Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.( Yohanes 15 : 16 )

Monday, August 16, 2010

Buku Harian Ellen


Lima tahun sudah aku menikah dengan Ellen, hari-hari kami diselingi ketidakcocokan. Kami sering bertengkar karena hal-hal kecil. Hari ini ulang tahun Ellen dan kami bertengkar lagi karena aku bangun kesiangan. Rasa kesal membuatku tidak mengucapkan selamat ulang tahun ataupun mengecup keningnya Sore ini sudah tiga kali Ellen memintaku segera pulang untuk makan malam dengannya, tetapi permintaannya tidak kuhiraukan. Aku tiba di rumah pukul dua belas malam, dan kulihat Ellen tertidur di sofa. Aku berhenti di hadapannya. “Ia memang cantik,” kataku dalam hati. Aku menghela nafas dan masuk ke kamar Di meja rias kulihat buku harian Ellen. Bertahun-tahun ia menulis cerita hatinya di buku coklat itu dan ia tidak pernah mengizinkanku untuk membukanya.

Kuraih buku coklat itu dan kubuka halaman demi halaman secara acak.

14 Februari 1996.

“Terima kasih Tuhan atas pemberianMu yang berarti bagiku. Vincent, pacar pertama yang sekaligus menjadi pacar terakhirku.
”Hmm… aku tersenyum, Ellen begitu yakin kalau aku yang akan menjadi pendamping hidupnya.

6 September 2001.
“Tak sengaja kulihat Vincent makan malam dengan wanita lain sambil tertawa mesra. Tuhan, aku mohon agar Vincent tidak pindah ke lain hati.”

23 Oktober 2001.
”Aku menemukan surat ucapan terima kasih untuk Vincent, atas candle light dinner di hari ulang tahun seorang wanita bernama Melly. Siapa dia Tuhan? Bukalah mataku untuk melihat apa yang Kau kehendaki. ”

4 Januari 2002.
”Aku dihampiri wanita bernama Melly. Ia menghinaku dan mengatakan bahwa Vincent selingkuh dengannya. Tuhan, berilah aku kekuatan.”Bagaimana mungkin Ellen sekuat itu? Ia tidak pernah mengatakan apa pun atau menangis di hadapanku, setelah mengetahui aku telah mengkhianatinya.
Nafasku sesak, aku tak mampu membayangkan perasaan Ellen saat itu.
14 Februari 2003.

“Hari minggu yang luar biasa, aku telah menjadi Nyonya A. Vincent W. Terima kasih Tuhan!”

7 April 2006.

“Vincent marah padaku, aku tertidur pulas saat ia pulang sehingga ia menunggu di depan rumah agak lama. Aku lelah karena seharian di mal mencari jam idaman Vincent. Aku ingin membelikan hadiah di hari ulang tahunnya yang tinggal 2 hari lagi. Tuhan, beri kedamaian di hati Vincent agar ia tidak marah lagi padaku…."
Air mata penyesalan tak berhenti mengalir. Ellen mencoba membahagiakanku, tapi aku malah memarahinya.
15 November 2007.

“Vincent butuh meja untuk menaruh kopi di ruang keluarga, dia sangat suka membaca di sudut ruang itu. Tuhan, bantu aku menabung agar aku dapat membelikan sebuah meja, hadiah Natal untuknya."
Ellen tak pernah mengatakan meja itu sebagai hadiah Natal dan aku kembali memarahinya tanpa pernah memberinya kesempatan untuk menjelaskan.
Rasanya aku sudah tak sanggup lagi membuka lembaran berikutnya. Aku berlari ke luar kamar, kukecup kening Ellen dan ia terbangun. “Maafkan aku Ellen, aku mencintaimu. Selamat ulang tahun,” kataku penuh cinta.

Cinta selalu mampu mengajar kita berkorban demi kebahagiaan orang yang kita cintai.

No comments: