Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.( Yohanes 15 : 16 )

Friday, April 29, 2011

GEORGE MÜLLER


Tukang pajak berbangsa Prusia yang berwajah kejam itu berhadapan muka dengan puteranya yang berusia sepuluh tahun, “Kamu telah mengambil uang yang bukan milikmu, George.”

Anak itu menggeliat-geliat di bawah pandangan ayahnya. “Tidak, Ayah,” ia menggagap, “saya tidak mengambil uang.”

“Sekali ini aku memasang sebuah perangkap,” si ayah menjelaskan. “Aku kira kamu telah mencuri uang dari pajak pungutanku, saat itu aku menghitung sejumlah uang dan kemudian menaruhnya di ruangan ini. Sebagian dari uang itu telah hilang. Nah, kucing tidak mungkin mengambilnya.”

“Ayah keliru,” anak itu memohon.

“Aku tidak keliru. Jika kamu tidak mengakuinya, aku harus menggeledahmu.”

Tukang pajak itu menggeledah saku anaknya dan tidak menemukan apa-apa. George tersenyum sendiri.

“Sekarang buka sepatumu,” ayahnya memerintahkan.

“Kaki saya sakit. Kalau dibuka nanti sakit.”

“Aku katakan, buka.”

Anak itu dengan segan membuka sepatunya.

“Sekarang berikan sepatu itu kepadaku.”

Anak itu menurut. Senyuman itu samar-samar lenyap dari wajahnya.

“Ah, ini dia. Sekarang, pergilah ke gudang.”

“Tetapi, saya minta maaf, Ayah. Saya berjanji tidak akan mencuri lagi.”

George Müller menerima hukumannya. Tetapi ia mencuri lagi, mencuri lagi, mencuri lagi – sampai akhirnya hidupnya diubah oleh Kristus.

Ibunya meninggal ketika ia berumur empat belas tahun dan waktu itu ia sedang bersekolah. Pada malam ketika ibunya meninggal, dengan tidak sadar akan penyakit ibunya, George sedang bermain kartu. Hari Minggu, keesokan harinya, ia menghabiskan waktunya bersama-sama dengan beberapa temannya di sebuah kedai minuman.

Tidak berapa lama kemudian ia dibaptiskan di sebuah gereja Lutheran. Ayahnya telah memberinya uang yang banyak untuk membayar gembala jemaatnya. Tetapi George yang licik itu memberi gembala jemaat itu hanya seperduabelas dari jumlah uang itu.

“Saya akan berlaku lebih baik,” ia berjanji kepada dirinya sendiri pada saat itu ia mengikuti kebaktian. Tetapi keputusannya itu sia-sia saja.

Tahun berikutnya, ayahnya dipindahkan ke kota Schoenebeck, Prusia. Ia meninggalkan George sendirian di rumahnya yang lama agar mengawasi perbaikan-perbaikan rumahnya dan belajar dengan seorang pendeta, karena George telah membuat keputusan untuk belajar menjadi pendeta. Tetapi ketika tukang pajak itu pergi. George sibuk dengan pekerjaannya yang lain. Ia mengumpulkan uang orang-orang di desanya yang berutang kepada ayahnya, lalu ia melakukan perjalanan yang

kemudian ia sebut “dosa enam hari.”

Ketika uangnya telah habis, ia pindah ke hotel yang mahal, menginap seminggu, kemudian lari tanpa membayar ongkos-ongkosnya. Ia pindah ke hotel lain, menginap dan bersenang-senang seminggu lamanya, lalu bersiap-siap untuk melarikan diri melalui sebuah jendela. Namun kali ini ia tertangkap. Pada umur enam belas tahun anak tukang pajak itu dipenjara selama dua puluh empat hari.

Setelah ayahnya memberikan uang jaminan untuknya, ia bersekolah di Nordhausen, Prusia. Untuk menyenangkan hati gurunya ia belajar dari jam empat pagi sampai jam sepuluh malam. Gurunya memujinya di kelas sebagai seorang pemuda dengan harapan yang baik dalam pelayanan kependetaan. Walaupun demikian George Müller terus-menerus bermabuk-mabukan dan berfoya-foya. Ia merasa bersalah pada saat ia turut ambil bagian dalam perjamuan Tuhan. “Tetapi satu atau dua hari setelah ikut serta dalam perjamuan Tuhan itu, saya berlaku sama jahatnya seperti sebelumnya,” ia menulis dalam catatan hariannya.

Ketika ia berumur dua puluh tahun, ia dianjurkan belajar di Universitas Halle serta diberi hak untuk berkhotbah. Ketika di Halle inilah ia menyadari bahwa ia harus memperbaiki diri seandainya saja ada sebuah jemaat yang memilih dia sebagai gembala jemaatnya. Pada waktu itu ia menganggap pelayanan kependetaan semata-mata sebagai suatu mata pencaharian yang baik, bukan sebagai suatu pelayanan

kepada orang-orang yang memerlukan pertolongan.

Ia bertemu dengan seorang teman mahasiswa, bernama Beta yang hidup sebagai orang Kristen yang patut dicontoh. George memilih Beta sebagai teman dekatnya, dengan berpikir bahwa ia memperbaiki hidupnya dengan seorang teman Kristen.

Tetapi Beta itu seorang Kristen yang kembali berbuat jahat dan ia bersahabat dengan George hanya karena ia mengira George akan membawanya kepada kesenangan-kesenangan yang lebih banyak.

Dalam bulan Agustus tahun 1825, George Müller, Beta dan dua orang mahasiswa lainnya menggadaikan sebagian milik mereka untuk memperoleh cukup banyak uang untuk bepergian selama beberapa hari. Ketika seorang dari mahasiswa-mahasiswa itu mengusulkan pergi ke Swiss, George yang licik itu sudah mempunyai suatu rencana. Ia hanya duduk saja dan memalsukan surat-surat penting yang diperlukan dari orang tuanya untuk mendapatkan paspor.

Dalam perjalanan itu George menjadi bendahara. Karena ia memang suka mencuri, ia menyelewengkan uang itu supaya teman-temannya membayar sebagian dari ongkos-ongkosnya.

Ketika mereka kembali ke universitas, Beta sangat menyesal dan ia mengakui segala dosanya kepada ayahnya. Kemudian ia mengundang George untuk menghadiri suatu persekutuan doa di rumah seorang teman. Mereka pergi bersama. “Saya belum pernah sebelumnya melihat seorang berdoa berlutut,” demikianlah komentar George, yang kemudian menjadi seorang yang terkenal di dunia karena kuasa doanya.

George merasa canggung di dalam persekutuan itu, karena suasananya yang aneh. Ia bahkan meminta maaf atas kehadirannya di sana.

“Datanglah sering-sering; pintu dan hati kami terbuka bagi Saudara,” tuan rumah itu mengundangnya dengan senang hati.

Setelah dua lagu pujian, satu pasal dari Alkitab dibacakan. Kemudian lagu pujian lainnya dan pada saat tuan rumah itu berdoa, suatu perasaan sukacita dan damai timbul dalam hari George Müller. Dalam perjalanan pulang, dengan penuh kegembiraan ia berkata kepada Beta, “Segala kesenangan kita yang dulu itu tidak ada artinya dibandingkan dengan apa yang kita alami malam ini.”

Kristus telah menyentuh hati George Müller di persekutuan doa itu dan sejak saat itu ia menjalani kehidupan yang telah diubah.

Kemudian ia pindah ke Inggris, di mana ia menjadi terkenal sebagai orang yang beriman. Ia mendirikan lima buah Panti Asuhan di Bristol yang dapat menampung dua ribu orang anak. Selama hidupnya ia mengurus 9975 orang anak yatim piatu dan menerima lima puluh ribu jawaban khusus bagi doanya.

Inilah kisah orang yang tidak pernah melihat seorang Kristen berdoa berlutut sampai ia berusia dua puluh satu tahun.

Tuesday, April 19, 2011

Be Strong ( kisah Ah Long )


Ah Long (usia 6 th), hidup sebatang kara, mengidap HIV bawaan (carrier) dari
almarhum orangtua nya.

Semua teman menjauhinya. Hanya anjingnya, Lao Hei, yg menjadi temannya.

Ah Long tinggal di rumah peninggalan orangtuanya,
di bukit di kaki gunung Malu, daerah Liuzhou, propinsi Guangxi, China.

Ia menyiapkan makanannya

dan memasaknya sendiri dengan kayu api.

Ia pun mencari dan memikul kayu bakar sendiri di gunung.


Beberapa sayuran yg ditanamnya di dekat rumah untuk makanan sehari-hari.

Ia pun memelihara ayam

Ia mengisi hari-harinya dengan tetap bermain!

Menjelang malam, ia berusaha sedapat mungkin untuk belajar dengan membaca
buku-buku yang ia miliki.
Ini ia lakukan karena tak ada sekolah yang mau menerimanya

Sesekali neneknya (84 tahun), berkunjung.
Namun neneknya tidak mau tinggal bersamanya.
Pada masa kecilmu, apa yang kamu lakukan?
- meminta ayah untuk membelikan mainan,
- diingatkan ibu untuk belajar bahasa asing
- menerima uang kecil dari nenek yang sembunyi-sembunyi memberikannya kepadamu
- berbagi permen yang engkau beli hanya dengan teman-temanmu

Akan tetapi, A-Long tidak mengalami semua itu.
Apakah engkau menghela napas seperti orang dewasa berukuran kecil dan berkata,
"Menyebalkan sekali menjadi seorang anak!"

Akan tetapi A-Long tidak
Ia mencuci pakaian dan menyiapkan makanannya sendiri.
Sendirian, ia memberi makan ayam-ayam dan memelihara seekor anjing.
Sendirian, ia belajar membaca
Sendiri pula ia pergi ke tempat tidurnya

A-Long tidak pernah merasa menyebalkan menjadi dirinya sendiri
Walaupun ia hanya anak berumur 6 tahun.

Kabar terbaru setelah saya browsing mencari artikel lain tentang Ah Long mengatakan, sekarang Ah Long telah pergi dan tinggal di rumah amal, nasib rumah orang tuanya sekarang tidak diketahui. Tapi, merupakan kabar menggembirakan untuk kita ketahui bahwa penderitaan Ah Long sebagai anak yatim piatu dan anak yang "ditinggalkan" oleh warga desa sekitarnya kini telah berakhir.

Tidak terbayangkan betapa mirisnya hidup Ah Long yang dulu hidupnya terkucilkan. Padahal Ah Long sendiri tidak mengerti apa itu penyakit AIDS, kenapa berbahaya, dan membuatnya tidak diterima di sekolah.

Jika Anda merasa hidup ini susah,
atau merasa kesepian, atau merasa tidak berkecukupan,
atau merasa hidup ini tidak adil,
atau merasa lelah dengan hidup ini……..
Be Strong! Berusahalah tegar setidaknya seperti Ah Long.
Bersyukurlah pada Tuhan dengan segala yang ada pada saat ini, bersyukurlah
dalam segala hal…..setiap saat….. dalam setiap hal sekecil apapun.
Dan berusahalah untuk slalu berbahagia…

Friday, April 15, 2011

Layang Layang


Pernahkah Anda bertanya-tanya, mengapa layang-layang bisa terbang?

Karena ada angin dan ia berani melawan angin itu!
Ya, angin membawa layang-layang naik hingga tinggi ke awan. Dan hanya dengan berani melawan angin, maka layang-layang itu bisa terus terbang dengan terarah.
Layang-layang yang mengikuti arah angin adalah layang-layang yang putus, dan akan jatuh.

Kadang kita begitu takut saat angin pencobaan datang menerpa.
Kalau boleh meminta, kita tidak berharap mengalami masalah, kesulitan, dan tekanan hidup. Sebaliknya, kita ingin jalan kita lurus dan mulus.

Bila hidup dihadapkan pada situasi atau keadaan yang sangat menakutkan, tak ada jalan lain kecuali harus memilih.
Apakah kita akan seperti layang-layang yang berani melawan angin, atau mengikuti arus angin saja? Memang yang kedua lebih mudah. Ya, lebih mudah bagi kita untuk menyerah dalam situasi sulit..

Janganlah takut jika hari ini angin yang sepoi-sepoi tiba-tiba menjadi badai.
Tetaplah kuat di dalam Tuhan dan yakinlah bahwa bersama Tuhan kita akan cakap menanggung segala perkara.
Bahkan kita akan mengalami perkara-perkara yang luar biasa bersama Tuhan.
Jangan buru-buru menyalahkan angin besar yang menerpa layang-layang kita, sebab kita justru akan segera melihat awan, langit indah, dan pemandangan menakjubkan..

ANGIN TIDAK PERNAH MENJADI MUSUH LAYANG-LAYANG, ANGIN SELALU MENJADI SAHABAT TERBAIK LAYANG-LAYANG...

Keluarga Adalah Yang Terbaik


Bill Havens, seorang pendayung hebat berkaliber Internasional dalam masa karantinanya menjelang piala dunia mendayung,
menerima berita bahwa istrinya akan segera melahirkan.

Setelah mendengar kabar tersebut ia memilih untuk pulang & tidak mengikuti kejuaraan dunia & memutuskan untuk menunggui istrinya yg akan melahirkan.

Belasan tahun kemudian th 1952,

Bill menerima telegram dari putranya,

Frank yang pada saat itu baru saja memenangkan medali emas cano 10.000 meter pada Olimpiade di Finlandia.

Telegram itu isinya:

"Ayah, terimakasih karena telah menunggu kelahiran saya.

Saya akan pulang membawa medali emas yg seharusnya ayah menangkan beberapa tahun yg lalu.

Anakmu tersayang, Frank..."

Dari kisah diatas kita bisa belajar bagaimana kehadiran keluarga berdampak sangat besar bagi anggota keluarga tersebut.

Theodore Roosevelt, mantan Presiden AS berkata,

"Aku lebih suka melewatkan waktu bersama dgn keluargaku daripada dgn petinggi2 dunia manapun.

Sahabat...

Pada akhirnya kita akan sampai pada suatu titik dimana pada dasarnya semua yg kita lakukan, semua jerih lelah kita dalam pekerjaan, semua untuk mereka, keluarga yang kita cintai.

Pada akhirnya kita akan menemukan bahwa jabatan, prestasi, & promosi tidaklah seberarti kebersamaan diantara keluarga.

Jadi relakah saudara menukar kehangatan dalam keluarga anda dgn kesibukan dalam pekerjaan anda yg mungkin sudah sangat berlebihan?

Selalu ada hasil yg terbaik dari kerja keras yg terbaik pula .

"Jangan Lupa, Keluargamu adalah yg Terbaik Dari Segala Urusan yg Baik dari Tuhan"

Kasih Tuhan Tidak Pernah Gagal


Karena dibesarkan dalam keluarga yang suka menganiaya, seorang gadis bersikap getir pada orangtuanya. Tetapi, ketika ibunya didiagnosis mengidap kanker payudara, dia memutuskan untuk mencintai orang tuanya, meski ibunya tidak pernah menyukainya..

Setiap pagi, saat berangkat kerja, dia berkata kepada ibunya bahwa dia mencintainya. Namun, ibunya tidak pernah menjawab..

Kemudian, pada suatu hari setelah kira-kira tiga bulan berlalu, gadis itu terlambat berkerja dan bergegas keluar rumah untuk segera pergi ke tempat kerjanya. Ibunya pun juga mengikutinya untuk bergegas keluar rumah..

"Ada yang lupa," seru sang ibu.
"Apa?" jawab si gadis keheranan.
"Kamu lupa mengatakan 'aku cinta Mama'.."

Keduanya berpelukan..
Keduanya menangis..
Keduanya sembuh..

Bukankah kasih Tuhan itu tidak pernah gagal dan menyembuhkan? Dan, bukankah perubahan selalu dimulai dari diri kita dahulu?

Timothy dan Maura


Pada tahun 304 Masehi, tahun sebelum Dioklesia mundur sebagai penguasa Roma, penganiayaan terhadap orang Kristen mencapai tingkat yang benar-benar biadab. Timothy, seorang diaken gereja di provinsi Mauritania -- bagian dari wilayah kekuasaan Roma, adalah seseorang yang bertanggung jawab menjaga keberadaan kitab-kitab Injil dalam gerejanya.

Ia dan istrinya, Maura, menikah beberapa minggu sebelum mereka menghadapi penganiayaan. Mereka ditangkap karena menjadi orang Kristen dan dibawa ke hadapan gubernur provinsi, Arrianus, yang mengetahui peran Timothy di gerejanya. Ia memerintahkan Timothy untuk mengembalikan kepadanya Injil-Injil yang disimpan dalam gereja untuk dibakar.

Timothy kemudian menjawab bahwa jika ia memiliki anak, ia lebih baik menyerahkannya kepada Arrianus untuk dikorbankan daripada mengorbankan Firman Allah. Mendengar jawaban tersebut, Arrianus marah dan memerintahkan agar mata Timothy dibakar dengan besi panas, supaya ia tidak bisa lagi membaca Injil, sehingga nantinya Injil-Injil tersebut akan tidak berguna lagi baginya.

Namun, keberanian Timothy menghadapi kesakitan luar biasa yang dialaminya, membuat Arrianus benar-benar marah sehingga ia memerintahkan supaya Timothy digantung kakinya dengan sebuah pemberat yang diikatkan pada lehernya, dan mulutnya disumbat. Si gubernur berpikir hal tersebut dapat mengalahkan kegigihannya.

Maura, yang dipaksa menyaksikan penganiayaan suaminya, memohon suaminya untuk mengaku bersalah supaya ia tidak menyaksikan peristiwa itu lagi. Sumbat diambil dari mulut Timothy supaya ia dapat menjawab permohonan istrinya. Namun, terjadi hal yang sebaliknya, ia tidak menyetujui permohonan istrinya dan mengatakan kepadanya bahwa ia telah 'salah jalan'. Ia menyatakan keputusannya untuk mati adalah demi imannya kepada Kristus. Akhirnya, Maura menetapkan hati mengikuti keberanian suaminya dan menemaninya menuju kemuliaan.

Arrianus tidak dapat lagi mengalahkan ketetapan hati Maura sehingga ia memerintahkan agar Maura diberi penganiayaan paling kasar. Setelah penganiayaan mereka selesai, Timothy dan Maura di salib berdampingan.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul asli buku: The Hidden Stones in Our Foundation

Judul buku: Batu-batu Tersembunyi dalam Fondasi Kita

Penulis: Tidak dicantumkan

Penerjemah: Ivan Haryanto

Penerbit: Kasih dalam Perbuatan, Surabaya 2005

Halaman: 27 -- 28

Penderitaan Yang Menumbuhkan


Yakobus 1:2"Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan"

Apa yang biasa Anda lakukan ketika penderitaan melanda hidup Anda? Mencari tahu penyebab mengapa Anda mengalami penderitaan tersebut atau justru mengambil sikap seperti Tuhan Yesus, yang tetap menjalani penderitaan-Nya dengan ketaatan penuh kepada Allah Bapa? Pengarang James Stalker menulis dalam sebuah bukunya, "Penderitaan tidak selalu menyucikan. Penderitaan dapat membuat watak menjadi buruk dan egois. Namun, ada banyak pula keberhasilan yang timbul dari pencobaan. Ada banyak kamar orang sakit yang merupakan suatu kehormatan untuk dikunjungi."

Suatu ketika J. Oswald Sanders pernah bercerita tentang kunjungannya ke tempat semacam itu di Australia, tempat di mana Nona Higgens tinggal. Dalam keadaan sakit terus-menerus, Nona Higgens tidak pernah meninggalkan kamarnya selama lebih dari 40 tahun. Kedua tangan dan kakinya telah diamputasi untuk menahan penyebaran penyakitnya ke seluruh tubuhnya.

Setelah memutuskan untuk hidup secara kreatif, ia menamai pondok tempat tinggalnya dengan nama "Pondok Harapan Sukacita". Di pondok inilah ia menyerahkan dirinya dalam doa kepada Tuhan dan aktif pelayanan rohani. Dengan pena yang diikatkan pada ujung lengannya yang buntung, ia berkirim surat ke seluruh dunia selama bertahun-tahun dan membimbing ratusan orang kepada Kristus.

Penderitaan yang dialami Nona Higgens tidaklah membuatnya patah semangat dan menjadikan dirinya sebagai orang yang tidak berguna, justru sebaliknya, penderitaannya justru mendorongnya untuk menjadi lebih kreatif di dalam hidup dan pelayanannya.

Jadi, jika saat ini Anda untuk hidup lebih kreatif, "Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan" (Yakobus 1:2). Sebutlah pergumulan-pergumulan dan derita hati Anda dengan sebutan "derita yang menumbuhkan," dengan penekanan pada kata menumbuhkan! Bila kita memuji Allah dalam ujian hidup kita, beban kita akan berubah menjadi berkat.

Bulan Promosi


Seorang penjahat tertembak mati oleh polisi. Langsung saja dia dibawa oleh iblis ke neraka. Tetapi dia terkejut karena di neraka sangat ramai; banyak orang berdisko, minum-minuman, berjudi, banyak artis-artis cantik, dll. Langsung saja dia cepat-cepat masuk, tetapi ditahan oleh iblis penjaga pintu: "Tunggu dulu! Waktumu belum tiba. Kembalilah ke dunia, berbuatlah LEBIH JAHAT lagi, maka kau pasti akan MASUK NERAKA!"

Akhirnya dia dikembalikan ke dunia, berbuat LEBIH jahat dan ditembak mati oleh polisi. Lalu dia diantar oleh iblis untuk MASUK neraka. Tetapi dia terkejut karena di dalam neraka banyak api di mana-mana, bau amis darah, dan banyak binatang berbisa. Banyak teriakan minta tolong yang terdengar di mana-mana! Dengan bingung dan ketakutan, penjahat itu lalu berkata, "Lho, keadaan sebelumnya kan neraka tidak seperti ini?" Iblis pun tersenyum dan berkata, "Oh, yang waktu lalu itu lagi BULAN PROMOSI, bro!"

"Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: "Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!"" (Roma 10:14-15).

JUJUR


Seorang anak bekerja membagikan koran. Suatu hari tanpa sengaja dia memecahkan kaca jendela milik seorang nenek langganannya. Karena takut, dia melarikan diri dan berharap tidak ada yang melihatnya. Malamnya, si anak terbayang-bayang kesalahannya sehingga dia susah untuk tidur. Besoknya, saat mengantarkan koran, hatinya deg-deg-an.

Nenek itu hanya menatapnya tersenyum. Anak itu hanya menundukkan muka tanpa berani memandang wajah si nenek. Setelah beberapa hari, hati si anak merasa tidak tenang. Tidur terasa tidak nyenyak, makan pun terasa tidak enak. Akhirnya, dia bertekad untuk mengumpulkan uang dengan menyisihkan uang jajannya. Setelah merasa cukup, suatu malam dia memasukkan uangnya ke dalam sebuah amplop. Juga disertai secarik kertas bertuliskan, "Maafkan saya karena telah memecahkan kaca jendela. Ini uang sebagai penggantinya. Terima kasih."

Kemudian anak itu menyelipkan amplop tersebut melalui bawah daun pintu rumah si nenek. Dia tersenyum dan malamnya dia dapat tidur dengan nyenyak. Esoknya ketika mengantarkan koran, dia melihat si nenek tersenyum kepadanya. Hatinya terasa plong dan dia pun berani membalas senyumannya. Si nenek berkata: "Sebentar, nak. Saya ada kue untukmu." Dan, si nenek memberikannya sebuah bungkusan. Setelah berterima kasih, dia pun melanjutkan mengantarkan koran.

Sesampainya di rumah, dia membuka bungkusan kue tersebut. Alangkah terkejutnya saat dia melihat ada sebuah amplop terselip di antara kue, persis seperti amplopnya. Di dalamnya terdapat uang sebesar uangnya dan secarik kertas bertuliskan, "Saya bangga dengan kamu." Anak itu terduduk lemas dan terharu. Ternyata nenek tua itu telah mengetahui kesalahannya tetapi tidak pernah menegurnya.

Mari kita belajar untuk bisa dengan bijak menyelesaikan suatu permasalahan, selalu introspektif, berani mengakui kesalahan dan memperbaikinya. Karena inilah penyebab awal dari timbulnya kebahagiaan dan kesuksesan di dalam kehidupan kita.

Friday, April 08, 2011

TIGA LANGKAH HIDUP DALAM KERAJAAN ALLAH


Setiap anggota jemaat Abbalove Ministries didorong untuk menghadirkan KERAJAAN ALLAH di dalam setiap bidang kehidupan yang digelutinya sehari-hari. Bagaimanakah cara praktis mempraktekkan kehadiran Kerajaan Allah? Ada 3 prinsip yang dapat dilakukan untuk mempraktekkan hal tersebut. Ketiga prinsip ini disebut 3B, yaitu:

1. Berjalan dengan Kristus
Bagaimanakah caranya berjalan dengan Kristus? Artinya kita mati terhadap sifat ego kita yang ingin menonjolkan diri kita sendiri. Kita harus hidup seperti Yesus Kristus hidup, yakni mendahulukan kepentingan orang lain. Kata Yesus, “Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal. Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa,”(Yohanes 12:24-26).

2. Belajar dari Kristus
Bagaimanakah caranya belajar dari Kristus? Artinya cara hidup kita mencerminkan hidup Kristus sendiri. Yesus berkata, “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan."(Matius 11:29-30). Prinsip ini adalah prinsip yang paling praktis untuk kita lakukan untuk belajar dari Kristus.

3. Serupa dengan Kristus.
Tidak ada contoh pribadi lain yang dapat kita jadikan teladan dari pada apa yang telah dilakukan oleh rasul Paulus. Ia berkata, “Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku,”(Galatia 2:19-20). Jika kita ingin menjadi serupa dengan Kristus, maka tidak ada jalan lain selain kita hidup sesuai firman Tuhan.

Hidup Dalam Kerajaan Allah


Pada suatu hari Minggu, sebuah televisi swasta menayangkan kotbah dari seorang tokoh agama terkenal, tentang siapakah orang terkaya di dunia. Orang terkaya di dunia adalah petugas parkir.

Mengapa petugas parkir adalah orang yang paling kaya di bumi, karena mereka bertanggungjawab atas setiap mobil yang masuk ke area mereka untuk dijaga. Namun menjelang malam, mereka kembali ke rumah sebagai orang yang paling miskin karena mobil yang dijagai sudah diambil oleh pemiliknya. Kita sebagai manusia harus sadar bahwa kekayaan yang kita miliki hanya titipan Allah. Kita hanya menjaga titipan tersebut, karena akan diambil oleh pemiliknya kapan saja.

Lalu apa hubungannya dengan Hidup Dalam Kerajaan Allah? Paulus berkata, “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!,”(Roma 11:36). Jadi, kita yang hidup dalam Kerajaan Allah harus sadar bahwa SEGALA SESUATU adalah:

1. Dari Tuhan
Salomo adalah orang terkaya yang pernah hidup. DR. Mike Murdock, seorang pembicara dan penulis buku-buku Kristen terkenal berkata bahwa Perhimpunan Ahli-ahli Arsitek di Illinois, Amerika melakukan studi khusus tentang Bait Allah yang dibangun Salomo. Para ahli menghargai Bait Allah tersebut senilai US$ 500 miliar. Ini tidak termasuk istana pribadi Salomo yang butuh waktu dua kali lebih lama untuk membangunnya. Tetapi, Salomo berkata, “Berkat TUHANlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya,”(Amsal 10:22). Tuhanlah andalan kita.

2. Oleh Tuhan
Yesus memberi perumpamaan bagi orang Kristen untuk berjaga-jaga dan waspada terhadap segala ketamakan. Katanya, "Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya. Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku. Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku. Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?" (Lukas 12:16-20). Akhir yang tragis kan?

3. Kepada Tuhan.
Daud berkata,”Pujilah TUHAN di sorga, pujilah Dia di tempat tinggi! Pujilah Dia, hai segala malaikat-Nya, pujilah Dia, hai segala tentara-Nya! Pujilah Dia, hai matahari dan bulan, pujilah Dia, hai segala bintang terang! Pujilah Dia, hai langit yang mengatasi segala langit, hai air yang di atas langit! Baiklah semuanya memuji nama TUHAN, sebab Dia memberi perintah, maka semuanya tercipta. Biarlah semuanya memuji-muji TUHAN, sebab hanya nama-Nya saja yang tinggi luhur, keagungan-Nya mengatasi bumi dan langit,”(Mazmur 148:1-5, 13). Kata Paulus, “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!”(Roma 11:33). Hanya Tuhan yang berkuasa.

Tuesday, April 05, 2011

Bukan Cangkirnya, Tapi Kopinya


Sekelompok alumni, yang telah pada mapan dalam karir mereka, berkumpul dan mengadakan kunjungan pada profesor universitas mereka. Percakapan segera beralih menjadi keluhan tentang stres dalam pekerjaan dan kehidupan.

Menawarkan tamu-tamunya kopi, profesor pergi ke dapur dan kembali dengan seteko besar kopi dan bermacam-macam cangkir - porselin, plastik, gelas, kristal, beberapa terlihat biasa-biasa, beberapa tampak mahal dan indah. Lalu memberitahu mereka untuk self service, mengambil sendiri kopi panas yang disediakan.

Sambil ngobrol, ketika masing-masing eks mahasiswanya telah memiliki secangkir kopi di tangan, profesor berkata: Jika Anda perhatikan, semua cangkir mahal yang tampak bagus telah diambil. Tinggal cangkir yang sederhana dan tampaknya murah. Adalah lazim Anda untuk menginginkan yang terbaik bagi diri Anda sendiri, namun itulah sumber masalah dan stres Anda.

Apa yang Anda sekalian inginkan sebenarnya adalah kopi, bukan cangkir. Tapi Anda dengan sadar telah mengambil cangkir terbaik, dan mulai memperhatikan cangkir yang diambil orang lain.

Sekarang perhatikan hal ini, lanjut sang professor: Kehidupan bagai kopi, sedangkan pekerjaan, uang dan posisi dalam masyarakat adalah cangkirnya - ia hanyalah alat untuk mendukung dan menampung kehidupan. Apapun yang kita miliki tidak dapat mengganti kualitas kehidupan yang sesungguhnya. Seringkali, karena berkonsentrasi hanya pada “cangkir” – hidup yang lahiriah, the outer life. Dan kita gagal untuk menikmati “kopi” – hidup itu sendiri, the real inner life, yang hanya ada dari Penciptanya.

Impikasinya yang saya lihat, kebenaran inilah yang oleh C.W. Lewis sebagai mengatakan, “God cannot give us a happiness and peace apart from Himself, because it is not there. There is no such thing”. (Tuhan tidak dapat memberikan kebahagiaan dan damai, terpisah dari Diri-Nya, karena hal itu memang tidak ada. Dan tidak ada kebahagiaan dan damai tanpa Dia). Tentang hal ini tokoh Gereja Agustinus yang hidup pada abad kelima mengakatakan: Tuhan, Engkau telah menciptakan kami untuk Dirimu, dan hati kami tidak akan tenang sampai mendapat perhentian didalam Engkau.

Sweet Hour of Prayer


SEORANG pria muda duduk di sebuah stasiun metro di Washington DC dan mulai bermain biola; itu adalah pagi hari Januari yang dingin. Dia memainkan enam karya Bach selama sekitar 45 menit. Selama waktu itu, karena itu jam- sibuk, ada seribuan lebih orang lewat melalui stasiun tersebut, sebagian besar dari mereka dalam perjalanan mereka untuk bekerja.

Tiga menit berlalu dan seorang pria paruh baya melihat ada seorang musisi bermain. Dia memperlambat langkahnya dan berhenti selama beberapa detik dan kemudian bergegas untuk memenuhi jadwal.


Satu menit kemudian, pemain biola menerima tip dolar pertama: seorang wanita melemparkan uang ke wadah yang disediakan dan tanpa berhenti terus berjalan.

Beberapa menit kemudian, seseorang bersandar di dinding untuk mendengarkan dia, tetapi orang tersebut melihat jam tangannya dan meneruskan jalannya. Boleh jadi ia sudah terlambat di tempat kerjanya.

Orang yang paling perhatian adalah seorang anak berusia 3 tahun. Ibunya menarikkan tangan anak itu pergi, tapi sianak tetap berhenti untuk melihat pemain biola. Akhirnya ibunya mendorong dan menarik tangannya, dan si anak melanjutkan jalannya, tetapi terus sambil menoleh kebelakang. Setiap kali seorang anak lewat melakukan tindakan serupa. Tapi semua orang tua anak, memaksa mereka untuk jalan terus.


Selama 45 menit biola dimainkan, hanya 6 orang berhenti dan mendengarkan untuk beberapa waktu. Ada sekitar 20 orang yang memberinya uang tapi terus berjalan seperti biasa. Jumlah uang yang berhasil ia kumpulkan hanya 32 dollar.


Ketika ia selesai bermain dan kembali hening, tidak ada yang memperhatikannya. Tidak seorang pun bertepuk tangan, juga tidak ada yang memberikan pujian. Tidak ada yang tahu ini, bahwa ia adalah pemain biola Joshua Bell, salah satu musisi terbaik di dunia. Dia telah memainkan salah satu karya yang paling rumit yang pernah ditulis, dengan biolanya bernilai 3.5 juta dolar.


Dua hari sebelum bermain di kereta bawah tanah, tiket pertunjukan Joshua Bell terjual habis di sebuah teater di Boston dengan harga tempat dukuk rata-rata 100 dolar.


Ini adalah kisah nyata Joshua Bell bermain incognito di stasiun Metro di The L'enfant Plaza yang diselenggarakan oleh Washington Post pada 12 Januari 2007 pukul 7:15 pagi waktu setempat, sebagai bagian dari eksperimen sosial tentang persepsi, cita rasa dan prioritas orang-orang, seperti dilaporkan oleh Gene Weingarten, Washington Post pada terbitan Minggu 8 April 8, 2007 halaman W10, dibawah judul Peals Before Breakfast. Dalam edisi online dilengkapi dengan video clip cuplikan kisah tersebut


Salah satu kesimpulan yang dikemukakan dari kisah tersebut, dan kemudian dipublikasikan melalui tidak kurang dari 57.700 entris di internet: Jika kita tidak memiliki waktu untuk berhenti dan mendengarkan salah satu musisi yang terbaik di dunia yang memainkan musik terbaik yang pernah ditulis, berapa banyak hal-hal lain yang kita hilang?


Saya pikir kisah ini juga punya pesan atau refleksi kehidupan spiritual, bahwa jika kita tidak mengambil waktu berdoa dan membaca Firman Tuhan, mendengarkan sapaan Tuhan, melalui doa ibadah dan perenungan Firman, kita tidak akan pernah sampai menikmati “Sweet Hour of Prayer” atau “Indahnya saat teduh” (Kidung Jemaat 454). Kita tidak akan pernah mengerti dan mengalami penyataan janji Tuhan “apa yang tidak pernah dilihat atau didengar oleh manusia, dan tidak pernah pula timbul dalam pikiran manusia, itulah yang disediakan Allah untuk orang-orang yang mengasihi-Nya”.


Tapi apa yang sering menjadi penghalang. Terlalu sibukkah? Mungkin. Tapi sering hal itu hanya alasan. Menurut Oswald Chambers, dalam My Utmost for His Highest” yang sering menjadi penghalang untuk mendengarkan Tuhan, karena perhatian saya pada hal-hal lain. Dikatakan “bukan karena aku tidak ingin mendengar Allah, tetapi saya tidak setia - tidak devoted – di bidang kehidupan saya yang tepat. Saya setia pada banyak hal dan bahkan pada pelayanan, dan pada keyakinan saya sendiri. Tuhan dapat mengatakan apa saja yang dikehendaki-Nya, akan tetapi saya tidak mendengar Dia. Sikap anak Allah harus selalu, "Berbicaralah, sebab hamba-Mu mendengar." Jika saya belum mengembangkan dan memupuk ibadah perenungan dan dengar-dengaran ini, saya hanya bisa mendengar suara Tuhan pada waktu-waktu tertentu. Di lain waktu saya menjadi tuli pada suara Tuhan karena perhatian saya adalah hal-hal-hal lain, yang saya rasa harus saya lakukan”.

Anugrah Murahan


Inilah ilustrasi modern tentang seorang laki-laki yang menunjukkan benar-benar mengerti dan memberikan contoh nyata perkataan Yesus tentang penyangkalan diri, memikul salib dan mengikuti Dia.

Dia adalah Dietrich Bonhoeffer. Seorang pendeta Lutheran yang tinggal di Jerman pada saat Perang Dunia Kedua. Dia yakin bahwa adalah tugas kekristennya untuk bekerja dalam negaranya sendiri untuk kekalahan Adolf Hitler, Bonhoeffer menjadi bagian dari gerakan perlawanan bawah tanah.

Sayangnya, karena keterlibatannya, antara lain membantu Jahudi lari ke Swiss diketahui, ia ditangkap dan dipenjarakan di sebuah kamp konsentrasi. Dan dia tidak pernah kembali. Pada 9 April 1945, pada usia 39, ia dihukum mati dengan cara digantung di kamp konsentrasi Flossenbürg, beberapa hari sebelum pembebasannya.

Kita mungkin tidak sepaham dengan semua pandangan-pandangannya, tetapi menurut defenisi manapun ia adalah seorang martir Kristen abad ke-20.

Pada saat kematiannya ia sudah menulis sejumlah buku. Barangkali karyanya paling terkenal (masih banyak diterbitkan dan populer sampai saat ini, dan sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia) adalah berjudul, “Harga Kemuridan” (The Cost of Discipleship)." Di dalam buku tersebut nya Bonhoeffer menyampaikan banyak pernyataan yang “menantang” tentang pemikiran tentang kehidupan Kristen. Salah satu kalimat yang ia gunakan berulang-ulang (dan menuduh banyak orang Kristen modern mempunyai saham didalamnya) adalah konsep "anugerah atau kasih karunia murahan."

Dengar bagaimana dia mendefinisikannya: "Anugerah murahan adalah musuh yang mematikan gereja kami. Anugerah murahan adalah pemberitaan tentang pengampunan tanpa menuntut pertobatan, baptisan tanpa disiplin gereja, perjamuan kudus tanpa pengakuan pribadi. Anugerah murahan adalah anugerah tanpa pemuridan, anugerah tanpa salib , anugrah tanpa Yesus Kristus.

&&&&

"Kekristenan tanpa kemuridan (discipleship) adalah Kekristenan tanpa Kristus. Ia hanya akan tetap merupakan gagasan abstrak, sebuah mitos yang memiliki tempat untuk Kebapaan Allah, tetapi menghilangkan Kristus sebagai Anak yang hidup. … Ada kepercayaan pada Tuhan, tetapi tidak mengikuti Kristus. – Dietrich Bonhoeffer

&&&&

Kemuridan berarti melekat atau kepatuhan terhadap pribadi Yesus, dan karena itu tunduk kepada hukum Kristus yang adalah hukum salib. – Dietrich Bonhoeffer

Cinta Kasih Terbukti Lebih Kuat Daripada Maut


PERISTIWA ini sungguh terjadi. Di Amish, Nickel Mines, Pennsylvania-AS.

Pagi 5 Oktober 2006, dua puluh lima anak sedang belajar di sekolah setempat. Bangunan satu ruang itu berstruktur seperti gudang dengan menara lonceng sederhana dan serambi depan yang ditunjang oleh batang-batang baja. Sekolah itu, yang sepolos kertas buku catatan, mencerminkan nilai-nilai komunitas Amish yang mendidik anak-anaknya di sana. Kaum Amish berasal dari keturunan komunitas orang Swiss Kristen yang anti-kekerasan. Selama abad ke-16 dan ke-17, mereka ini meninggalkan ciri-ciri keduniawian.

Pagi itu, di tengah-tengah kaum Amish, muncullah kegilaan dunia yang terburuk. Pada jam 09:51 waktu setempat, Charles Carl Roberts IV, tukang susu 32 tahun, menerobos ke sekolah kaum Amish di Nickel Mines Barat dan membuyarkan ketenangan komunitas. Sejak lama ia merencanakan kekerasan yang akan dilakukannya, dan ia datang dengan segala persiapan. Dibawanya senapan ukuran 12, pistol 9 mm, senapan bolt-action 30-06, sejumlah amunisi, senjata sengat listrik, dan dua bilah pisau. Dibawanya juga peralatan serta perlengkapan gedung.
Ia menyuruh para gadis muda berbaris cepat-cepat di depan papan tulis. Kemudian diperintahkannya Emma Mae Zook, guru mereka, membawa keluar kelima belas murid pria, seorang wanita hamil, dan tiga orang ibu yang menggendong bayi. Setelah mereka keluar, Charles Roberts menggunakan peralatan dari papan 2 x 6 dan 2 x 4 yang dibawanya sebagai barikadenya di dalam. Dengan tali lentur diikatnya tangan dan kaki para gadis muda yang berusia antara 6 – 13 tahun itu.

Ia rupanya tak diburu waktu. Ia menghubungi istrinya lewat ponsel dan mengaku, serta menjelaskan surat bunuh diri yang ditinggalkannya di rumah, bahwa 20 tahun yang lalu ia telah melecehkan dua orang anak kerabat. Cerita ini agaknya khayalan. Ia juga berbicara tentang kesedihannya atas kematian bayi perempuan mereka. Ketika para gadis Amish bertanya mengapa Roberts hendak mencelakakan mereka, ia menjawab bahwa ia marah kepada Allah.
Tanggapan komunitas Amish lebih cepat daripada yang diantisipasi Roberts, dan para siswi pun membuatnya mengubah rencana. Rencana Roberts untuk melecehkan para gadis agaknya nyata dari perlengkapan yang dibawanya. Tetapi Emma Mae Zook, sang guru, lari ke ladang pertanian tetangga dan menghubungi polisi pada jam 10:36.

Sembilan menit kemudian polisi tiba dengan armadanya. Mereka berbicara kepada Roberts lewat pengeras suara di mobil patroli mereka. Roberts menjawab bahwa jika dalam dua detik orang-orang polisi tidak menarik diri keluar dari area itu, ia akan membunuh setiap orang.
Gadis yang tertua, Marian Fisher, angkat suara. Bahasa ibu kaum Amish adalah bahasaJerman Swiss, tetapi Marian memakai bahasa Inggris sebaik yang bisa diucapkannya. Ia memohon, “Tembaklah saya dan biarlah yang lain bebas.” Barbie, saudara pcrempuan Marian yang baru berusia 11 tahun, minta ditembak setelah Marian. Mereka memperlihatkan kasih terbesar yang mungkin diperlihatkan manusia.

Karena bingung oleh keberanian para gadis dan kehadiran polisi, Roberts berusaha membunuh kesepuluh gadis itu. Dimuntahkannya peluru secepat mungkin kepada mereka.
Mendengar suara tembakan, polisi menyerbu ke dalam bangunan. Dengan satu tembakan terakhir, Roberts menghabisi nyawanya sendiri sebelum tertangkap.

Meskipun Roberts menembak kesepuluh anak itu dari jarak dekat, dan beberapa di antaranya berkali-kali, ia tidak sepenuhnya berhasil menuntut balas kepada Allah seperti rencananya. Lima anak tetap hidup. Barbie, saudara perempuan Marian, salah satunya. Darinyalah diketahui sebagian detil kejadian di sekolah pada hari ang mengerikan itu.

Kematian Charles Roberts terasa menyedihkan hanya karena ia tidak bisa dituntut lagi.

Tetapi di situlah ceritanya membelok ke arah yang tak terduga. Seluruh komunitas Amish mengikuti jejak Marian Fisher muda yang rela berkorban dan mengasihi sesama. Kalau Charles Roberts memilih melampiaskan amarah kepada orang yang tak berdosa, kaum Amish memilih melimpahkan pengampunan kepada orang yang bersalah. Klip video warta berita TV menunjukkan iring-iringan kereta kuda kaum Amish di sepanjang jalan utama Nickel Mines menuju pemakaman anak-anak yang terbunuh. Pemandangannya tajam dan indah.
Tetapi yang melekat di benak adalah gambar pria dan wanita Amish yang menghadiri pemakaman Charles Roberts di sebuah gereja Metodis, gereja istrinya. Mereka menegaskan bahwa mereka tidak berhak mcnghakimi dia. Para pemimpin kaum Amish bahkan meminta agar komunitasnya tidak menganggap Roberts jahat.

Kaum Amish juga mengulurkan tangan kepada Marie Roberts dan anak-anaknya. Mereka mengundang keluarga itu hadir di pemakaman para gadis—karena Alkitab menyuruh menangis dengan orang yang menangis, dan keluarga Roberts sedang menangisi kehilangan mereka. Uang berdatangan untuk menutupi biaya perawatan medis para gadis yang terluka. Para pemimpin komunitas Amish menentukan agar darinya diambil dana untuk mengurus janda dan ketiga anak sang pernbunuh.
Pengorbanan kasih dan pengampunan yang menakjubkan, dan sungguh sulit dipahami. Tapi itulah pengajaran dan hidup Yesus, “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” (Matius 5:44). Dalam peristiwa tragis terbunuhnya anak-anak mereka, kaum Amish mempraktikkan kasih yang seharusnya dipraktikkan setiap orang Kristen.
(dari, Charles Colson and Harold Fickett, The Faith. Selengkapnya dapat diakses di Wikipedia).

Friday, April 01, 2011

Mana Topinya Johnny


ADA sebuah cerita tentang satu keluarga yang piknik di pinggir danau. Ketika itu, putra mereka yang berumur lima tahun bermain di danau, lalu melangkahkan kakinya ke bagian danau yang dalam, dan tenggelam hilang dari pandangan mata. Tidak satu pun orang dewasa di keluarga itu yang dapat berenang, sehingga mereka hanya berlari-lari ke sana ke mari di pinggir danau itu dengan panik, sementara anak tadi timbul tenggelam di dalam danau, sambil berteriak-teriak minta tolong.

Tidak lama kemudian, seorang pria yang melihat situasi tersebut segera melompat ke dalam danau dan menyelamatkan anak itu. Pria tersebut muncul di pinggir danau dengan membawa anak yang selamat tetapi ketakutan itu, hanya untuk mendengar ibu dari anak itu dengan kesal bertanya, “Mana topinya Johnny?”

Seringkali kita berfokus pada kekecewaan-kekecewaan kecil yang membuat kita menggerutu dan mengeluh daripada berfokus pada hal-hal indah yang telah diberikan Allah dalam hidup kita, terutama keselamatan kekal dan kasih-Nya yang tidak berkesudahan. Ketika kita mengeluh tentang kekecewaan kecil dalam hidup kita, kita sebenarnya sedang bertanya, “Mana topinya Johnny?”

Mungkin sulit untuk bersyukur ketika kita kehilangan pekerjaan, atau ketika kita sakit, tetapi kita dapat bersyukur untuk kebaikan yang telah diberikan Allah dalam hidup ini dan untuk kehidupan mendatang.

Memilih Akan Arti Kehidupan


INI adalah kisah nyata, bagaimana orang yang berkenan kepada Allah mampu menggunakan penderitaan dan tragedi hidupnya sebagai sumber inspirasi yang memberi kekuatan kepada orang lain.

Victor Frankl seorang Yahudi yang di Austria (26 Maret 1905 - 2 September 1997) dapat mengilhami kita bagaimanakah mampu bersukacita dan hidup yang bermakna untuk kemuliaan Allah. Pada tahun 1942 dia bersama keluarga dan orang-orang Yahudi lainnya diangkut dengan gerbong kereta api dari kota kelahirannya di Wina, Austria menuju di sebuah kota yang bernama Auschwitz.

Mereka dijajar menjadi 2 kelompok kiri dan kanan. Ternyata mereka yang berada di kelompok sebelah kiri semuanya dimasukkan ke dalam kamar gas atau eksekusi tembak. Victor Frankl baru menyadari bahwa yang termasuk di kelompok sebelah kiri adalah ayah, ibu, isterinya yang sedang mengandung dan kakaknya laki-laki. Jumlah yang dieksekusi pada hari itu mencapai 1300 orang. Selama dalam tahanan Victor Frankl seringkali mengalami berbagai kekejaman, penghinaan, kelaparan dan kedinginan. Tetapi semangat hidupnya tidak pernah pudar. Dia belajar bahwa manusia dapat kehilangan segala sesuatu yang dihargainya kecuali kebebasan, yaitu kebebasan untuk memilih atau kemauan akan arti kehidupan. Itu sebabnya dalam bukunya yang berjudul “Man’s Search for Meaning”, Victor Frankl mengemukakan psikologinya yang disebut “Logotherapy” sebab mengulas tentang arti dari eksistensi manusia dan kebutuhan manusia akan makna hidup.

Menurut pengakuan Victor Frankl, sumber kekuatan rohaninya diperoleh saat dia menemukan sobekan kertas di jasad temannya. Sobekan kertas tersebut berisi Ul. 6:4-5, yaitu: “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu”.

Ayat Alkitab ini menginspirasi Victor Frankl bahwa makna kasih kepada Allah harus dihayati dengan penuh arti walau kehidupan ini sering sewenang-wenang dan dapat mencabut nyawanya. Victor Frankl mampu mengatasi (mentransendensikan) seluruh penderitaannya, sehingga dia mampu memberi respon yang memperkaya rohani dan pemikirannya. Dia tetap mampu bersukacita dan menemukan arti di tengah-tengah kekelaman dan kekejaman hidup.

Setelah dia bebas dari tahanan, Frankl kemudian berperan aktif memberi kekuatan, motivasi dan dorongan untuk menemukan arti hidup bagi banyak orang. Bukankah melalui kisah hidup dari Victor Frankl tersebut kita dapat belajar apa artinya sukacita untuk kemuliaan Allah?

Jika kita telah menerima keselamatan Allah yang telah datang dan nyata di dalam Kristus, maka seharusnya sukacita dan damai-sejahtera kita tidak lagi ditentukan oleh apa yang kita miliki. Semua yang kita miliki suatu saat akan lenyap dan hilang. Tetapi tidak berarti sukacita dan damai-sejahtera Kristus harus ikut lenyap selama kita mau menjadikan Dia sebagai satu-satunya Tuhan dan Raja atas kehidupan kita. Di dalam kuasa iman kepada Kristus, kita dimampukan untuk mengatasi (mentransendensikan) diri kita sehingga berbagai kesusahan, permasalahan, dan tekanan hidup tidak pernah berhasil melumpuhkan atau melumpuhkan kita. Sebaliknya kita makin dimampukan untuk menjadi berkat keselamatan dan sukacita bagi orang-orang di sekitar kita.

Sumber: Khotbah Natal Pdt. Yohanes Bambang Mulyono, 25 Desember 2008