daftar Kesulitan Anda
3. Tanyakan pada diri sendiri: ”Apa hal terkecil yang saya BISA lakukan HARI INI untuk mengatasi kesulitan itu?”
4. MULAILAH melakukan hal-hal kecil itu sebagai KOMITMEN...

Gelindingkan saja batu-batu karang yang kecil dari hidup Anda, hingga akhirnya Anda pasti memiliki kekuatan untuk mendorong batu-batu karang yang besar

Aku dan Seisi Rumahku


Suatu kali, seorang Ibu mengatakan kepada saya tentang bagaimana dia
memikirkan anaknya.
Anak laki-laki ini membuat keputusan-keputusan buruk dan berjalan dengan
teman-teman yang salah.
Ibu ini berdoa dan berusaha meyakinkan anaknya untuk datang ke gereja dan
mengubah pergaulannya, tetapi anak ini tidak mau melakukannya.
Sepertinya semakin ibunya berdoa, dia justru menjadi lebih buruk.
Singkat cerita, anak ini berakhir di penjara.
Sepertinya dia tidak akan memenuhi tujuan hidup yang benar.
Tapi ibunya tidak menyerah atau bersikap negatif tentang situasi.
Ibunya terus menyatakan Firman Tuhan, "Adapun saya dan rumah saya, kami akan
melayani Tuhan. Benih orang benar pasti diberkati.."

Suatu hari Minggu pagi, anaknya yang berada di penjara sedang menonton
televisi, dan seorang narapidana lain datang dan ingin menonton sesuatu yang
lain.
Mereka mulai berdebat tentang acara televisi apa yang mereka akan tonton dan
mulai berebut remote control.
Pada saat itu, seorang narapidana lain melangkah masuk ke ruangan.
Dia berbadan besar!
Dia berdiri setinggi sekitar enam kaki enam inci.
Dia tampak seperti pemain sepak bola profesional dengan otot menonjol keluar
dari kemejanya.
Dia meraih remote control dan berkata, "Saya akan memutuskan apa yang akan
kita semua tonton."
Dia mulai membolak-balik saluran dan sampai di program televisi pelayanan
kami.
Dia berkata, "Bagus, kita akan menonton program pelayanan rohani hari ini.."

Anak laki-laki ini bangkit dari tempat duduknya untuk pergi.
Tiba-tiba temannya yang berbadan kekar itu mencengkeram kemejanya,
menariknya kembali dan berkata, "Duduklah. Kamu akan menonton dengan saya."
Tuhan bekerja dengan cara yang misterius !
Saat dia melihat program televisi, tiba-tiba, anak laki-laki ini mulai
merasakan kasih dan hadirat Tuhan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.

Dia mulai menangis.

Pada akhir acara televisi, narapidana yang berbadan kekar itu mendoakan anak
Ibu ini dan membawanya menerima Kristus.
Hari ini saya melihat anak laki-laki ini datang di ibadah gereja setiap
Minggu, duduk dengan ibunya.
Siapa yang akan berpikir bahwa saat duduk di penjara pemuda ini akan dipaksa
untuk menonton program televisi rohani, dan Tuhan akan mengubah hidupnya?
Tampaknya sesuatu yang aneh bagi pemikiran manusia.

Hari ini, saya ingin mengingatkan Anda bahwa meskipun janji-janji Tuhan yang
telah Anda pegang teguh mungkin terlihat sepertinya tidak pernah akan
terjadi,
Tuhan tetap setia. Apa yang Dia bisa lakukan untuk orang lain, Dia akan
melakukannya untuk Anda.
Sama seperti Ibu ini, tetap berdiri, tetap percaya dan terus berharap.
Dalam Alkitab, Daud mengatakan seperti ini, "Apa yang akan terjadi pada saya
jika saya tidak percaya saya bisa melihat kebaikan Tuhan?"
Saya meminta Anda hari ini untuk percaya bahwa Allah memiliki hal-hal
menakjubkan untuk masa depan Anda.
Jika Anda percaya untuk keselamatan orang-orang yang Anda kasihi, tetap
percaya karena semua hal menjadi mungkin ketika Anda percaya!

Peka Terhadap Suara Tuhan


Lebih dari 200 orang luka parah dan 60 orang kehilangann nyawanya ketika Hotel LaSalle di kota Chicago, Amerika Serikat, terbakar pada dini hari tanggal 5 Juni 1947.
Sepuluh orang di antaranya meninggal, karena melompat dari jendela kamar mereka di lantai atas.

Sebelum api mengamuk, seorang usahawan Chicago menelepon istrinya dari salah satu kamar hotel itu.
Dia memberitahunya bahwa ia sedang bermain kartu dengan beberapa temannya. Istrinya menyuruhnya pulang.Namun usahawan itu keberatan.
Ia tidak peduli atas permintaan istrinya itu. Usahawan itu mengatakan bahwa ia akan menyelesaikan satu putaran lagi baru kemudian pulang ke rumah.
Tetapi beberapa menit sebelum permainan kartunya selesai, api berkobar. Usahawan itu mati dalam nyala api yang mengerikan itu.

Para regu penolong menyeret tubuhnya yang hangus dari reruntuhan hotel itu keesokan harinya. Semua itu menimpanya, karena dia tidak mau berhenti berjudi sampai satu putaran lagi.

Hidup manusia itu tidak diketahui kapan berakhir. Caranya berakhirnya hidup itu pun tidak pernah diketahui.
Seolah-olah dalam hidup ini orang meraba-raba tentang hari esoknya. Orang tidak bisa memastikan apakah semenit kemudian dia masih hidup atau sudah meninggal.

Kisah di atas menunjukkan bahwa orang tidak peduli akan hidupnya. Orang hanya mencintai dirinya sendiri dengan mengikuti kesenangan pribadinya.
Orang tidak peduli bahwa ada sesamanya yang membutuhkan kehadirannya. Kesenangan pribadi itu ternyata berakibat fatal terhadap hidupnya.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk terus-menerus hidup di bawah naungan Tuhan.
Orang yang hidup di bawah naungan Tuhan itu senantiasa mendengarkan suara Tuhan.
Tuhan berbicara lewat orang-orang yang ada di sekitar kita.
Tuhan berbicara lewat tanda-tanda yang ada di sekitar kita. Karena itu, kita dituntut untuk peka terhadap suara Tuhan itu.
Kita dituntut untuk peka terhadap tanda-tanda jaman di sekitar kita.

Setiap hari kita menerima banyak hal baik dari Tuhan dan sesama.
Hal-hal itu merupakan tanda-tanda jaman di mana kita masih diberi perlindungan oleh Tuhan yang mahapengasih dan penyayang.
Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Tuhan senantiasa menyertai perjalanan hidup kita.

Karena itu, mari kita syukuri penyertaan Tuhan itu dan senantiasa mendengarkan suaraNya dalam hidup kita.

Friday, January 14, 2011

From OB to VP


Mungkin pepatah “Dimana ada kemauan disitu ada jalan” dan “Tiada usaha yg sia-sia dan mustahil dalam hidup ini bila kita melakukan nya dgn ketulusan dan kesungguhan karena Tuhan bersama kita ”

Sungguh sebuah karunia yang luar biasa bagi saya bisa bertemu dengan seorang yang memiliki pribadi dan kisah menakjubkan. Dialah Houtman Zainal Arifin, seorang pedagang asongan, anak jalanan, Office Boy yang kemudian menjadi Vice President Citibank di Indonesia. Sebuah jabatan Nomor 1 di Indonesia karena Presiden Direktur Citibank sendiri berada di USA.

Sekitar tahun 60an Houtman memulai karirnya sebagai perantau, berangkat dari desa ke jalanan Ibukota. Merantau dari kampung dengan penuh impian dan harapan, Houtman remaja berangkat ke Jakarta. Di Jakarta ternyata Houtman harus menerima kenyataan bahwa kehidupan ibukota ternyata sangat keras dan tidak mudah. Tidak ada pilihan bagi seorang lulusan SMA di Jakarta, pekerjaan tidak mudah diperoleh. Houtman pun memilih bertahan hidup dengan profesi sebagai pedagang asongan, dari jalan raya ke kolong jembatan kemudian ke lampu merah menjajakan dagangannya.

Tetapi kondisi seperti ini tidak membuat Houtman kehilangan cita-cita dan impian. Suatu ketika Houtman beristirahat di sebuah kolong jembatan, dia memperhatikan kendaran-kendaraan mewah yang berseliweran di jalan Jakarta. Para penumpang mobil tersebut berpakaian rapih, keren dan berdasi. Houtman remaja pun ingin seperti mereka, mengendarai kendaraan berpendingin, berpakaian necis dan tentu saja memiliki uang yang banyak. Saat itu juga Houtman menggantungkan cita-citanya setinggi langit, sebuah cita-cita dan tekad diazamkan dalam hatinya.

Tekad yang kuat dari Houtman telah membuatnya ingin segera merubah nasib. Tanpa menunggu waktu lama Houtman segera memulai mengirimkan lamaran kerja ke setiap gedung bertingkat yang dia ketahui. Bila ada gedung yang menurutnya bagus maka pasti dengan segera dikirimkannya sebuah lamaran kerja. Houtman menyisihkan setiap keuntungan yang diperolehnya dari berdagang asongan digunakan untuk membiayai lamaran kerja.

Sampai suatu saat Houtman mendapat panggilan kerja dari sebuah perusahaan yang sangat terkenal dan terkemuka di Dunia, The First National City Bank (citibank), sebuah bank bonafid dari USA. Houtman pun diterima bekerja sebagai seorang Office Boy. Sebuah jabatan paling dasar, paling bawah dalam sebuah hierarki organisasi dengan tugas utama membersihkan ruangan kantor, wc, ruang kerja dan ruangan lainnya.

Tapi Houtman tetap bangga dengan jabatannya, dia tidak menampik pekerjaan. Diterimanyalah jabatan tersebut dengan sebuah cita-cita yang tinggi. Houtman percaya bahwa nasib akan berubah sehingga tanpa disadarinya Houtman telah membuka pintu masa depan menjadi orang yang berbeda.

Sebagai Office Boy Houtman selalu mengerjakan tugas dan pekerjaannya dengan baik. Terkadang dia rela membantu para staf dengan sukarela. Selepas sore saat seluruh pekerjaan telah usai Houtman berusaha menambah pengetahuan dengan bertanya tanya kepada para pegawai. Dia bertanya mengenai istilah istilah bank yang rumit, walaupun terkadang saat bertanya dia menjadi bahan tertawaan atau sang staf mengernyitkan dahinya. Mungkin dalam benak pegawai ”ngapain nih OB nanya-nanya istilah bank segala, kayak ngerti aja”. Sampai akhirnya Houtman sedikit demi sedikit familiar dengan dengan istilah bank seperti Letter of Credit, Bank Garansi, Transfer, Kliring, dan lain lain.

Suatu saat Houtman tertegun dengan sebuah mesin yang dapat menduplikasi dokumen (saat ini dikenal dengan mesin photo copy). Ketika itu mesin foto kopi sangatlah langka, hanya perusahaan perusahaan tertentu lah yang memiliki mesin tersebut dan diperlukan seorang petugas khusus untuk mengoperasikannya. Setiap selesai pekerjaan setelah jam 4 sore Houtman sering mengunjungi mesin tersebut dan minta kepada petugas foto kopi untuk mengajarinya. Houtman pun akhirnya mahir mengoperasikan mesin foto kopi, dan tanpa di sadarinya pintu pertama masa depan terbuka. Pada suatu hari petugas mesin foto kopi itu berhalangan dan praktis hanya Houtman yang bisa menggantikannya, sejak itu pula Houtman resmi naik jabatan dari OB sebagai Tukang Foto Kopi.

Menjadi tukang foto kopi merupakan sebuah prestasi bagi Houtman, tetapi Houtman tidak cepat berpuas diri. Disela-sela kesibukannya Houtman terus menambah pengetahuan dan minat akan bidang lain. Houtman tertegun melihat salah seorang staf memiliki setumpuk pekerjaan di mejanya. Houtman pun menawarkan bantuan kepada staf tersebut hingga membuat sang staf tertegun. “bener nih kamu mau bantuin saya?” begitu Houtman mengenang ucapan sang staff dulu. “iya bener saya mau bantu, sekalian nambah ilmu” begitu Houtman menjawab. “Tapi hati-hati ya ngga boleh salah, kalau salah tanggungjawab, bisa dipecat nanti”, sang staff mewanti-wanti dengan keras. Akhirnya Houtman diberi setumpuk dokumen, tugas dia adalah membubuhkan stempel pada Cek, Bilyet Giro dan dokumen lainnya pada kolom tertentu. Stempel tersebut harus berada di dalam kolom tidak boleh menyimpang atau keluar kolom. Alhasil Houtman membutuhkan waktu berjam-jam untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut karena dia sangat berhati-hati sekali. Selama mengerjakan tugas tersebut Houtman tidak sekedar mencap, tapi dia membaca dan mempelajari dokumen yang ada. Akibatnya Houtman sedikit demi sedikit memahami berbagai istilah dan teknis perbankan. Kelak pengetahuannya ini membawa Houtman kepada jabatan yang tidak pernah diduganya.

Houtman cepat menguasai berbagai pekerjaan yang diberikan dan selalu mengerjakan seluruh tugasnya dengan baik. Dia pun ringan tangan untuk membantu orang lain, para staff dan atasannya. Sehingga para staff pun tidak segan untuk membagi ilmu kepadanya. Sampai suatu saat pejabat di Citibank mengangkatnya menjadi pegawai bank karena prestasi dan kompetensi yang dimilikinya, padahal Houtman hanyalah lulusan SMA.

Peristiwa pengangkatan Houtman menjadi pegawai Bank menjadi berita luar biasa heboh dan kontroversial. Bagaimana bisa seorang OB menjadi staff, bahkan rekan sesama OB mencibir Houtman sebagai orang yang tidak konsisten. Houtman dianggap tidak konsisten dengan tugasnya, “jika masuk OB, ya pensiun harus OB juga” begitu rekan sesama OB menggugat.

Houtman tidak patah semangat, dicibir teman-teman bahkan rekan sesama staf pun tidak membuat goyah. Houtman terus mengasah keterampilan dan berbagi membantu rekan kerjanya yang lain. Hanya membantulah yang bisa diberikan oleh Houtman, karena materi tidak ia miliki. Houtman tidak pernah lama dalam memegang suatu jabatan, sama seperti ketika menjadi OB yang haus akan ilmu baru. Houtman selalu mencoba tantangan dan pekerjaan baru. Sehingga karir Houtman melesat bak panah meninggalkan rekan sesama OB bahkan staff yang mengajarinya tentang istilah bank.

19 tahun kemudian sejak Houtman masuk sebagai Office Boy di The First National City Bank, Houtman mencapai jabatan tertingginya yaitu Vice President. Sebuah jabatan puncak citibank di Indonesia. Jabatan tertinggi citibank sendiri berada di USA yaitu Presiden Director yang tidak mungkin dijabat oleh orang Indonesia.

Sampai dengan saat ini belum ada yang mampu memecahkan rekor Houtman masuk sebagai OB pensiun sebagai Vice President, dan hanya berpendidikan SMA. Houtman pun kini pensiun dengan berbagai jabatan pernah diembannya, menjadi staf ahli citibank asia pasifik, menjadi penasehat keuangan salah satu gubernur, menjabat CEO di berbagai perusahaan dan menjadi inspirator bagi banyak orang.

“Oleh karena itu janganlah kita melihat sesuatu dari jenis pekerjaannya sekarang tp bagaimana kita melakukan pekerjaan tersebut dgn kesungguhan dan ketulusan hati dan jangan berhenti untuk terus belajar dan mengembangkan diri.” begitu katanya. Alangkah bijaknya sehingga kita pun perlu belajar darinya.

Saturday, December 25, 2010

Belajar Dari Kisah Kerang dan Bangau


"Siapa menutupi pelanggaran, mengejar kasih, tetapi siapa membangkit-bangkitkan perkara, menceraikan sahabat yang karib." (Amsal 17:9).

Di tepi sebuah pantai, kerang sedang membuka cangkangnya untuk mencari makanan. Tidak lama kemudian, datang seekor bangau melihat kerang dengan cangkang terbuka, dan bangau itu tergoda untuk memakan dagingnya. Tanpa menunggu lama, bangau pun mematuk kerang. Tak kalah sigap, kerang pun langsung dengan segera menutup cangkangnya. Paruh bangau tersangkut di cangkang kerang, sehingga bangau tersebut tidak berkutik.

Kerang berkata, "Karena kau ingin memakan dagingku, jangan harap aku melepasmu sampai kapan pun. Biar mati kau kelaparan di tepi pantai ini." Bangau pun menjawab, "Kalau kau tidak melepasku, kau juga akan mati." Tak satupun dari mereka mau mengalah. Akhirnya datanglah nelayan pantai, menangkap Bangau dan Kerang tersebut dengan mudah.

Di dalam perselisihan: tidak ada pihak yang diuntungkan, hanya ada satu pihak yang paling diuntungkan, yaitu iblis. Iblis akan sangat senang karena tahu bahwa saat tidak ada kerukunan, berkat tidak akan tercurah. Iblis pun memperoleh keuntungan karena dengan adanya pertikaian, ia dapat menanamkan benih kebencian, demdam, amarah dan kepahitan di dalam hati manusia.

Jadi bila kita menyadari bahwa perselisihan lebih banyak menghasilkan kerugian, mengapa kita tidak berusaha mengendalikan emosi kita? Selalu diperlukan dua pihak untuk bertengkar. Bila kita tidak membalas kemarahan dengan kemarahan, tentu tidak akan ada pertengkaran bukan? Jika kita merindukan berkat mengalir di dalam kehidupan, mari kita menciptakan kerukunan dan kedamaian di dalam hidup kita dengan sesama kita.

Wednesday, December 22, 2010

Cinta Seorang Ibu


Di sebuah desa, ada seorang ibu yang sudah tua, hidup berdua dengan anak
satu-satunya. Suaminya sudah lama meninggal karena sakit.

Sang ibu sering kali merasa sedih memikirkan anak satu-satunya. Anaknya
mempunyai tabiat yang sangat buruk yaitu suka mencuri, berjudi, mengadu ayam
dan banyak lagi.

Ibu itu sering menangis meratapi nasibnya yang malang, Namun ia sering
berdoa memohon kepada Tuhan : "Tuhan tolong sadarkan anakku yang kusayangi,
supaya tidak berbuat dosa lagi. Aku sudah tua dan ingin menyaksikan dia
bertobat sebelum aku mati"

Namun semakin lama si anak semakin larut dengan perbuatan jahatnya, sudah
sangat sering ia keluar masuk penjara karena kejahatan yang dilakukannya.

Suatu hari ia kembali mencuri di rumah penduduk desa, namun malang dia
tertangkap. Kemudian dia dibawa ke hadapan raja utk diadili dan dijatuhi
hukuman pancung. Pengumuman itu diumumkan ke seluruh desa, hukuman akan
dilakukan keesokan hari di depan rakyat desa dan tepat pada saat lonceng
berdentang menandakan pukul enam pagi.

Berita hukuman itu sampai ke telinga si ibu. Dia menangis meratapi anak yang
dikasihinya dan berdoa berlutut kepada Tuhan.

"Tuhan ampuni anak hamba, biarlah hamba yang sudah tua ini yang menanggung
dosanya"

Dengan tertatih tatih dia mendatangi raja dan memohon supaya anaknya
dibebaskan. Tapi keputusan sudah bulat, anakknya harus menjalani hukuman.
Dengan hati hancur, ibu kembali ke rumah. Tak hentinya dia berdoa supaya
anaknya diampuni, dan akhirnya dia tertidur karena kelelahan. Dan dalam
mimpinya dia bertemu dengan Tuhan.

Keesokan harinya, ditempat yang sudah ditentukan, rakyat berbondong-bondong
manyaksikan hukuman tersebut. Sang algojo sudah siap dengan pancungnya dan
anak sudah pasrah dengan nasibnya. Terbayang di matanya wajah ibunya yang
sudah tua, dan tanpa terasa ia menangis menyesali perbuatannya.

Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba. Sampai waktu yang ditentukan
tiba, lonceng belum juga berdentang. Sudah lewat lima menit dan suasana
mulai berisik, akhirnya petugas yang bertugas membunyikan lonceng datang.

Ia mengaku heran karena sudah sejak tadi dia menarik tali lonceng tapi suara
dentangnya tidak ada. Saat mereka semua sedang bingung, tiba-tiba dari tali
lonceng itu mengalir darah. Darah itu berasal dari atas tempat di mana
lonceng itu diikat.

Dengan jantung berdebar-debar seluruh rakyat menantikan saat beberapa orang
naik ke atas menyelidiki sumber darah. Tahukah anda apa yang terjadi?

Ternyata di dalam lonceng ditemui tubuh si ibu tua dengan kepala hancur
berlumuran darah. Dia memeluk bandul di dalam lonceng yang menyebabkan
lonceng tidak berbunyi, dan sebagai gantinya, kepalanya yang terbentur di
dinding lonceng.

Seluruh orang yang menyaksikan kejadian itu tertunduk dan meneteskan air
mata. Sementara si anak meraung raung memeluk tubuh ibunya yang sudah
diturunkan. Menyesali dirinya yang selalu menyusahkan ibunya.

Ternyata malam sebelumnya si ibu dengan susah payah memanjat ke atas dan
mengikat dirinya di lonceng. Memeluk besi dalam lonceng untuk menghindari
hukuman pancung anaknya.

Demikianlah sangat jelas kasih seorang ibu utk anaknya. Betapapun jahat si
anak, ia tetap mengasihi sepenuh hidupnya.

Marilah kita mengasihi orang tua kita masing masing selagi kita masih mampu,
karena mereka adalah sumber kasih Tuhan bagi kita di dunia ini.

Sesuatu untuk dijadikan renungan untuk kita... Agar kita selalu mencintai
sesuatu yang berharga yang tidak bisa dinilai dengan apapun.

Saturday, December 18, 2010

World of Two World


Pada zaman dahulu ada seorang pengembara. Ia melakukan perjalanan dari benua ke benua, melewati berbagai halang rintangan. Dari perjalanan yang ia lalui, ia memperoleh “ilmu pengetahuan” dan “kemampuan magic” yang luar biasa.

Hingga suatu ketika ia sampai di Kingdom of Heaven. Ia meminta cap raja untuk dapat melewati kerajaannya. Namun raja menguji kesungguhan hati pengembara itu. Ia mensyarat untuk memperoleh cap raja, pengembara harus mendapatkan sebuah bunga keabadian yang terdapat di puncak guning yang sangat curam dan terjal.

Singkat cerita, si pengembara berhasil mendapatkan bunga itu dan menyerahkannya kepada raja. Raja memberikan cap kerajaan plus hadiah kepada pengembara itu. Akan tetapi pengembara menjadi tinggi hati, ia merubah haluannya. Dengan hadiah dari raja, dan cap stempel raja, ia menetap di kerajaan itu dan menjadi tuan tanah yang sombong dan angkuh.

Melihat hal ini raja sangat menyesal. Betapa hati manusia mudah terlena oleh harta dan kenikmatan. Maka sekali lagi raja memerintahkan sang pengembara untuk melakukan sebuah tugas, yaitu membunuh naga yang menjaga kawah gunung berapi. Raja yakin bahwa tiada seorang manusia pun yang mampu mengalahkan sang naga, dan pengembara menjadi sadar. Pengembara yang merasa sebagai orang paling hebat pun setuju. Singkat kata ia berhasil mengalahkan sang naga. Ia bahkan menjadi lebih sombong dari sebelumnya. Ia menganggap dirinya lebih hebat, sakti, dan berpengetahuan dari pada sang raja.

Raja benar – benar kecewa dan marah, kemudian sang raja menunjukan murkanya. Dengan kesaktian sang raja, ia membagi dunia menjadi dua. Satu dunia, dimana penuh dengan ilmu pengetahuan, dan dunia lainnya yang merupakan dunia keajaiban dan mukjizat.

Ya, manusia mudah sekali terlena oleh kesombongan dan kenikmatan harta. Kesombongan adalah awal dari semua kehancuran, dan harta adalah jalan menuju ke sana. “keluarlah dari kotak kenyamanan Anda sekarang!”

Let God Leads Us


“Kita tidak pernah mempertanyakan ke mana supir bus kota yang kita tumpangi akan membawa bus-nya. Tetapi kita sering mempertanyakan Tuhan,kemana Dia akan membawa hidup kita”


Seorang ayah mengajak puterinya, Asa 6 tahun, mengendarai mobil menuju ke sebuah museum. Sudah lama Asa menginginkann ya. Si Ayah kebetulan hari itu mengambil cuti dan sengaja mengantar anaknya ke tempat yang sudah lama diimpikan Asa itu tanpa didampingi Bunda.

Di perjalanan, tak hentinya Asa bertanya kepada si Ayah :
“Ayah tahu tempatnya?”, tanya Asa yang duduk di samping kemudi Ayah.
“Tahu, jangan kuatir …”, jawab Ayah sembari tersenyum. “Emang Ayah tahu jalan-jalann ya? ” “Tahu, jangan kuatir …” “Benar, tidak kesasar Ayah?”
“Benar, jangan kuatir …”, jawab Ayah tetap dengan sabar.
“Nanti kalau Asa haus, bagaimana?” “Tenang, nanti Ayah beli air mineral …”
“Terus kalau lapar?” “Tenang, Ayah ajak mampir Asa ke restoran …”
“Emang ayah tahu tempat restorannya? ” “Tahu, sayang …”
“Emang ayah bawa cukup uang?” “Cukup, sayang …”
“Kalau Asa pengin ke kamar kecil?” “Ayah antar sampai depan pintu toilet wanita …”
“Emang di musium ada toiletnya?” “Ada, jangan kuatir …”
“Ayah bawa tissue juga?” “Bawa, jangan kuatir …”, kata ayah sembari membelokkan mobilnya masuk jalan tikus, karena macet.
“Kok Ayah belok ke jalan jelek dan sempit begini?”
“Ayah cari jalan yang lebih cepat … supaya Asa bisa menikmati museum lebih lama nanti …”

Tidak berapa lama, Asa kemudian tidak bertanya-ta nya lagi. Giliran sang Ayah yang bingung,
“Kenapa Asa diam, sayang?” “Ya, Asa percaya Ayah deh! Ayah pasti tahu, akan antar dan bantu Asa nanti!”

Kita ini seperti Asa si anak kecil ini. Kita bertanya banyak hal mengenai apa yang kita hadapi dan
terjadi dalam hidup kita. Terlalu banyak khawatir apa yang akan kita hadapi. Padahal sesungguhnya Tuhan “sedang mengemudi” buat kita semua. Kadang Ia membawa ke “gang sempit” yang barangkali tidak enak, tetapi itu semua untuk menghindari “kemacetan” di jalan yang
lain. Kadang Ia memperlambat “kendaraan-Nya” , kadang mempercepat. Semuanya ada maksudnya.

Ada baiknya kalau kita menyerahkan hal- hal yang di luar jangkauan kita kepada- Nya. Biarkan Dia berkarya atas hidup Anda, biarkan Dia mengemudikan hidup Anda, sebaliknya fokuskan hidup Anda
kepada hal-hal yang Anda bisa kerjakan di depan mata, dengan berkat kemampuan yang Anda sudah miliki.

Tersenyum


Saya adalah ibu tiga orang anak (umur 14, 12, dan 3 tahun) dan baru saja menyelesaikan kuliah saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi.

Sang Dosen sangat inspiratif dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang memilikinya. Tugas terakhir yang diberikannya diberi nama “Tersenyum”.

Seluruh siswa diminta untuk pergi ke luar dan tersenyum kepada tiga orang dan mendokumentasikan reaksi mereka.

Saya adalah seorang yang mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang dan mengatakan “hello”, jadi, saya pikir,tugas ini sangatlah mudah.

Segera setelah kami menerima tugas tsb, suami saya, anak bungsu saya, dan saya pergi ke restoran McDonald’s pada suatu pagi di bulan Maret yang sangat dingin dan kering.

Ini adalah salah satu cara kami dalam antrian, menunggu untuk dilayani, ketika mendadak setiap orang di sekitar kami mulai menyingkir, dan bahkan kemudian suami saya ikut menyingkir.

Saya tidak bergerak sama sekali…Suatu perasaan panik menguasai diri saya ketika saya berbalik untuk melihat mengapa mereka semua menyingkir. Ketika berbalik itulah saya membaui suatu “bau badan kotor” yang sangat menyengat, dan berdiri di belakang saya dua orang lelaki tunawisma.

Ketika saya menunduk melihat laki-laki yang lebih pendek, yang dekat dengan saya, ia sedang

“tersenyum”.

Matanya yang biru langit indah penuh dengan cahaya Tuhan ketika ia minta untuk dapat diterima. Ia berkata “Good day” sambil menghitung beberapa koin yang telah ia kumpulkan. Lelaki yang kedua memainkan tangannya dengan gerakan aneh sambil berdiri di belakang temannya.

Saya menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi mental dan lelaki dengan mata biru itu adalah penolongnya. Saya menahan haru ketika berdiri di sana bersama mereka.

Wanita muda di counter menanyai lelaki itu apa yang mereka inginkan. Ia berkata, “Kopi saja, Nona” karena hanya itulah yang mampu mereka beli.

(Jika mereka ingin duduk di dalam restoran dan menghangatkan tubuh mereka, mereka harus membeli sesuatu. Ia hanya ingin menghangatkan badan).

Kemudian saya benar-benar merasakannya – desakan itu sedemikian kuat sehingga saya hampir saja merengkuh dan memeluk lelaki kecil bermata biru itu. Hal itu terjadi bersamaan dengan ketika saya menyadari bahwa semua mata di restoran menatap saya, menilai semua tindakan saya.

Saya tersenyum dan berkata pada wanita di belakang counter untuk memberikan saya dua paket makan pagi lagi dalam nampan terpisah. Kemudian saya berjalan melingkari sudut ke arah meja yang telah dipilih kedua lelaki itu sebagai tempat istirahatnya. Saya meletakkan nampan itu ke atas meja dan meletakkan tangan saya di atas tangan dingin lelaki bemata biru itu.

Ia melihat ke arah saya, dengan air mata berlinang, dan berkata “Terima kasih.” Saya meluruskan badan dan mulai menepuk tangannya dan berkata, “Saya tidak melakukannya untukmu. Tuhan berada di sini bekerja melalui diriku untuk memberimu harapan.”

Saya mulai menangis ketika saya berjalan meninggalkannya dan bergabung dengan suami dan anak saya. Ketika saya duduk suami saya tersenyum kepada saya dan berkata, “Itulah sebabnya mengapa Tuhan memberikan kamu kepadaku, Sayang. Untuk memberiku harapan.”

Kami saling berpegangan tangan beberapa saat dan pada saat itu kami tahu bahwa hanya karena Kasih Tuhan kami diberikan apa yang dapat kami berikan untuk orang lain.

Hari itu menunjukkan kepadaku cahaya kasih Tuhan yang murni dan indah.

Saya kembali ke college, pada hari terakhir kuliah, dengan cerita ini ditangan saya. Saya menyerahkan “proyek” saya dan dosen saya membacanya. Kemudian ia melihat kepada saya dan berkata, “Bolehkan saya membagikan ceritamu kepada yang lain?” Saya mengangguk pelahan dan ia kemudian meminta perhatian dari kelas.

Ia mulai membaca dan saat itu saya tahu bahwa kami, sebagai manusia dan bagian dari Tuhan, membagikan pengalaman ini untuk menyembuhkan dan untuk disembuhkan..

Dengan caraNya sendiri, Tuhan memakai saya untuk menyentuh orang-orang yg ada diMcDonald’s, suamiku, anakku, guruku, dan setiap jiwa yang menghadiri ruang kelas di malam terakhir saya sebagai mahasiswi..

Saya lulus dengan satu pelajaran terbesar yang pernah saya pelajari: PENERIMAAN YANG TAK BERSYARAT. Banyak cinta dan kasih sayang yang dikirimkan kepada setiap orang yang mungkin membaca cerita ini dan

mempelajari bagaimana untuk MENINTAI SESAMA DAN MEMANFAATKAN BENDA-BENDA BUKANNYA MENCINTAI BENDA DAN MEMANFAATKAN SESAMA.

Seorang malaikat menulis:

Banyak orang akan datang dan pergi dari kehidupanmu, tetapi hanya sahabat2 sejati yang akan meninggalkan jejak di dalam hatimu. Untuk menangani dirimu, gunakan kepalamu. Tetapi untuk menangani orang lain, gunakan hatimu.

Tuhan memberikan kepada setiap burung makanan mereka, tetapi Ia tidak melemparkan makanan itu ke dalam sarang mereka.

Ia yang kehilangan uang, kehilangan banyak;

Ia yang kehilangan seorang teman, kehilangan lebih banyak;

tetapi ia yang kehilangan keyakinan, kehilangan semuanya.

Orang-orang muda yang cantik adalah hasil kerja alam,

tetapi orang-orang tua yang cantik adalah hasil karya seni.

Belajarlah dari kesalahan orang lain.Engkau tidak dapat hidup cukup lama untuk mendapatkan semua itu dari dirimu sendiri.

Husband Department Store


Sebuah toko yang menjual suami baru saja dibuka di kota New York dimana wanita dapat memilih suami.

Diantara instruksi-instruksi yang ada di pintu masuk terdapat instruksi yang menunjukkan bagaimana aturan main untuk masuk toko tersebut.

“Kamu hanya dapat mengunjungi toko ini SATU KALI”

Toko tersebut terdiri dari 6 lantai dimana setiap lantai akan menunjukkan sebuah calon kelompok suami.

Semakin tinggi lantainya, semakin tinggi pula nilai lelaki tersebut.

Bagaimanapun, ini adalah semacam jebakan. Kamu dapat memilih lelaki di

lantai tertentu atau lebih memilih ke lantai berikutnya tetapi dengan syarat tidak bisa turun ke lantai sebelumnya kecuali untuk keluar dari toko..Lalu, seorang wanita pun pergi ke toko “suami” tersebut untuk mencari
suami..

Di lantai 1 terdapat tulisan seperti ini : Lantai 1 : Lelaki di lantai ini memiliki pekerjaan dan taat pada Tuhan

Wanita itu tersenyum, kemudian dia naik ke lantai selanjutnya.

Di lantai 2 terdapat tulisan seperti ini : Lantai 2 : Lelaki di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, dan senang anak kecil

Kembali wanita itu naik ke lantai selanjutnya.

Di lantai 3 terdapat tulisan seperti ini : Lantai 3 : Lelaki di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, senang anak kecil dan cakep banget.

” Wow”, tetapi pikirannya masih penasaran dan terus naik.

Lalu sampailah wanita itu di lantai 4 dan terdapat tulisan

Lantai 4 : Lelaki di lantai ini yang memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, senang anak kecil, cakep banget dan suka membantu pekerjaan rumah.

”Ya ampun !” Dia berseru, ”Aku hampir tak percaya”

Dan dia tetap melanjutkan ke lantai 5 dan terdapat tulisan seperti ini: Lantai 5 : Lelaki di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, senang anak kecil,cakep banget,suka membantu pekerjaan rumah, dan memiliki rasa romantis.

Dia tergoda untuk berhenti tapi kemudian dia melangkah kembali ke lantai 6 dan terdapat tulisan seperti ini:

Lantai 6 : Anda adalah pengunjung yang ke 4.363.012. Tidak ada lelaki di lantai ini.Lantai ini hanya semata-mata bukti untuk wanita yang tidak pernah puas.

Terima kasih telah berbelanja di toko “Suami”.

Hati-hati ketika keluar toko dan semoga hari yang indah buat anda.


Sekeping Logam Perak


Ada seorang gadis kecil. Ia diberi oleh ayahnya sekeping uang logam perak. Dia sangat senang dan bahagia, itu adalah uang pertamanya. Ia sangat menyayangi uang logam perak itu, dijaga baik – baik, disimpannya dalam tas saku beludru yang selalu tergantung di lehernya. Bila mala, selalu tas beludru itu digenggamnya erat – erat seakan banyak sekali pencuri yang selalu mengintai logamnya. Bangun pagi, hal pertama yang dilakukannya adalah mengambil minyak dan memoles logam peraknya agar tampak bersinar. Hanya sekeping logam perak…

Setiap ada kesempatan, uang logam itu selalu ia pamerkan kepada setiap teman – temannya, logam perak itu adalah harta paling berharga miliknya. Tak ternilai, tak akan di tukarkan dengan apapun, dan akan dijaganya seumur hidupnya. Begitu janjinya di dalam hati.

Pada suatu kesempatan, gadis kecil ini berjalan mengelilingi pertokoan. Dilihatnya seorang pria muda seusianya membawa sekeping logam seperti miliknya. Hanya warna yang membedakannya. Sang pria muda itu memiliki logam yang berwarna kuning mengkilap. Silau bila terpantul cahaya matahari.

“Wow, logam emas!” Teriaknya dalam hati. “Aku harus memilikinya,” pikir sang gadis kecil. Dihampirinya sang pria muda, ” Boleh ku tukar logam perak ku dengan logam mu?” tanya nya kepada si pria. ” Apa kamu yakin mau menukar logam perak mu dengan punya ku?” kata si pria memastikan. Si gadis kecil diam sejenak, ia berpikir, ini logam kesayangannya, apa akan ku tukar ya. Tetapi cahaya silau yang terpantul dari logam milik si pria muda membuyarkan lamunannya. ” Iya, akan ku tukar!”

Demikianlah sekarang sang gadis kecil miliki logam yang berwarna kuning mengkilap yang ia peroleh dengan menukarkan logam perak kesayangannya. Diletakanlah dalam logam barunya dalam tas beludrunya, dan dibawa pulang. Dengan bangga gadis kecil menunjukan logam barunya kepada teman – temannya, tetapi semua berkata logam perak miliknya yang lama lebih bagus. Ia sangat marah. Si gadis kecil pulang ke rumah, dan memperlihatkan logam barunya kepada si ayah, si ayah bilang bukan keputusan yang bijak menukarkan logam kesayangannya dengan logam barunya itu. Si gadis kecil bertambah kesal.

Ia mengurung diri di kamar, dan memperhatikan logam barunya. “Ini logam emas, warnanya kuning mengkilap, bersinar lebih indah dari pada logam perak ku yang lama. harganya pasti lebih mahal. Pasti lebih berharga.” Dengan meyakinkan dirinya sendiri, sang gadis tertidur pulas.

Hari berganti hari, si gadis sudah beberapa hari tidak membuka tas beludrunya. Ketika ia teringat akan tas beludrunya, ia membuka dan mengeluarkan uang logam yang terdapat di dalamnya. Diperhatikan logam barunya. Lalu si gadis mengambil minyak untuk menggosok logamnya. Tak lama si gadis mengambil kain lap. Entah mengapa dengan agak panik si gadis mengambil tissue. Ia terus menggosok logamnya dengan minyak dan lap, kemudian menggosoknya lagi dengan tissue.

Melihat tingkah anaknya, si ayah menghampiri si gadis kecil dan bertanya: “ada apa gadis manis ayah, kok tampak bingung?” dengan mata berlinang air mata yang hampir tertumpah, si gadis berkata ” Ayah, logam baru ku tampak kusam, tampak hitam, tidak bisa bersih dengan minyak, dan lap yang biasa. Semakin ku gosok, ia semakin kusam.” Dengan menghela nafas panjang, sang ayah berkata dengan tenang :” Gadis kecil ayah yang manis, kamu tahu logam yang ayah beri kepada mu logam apa?” tanya sang ayah. ” tahu, logam perak kan ya? ” “betul, lalu kamu tahu ini logam apa?” ” Ini logam emas yang seharusnya lebih berkilau indah dan mahal dari pada logam perak kesayangan ku itu kan yah?” Sang ayah berkata dengan sabar, “Benar ini tampak seperti logam emas, tetapi ini bukan logam emas anakku. Ini adalah logam tembaga. Ia tampak seperti emas, tetapi tidak seindah emas, bahkan tidak seindah perak yang ayah berikan.”

Mengertilah si gadis kecil mengapa semua teman – teman dan ayahnya dari semula berkata logam perak kesayangannya lebih indah. Menyesalah si gadis kecil. Kemudian ia berusaha mencari pria muda yang menukar logam perak miliknya, bahkan ia membawa beberapa boneka kesayangannya untuk ditebus dan ditukarkan kembali dengan logam perak miliknya. tetapi ia tidak menemukan anak laki – laki itu lagi.

Sering kali kita tidak mengetahui, tidak menyadari betapa berharganya apa yang kita miliki saat ini. Apapun itu, orang – orang yang kita sayangi dan yang menyayangi kita, benda, waktu, kesempatan, atau apapun itu. Sering kali kita me-underestimate kan apa yang kita miliki saat ini.

Rumput tetangga terlihat lebih hijau. Sering kita terpikat oleh silaunya pantulan cahaya milik orang lain. Padahal hal yang terlihat belum tentu seindah nampaknya. Sering kita melihat orang lain nampak lebih bahagia, kekasih orang lain lebih tampan/cantik, atau apa saja, sehingga kita lupa bersyukur atas apa yang kita punya.

Kita sering menukar harta kita yang paling berharga dengan sesuatu yang membuat kita terpukau, tetapi hal itu hanya sesaat. ketika kita kemudian menyadarinya, kita sudah melakukan kesalahan. Kita menyesal. tetapi belum tentu sesuatu itu bisa diperbaiki dengan mudah. Konsekuensi pasti ada. Kita harus lebih berupaya memperbaiki kesalahan kita.

Bersyukurlah, berpikir dengan bijak, hargai mereka yang menyayangi, sayangi mereka yang kau sayangi.

Saturday, December 11, 2010

Bawang Bombay Kehidupan


Menjelang istirahat, sang pengajar mengajak mahasiswanya untuk melakukan suatu permainan. “Siapakah orang yang paling penting dalam kehidupan kalian ?” Pengajar pun meminta bantuan seorang mahasiswa maju ke depan kelas, dan mulai melakukan permainan itu.

“Silakan tulis 20 nama yang paling dekat dengan kehidupan Anda saat ini”

Mahasiswa perempuan itu pun menuliskan 20 nama di papan tulis. Ada nama tetangga, teman sekantor, saudara, orang-orang terkasih, teman sekampusnya dan lainnya. Kemudian pengajar itu menyilakan memilih, dengan mencoret satu nama yang dianggap tidak penting. Lalu mahasiswi itu mencoret satu nama, tetangganya.
Selanjutnya pengajar itu menyilakan lagi mahasiswinya mencoret satu nama yang tersisa, dan mahasiswi itu pun melakukannya, sekarang ia mencoret nama teman sekampusnya. Begitu seterusnya.

Sampai pada akhirnya di papan tulis hanya tersisa 3 nama. Nama orang tuanya, nama suami serta nama anaknya. Di dalam kelas tiba-tiba terasa begitu sunyi. Semua mahasiswa mengalihkan pandangan ke pengajar. Menebak-nebak apa yang selanjutnya akan dikatakan oleh pengajar itu. Ataukah, selesai sudah tak ada lagi yang harus di pilih.

Namun dikeheningan kelas sang pengajar berkata: “Coret satu lagi!”

Dengan perlahan dan agak ragu siswi itu mengambil spidol dan mencoret satu nama. Nama orang tuanya.

“Silakan coret satu lagi!”

Tampak mahasiswi itu larut dalam permainan ini. Ia gelisah. Ia mengangkat spidolnya tinggi-tinggi dan mencoret nama yang teratas dia tulis sebelumnya. Nama anaknya. Seketika itu pun pecah isak tangis di kelas.

Setelah suasana sedikit tenang, pengajar itu lalu bertanya:
“Orang terkasih Anda bukan orang tua dan anak Anda? Orang tua yang melahirkan dan membesarkan Anda. Anda yang melahirkan anak. Sedang suami bisa dicari lagi. Mengapa Anda memilih sosok suami sebagai orang yang paling penting dan sulit dipisahkan?”

Semua mata tertuju pada mahasiswi yang masih berada di depan kelas. Menunggu apa yang hendak dikatakannya. “Waktu akan berlalu, orang tua akan pergi meninggalkan saya. Anak pun demikian. Jika ia telah dewasa dan menikah, ia akan meninggalkan saya juga. Yang benar-benar bisa menemani saya dalam hidup ini hanyalah suami saya.”

Kehidupan itu bagaikan bawang bombay. Ketika di kupas selapis demi selapis, akan habis. Dan adakalanya kita dibuat menangis.

Jubah Nasrudin


Nasrudin diundang tetangganya untuk acara perjamuan yang meriah sekali, dan ratusan orang hadir disana.

Nasrudin datang dengan pakaian sederhana, tidak ada yang menghiraukan dia, dibiarkan sendirian. Tidak ada satupun yang mengajaknya bercengkerama, dan tidak disuguhkan makanan apapun.

Nasrudin pulang, dan mengganti pakaiannya dengan jubah terbaiknya, topi bertahtakan berlianpun dipakainya, beserta semua perhiasan terbaiknya, dan semua atribut kebesarannya. Dengan gagah diapun kembali ketempat acara.
Di depan dia disambut layaknya seorang raja, diantar langsung pada meja hidang utama. Semua orang menyapanya dengan hangat, semua mata memandangnya dengan kagum. Diberi tempat terbaik, dan disuguhkan makanan yang terbaik pula.

Nasrudin melepaskan jubah kebesarannya, dan memasukkannya kedalam makanan yang berlimpah sambil berkata: “ Ketika aku memakai baju sederhana, kalian tidak menyapaku dan tidak mengajakku makan enak, sekarang semua hidangan terbaik disajikan untukku, sebenarnya hidangan ini adalah untuk jubah dan atribut2ku, maka biarlah mereka saja yang makan.”

*** Cerita lama dari buku pelajaran bahasa Inggris, yang melekat pada otak sejak masih SMA, menarik kalau disimak dengan jernih. Bukan hanya dulu di negeri 1001 malam saja kejadian ini, dijaman ini pun sama saja. Orang menghargai baju kita, atribut kita, jam emas Rolex kita, tas LV asli dan mobil mewah kita. Tanpa perduli kita ini “apa dan siapa” sebenarnya.

Kita mentertawakan Nasrudin dan tetangganya, kita mentertawakan diri kita sendiri juga. Menjadi “kelihatannya” sering lebih penting dari pada “sebenarnya”. Tampang lebih penting dari otak. Sampul lebih diperhatikan dari pada isi. Tidak ada yang salah, hanya sebuah pemahaman sederhana akan kehidupan. Mungkin, ini berguna untuk kita pakai dalam kehidupan kita

Bolehkah membawa temanku?


“Huuu….uuura! ” Teriakan gembira dari seorang Ibu yang menerima telegram dari anaknya yang telah bertahun-tahun menghilang. Apalagi ia adalah anak satu-satunya.
Maklumlah anak tersebut pergi ditugaskan perang ke Vietnam pada 4 tahun yang lampau dan sejak 3 tahun yang terakhir, orang tuanya tidak pernah menerima kabar lagi dari putera tunggalnya tersebut. Sehingga diduga bahwa anaknya gugur dimedan perang. Anda bisa membayangkan betapa bahagianya perasaan Ibu tersebut. Dalam telegram tersebut tercantum bahwa anaknya akan pulang besok.
Esok harinya telah disiapkan segalanya untuk menyambut kedatangan putera tunggal kesayangannya, bahkan pada malam harinya akan diadakan pesta khusus untuk dia, dimana seluruh anggota keluarga maupun rekan-rekan bisnis dari suaminya diundang semua. Maklumlah suaminya adalah Direktur Bank Besar yang terkenal diseluruh ibukota. Siang harinya si Ibu menerima telepon dari anaknya yang sudah berada di airport.

Si Anak: “Bu bolehkah saya membawa kawan baik saya?”
Ibu: “Oh sudah tentu, rumah kita cuma besar dan kamarpun cukup banyak, bawa saja, jangan segan-segan bawalah!”
Si Anak: “Tetapi kawan saya adalah seorang cacat, karena korban perang di Vietnam?”
Ibu: “……oooh tidak jadi masalah, bolehkah saya tahu, bagian mana yang cacat?” – nada suaranya sudah agak menurun
Si Anak: “Ia kehilangan tangan kanan dan kedua kakinya!”
Si Ibu dengan nada agak terpaksa, karena si Ibu tidak mau mengecewakan anaknya: “Asal hanya untuk beberapa hari saja, saya kira tidak jadi masalah?”
Si Anak: “…tetapi masih ada satu hal lagi yang harus saya ceritakan sama Ibu, kawan saya itu wajahnya juga turut rusak begitu juga kulitnya, karena sebagian besar hangus terbakar, maklumlah pada saat ia mau menolong kawannya ia menginjak ranjau, sehingga bukan tangan dan kakinya saja yang hancur melainkan seluruh wajah dan tubuhnya turut terbakar!”
Si Ibu dengan nada kecewa dan kesal: “Na…ak lain kali saja kawanmu itu diundang kerumah kita, untuk sementara suruh saja ia tinggal di hotel, kalau perlu biar saya yang bayar nanti biaya penginapannya! ”
Si Anak: “…tetapi ia adalah kawan baik saya Bu, saya tidak ingin pisah dari dia!”
Si Ibu: “Cobalah renungkan olehmu nak, ayah kamu adalah seorang konglomerat yang ternama dan kita sering kedatangan tamu para pejabat tinggi maupun orang-orang penting yang berkunjung kerumah kita, apalagi nanti malam kita akan mengadakan perjamuan malam bahkan akan dihadiri oleh seorang menteri, apa kata mereka apabila mereka nanti melihat tubuh yang cacat dan wajah yang rusak. Bagaimana pandangan umum dan bagaimana lingkungan bisa menerima kita nanti? Apakah tidak akan menurunkan martabat kita bahkan jangan-jangan nanti bisa merusak citra binis usaha dari ayahmu nanti.”

Tanpa ada jawaban lebih lanjut dari anaknya telepon diputuskan dan ditutup.
Orang tua dari kedua anak tersebut maupun para tamu menunggu hingga jauh malam ternyata anak tersebut tidak pulang, ibunya mengira anaknya marah, karena tersinggung, disebabkan temannya tidak boleh datang berkunjung kerumah mereka.
Jam tiga subuh pagi, mereka mendapat telepon dari rumah sakit, agar mereka segera datang kesana, karena harus mengidetifitaskan mayat dari orang yang bunuh diri. Mayat dari seorang pemuda bekas tentara Vietnam, yang telah kehilangan tangan dan kedua kakinya dan wajahnyapun telah rusak karena kebakar. Tadinya mereka mengira bahwa itu adalah tubuh dari teman anaknya, tetapi kenyataannya pemuda tersebut adalah anaknya sendiri!

Untuk membela nama dan status akhirnya mereka kehilangan putera tunggalnya!

Kita akan menilai bahwa orang tua dari anak tersebut kejam dan hanya mementingkan nama dan status mereka saja, tetapi bagaimana dengan diri kita sendiri?
Apakah kita lain dari mereka?
Apakah Anda masih tetap mau berkawan
……. dengan orang cacat?
……..yang bukan karena cacat tubuh saja?
……. tetapi cacat mental atau……..cacat status atau cacat nama atau
……..cacat latar belakang kehidupannya?
Apakah Anda masih tetap mau berkawan dengan orang
…….yang jatuh miskin?
…….yang bekas pelacur?
…….yang tidak punya rumah lagi?
…….yang pemabuk?
…….yang pecandu?
…….yang berlainan agama?

Renungkanlah jawabannya, hanya Anda dan Sang Pencipta saja yang mengetahuinya?!
Semoga cerita diatas memberikan pencerahan kepada kita semua.

BAMBU Dan PAKIS


Suatu hari saya memutuskan untuk berhenti … berhenti dari pekerjaan yang selama ini telah saya tekuni, berhenti dari hubunganku dengan sesama dan berhenti dari spiritualitas yang selama ini saya jalani. saya pergi ke hutan untuk bicara dengan Tuhan untuk yang terakhir kalinya. saya berkata kepada Tuhan : “Tuhan, berikan saya satu alasan untuk tidak berhenti?”

Dia memberi jawaban yang mengejutkan saya. “Lihat ke sekelilingmu” , kataNya. “Apakah engkau memperhatikan tanaman pakis dan bambu yang ada di hutan ini?”. “Ya”, jawab saya. Lalu Tuhan berkata, “Ketika pertama kali Aku menanam mereka, Aku menanam dan merawat benih-benih mereka dengan seksama. Aku beri mereka cahaya. Aku beri mereka air. Pakis-pakis itu tumbuh dengan sangat cepat. Warna hijaunya yang menawan menutupi tanah. Namun, tidak ada yang terjadi dari benih bambu. Tapi, Aku tidak berhenti merawatnya.
Dalam tahun kedua, pakis-pakis itu tumbuh lebih cepat dan lebih banyak lagi. Namun, tetap tidak ada yang terjadi dari benih bambu. Tetapi Aku tidak menyerah terhadapnya. ”

“Dalam tahun ketiga tetap tidak ada yang tumbuh dari benih bambu itu, tapi Aku tetap tidak menyerah. Begitu juga dengan tahun ke empat. ” “Lalu pada tahun ke lima, sebuah tunas yang kecil muncul dari dalam tanah. Bandingkan dengan pakis, itu kelihatan begitu kecil dan sepertinya tidak berarti. Namun enam bulan kemudian, bambu ini tumbuh dengan mencapai ketinggian lebih dari 100 kaki. Dia membutuhkan waktu lima tahun untuk menumbuhkan akar-akarnya. Akar-akar itu membuat dia kuat dan memberikan apa yang dia butuhkan untuk bertahan. Aku tidak akan memberikan ciptaanku tantangan yang tidak bisa mereka tangani. ”

“Tahukan engkau anakKu, dari semua waktu pergumulanmu, sebenarnya engkau sedang menumbuhkan akar-akarmu? Aku tidak menyerah terhadap bambu itu. Aku juga tidak akan pernah menyerah terhadapmu.”

Tuhan berkata “Jangan bandingkan dirimu dengan orang lain. Bambu-bambu itu memiliki tujuan yang berbeda dibandingkan dengan pakis. Tapi keduanya tetap membuat hutan ini menjadi lebih indah.”

“Saat mu akan tiba”, Tuhan mengatakan itu kepada saya.
“Engkau akan tumbuh sangat tinggi”
“Seberapa tinggi saya harus bertumbuh?” tanya saya.
“Sampai seberapa tinggi bambu-bambu itu dapat tumbuh?”
Tuhan balik bertanya.
“Setinggi yang mereka mampu?” saya bertanya
“Ya.” jawabNya, “Muliakan Aku dengan pertumbuhan mu, setinggi yang engkau dapat capai.”

Lalu saya pergi meninggalkan hutan itu, menyadari bahwa Allah tidak akan pernah menyerah terhadap saya. Dan Dia juga tidak akan pernah menyerah terhadap Anda. Jangan pernah menyesali hidup yang saat ini Anda jalani sekalipun itu hanya untuk satu hari. Hari-hari yang baik memberikan kebahagiaan; hari-hari yang kurang baik memberikan pengalaman; kedua-duanya memberi arti bagi kehidupan ini.

Perkataan Ibu TERESA


Inilah perkataan yang diucapkan ibu Teresa sebelum kematiannya :

“Kalau saya memungut seseorang yang lapar dari jalan, saya beri dia sepiring nasi, sepotong roti. Tetapi seseorang yang hatinya tertutup, yang merasa tidak dibutuhkan, tidak dikasihi, dalam ketakutan, seseorang yang telah dibuang dari masyarakat – kemiskinan spiritual seperti itu jauh lebih sulit untuk diatasi.”

Mereka yang miskin secara materi bisa menjadi orang yang indah.

Pada suatu petang kami pergi keluar, dan memungut empat orang dari jalan. Dan salah satu dari mereka ada dalam kondisi yang sangat buruk.

Saya memberitahu para suster : “Kalian merawat yang tiga; saya akan merawat orang itu yang kelihatan paling buruk.”

Maka saya melakukan untuk dia segala sesuatu yang dapat dilakukan, dengan kasih tentunya. Saya taruh dia di tempat tidur dan ia memegang tangan saya sementara ia hanya mengatakan satu kata : ” Terima kasih ” lalu ia meninggal.

Saya tidak bisa tidak harus memeriksa hati nurani saya sendiri. Dan saya bertanya : ” Apa yang akan saya katakan, seandainya saya menjadi dia ?” dan jawaban saya sederhana sekali. Saya mungkin berusaha mencari sedikit perhatian untuk diriku sendiri.

Mungkin saya berkata : ” Saya lapar, saya hampir mati, saya kedinginan, saya kesakitan, atau lainnya”. Tetapi ia memberi saya jauh lebih banyak ia memberi saya ucapan syukur atas dasar kasih. Dan ia mati dengan senyum di wajahnya.

Lalu ada seorang laki-laki yang kami pungut dari selokan, sebagian badannya sudah dimakan ulat, dan setelah kami bawa dia ke rumah perawatan ia hanya berkata : “Saya telah hidup seperti hewan di jalan, tetapi saya akan mati seperti malaikat, dikasihi dan dipedulikan.”

Lalu, setelah kami selesai membuang semua ulat dari tubuhnya, yang ia katakan dengan senyum ialah : “Ibu, saya akan pulang kepada Tuhan” – lalu ia mati.

Begitu indah melihat orang yang dengan jiwa besar tidak mempersalahkan siapapun, tidak membandingkan dirinya dengan orang lain. Seperti malaikat, inilah jiwa yang besar dari orang-orang yang kaya secara rohani sedangkan miskin secara materi.

* Hidup adalah kesempatan, gunakan itu.
* Hidup adalah keindahan, kagumi itu.
* Hidup adalah mimpi, wujudkan itu.
* Hidup adalah tantangan, hadapi itu.
* Hidup adalah kewajiban, penuhi itu.
* Hidup adalah pertandingan, jalani itu.
* Hidup adalah mahal, jaga itu.
* Hidup adalah kekayaan, simpan itu.
* Hidup adalah kasih, nikmati itu.
* Hidup adalah janji, genapi itu.
* Hidup adalah kesusahan, atasi itu.
* Hidup adalah nyanyian, nyanyikan itu.
* Hidup adalah perjuangan, terima itu.
* Hidup adalah tragedi, hadapi itu.
* Hidup adalah petualangan, lewati itu.
* Hidup adalah keberuntungan, laksanakan itu.
* Hidup adalah terlalu berharga, jangan rusakkan itu.

Hidup adalah hidup, berjuanglah untuk itu.

Pendaki Gunung


Suatu ketika, ada seorang pendaki gunung yang sedang bersiap-siap melakukan perjalanan. Di punggungnya, ada ransel carrier dan beragam carabiner (pengait) yang tampak bergelantungan. Tak lupa tali-temali yang disusun melingkar di sela-sela bahunya. Pendakian kali ini cukup berat, persiapan yang dilakukan pun lebih lengkap.

Kini, di hadapannya menjulang sebuah gunung yang tinggi. Puncaknya tak terlihat, tertutup salju yang putih. Ada awan berarak-arak disekitarnya, membuat tak seorangpun tahu apa yang tersembunyi didalamnya. Mulailah pendaki muda ini melangkah, menapaki jalan-jalan bersalju yang terbentang di hadapannya. Tongkat berkait yang di sandangnya, tampak menancap setiap kali ia mengayunkan langkah.

Setelah beberapa berjam-jam berjalan, mulailah ia menghadapi dinding yang terjal. Tak mungkin baginya untuk terus melangkah. Dipersiapkannya tali temali dan pengait di punggungnya. Tebing itu terlalu curam, ia harus mendaki dengan tali temali itu. Setelah beberapa kait ditancapkan, tiba-tiba terdengar gemuruh yang datang dari atas. Astaga, ada badai salju yang datang tanpa disangka. Longsoran salju tampak deras menimpa tubuh sang pendaki. Bongkah-bongkah salju yang mengeras, terus berjatuhan disertai deru angin yang membuat tubuhnya terhempas-hempas ke arah dinding.

Badai itu terus berlangsung selama beberapa menit. Namun, untunglah tali-temali dan pengait telah menyelamatkan tubuhnya dari dinding yang curam itu. Semua perlengkapannya telah lenyap, hanya ada sebilah pisau yang ada di pinggangnya. Kini ia tampak tergantung terbalik di dinding yang terjal itu. Pandangannya kabur, karena semuanya tampak memutih. Ia tak tahu dimana ia berada.

Sang pendaki begitu cemas, lalu ia berkomat-kamit, memohon doa kepada Tuhan agar diselamatkan dari bencana ini. Mulutnya terus bergumam, berharap ada pertolongan Tuhan datang padanya.

Suasana hening setelah badai. Di tengah kepanikan itu, tampak terdengar suara dari hati kecilnya yang menyuruhnya melakukan sesuatu. "Potong tali itu.... potong tali itu."

Terdengar senyap melintasi telinganya. Sang pendaki bingung, apakah ini perintah dari Tuhan? Apakah suara ini adalah pertolongan dari Tuhan? Tapi bagaimana mungkin, memotong tali yang telah menyelamatkannya, sementara dinding ini begitu terjal? Pandanganku terhalang oleh salju ini, bagaimana aku bisa tahu? Banyak sekali pertanyaan dalam dirinya. Lama ia merenungi keputusan ini, dan ia tak mengambil keputusan apa-apa...

Beberapa minggu kemudian, seorang pendaki menemukan ada tubuh yang tergantung terbalik di sebuah dinding terjal. Tubuh itu tampak membeku,dan tampak telah meninggal karena kedinginan. Sementara itu, batas tubuh itu dengan tanah, hanya berjarak 1 meter saja....

Teman, kita mungkin kita akan berkata, betapa bodohnya pendaki itu, yang tak mau menuruti kata hatinya. Kita mungkin akan menyesalkan tindakan pendaki itu yang tak mau memotong saja tali pengaitnya. Pendaki itu tentu akan bisa selamat dengan membiarkannya terjatuh ke tanah yang hanya berjarak 1 meter. Ia tentu tak harus mati kedinginan karena tali itulah yang justru membuatnya terhalang.

Begitulah, kadang kita berpikir, mengapa Sang Pencipta tampak tak melindungi hamba-Nya? Kita mungkin sering merasa, mengapa ada banyak sekali beban,masalah, hambatan yang kita hadapi dalam mendaki jalan kehidupan ini. Kita sering mendapati ada banyak sekali badai-badai salju yang terus menghantam tubuh kita. Mengapa tak disediakan saja, jalan yang lurus, tanpa perlu menanjak, agar kita terbebas dari semua halangan itu?

Namun teman, cobaan yang diberikan Sang Pencipta buat kita, adalah latihan, adalah ujian, adalah layaknya besi-besi yang ditempa, adalah seperti pisau-pisau yang terus diasah. Sesungguhnya, di dalam semua ujian dan latihan itu, ada tersimpan petunjuk-petunjuk, ada tersembunyi tanda-tanda, asal KITA PERCAYA.

Ya, asal kita percaya.

Seberapa besar rasa percaya kita kepada Sang Pencipta, sehingga mampu membuat kita "memotong tali pengait" saat kita tergantung terbalik? Seberapa besar rasa percaya kita kepada Sang Pencipta, hingga kita mau menyerahkan semua yang ada dalam diri kita kepada-Nya?

Karena percaya adanya di dalam hati, maka tanamkan terus hal itu dalam kalbumu. Karena rasa percaya tersimpan dalam hati, maka penuhilah nuranimu dengan kekuatan itu. Percayalah, akan ada petunjuk-petunjuk Sang Pencipta dalam setiap langkah kita menapaki jalan kehidupan ini. Carilah, gali, dan temukan rasa percaya itu dalam hatimu. Sebab, saat kita telah percaya, maka petunjuk itu akan datang dengan tanpa disangka.

Tuesday, December 07, 2010

JUDO Satu Tangan


Chen adalah seorang remaja pria yang tinggal di Hawaii. Tidak seperti orang normal, ia hanya mempunyai tangan kiri. Tangan kanan nya tidak ada sejak lahir. Karena keadaannya yang cacat itu banyak remaja pria lain yang mengejek dan sering mengolok-oloknya, bahkan ada yang suka memukul dan mendorong kepalanya.

Suatu hari, saat pulang sekolah ia diejek dan digoda beberapa remaja pria, peristiwa itu menarik perhatian seorang tua yang kebetulan lewat. Pria tua itu kemudian mengusir semua remaja yang menghina Chen, ia merasa kasihan pada Chen, kemudian ia berkata “Aku akan mengajarimu Judo supaya tidak ada yang berani mengganggumu lagi”. Chen bingung juga karena ia hanya mempunyai satu tangan, bagaimana mungkin bisa mempelajari Judo. Pria tua itu akhirnya mampu meyakinkan Chen bahwa ia mempunyai jurus judo khusus untuk orang bertangan satu. Akhirnya Chen setuju untuk belajar Judo dari orang tua tersebut dan mulai keesokan harinya sepulang sekolah, ia pergi ke rumah orang tua tersebut untuk belajar Judo.
Orang tua tersebut mengajari Chen sebuah jurus yang ternyata sangat sulit dikuasai, sampai beberapa bulan pun Chen masih belum menguasainya dengan baik. Sampai akhirnya memasuki bulan ke enam barulah Chen mampu menguasainya dengan lumayan baik, Chen sangat gembira dan ia meminta kepada orang tua itu untuk mengajarinya jurus lainnya. Orang tua tersebut menggelengkan kepalanya dan berkata “Kamu sudah bisa menguasai jurus itu? Bagus, kalau begitu lakukan jurus tersebut dengan LEBIH CEPAT dan LEBIH BAIK“.

Chen terus belajar dengan tekun dan akhirnya ia bisa menguasai jurus itu dengan semakin baik, tapi ia bosan juga, pikirnya kok jurus itu-itu aja sih, kapan nih belajar jurus lainnya? Akhirnya ia berkata “Guru, saya sudah menguasai jurus itu dengan baik, ajarkan dong jurus yang lain”. Orang tua yang merupakan gurunya tersebut berkata “Kamu merasa sudah menguasai dengan baik? Baiklah kalau begitu 3 bulan lagi kamu ikut pertandingan”. Chen merasa ragu, bagaimana mungkin ia yang bertangan satu harus bertanding melawan musuh yang bertangan dua dalam suatu pertandingan? Tapi ia berpikir tidak ada salahnya dicoba, dalam pemikiran Chen dalam 3 bulan ini pasti gurunya mengajarkan jurus-jurus baru untuk menghadapi pertandingan.

Seminggu, dua minggu, sebulan berlatih, Chen makin heran, gurunya tidak mengajarkan jurus baru sama sekali, ia hanya disuruh belajar menguasai jurus tunggal itu dengan gerakan yang semakin cepat dan semakin baik. Akhirnya Chen tidak sabar dan protes “Guru, mengapa guru tidak mengajarkan jurus baru apapun kepada ku, masa aku harus bertanding dengan SATU TANGAN dan SATU JURUS saja”. Gurunya tetap tidak mengajarkan jurus baru apapun sampai 3 bulan waktu berlalu dan tiba saatnya bertanding.

Chen mengawali pertandingan penyisihan pertama dengan gugup, tapi karena latihannya sudah sangat matang, akhirnya ia bisa menang juga. Pertandingan kedua dan ketiga ia menangkan juga dengan jurus yang sama. Sampai tiba saatnya ia ke semi final. Chen sangat gugup, katanya “Guru, cepat ajarkan aku jurus yang baru. Aku sudah menang 3 kali menggunakan 1 jurus yang sama, musuh pasti sudah bisa membaca jurusku, musuhku kali ini sang juara bertahan, ia sangat hebat, cepat guru, ajarkan aku”. Sang guru dengan tenang berkata “Yakin saja, Kamu pasti menang”. Chen semakin gugup, sampai akhirnya tiba saat pertandingan. Sang lawan memang sangat hebat, berkali-kali ia dapat menghindari kuncian jurus Chen, tapi akhirnya sampai suatu saat ia sedikit lengah dan Chen dapat memanfaatkan kesempatan yang hanya sepersekian detik itu untuk memasukkan jurus satu-satunya yang ia miliki. Chen menang lagi!

Saat finalpun tiba. Chen mempunyai kepercayaan diri yang sudah membubung tinggi, lawannya malah sudah keder duluan, akhirnya ia bisa mengalahkan lawannya dengan mudah dan Chen menjadi juara!! Ya, hanya dengan SATU TANGAN dan SATU JURUS, ia bisa mengalahkan lawan-lawannya yang punya tangan normal dan beragam jurus.

Chen kemudian pulang ke rumah dan berpesta dengan keluarga dan teman-temannya. Kemudian ia menjumpai gurunya dan pergi berjalan-jalan dengan gurunya itu. Sambil berjalan mereka membahas kemenangan Chen. Chen merasa penasaran dan bertanya pada gurunya “Guru, bagaimana aku bisa menang melawan mereka yang normal dengan satu jurus saja? Rasanya sungguh tidak masuk akal”. Gurunya menjawab “Karena engkau mempunyai tekad baja, kemauan yang kuat, dan satu lagi, jurus yang kuajarkan itu adalah jurus yang sangat sulit diantisipasi dan sangat sulit menguasainya, satu-satunya cara untuk melepaskan diri dari kuncian itu adalah dengan MENGUNCI BALIK TANGAN KANAN MU“ — (???)

Cerita diatas menginspirasikan pada kita, dalam dunia bisnis misalnya, tidak diperlukan banyak jurus/pekerjaan untuk menang/sukses. Kuasailah satu bidang sehingga anda benar-benar menjadi sangat ahli di bidang tersebut. Satu bidang yang anda kuasai dengan sangat baik sudah cukup untuk membuat anda hidup layak (menang). Kalau anda tidak bisa menang di suatu bidang yang umum maka buatlah KATEGORI/JURUS sendiri dimana anda lah yang menjadi NOMER SATU di kategori tersebut.