Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.( Yohanes 15 : 16 )

Friday, August 06, 2010

Belajar Dari Soichiro Honda


Soichiro Honda bukan berasal dari keluarga kaya. Ia tidak memiliki otak yang jenius layaknya Einstein. Wajahnya pun tidak secemerlang Keanu Reeves. Bahkan, ia tidak pernah menyandang gelar insinyur. Ia bukan siswa yang memiliki otak cemerlang dan duduknya tidak pernah di depan, selalu menjauh dari pandangan guru. Namun, ia memiliki ketekunan dan semangat yang membaja. `'Nilaiku jelek di sekolah. Tapi aku tidak bersedih, karena duniaku di sekitar mesin, motor, dan sepeda,'' tuturnya.

Tampaknya, kecintaan Honda pada dunia mesin diwarisi dari ayahnya yang membuka bengkel reparasi pertanian, di dusun tempat tinggalnya di Kamyo, distrik Shizuko, Jepang Tengah. Ayahnya seringkali melibatkan dirinya saat bermain-main di bengkel. Seringkali, Honda diberi catut (kakak tua) oleh ayahnya untuk mencabut paku.
Honda juga sering bermain di tempat penggilingan padi. Di sana, ia sering mengamati mesin diesel yang menjadi motor penggeraknya. Untuk "hobi"-nya itu, ia dapat berdiam diri berjam-jam. Memang, sejak awal, Honda menunjukkan keunikan tersendiri dibandingkan teman-teman sebayanya yang lebih banyak menghabiskan waktu bermain penuh suka cita. Hal itu ditunjukkan dengan kegiatan nekadnya yang bersepeda sejauh 10 mil pada usia 8 tahun. Hal itu dilakukannya hanya karena ingin menyaksikan pesawat terbang.

Bersepeda memang menjadi salah satu hobi Honda ketika kanak-kanak. Hasilnya, ia berhasil menciptakan sebuah "sepeda pancal" dengan model rem kaki pada umur 12 tahun. Sampai saat itu, belum muncul impian menjadi usahawan otomotif di benaknya. Tampaknya, ia sadar bahwa dirinya berasal dari keluarga miskin. Apalagi fisiknya lemah dan tidak tampan sehingga membuatnya selalu rendah diri.

Bekerja di bengkel mesin
Di usianya yang ke-15, Honda pindah ke kota untuk bekerja di Hart Shokai Company. Bosnya, Saka Kibara, sangat senang melihat cara kerjanya. Honda teliti dan cekatan dalam soal mesin. Setiap suara yang mencurigakan dan setiap oli yang bocor tidak luput dari perhatiannya. Enam tahun bekerja menambah wawasannya tentang permesinan. Akhirnya, pada usia 21 tahun, Saka Kibara mengusulkan membuka suatu kantor cabang di Hamamatsu dan mengangkatnya menjadi kepala cabang di sana.

Di Hamamatsu, prestasi kerja Honda kian cemerlang. Ia selalu menerima reparasi yang ditolak oleh bengkel lain. Kerjanya pun cepat. Bahkan, tak jarang jam kerjanya hingga larut malam dan terkadang sampai subuh. Hebatnya, walau terus bekerja lembur, otak kreatifnya tetap berjalan.

Kekreatifannya membuahkan fenomena. Pada zaman itu, jari-jari mobil terbuat dari kayu. Akibatnya, roda tersebut tidak baik untuk kepentingan meredam goncangan. Menyadari masalah tersebut, Honda punya gagasan untuk menggantikan ruji-ruji itu dengan logam. Hasilnya, luar biasa. Ruji-ruji logamnya laku keras dan diekspor ke seluruh dunia.

Memutuskan untuk membuka bisnis
Pada usia 30 tahun, Honda menandatangani patennya yang pertama, yaitu roda ruji. Setelah itu, Honda pun ingin melepaskan diri dari bosnya dan membuat usaha bengkel sendiri. Mulai saat itu, ia berpikir tentang spesialisasi yang akan dipilihnya. Otaknya pun membimbingnya kepada pembuatan ring piston dan menawarkannya kepada sejumlah pabrikan otomotif.

Kegagalan pertama
Sayang, karyanya itu ditolak oleh Toyota karena dianggap tidak memenuhi standar. Ring piston buatannya tidak lentur dan tidak laku dijual. Ia ingat reaksi teman-temannya terhadap kegagalan itu dan menyesalkan dirinya keluar dari bengkel milik Saka Kibara. Akibat kegagalan itu, Honda pun jatuh sakit dan cukup serius. Dua bulan kemudian, kesehatannya pulih kembali. Ia kembali memimpin bengkelnya. Namun, soal ring pinston belum juga ada solusinya. Demi mencari jawaban, ia pun mengambil kuliah untuk menambah pengetahuannya tentang mesin.

Siang hari, setelah pulang kuliah, Honda langsung mempraktikkan pengetahuan yang baru diperolehnya di bengkel. Setelah dua tahun menjadi mahasiswa, ia mulai jarang mengikuti kuliah. `'Saya merasa sekarat, karena ketika lapar tidak diberi makan, melainkan dijejali penjelasan bertele-tele tentang hukum makanan dan pengaruhnya, '' ujar Honda. Kepada rektornya, ia menjelaskan bahwa tujuan kuliahnya bukan mencari ijazah, melainkan pengetahuan. Penjelasan ini justru dianggap penghinaan dan Honda pun didepak dari kampusnya.
Hanya saja, dikeluarkan dari perguruan tinggi bukan akhir segalanya bagi Honda. Berkat kerja kerasnya, desain ring pinston-nya diterima pihak Toyota yang langsung memberikan kontrak. Honda pun berniat mendirikan pabrik dan impiannya untuk mendirikan pabrik mesin pun serasa kian dekat di pelupuk mata.

Kegagalan kedua
Malangnya, niatan itu kandas. Jepang, karena siap perang, tidak memberikan dana kepada masyarakat. Namun, bukan Honda kalau menghadapi kegagalan lalu menyerah pasrah. Dia pun nekad mengumpulkan modal dari sekelompok orang untuk mendirikan pabriknya.

Kegagalan ketiga
Namun, lagi-lagi musibah datang. Setelah perang meletus, pabriknya terbakar, bahkan kejadian itu menimpanya hingga dua kali.
Honda tidak pernah patah semangat. Dia bergegas mengumpulkan karyawannya. Mereka diperintahkan mengambil sisa kaleng bensol yang dibuang oleh kapal Amerika Serikat untuk digunakan sebagai bahan mendirikan pabrik.

Kegagalan keempat
Lagi-lagi, penderitaan sepertinya belum akan berakhir. Tanpa diduga, gempa bumi meletus dan menghancurkan pabrik Honda. Ia pun pun memutuskan menjual pabrik ring pinston-nya tersebut ke Toyota.

Kegagalan kelima
Setelah itu, Honda mencoba beberapa usaha lain. Ada yang mengatakan bahwa ia pernah mencoba untuk mengikuti kursus piano dan menjadi musisi. Sayang, semuanya gagal.
Kegagalan keenam
Akhirnya, Jepang mengalami kelangkaan bahan bakar pada tahun 1947. Pada saat itu kondisi ekonomi Jepang porak poranda. Sampai-sampai Honda tidak dapat menjual mobilnya akibat krisis moneter tersebut. Padahal dia ingin menjual mobil itu untuk membeli makanan bagi keluarganya.

Pintu sukses pun terbuka
Dalam keadaan terdesak, Honda memutuskan untuk refreshing dengan kembali bermain-main bersama "sepeda pancal"-nya. Kecintaannya pada dunia mesin memang terbawa dalam alam pikirannya, di mana pun ia berada. Dia pun memasang motor kecil pada sepeda itu. Siapa sangka, sepeda motor—cikal bakal lahirnya mobil Honda—itu diminati para tetangganya.
Honda pun memproduksi sepeda motornya. Para tetangga dan kerabatnya berbondong-bondong memesan sehingga ia kehabisan stok. Seakan tak pernah kalah dengan kebangkrutan yang menghantamnya berkali-kali, Honda kembali mendirikan pabrik motor. Sejak itu, kesuksesan tak pernah lepas dari tangannya. Motor Honda berikut mobilnya menjadi raja jalanan dunia.

Semasa hidupnya, Honda selalu menyatakan agar jangan hanya melihat semua keberhasilanya di dunia industri otomotif. Namun, lihat pula segala kegagalan yang pernah dialaminya. `'Banyak orang yang melihat kesuksesan saya yang hanya satu persen. Sementara mereka tidak melihat sembilanpuluh sembilan persen kegagalan saya." Begitulah tutur Honda kurang-lebihnya. Nasihatnya yang lain seputar kegagalan adalah, "Ketika Anda mengalami kegagalan, segeralah untuk mulai bermimpi kembali. Dan, mimpikanlah mimpi-mimpi yang baru."

Dikutip dari Buku "7 Kunci Sukses Bisnis Tahan Krisis"
Karya: Bambang Suharno dan Rochim Armando

No comments: